Perjalanan Terakhir (1)

Wesiati Setyaningsih

 

Kalau pesan ini sampai ke tangan anda,

meski dengan cara yang tidak biasa,

itu berarti ada yang harus anda petik hikmahnya dari sini.

Apapun itu.


 

the-last-journey

BAGIAN SATU

 

Aku tidak pernah menyangka kalau pagi itu merupakan hari terakhirku. Karena hari Minggu, aku bangun agak siang. Kalau hari sekolah, Ibu membangunkanku jam lima, lalu menyuruhku belajar, beribadah dan siap-siap mandi lalu berangkat ke sekolah. Meski tidak terlalu jauh, kalau aku bangun kesiangan, aku harus berjalan cepat-cepat ke sekolah agar tidak terlambat. Aku tidak suka keringatan sampai sekolah. Jadi aku lebih suka dibangunkan pagi-pagi dan Ibu tahu itu.

Pagi itu aku bangun jam delapan. Hari sekolah, jam segitu aku sudah di kelas dan belajar. Aku bangkit dari tempat tidur dengan semangat karena memang sudah bosan tidur, juga karena membayangkan nasi kuning Bu Denan yang dijanjikan Ibu pagi itu sebagai sarapan. Bu Adenan yang biasa kami panggil Bu Denan, berjualan sarapan tiap pagi. Ada nasi kuning, bubur nasi, sambal goreng labu siam, gudeg, kering tempe, dan masih banyak lagi. Tapi saya paling suka nasi kuningnya. Nasinya gurih, caranya menata lauk membuat nafsu makan bergelora.

Aku segera menuju meja dan membuka tudung saji, membayangkan tersaji nasi kuning di piring, bertabur abon di satu sisi, kemudian di sebelahnya teronggok kering tempe dan di sisi lain terhampar irisan telur dadar. Keseluruhan penampilan dihias dengan seiris mentimun. Dari membayangkan saja aku sudah menelan ludah.

Dengan agak terhuyung karena terlalu lama tidur, aku menuju meja makan. Kuangkat tudung saji, tapi apa yang kulihat jauh dari harapan. Yang kulihat adalah piring berisi beberapa iris tempe goreng dan selembar telur mata sapi bersisihan dengan semangkuk nasi putih. Hanya itu. Tidak ada nasi kuning dengan penampilannya yang menggiurkan seperti bayanganku sebelumnya..

Dengan kecewa kuletakkan kembali tudung saji. Sesuatu yang membuat aku bergegas bangkit dari tempat tidur ternyata hanya imajinasiku sendiri. Ibu lupa membelikanku nasi kuning.

Dengan lesu aku berjalan keluar dan duduk di teras. Gang depan rumah ramai anak-anak kecil berlarian. Karena hari Minggu mereka bermain-main di jalan di pagi hari begini. Biasanya mereka keluar sore hari hingga malam hari. Betapa senang mereka bermain di jalanan. Mereka berteriak-teriak dan tertawa-tawa. Aku iri pada mereka. Entah kapan terakhir kali aku bergembira tanpa beban seperti mereka. Seingatku, ada dua hal yang membuatku tak lagi tertawa lepas akhir-akhir ini. Selalu ada yang membebani hati. Sepertinya itu bermula dari ketika aku kehilangan orang-orang tercinta.

“Loh, kamu sudah bangun to?” tiba-tiba Ibu sudah berdiri di depanku. “Ibu belum sempat beli nasi kuning. Ini tadi dimintai tolong masak di rumah Bu Manto pagi-pagi jadi Ibu langsung pergi. Ini juga belum selesai. Kamu sudah mandi?”

Aku menggeleng malas. Aku masih kesal karena Ibu tidak menepati janjinya. Tapi aku tidak bisa apa-apa. Ibu memang menghidupi kehidupan kami dengan memasak. Dan kalau dimintai tolong begini, itu bisa berarti proyek besar.

“Mandi sana.” Ibu memerintah sambil masuk ke rumah.

Aku tidak bergerak. Aku masih kesal karena harapan saya atas nasi kuning pudar.

“Kenapa cemberut begitu?” Ibu berhenti dan berbalik.

Aku tidak menjawab.

“Masih kesal karena tidak ada nasi kuning?”

Aku diam saja. Aku paling malas kalau harus menjelaskan kekesalanku. Ibu tahu benar aku tak akan menjawab pertanyaannya.

“Ya sudah,” katanya sambil menghela nafas. “Ibu belikan sebentar. Moga-moga masih ada.”

Ibu beranjak ke dalam mungkin mengambil uang. Baru beberapa langkah beliau berhenti dan menoleh,

“Tapi kamu mandi dulu.” Matanya benar-benar memerintahku untuk bergerak.

Dengan enggan aku beranjak ke kamar mandi. Baru saja aku masuk kamar mandi, ada suara motor di depan dan terdengar langkah Ibu kembali masuk rumah. Diketuknya pintu kamar mandi.

“Si Very tuh. “

Rasanya aku sudah bisa menduga kalau yang datang Very. Cuma Very yang sering datang ke rumah. Teman lain bisa dihitung dengan jari. Entah karena dia teman sebangkuku atau memang kami cocok satu sama lain, aku tak tahu.

“Iya, suruh tunggu aja Bu, aku mandi bentar.”

“Kalo diajak pergi enggak usah mau. Di rumah aja, kamu. Besok Senin katanya mid.”

Ibu paling ingat agenda akademik sekolahku. Aku sendiri malah sering lupa. Sialnya, Ibu selalu bertanya dan aku selalu mengatakan pada Ibu tentang agendaku. Tidak ada yang bisa kusembunyikan dari beliau selain puisi-puisiku.

“Iya!” aku mulai kesal.

Untung aku sedang di dalam kamar dan Ibu di luar, jadi dia tidak tahu kalau aku lagi manyun semanyun-manyunnya. Aku paling tidak suka kalau diatur-atur begini urusan sama temanku.

“Beneran, ya Rob! Ibu sungguh-sungguh ini. Enggak usah pergi!” Ibu berteriak lagi.

“Iya!” Aku makin kesal karena kuatir Very mendengar teriakan Ibu dari luar.

“Awas kamu kalo pergi.”

“Enggak, Bu.” Nada suaraku mesti kuturunkan supaya Ibu menjadi tenang dan tidak berteriak-teriak lagi.

Keluar dari kamar mandi, sembari mengenakan celana panjang aku mengumpat kesal dalam hati. Kalaupun Very ngajak pergi paling dia ngajak makan mie ayam dekat rumah sakit. Dia suka mie ayam situ. Sebenarnya aku tidak terlalu suka mie. Mending nasi saja, kenyang. Cuma kalau ngajak makan mie ayam,  itu berarti Very lagi pengen curhat urusan hubungan dia dengan orang tuanya. Itu saja. Jadi kenapa Ibu mesti kuatir?

Entah kenapa masalah Very selalu berkisar pada Ibunya yang tidak pernah percaya pada dia dan Bapaknya yang ikut menjadi mata-mata dalam semua yang dia lakukan. Padahal dia anak satu-satunya yang mestinya menjadi curahan kasih sayang orang tuanya, seperti aku. Bedanya Ibuku single parent karena orang tuaku bercerai waktu aku kelas 3 SD. Bapak pergi dan sepertinya sekaran sudah menikah lagi. Aku tak tahu pasti karena Ibu jarang menceritakan hal-hal tentang Bapak dan kalau bertemu Bapak tak pernah dia ceritakan perihal seperti ini padaku.

Jadi paling-paling pagi ini Very juga sedang ada masalah. Entah kenapa apa lagi yang dia buat hingga sepagi ini dia sudah bermasalah.

Keluar dari kamar aku masih melihat Ibu duduk di ruang tamu. Matanya melotot ke arahku.

“Janji ya!”

“Iya,” kataku sambil berjalan ke teras di mana Very sudah menunggu.

Aku tahu aku bohong. Terpaksa aku harus memberi janji palsu. Kalau tidak begitu Ibu akan makin panik karena takut aku pergi. Padahal aku tidak melihat sesuatu yang layak dikuatirkan kalaupun aku pergi.

Mungkin karena menjadi orang tua tunggal yang sendirian membiayai hidupku, buat Ibu nilai pelajaran itu penting. Sangat penting. Beliau tidak mau kerja kerasnya membiayaiku  sekolah hanya terbayar dengan nilai jelek.

Padahal biarpun sering main sama Very, nilai pelajaranku tetap bagus. Memang aku belum tahu rankingku kalau dibandingkan dengan teman-teman sekelas. Aku baru masuk SMA dan mid tes semester gasal baru akan dilaksanakan besok Senin ini. Setelah tes baru akan terima rapor mid. Saat itu baru tahu posisiku dibanding teman-teman.

Namun bagaimanapun aku selalu belajar dan mengerjakan semua tugas dengan tepat waktu. Jadi guru-guru sayang padaku. Pokoknya masalah nilai, aman lah. Ibu tidak perlu cemas. Masalahnya aku tetap saja sulit menenangkan Ibu sebaik apapun nilai pelajaranku.

“Ibu kamu ngelarang kamu pergi?” tanya Very waktu saya menemui dia di teras.

Aku mengangguk. Tepat pada saat itu Ibu keluar untuk membeli makan. Sambil melewati kami matanya menatap tajam ke mataku, seperti menegaskan bahwa aku tidak akan pergi main sama Very. Aku diam saja sambil membuang pandangan ke arah lain, menghindari tatapan Ibu. Aku baru berani menatap Ibu ketika beliau sudah berlalu. Aku bisa melihat sosoknya dari belakang. Aku tidak menyangka kalau itulah terakhir kalinya aku memandang Ibu. Perempuan yang melahirkanku, menyusuiku dan merawatku hingga sekarang ini. Terbersit setitik rasa haru atas semua pengorbanan Ibu untuk hidupku. Terselip rasa bersalah karena sudah berjanji hal yang belum tentu bisa aku tepati.

“Ibumu mau ke mana?” Very membuyarkan lamunanku.

“Beliin aku sarapan.”

“Kayanya Ibumu nggak suka aku di sini. Aku pergi aja ya.”

“Ke mana?” Aku mencegah Very.

Andai aku tahu apa yang akan menimpaku karena menahan Very, aku tak akan melakukannya. Tapi yang terpikir dalam benakku saat itu cuma bahwa aku ingin menolong Very.

“Sudah nggak papa. Ibu-ibu kan biasa gitu. Kaya lupa Mama kamu gimana.”

Very berbalik ke tempatnya duduk.

“Kamu kenapa?” tanya saya.

“Biasa lah. Kena marah Mama lagi.”

Aku menghela nafas. Kalau Very sudah membicarakan Mamanya, aku bersyukur punya Ibu yang biarpun cerewet tapi sayang padaku. Mamanya Very seperti tidak ingin Very lahir ke dunia. Heran aku sama Mamanya.

“Kenapa lagi sekarang?”

“Aku nyolong duit Papa.”

Aku terlonjak dan menoleh pada Very.

“Hah?”

Tidak ada anak sebego Very. Sudah dimarahi mulu sama Mamanya, malah bikin masalah terus-terusan juga. Very dan Mamanya jadi seperti dagelan yang menggelikan. Makin Mamanya marah, makin Very bikin ulah. Makin Very bikin ulah, makin Mamanya marah. Tidak ada selesainya.

“Kamu ini enggak ada takutnya sama Mama kamu,” keluhku.

“Habis gimana? Uangku habis, Mama nggak mau kasi. Katanya uang jatah sebulan ya sebulan, padahal kemarin uangku habis buat bayar buku. Ya aku nyolong duit Papa. Eh, pas mau ngambil ketauan Mama. Habis aku dimarahi. Diusirnya aku. Terus aku ke sini ini.”

“Cuma gitu langsung diusir?”

“Mama sudah marah sejak tadi malam. Aku pulang telat malam banget tadi malam.”

“Ke mana aja?”

“Main.”

“Ke mana?”

Aku merasa perlu menegaskan dia ke mana. Kata ‘main’ itu biasanya sama dengan ngendon di game online. Jadi kutanyakan kejelasannya pada dia.

“Biasa,” jawabnya pendek.

“Game online?”

Very mengangguk.

“Kamu itu kurang apa sih Ver? Di rumah semua ada. Mbok ya main game online di rumah aja kan bisa.”

“Nggak seru. Kalo di rumah, jam sembilan sudah diteriakin suruh tidur. Males. Sekalian aja di warnet. Hape matiin. Bebas pulang sampai pagi.”

“Kamu gila. Apa enaknya di warnet? Hidup kok cuma buat main game online. Isi kek dengan sesuatu yang berguna. Bikin blog atau apa gitu. Game online!” omel saya kesal, “Main stream banget. Yang enggak main stream gitu kek.… “

“Kamu kalo ngomel kaya Mamaku.”

“Aku setuju sama Mamamu.”

Very diam saja.

“Sekarang gimana?” tanyaku.

“Aku mau minggat aja.”

“Apa? Minggat ke mana?” saya kaget mendengar kata ‘minggat’.

Dalam benakku minggat itu mengerikan karena itu berarti harus pergi dari kenyamanan yang diberikan Ibu dalam semua hal. Aku tidak bisa bangun pagi kalau tidak dibangunkan Ibu. Aku tidak pernah masak sendiri, semua Ibu yang bikin. Baju, semua yang nyuci dan setrika juga Ibu. Aku cuma bisa bersih-bersih rumah. Hal yang tidak akan bermanfaat buat cari uang kalau aku minggat dari rumah.

“Nggak tau,” jawab Very kelu.

“Bodoh. Minggat itu ya harus tau ke mana!” tukasku sambil menghempaskan punggung ke kursi.

“Kalau tau harus ke mana itu namanya piknik!” bantah Very kesal.

Ditutupnya wajahnya dengan tangan. Jemarinya mengacau rambutnya yang tebal dan hitam. Dia sebenarnya anak yang tampan. Nasibnya saja yang kurang tampan. Kelakuannya juga tidak tampan. Aku menatap Very dengan sebal.

“Ngapain sih mesti minggat Ver? Hidup itu cuma sementara. Kalo bisa, kita bahagiakan orang tua saja. Belum tentu juga dengan seluruh umur kita, kita bisa membalas budi sama orang tua. Ini malah pake minggat segala.”

“Aku nggak tahan, Rob. Mama rese banget. Ngatuuur mulu. Aku kan pengen bebas juga.”

“Kamu kalo enggak diatur ya hancur. Gaya banget, sok mau bebas.”

“Kamu cerewet. Kamu enggak tau rasanya diawasi kaya maling. Cuma karena Mama sama Papa itu polisi dan sering nemuin kenakalan remaja di kantor mereka, mereka pikir aku kaya gitu!”

“Lha nyatanya?”

“Rob, coba liat, Ibu kamu enggak kaya Mamaku yang curigaan mulu, nyatanya kamu baik-baik aja,” Very berapi-api.

“Sementara aku,” dia menunjuk ke dadanya, “Dicurigain mulu, rasanya jadi pengen banget bikin kecurigaan mereka benar.”

Aku tercenung. Benar juga kata-kata Very. Ibu, meski sama rese-nya, tapi tidak pernah memperlakukanku seperti pesakitan yang harus diawasi dengan ketat. Meski Bapak pergi dari rumah waktu saya kelas 3 SD, aku masih punya Eyang Kakung yang begitu sayang padaku. Sayang Eyang meninggal waktu aku kelas dua SMP kemarin.

Hidupku penuh cinta kasih dan bukan kecurigaan seperti Very.

“Sekarang kamu mau gimana?”

Very mengangkat bahu. “Nggak tau. Malas aja tinggal di rumah.”

Aku jadi ikut berpikir dia di mana dia bisa tinggal. Tiba-tiba terlintas ide.

“Di sini saja, gimana?”

Very berhenti mengacau rambutnya dan menoleh. Matanya menatap penuh harap.

“Yang bener?” wajahnya berbinar. “Ibu kamu gimana?”

“Gampanglah. Nanti aku bilang sama Ibu.”

Sepertinya saya bohong. Saya belum tahu tanggapan Ibu atas hal ini. Ibu tidak terlalu suka pada Very yang penampilannya kusut. Buat Ibu penampilan itu menunjukkan kepribadian. Dan kata Ibu selalu, “bau rokok. Pasti dia merokok. Kamu jangan ikut-ikutan, Rob.”

Begitulah. Kalau saya mengajak Very tinggal, jangan-jangan Ibu langsung menolak. Tapi biarlah, pikir saya. Saya akan berusaha membuat Very diterima di rumah ini.

“Beneran nih, nggak papa?”

Aku mengangguk.

“Ya sudah. Aku ambil baju sama buku dulu ya?”

“Ke mana?”

“Ke rumah lah.”

“Ya ampun. Tadi tidak dibawa saja sekalian.”

“Kan tadi belum tau mau nginep di mana. Lagian aku buru-buru aja pergi begitu Mama suruh aku pergi. Malas dengar omelan Mama panjang lebar.”

Aku menepuk dahi dengan kesal. Benar-benar keseringan dimarahi jadi bikin Very yang cerdas ini jadi bodoh.

“Kalo nanti kamu pulang mau ambil baju sama perlengkapan sekolah, malah ketemu Mama kamu.”

Very menggeleng. “Enggak. Mama sama Papa mau pergi kondangan. Tadi Mama cuma  marah sambil ribut teriak minta Papa antar ke salon. Habis dari salon palingan nanti pulang bentar buat ganti baju terus berangkat.”

“Ini sudah berangkat belum?”

“Aku ngebel mbak Isah dulu.”

Very lantas memencet-mencet hapenya. “Mbak Isah? Mbak, Mama sama Papa sudah pergi belum?… Oh, sudah? Jam berapa tadi berangkatnya?… Baru aja? Oke deh. Tolong bukain pintu ya Mbak. Aku mau pulang bentar sama temenku. Ya… Ya, oke.”

Teleponnya dia tutup.

“Yuk.” Dia mengangguk.

“Kok sama aku segala?” aku protes teringat janjiku pada Ibu.

“Aku butuh orang buat bantu beres-beres. Biar cepet. Kalo kelamaan nanti keburu Mama dan Papa datang dari salon, bisa batal rencananya.”

Aku mulai menimbang. Cuma ambil barang-barang dia seadanya, paling juga tidak lama, pikirku. Tanpa menunggu persetujuanku, Very sudah berdiri, berjalan ke arah motornya dan menoleh ke arahku yang belum beranjak dari kursi.

“Ayoo!”

Very seperti tak ingin dibantah lagi. Dengan bimbang aku mengikuti di belakangnya. Pikiranku campur aduk.

Aku sebenarnya berharap Ibu segera datang dan menghalangiku pergi. Tapi Ibu belum datang juga. Very keburu mengajakku pergi. Andai Ibu datang, mungkin Ibu bisa mencegahku pergi. Tapi urusan takdir begini, mana bisa aku pakai kata ‘andai’? Maka pergilah aku sama Very. Pintu depan kututup sebelum membonceng Very, lalu kututup juga pintu pagar. Tidak ada yang saya kunci karena kupikir Ibu bakal pulang sebentar lagi.

Very menghidupkan mesin motor. Sekilas sebelum motor mulai melaju aku melihat Ibu berjalan membawa tas kresek hitam. Pasti di dalamnya ada nasi kuning kesukaanku. Terlintas rasa bersalah dalam hatiku. Kuredam sendiri bahwa sebentar lagi aku akan pulang dan tidak pergi-pergi lagi karena bahkan Very akan tinggal di rumahku.

Motor melaju meninggalkan rumah. Aku duduk di motor Very yang keren. Aku selalu suka kalo dibonceng sama Very karena aku merasa ikut keren. Tapi kali ini kegundahan hatiku karena telah melanggar janjiku pada Ibu menghantui hatiku hingga rasanya begitu pekat. Tubuhku bersama Very tapi pikiranku tertinggal di rumah, menemui Ibu yang pulang membawa nasi kuning kesukaanku.

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

13 Comments to "Perjalanan Terakhir (1)"

  1. wesiati  19 November, 2013 at 18:09

    Mas anoew : tunggu lanjutannya, aku nunggu komentarmu di serial berikutnya.

  2. anoew  19 November, 2013 at 16:57

    warna yang berbeda. mantaf.

  3. wesiati  18 November, 2013 at 11:05

    JC, aku jarang nyuruh2 teman2ku untuk baca… nggak pede. ‘sakit’ku belum sembuh benar ternyata, bro…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *