(ECR – Santri dan Bunda Part I) Allah Meciptakan Tuhan

El Hida

 

Malam ini giliranku menjaga malam di Pos Rangkat. Tetiba Bunda Enggar datang membawa sepiring singkong goreng yang entah dari kebun siapa diambilnya. Waktu itu masih jam sembilanan malam, Kang Inin belum datang. Karena biasanya dia datang setelah nonton sepak bola. Dan isteriku, Zaa sedang menemani Mamaku membuat kue untuk persiapan pengajian Mingguan yang pekan ini giliran di rumahku.

desaku

“Nang, Bunda punya pertanyaan nih.” Bunda Enggar langsung mengawali percakapan.

“Duduk dulu Bunda…” aku memotong, Bunda tersenyum lalu duduk di sampingku dengan serius.

“Begini Nang, kemarin waktu ada pengajian di majelis taklim desa tetangga, penceramahnya bilang kalau Tuhan itu Maha Kuasa atas segala sesuatu. Oke, sekilas Bunda faham bahwa Tuhan memang Maha Segalanya. Siapapun pasti tahu. Tapi ada pertanyaan nyeleneh dalam hati Bunda nih Nang.” Aku khusyu mendengarkan.

“Pertanyaan apa, Bunda…”

“Kalau Tuhan Maha Kuasa atas Segala Sesuatu, apakah Dia juga Kuasa atau mampu membuat Tuhan (lagi)? Atau, apakah Dia juga mampu membuat anak untuk dirinya?” Bunda trlihat sangat serius. Sebenarnya aku kaget dengan pertanyaan itu, tapi aku berusaha untuk (terlihat) tenang agar dapat memberikan jawaban yang diinginkan Bunda.

“Sudah Bunda, itu saja?” Tanyaku dengan santai dan sedikit makan singkong yang dibawa Bunda.

“Iya Nang, untuk sementara itu dulu.”

“Begini Bunda, Tuhan memang Maha Kuasa atas Segala sesuatu. Namun kekuasaanya itu terbatas.”

“Koq Kemampuan Tuhan terbatas Nang?”

“Bukan kemampuan Tuhan yang terbatas, Bunda, tapi kemampuan akal kita yang terbatas untuk sampai pada pemahamanNya. Kemampuan Tuhan itu hakikatnya tidak terbatas. Coba saja kita fikirkan langit, tahukah Bunda dimulai dari mana dan sampai kemana batasan langit?”

“Tidak tahu.”

“Nah, itu baru ciptaanNya yang kita fikirkan, kita belum bisa mencapainya bukan, apalagi Tuhan yang kemahaanNya tidak terbatas. Minumnya gak bawa ya Bun?” Bunda Enggar tertawa, mungkin difikirnya aku masih saja bisa bercanda, padahal Bunda sedang serius.

“Ada nang, tuh!” Bunda Enggar menunjuk ke kolam ikan milik Ayah Windu yang letaknya tidak jauh dari Pos Rangkat. Aku tertawa terbahak.

“Kembali ke jawaban dari pertanyaan Bunda ya.” Aku kembali fokus. “Bunda, Allah itu memiliki sifat yang disebut Qudrat, yang artinya Maha Kuasa atas segala sesuatu. Nah, sifat qudratNya itu mencakup kepada mumkinul wujud bukan mustahil wujud.”

“Mumkinul wujud?” Tanya Bunda.

“Maksud dari mumkinul wujud adalah segala sesuatu yang mungkin adanya. Mungkin berarti bisa ada, bisa tidak ada. Misalnya, Allah berkuasa (mampu) menciptakan sifat pintar dan bodoh kepada manusia atau sebut saja makhluk. Pintar dan bodoh adalah sesuatu yang mungkin. Dan kepintaran dan kebodohan yang ada pada diri kita hakikatnya sudah jelas Allah yang menciptakan.”

“Kalau mustahilul wujud?” Bunda.

“Mustahilul wujud berarti segala sesuatu yang tidak mungkin adanya. Misalnya, ada Tuhan Selain Dia atau juga misalnya Dia punya anak. Bukankah sudah di jelaskan dalam alquran surah al-ikhlas. Dalam kaidah ilmu tauhid, jika hukum akal dan hukum syara’ bersebrangan, maka yang didahulukan adalah hukum syara’.”

“Maksudnya?”

searching-for-god

“Menurut akal, oleh karena Tuhan Maha Kuasa atas segala sesuatu berarti Tuhan pun akan mampu membuat Tuhan selain diriNya. Tapi, karena mennurut hukum syara’ ada Tuhan selain Alloh itu mustahil atau tidak mungkin alias imposible, maka yang didahulukan diyakini dan ditekadkan dalam hati adalah ketidak mungkinannya ada Tuhan selain Dia. Jadi, tidak perlu lagi kita tanyakan apakah Tuhan kuasa membuat Tuhan atau menciptakan anak untukNya, sebab hukum syara’ sudah menetapkan bahwa tidak ada Tuhan selain Dia dan Dia tidak mungkin punya anak juga mustahil diperanakkan.” Aku lihat Bunda sudah mulai paham, atau mungkin pura-pura paham. Entahlah.

“Nah, hukum akal dan hukum syara’ itu apa Nang?” Bunda dengan nada yang begitu penasaran.

“Wadduh!” Aku menepuk jidat kucing yang dari tadi ngumpet di dalam sarung. “Miaaau…”

“Nah loh, rupanya dari tadi ngumpetin kucing tho? Itu kucing siapa Nang?” Akhirnya Bunda tahu aku menyembunyikan seekor anak kucing yang aku ambil dari depan rumah Bunda di dalam sarung.

“Hahahaha, ini….”

“Ya ampun Nanaaaaaang, itu kan kucing Bunda!!” Bunda menarik sarungku. Beruntung kupakai celana.

 

*Bersambung…

 

note:

ECR adalah akronim dari Episode Cinta (Desa) Rangkat. Untuk mengenal lebih jauh tentang Desa Rangkat mampir ke sini ya, https://www.facebook.com/groups/desarangkat/

 

10 Comments to "(ECR – Santri dan Bunda Part I) Allah Meciptakan Tuhan"

  1. el hida  11 November, 2017 at 12:29

    hadeuh

  2. J C  18 November, 2013 at 08:12

    Sudah insting manusia mencari kekuatan yang ada di atas dirinya. Baik itu berupa sosok Tuhan ataupun science…

  3. Dj. 813  16 November, 2013 at 02:30

    djasMerahputih Says:
    November 15th, 2013 at 08:09

    Sepakat omDJ.

    Seperti sdh djas share dlm artikel Berketuhanan, org yg berTuhan seharusnya
    menggunakan agama dalam rangka pengabdian kepada Tuhan kita masing2.
    bukan untuk memecah belah manusia.

    Ukuran seorang manusia di mata Tuhannya adalah
    sebanyak apa manfaatnya bagi orang lain dan juga sikapnya terhadap
    makhluk ciptaan Tuhan dalam alam semesta ini..

    Salam sedjuk
    ————————————————–

    djas….
    Terimakasih sama-sama…
    Nah itulah yang dinamakan “Iman”.
    Kita percaya kepada yang tidakkelihatan.

    Kita juga diajarkan untuk saling mengasihi dan bukan untuk saling mencelakakan atau membunuh.

    Bagaimana kita bisa berkata, aku mencintai TUHAN ( yang tidak kelihatan ).
    Sedang sesama kita ( yang kelihatan ) tidak bisa kita cintai….???

    Nah disini Dj. jujur katakan, sama saja dengan omong kosong.

    Kita HARUS BISA mencintai sesama ( yang kelihatan ), kemudian kita akan belajar untuk mencintai TUHAN ( yang tidak kelihatan )

  4. djasMerahputih  15 November, 2013 at 08:09

    5: Sepakat omDJ.

    Seperti sdh djas share dlm artikel Berketuhanan, org yg berTuhan seharusnya
    menggunakan agama dalam rangka pengabdian kepada Tuhan kita masing2.
    bukan untuk memecah belah manusia.

    Ukuran seorang manusia di mata Tuhannya adalah
    sebanyak apa manfaatnya bagi orang lain dan juga sikapnya terhadap
    makhluk ciptaan Tuhan dalam alam semesta ini..

    Salam sedjuk

  5. Dewi Aichi  15 November, 2013 at 07:04

    El Hida selalu menyampaikan hal-hal yang membuat pemahaman tentang tauhid, iman, dan cinta kepada sang Khalik dengan cara yang menarik…terima kasih El Hida..

  6. Dj. 813  14 November, 2013 at 19:54

    djas…

    TUHAN tidiak perlu dibahas.
    Otak kita terlalu kecil untuk membahas tentang TUHAN.
    Biarlah masing-masing percaya, apa yang mereka percayai.
    Toch masing-masing merasa paling banar dan palimh suci.
    Bagaimana kita akan membahas TUHAN, lha yang membuat otak kita ya Dia juga.
    Mana mungkin.
    TUHAN itu Maha basar, tapi Dia juga menjadi yang terkecil.
    Mengapa…???
    Karena Dia ada dihati kita masing-masing.

    Soooo….
    Asal jangan saling memngompori saja, itu tidak baik.

  7. djasMerahputih  14 November, 2013 at 19:48

    3: oooo… gitu toh..??

    Kalo gitu, berarti djas yg bener2 ngantuk nih.. ha ha ha ..

    Membahas ttg Tuhan memang harus dlm kondisi “super melek”…

    Salam super..!!

  8. Dj. 813  14 November, 2013 at 18:13

    Hahahahahahahahaha….
    Lha kan “El” ( l ) nya sudah Dj. masukan ditengan Hida…
    Maaf El Hida ( El = Besar dan Hida = menyembunyikan )
    Nah itu dia Dj. sembunyikan ” L ” ditengah-tengah.
    Okay…???

    Hahahahahahaha…..
    Mudah-mudahan djusMerahputih, menjadi jelas ya….
    Hahahahahahahaha….!!!!

    Salam dari El Dj. di Mainz

  9. djasMerahputih  14 November, 2013 at 18:02

    1: Ha ha ha… om DJ bener2 ngantuk

    Orang namanya El Hida, malah dipanggil Hilda…

    Menunggu komen dari warga yg paling demen kalo ngebahas tentang Tuhan..

    Salam Suedjuk..

  10. Dj. 813  14 November, 2013 at 03:48

    Nr. 1
    Bacanya besik pagi, sekarang sudah ngatuk.
    Terimakasih Hilda.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *