Aku Tidak Bisa Mengatakan Tidak (1)

Leo Sastrawijaya

 

(Lanjutan dari Pelangi Jingga, berhubungan dengan “Satu bab yang hampir selesai -1”, “Satu bab yang hampir selesai 2” dan “Ornamen Bunga Pada Dinding Hotel” serta “Sepasang Mata Bunda”)

 

            Dengan gaun warna pastel dan celana panjang hitam nan chick Ibu Adelia pagi ini  nampak begitu cantik energik. Heran, apa sih yang telah membuat rasa suntukku hilang dan aku begitu bergairah mengikuti kuliah hari ini? Filsafat Hukum, astaga aku baru sadar di neraka macam apa aku selama ini berada? Ini bukan ruang kelas, sungguh! Lihatlah bahkan untuk diktat yang ditenteng Ibu Adelia saja tebalnya entah berapa ribu halaman…. Aku baru sadar mungkin tersasar masuk kedalam Fakultas Hukum merupakan salah satu cara alam menghukumku. Selama ini semua persoalan kuanggap enteng saja. Baiklah kuperkenalkan kalian kepada seseorang di masa lalu bernama Angga, tentu saja dia perempuan dan ehm! Cantik. Angga-lah yang membuatku terjerembab kedalam jurusan nyaris seratus persen hapalan ini. Anggraeni putri seorang pengacara,  empat bulan lengket denganku. Caranya membanggakan sang ayah membuatku penasaran terhadap fakultas ini. Tanpa mau menyadari bahwa sesungguhnya menghapal merupakan kegiatan yang bisa membuatku mati karena stress, aku masuk saja dan arena otakku sebenarnya tidak bebal-bebal amat lancar saja  aku diterima masuk fakultas ini.

Seiring dengan dengan sirnanya rasa sukaku kepada Angga, perlahan terbit pula rasa sesal dalam hati. Mengapa harus di sini? Sayangnya tidak seorangpun keluargaku yang mendukung keinginanku untuk pindah fakultas. Buang-buang waktu, begitu alas an mereka hamper seragam. Ya, tentu saja aku maklum, alas an orang tuaku jelas masuk akal. Lagipula keputusan seperti itu hanya akan buang-buang uang juga disamping waktu. Apalagi Erlin adikku juga sebentar lagi akan selesai SMA, tentu saja dia akan memerlukan dana tidak sedikit untuk masuk  kuliah. Sehingga dengan segala penyesalah dan keengganan aku meneruskan saja kuliahku… Bila nilaiku jeblok toh aku punya alas an, ini bukan jurusan favoritku. Ini hanya kecelakaan. Menyebalkan bukan alasanku?

pelangi-jingga

Tetapi hari ini, ternyata semua berubah, bangku-bangku kuliah yang selama ini nampak beku kini kelihatan begitu ramah menyapa. Teman-teman kelaskupun tampak begitu menggairahkan. Pohon-pohon yang membentengi jalan antar fakultas terasa demikian sumringah. Bunga-bunga yang menghiasi halaman rektorat begitu kaya warna. Bahkan seperti kukatakan tadi, aku baru menyadari betapa menariknya ibu Adelia yang masih singgel itu. Maaf bu saya selama ini melihat ibu laksana seekor monster. Buku-buku tebal itu, juga tugas – tugas untuk merangkum dan menyimpulkan membuatku merasa menjadi si tersangka di depan pengadilan. Dan anda adalah monster penunggu ruang sidang dengan cambuk api siap dilecutkan kepadaku. Iiiiih……! Tetapi sekarang, bila ibu menugasiku untuk membaca seluruh isi perpustakaan dalam semalam saya pasti akan melakukan dengan sepenuh rela.

Ya Tuhan….Ira, inikah dia yang telah memberiku suluh? Membuat semua kawanku menyalami dan menanyakan ada apa sehingga aku nampak demikian sumringah. Mengapa tidak dari semula Engkau sadarkan kami, tentang sejumput rasa tak terkirakan yang telah engkau pasang di jiwa kami dan segera akan tersambung bila antena-antena kami arahkan ke arah kami masing – masing. Benarkan Tuhan bila kusimpulkan bahwa cinta adalah perkara tentang hasrat hakiki yang tersambungkan oleh ikatan suci antar dua insan lain jenis? Dan ah, apa ini? Gairah nan melingkar-lingkar menggulung jiwaku, melindungi memberi tenaga. Melindas semua rasa dahaga.

‘Saudara Erwin….’

‘Iya Bu Adelia…’

‘Apa opini saudara tentang pentingnya law enforcement  bagi terciptanya kepercayaan masyarakat terhadap arti penting hukum dan peraturan-peraturan mengikat lainnya.’

‘Pendek saja bu. Tanpa upaya penegakkan hukum atau law enforcement aturan-aturan hukum dan perundangan tidak berarti apa-apa. Hukum dan aturan perundangan kehilangan ruh dan wibawanya. Pasal-pasal hukum melulu akan dimaknai sebagai barisan kalimat yang tersusun rapi tanpa manfaat. Orang bisa seenaknya melanggar hukum.’

‘Okey saudara. Saya sedikit surprise dengan jawaban saudara kali ini. Agak nyambung.’

Seluruh isi kelas tergelak mendengar komentar ibu dosen nan manis itu. Aku seperti si maling yang ketangkap basah sedang mencuri kembang gula. Celingukan dan menggaruk-garuk kepala. Oh, monster di depan kelas ternyata memiliki selera humor pula.

‘Wah broer, tumben lu dapet pujian dari Ibu Adelia, bukankah beliau monster betinamu?’ Priyo karibku membisikan pertanyaan itu di telingaku.

‘Siapa bilang? Beliau itu peri pelindungku nan cantik.’

‘Wallah…wallah. Mungkin tadi pagi kamu mengambil satu-satunya sarapan yang benar sepanjang sejarah hidupmu.’

‘Oh, iya. Tentu. Untuk pujianmu, jangan kuatir aku cukup punya dana untuk mentraktir kamu ke warung Bu Juki siang ini.’

‘Busyet dah, apa istimewanya tawaran traktirmu itu… ?’

‘Sudahlah sekali-kali belajar bersyukur  kenapa?’

No way, aku tidak yakin hari ini tidak ada yang istimewa bagimu. Harus istimewa juga dong tawarannya ke teman. Sekali-kali bersyukur berbagi dengan teman kenapa?’

‘Pengerat lu……dasar!’

‘Hanya perlu 10 menit untuk sampai di Sate Banaran, satu porsi sate dan gulai kuanggap istimewa bagiku.’

Aku mengangguk dengan pura-pura enggan dan keberatan. Padahal aku memang sudah menyiapkan ‘pesta’ kecil bagi mereka. Ira pun akan mengadakan ‘pesta’ kecil dengan geng-nya juga. Tentu tanpa membuka rahasia kami.

‘Tetapi ingat. Jangan bawa Isti. Nanti yang lain ikutan bawa istri-istri mereka. Bangkrut aku nanti.’

‘Okey siiiip boss. Ini pesta para lelaki.’

‘Catat tolong doakan semoga amal-ibadahku diterima.’

‘Memangnya ada apa?’

‘Memberi asupan gizi anak-anak kos yang setiap hari mengalami mal nutrisi’

‘Bujung buneng. Kejam banget kau ini.’

‘Sudahlah, ngucap syukur napa? Tolong hubungi Buyung sama Harahap juga, mereka bisa ngambek berabad – abad bila tidak ikut. Tolong juga supaya mereka kontak yang lain.’

‘Pastilah. Kita bukan jenis yang tidak punya rasa setia kawan broer.’

Berdelapan kami menuju tempat yang dipilih Priyo, Buyung dan Harahap datang langsung dari rumah kost, aku berboncengan dengan Priyo, Ino membonceng Wulan, satu-satunya geng kami yang beda jender. Wulan adalah wanita yang bila di negeri liberal tidak akan membuat orang kaget jika dia memilih operasi trans-gender. Ia tomboy habis, saking tomboynya sehingga kami kadang kadang lupa bahwa dia satu-satunya anggota geng yang perlu membeli pembalut tiap bulan…Pudi kali ini berboncengan dengan Izam. Dalam keadaan normal mereka tidak memiliki chimestry yang nyatu. Ribut melulu. Namun dalam keadaan kepepet mereka bisa menjadi team nan solid dan menjadi duo pemecah kebuntuan. Dunia sering kali memang menyajikan banyak fakta penuh selera humor.

Lewat pesan pendek Sisi menyatakan ingin bergabung dengan kami dan dia membawa seorang temannya, kuijinkan dia bergabung. Priyo sedikit protes saat mengetahui hal itu, ia ingin mengajak serta Isti. Jangan kaget dengan kebiasaan demokratis kami. Meski aku sang ‘boss’, tetapi tidak ada larangan mereka yang kutraktir mengajukan protes kepadaku untuk sesuatu yang dirasa sebagai ‘ketidakadilan’. Diantara sadar dan tidak, aku kadang berdoa agar teman-temanku yang berasal dari berbagai latar belakang tersebut kelak menjadi birokrat atau politisi. Kupikir itu akan bagus karena semangat demokratis memang tumbuh sebagai bagian dari kesadaran kami.

‘Ini kecelakaan Priyo, aku tidak mungkin menolaknya. Ya anggap saja dia tuan rumah kedualah.’

Sisi memang bukan orang lain bagi anggota geng kami. Demikian juga Ira, mereka sudah saling kenal. Dengan Wulan, Ira malah akrab. Seharusnya Ira-lah tuan rumah pendampingku. Tetapi yah, kami masih  harus bersabar. Kami, aku dan Ira berusaha agar semua bisa berjalan selancar mungkin. Kami menyadari pula, luka pasti akan ada. Dan Sisi adalah orang yang pasti akan terluka. Bisa jadi sangat terluka. Tetapi menjadi komitmen kami untuk berusaha semaksimal mungkin agar  luka itu sekecil mungkin. Inilah sebuah bentuk dari kenyataan hidup. Pilihan yang disajikan ternyata tidak selalu manis, meski demikian kami harus memilihnya juga supaya hidup tetap berlanjut.

Sisi datang dengan teman barunya yang ternyata begitu menyala, Fina. Para lelaki yang sebenarnya hampir semua sudah punya gandengan kelihatan begitu berbinar saat mereka datang. Priyo bahkan kini tidak lagi bersungut-sungut. Sementara Buyung, pria Padang – Jawa tersebut paling agresif mendekati Fina. Maklumlah dia kini jomblo. Yang lain, tidak mau mengalah, aku tahu itu. Hanya saja mereka berusaha ‘menghormati’ usaha si Buyung nan konyol itu. Lihatlah mata Pudi, dia terus-menerus mencoba mencuri pandang dan memberi senyum paling beracun setiap ada kesempatan. Priyo dan Harahap tidak beda. Hanya Izam sedikit bisa mengendalikan diri. Tetapi aku tahu benar siapa dia. Dia gerilyawan gigih. Terus bagaimana dengan aku? Jujur saja, bila aku belum bertemu dengan Ira, aku siap untuk berkompetisi dengan siapapun untuk mendapatkan Fina, termasuk bila dia sudah memiliki kekasih sekalipun. Dia memang sungguh ‘menyala’ menggairahkan. Tetapi bagiku kini nyalanya tidaklah berarti apa-apa dibandingkan  dengan nyala Ira di hatiku. Ditengah hangar bingar celoteh kawan-kawan karibku aku bahkan masih merasa kesepian……Mengharapkan Ira ada di sini dan kuperkenalkan dengan bangga kepada  mereka. Duh….

 

bersambung…

 

5 Comments to "Aku Tidak Bisa Mengatakan Tidak (1)"

  1. J C  18 November, 2013 at 08:23

    Artikel Leo dengan genre seperti ini memang duahsyuaaattt…muanteeepp…

  2. elnino  16 November, 2013 at 21:52

    Aduh, nyaris kehilangan jejak lanjutan kisah ini… Flashback ke masa2 kuliah Erwin. Lanjut lagi mas Leo

  3. anoew  16 November, 2013 at 14:52

    Fina, tunggu aku di perempatan depan toko buku. tak perduli mendung menghiasi langit pun.

    *Selalu menantikan tulisannya Mas Leo yang, nyastra dan mendayu-dayu. *

  4. Dj. 813  16 November, 2013 at 00:41

    Ya ampun, sudah seharian, masa cuma mbak DA yang hadir.
    Pada kemana semuanya, padahal cerita yang sangat bagus.
    Pada males baca ya…???

    Terimakasih bung Leo.
    Salam.

  5. Dewi Aichi  15 November, 2013 at 09:29

    Ini keren banget…gilak….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.