Suara Parau dari Pulau

Faiz Hasiroto

 

Bertinggal di sebuah kepulauan kecil dan terpencil, keluarga yang mulanya berjumlah tiga orang ini mencoba melanjutkan hidupnya dengan “bertulang-punggung” kepada menantu satu-satunya yang bernama Sugondo. Kepulauan yang hanya terdiri dari empat desa tersebut hingga kini memang tak banyak menyediakan peluang bagi kaum perempuan untuk menemukan penghasilan tambahan. Alhasil seorang perempuan di sana rata-rata mutlak menjadi ibu rumah tangga yang bergantung penuh kepada hasil kerja seorang suami. Dan sebagian besar laki-laki di sana mengandalkan potensi lautan, baik sebagai nelayan, petani garam, atau jasa transportasi air antar pulau. Dan seorang Sugondo yang menjadi tumpuan hidup keluarganya kala itu bekerja sebagai awak kapal (kapal kayu tradisional) yang khusus mengangkut garam dari kepulauan tempatnya tinggal, kedaratan bagian timur pulau jawa.

Hal lain yang melatari kisah ini bahwa mertua Sugondo adalah seorang janda serta buta sejak muda. Ia buta karena serangan sebuah penyakit yang datang secara tiba-tiba. Dan secara tiba-tiba pula semuanya menjadi awal dari runtuhnya bangunan rumah-tangga yang baru dibinanya kala itu. Sejak menjadi buta itulah perempuan muda bernama Sunarya yang kelak menjadi mertua Sugondo ini ditinggal sang suami. Lalu menjadi janda tanpa pernah mempunyai seorang anak yang dilahirkannya sendiri hingga saat ini. Adapun wanita yang kemudian menjadi istri Sugondo adalah anak angkat Sunarya yang diasuhnya sejak kecil, dan menjadi keluarga pertama Sunarya sejak ia ditinggal suaminya. Anak angkat yang hingga kini setia menjadi saksi sekaligus bagian tak terpisahkan dari derita panjang seorang Sunarya itu, bernama Hayati.

Beberapa tahun kemudian, dari dalam rumah gedek dan lantai tanah milik ibu Sunarya, lahirlah keluarga baru dari Rahim Hayati. Anak pertama Hayati hasil perkawinan dengan Sugondo itu, adalah seorang perempuan dan diberi nama Suhemi. Sesaat tak ada yang aneh dari pertumbuhan anak yang baru lahir bernama Suhemi tersebut. Namun belakangan diketahui bahwa Suhemi mempunyai masalah dengan pertumbuhan tulangnya. Sehingga kemudian ia tak mampu melakukan gerakan, serta tak mampu melangkahkan kaki sebagaimana mestinya anak seusianya berjalan, hingga saat ini.

Lima tahun berikutnya bertambah satu lagi keluarga ibu Sunarya dengan kehadiran anak kedua Sugondo dan Hayati. Kali ini cucu kedua ibu Sunarya tersebut berkelamin laki-laki dan diberi nama Sukarno. Barangkali untuk beberapa tahun kemudian keluarga ini penuh diliputi perasaan bahagia dengan kehadiran seorang putra laki-laki yang saling membahagiakan itu. Ibu Sunarya dan orangtua Sukarno bersyukur serta berbahagia, karena kehadiran Sukarno tidak saja sebagai pelipur atas kenyataan nasibnya selama ini, namun lebih dari itu semua, Sukarno mampu menumbuhkan semangat hidup keluarga ini untuk terus bertahan dan bercita-cita.

Begitu pula masa kanak Sukarno, ia lincah penuh gairah dalam naungan kasih-sayang keluarga tercintanya. Sekali pun Sukarno kecil berlimpah kasih-sayang dari orang-orang terdekatnya, namun keadaan keluarganya yang tak memungkinkan, membuat Sukarno jauh dari kesan dimanja apalagi teristimewa. Namun Sukarno tetap mengalir ceria di tengah-tengah segala kekurangan dan keterbatasan hidup keluarganya. Suhemi pun tersenyum senang mengintip dari celah-celah gedeknya, saat mendengar tawa adiknya yang sedang bermain-ria dengan teman-teman sebayanya.

Tetapi ada pepatah, “malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih.” Begitu pula apa yang kemudian terus terjadi pada keluarga ibu Sunarya yang malang tak kepalang ini, selanjutnya. Hanya berselang beberapa bulan saja Sugondo yang penuh suka-cita mengantarkan anak laki-lakinya ke sebuah pesantren diseberang pulau, kemalangan keluarga ini pun sudah kembali menjeratnya. Sugondo jatuh sakit tak lama setelah harapannya berkembang, dan cita-cita anak lelaki satu-satunya yang baru berumur dua belas tahun mulai dilayarkan. Sakit Sugondo kian parah, sementara perawatan dokter tak mungkin teraih oleh kemampuannya.

Tubuhnya yang semakin kurus dan kering hanya mampu tergolek lemas tanpa daya di atas balai-balai rumah gedeknya. Tak pelak hal ini membuat Hayati semakin panik dan terpojok oleh kenyataan yang tak pernah diduga sebelumnya. Tak mungkin ada tawaran lain selain dirinyalah yang mau tidak mau mesti berdiri di depan, menggantikan peran suaminya yang kini sudah terbaring tak berdaya karena sakit itu. Di pundaknya tidak hanya ada hidup ibu Sunarya serta anak perempuannya yang mesti terus “dipanggul” agar tidak kelaparan.

Tetapi ada pula eksistensi Sukarno beserta segenap ongkos belajarnya yang mesti “disuapi” di pulau seberang. Dan yang tak kalah membuat langkah Hayati kemudian semakin sempoyongan, adalah kondisi sakit suaminya yang tak kunjung membersitkan harapan akan kesembuhan. Sungguh bukan saat yang tepat buat Hayati untuk melakukan tindakan bunuh-diri. Perasaan semacam itu oleh Hayati ditepiskan sekuat mungkin, dengan dalih dirinya bukanlah orang yang pantas untuk sampai melakukan tindakan bunuh-diri. Sebab fikir Hayati, dirinya bukanlah dalam keadaan merasa hidupnya tak berarti lagi.

Justru dengan semua ini, hanya dirinyalah satu-satunya orang yang paling berarti bagi keluarga tercintanya. Karena semua beban bertumpuk di pundaknya, dan sumua harapan keluarga bergelayut di langkahnya, maka Hayati pun menyandarkan keningnya pada tiang kayu penyanggah dapurnya. Airmatanya deras berlinang, dan tangisnya yang sepi tak mampu lagi terekam oleh telinga anggauta keluarganya. Semua maha sedih tersebut sering disaksikan oleh letupan api yang bergulapan di sisi periuk dari tungku tanahnya yang tua.

keluarga-sunarya

Hari berganti, minggu bertanggalan, serta bulan menjelang. Dan Hayati yang telah menolak untuk bunuh diri, lalu memilih untuk tetap bertahan itu, ternyata memang terus ada di tengah-tengah keluarga dan “rumah-airmata”nya. Segala nestapa ia usung melintasi hari-hari dengan menjadi kuli rajut rumput laut, dengan menjadi kuli angkut garam saat musim panennya tiba, serta menjadi kuli apa saja asal perut keluarganya bisa terisi dengan yang halal.

Tubuh Hayati yang kecil kini semakin kerontang dan kulitnya menjadi hitam legam. Lalu apakah dengan segala daya Hayati, kini keharusan syarat hidup keluarganya sudah bisa tercukupi? Jawabannya tentu saja, tidak. Bahkan samasekali, TIDAK. Setidaknya itulah yang tergambar pada Hayati yang tak kunjung memanggil atau membawa Sugondo ke dokter, juga yang tergambar pada kebingungan dan tangisnya yang tak pernah reda, saat pada Sukarno telah tiba waktu disambung bekal belajarnya.

Pada saat-saat seperti itulah nampak Hayati meluangkan waktu untuk mendatangi saudara-saudaranya, baik saudara dari dirinya maupun saudara dari suaminya. Sekedar sejenak ingin mengurai penat dan sumpek dari rutinitasnya sehari-hari, Hayati pun berharap akan ada jalan keluar sebagai alternative atas kebingungan yang lagi-lagi terus ia hadapi. Namun ketika pembicaraan dengan saudaranya sudah sampai ke hal kondisi sakit suaminya terkini, serta kemampuannya menanggung biaya belajar anak laki-lakinya di pulau seberang, wajah Hayati pun nampak tercenung menegang, lalu pandanganya lepas menerawang.

Bagaimana pun ketidakberdayaannya, ia tak ingin ada saran dari saudaranya yang juga rata-rata hidupnya pas-pasan itu,” agar Sukarno dipulangkan saja dari tempatnya belajar.” Dalam hati kecil Hayati, Sukarno adalah anak laki-laki satu-satunya yang mesti berpengatahuan cukup, agar kelak ia bisa membawa diri serta keluarganya kejalan hidup yang lebih baik. Hayati sangat kasihan pada Sukarno bukan saja karena masa belajarnya yang masih terlalu singkat untuk harus terputus, tetapi Hayati tak ingin bila anak sebelia itu sudah harus terlibat langsung pada spiral derita orangtuanya. Tetapi bagi Hayati yang tak pandai berkeluh-kesah, airmata biasanya kerap menjadi jawaban sebagai penyimpul dari keadaan dirinya beserta kondisi keluarganya. Ya, hanya airmata sajalah yang sanggup mengurai segala kepedihan yang tersekat tak terkatakan di dalam dadanya.

***************************************************************

Jam dua dinihari, di pondok-pesantren kecil tempat Sukarno belajar nampak perlahan mulai kembali lengang. Sebagian santri melanjutkan tidurnya, setelah sebentar terbangun untuk melaksanakan shalat Tahajut. Shalat tahajut memang sebagai rutinitas seorang santri di pesantren, sekali pun biasanya bukan bagian dari aturan tertulis kepesantrenan.

Namun di saat suasana sudah mulai sepi itulah, tiba-tiba datang seorang laki-laki setengah baya menghampiri seorang santri yang baru turun dari mushalla dan hendak menuju kekamar tidurnya. Dengan tergopoh-gopoh lelaki tersebut mengucap salam, lalu bertanya keberadaan Kyainya. Sontak salam yang terdengar diucapkan oleh suara asing pada waktu yang tak biasa itu, membuat sebagian santri yang belum sepenuhnya terlelap di kamar-kamar asaramanya yang tak jauh dari mushalla, kembali terjaga. Ada yang hanya melongok dari balik jendela, namun beberapa ada pula yang langsung bergabung dengan temannya yang sedang ditanya oleh orang asing tersebut. Tetapi beberapa santri lagi ada juga yang sudah langsung mengenali sosok tamu dinihari itu.

Ansori, salah satu santri yang mengenalnya langsung menyapa tamu yang ternyata bernama Samiju tersebut. “Ada apa Pak Samiju malam-malam begini datang ke pesantren?” Tanya Ansori sambil membenahi kancing bajunya. “Aa’anu… ‘nak Ansori, saya datang atas permintaan keluarga Sukarno untuk menjembut pulang Sukarno sekarang juga, semua adalah karena kondisi sakit bapaknya yang semakin memburuk. Tapi bagaimana juga saya diminta pula oleh keluarga Sukarno agar segalanya atas ijin Pak kyai. Artinya, saya bisa membawa pulang Sukarno, jika Kyai bisa memberi ijin untuk itu.” Beber Pak Samiju kepada santri Ansori yang sudah ia kenal itu. “Baiklah, sekarang saya akan mencoba menemui Kyai. Biasanya jam segini, Kyai belum tidur kembali.”Pungkas Ansori kepada tamu yang pandangannya mulai mencari-cari di antara kerumunan santri. Dan sebelum Ansori beranjak, tiba-tiba Sukarno sudah mendekat ke arah Pak Samijo. Pak Samijo yang menyadari itu, langsung menyambut tangan Sukarno seraya mencoba menjelaskan maksud kedatangannya ke Pesantren malam-malam begini.

Sementara Ansori yang pergi menemui Kyainya sudah kembali, serta langsung mempersilakan Pak Samijo sekalian Sukarno untuk segera menemui Pak Kyai yang sudah menunggu di ruang tamu. Tak lama kemudian sang Kyai sudah keluar dari ruangan, lalu memanggil Ansori. Kepada Ansori sang Kyai memerintahkan untuk turut serta menemani Sukarno yang akan pulang. Ansori yang memang masih saudara sepupu Sukarno, langsung bergegas kekamarnya untuk berkemas, begitu pula dengan Sukarno. Tak lama ketiga orang tersebut sudah meninggalkan pesantren setelah sebelumnya berpamitan dan memohon sambungan do’a kepada sang Kyai serta kawan-kawan santri yang ia tinggalkan.

Semua itu demi keselamatan perjalanan serta kesembuhan orangtua Sukarno yang hendak ditujunya. Beberapa santri ada yang mengantar dua kawannya yang pulang karena musibah tersebut, hingga ke pantai yang memang tak jauh dari lingkungan pesantren. Setelah sauh terangkat, perahu mesin yang sengaja dibawa Pak Samijo untuk menjemput Sukarno tersebut langsung tancap gas, menuju pulau dimana Sugondo terbaring sakit.

Setelah menempuh perjalanan laut kurang dari satu jam, perahu Pak Samijo pun bertambat di salah-satu pelabuhan pulau tersebut. Tak lama dari itu, kemudian Sukarno sudah berada di tengah-tengah keluarga dan orang-orang yang sedang menjenguk bapaknya. Sukarno yang langsung mendekat dan mencium tangan bapaknya hanya bisa memandang sedih tubuh yang terbujur tak berdaya itu. Mendengar dan merasakan anak laki-lakinya menyentuh tangannya, Sugondo pun hanya bisa membalas dengan mengusap-usap punggung tangan Sukarno dangan jempolnya. Air hangat tiba-tiba mengalir perlahan dari kedua sudut mata Sugondo yang tetap tertutup rapat. Hal itu membuat setiap yang hadir di sana saling bertangisan, tak tahan dengan apa yang dialami oleh lelaki yang biasanya murah senyum itu.

Akhirnya Sukarno perlahan mulai melepas jabat tangannya, lalu mengambil air wudhu untuk kemudian mengaji dan mendo’akan orang yang sangat mencintai dirinya tersebut. Sesaat Hayati istri Sugondo terlihat beranjak mengambil air wudhu pula, lalu di samping anak laki-lakinya itu ia kembali turut-serta mendoa’akan suaminya. Ketika anak dan istri Sugondo khusuk mengaji, ketika setiap yang hadir hikmad dalam zikir, Sugondo ternyata diam-diam telah pergi meninggalkan semuanya dengan menghembuskan nafasnya yang terakhir. Inna lillahi wainna Ilaihi rajiun… Semua orang baru sadar bahwa Sugondo telah tiada, ketika do’a-do’a tuntas dipanjatkan dan ayat-ayat Ilahi pungkas dibacakan. Kemudian bergemuruhlah rumah kecil Sugondo oleh tangis dan takbir. Maha Benar Allah, “bahwa pada setiap yang bernyawa akan mengalami kematian.”

Akan tetapi bagi Hayati kematian suaminya belum sepenuhnya dapat diterima. Dari itu ia tak sadarkan diri, dan dalam sedu-sedan yang meraung-raung sambil menerjang serta memukul-mukul lantai tanah di bawah balai-balai suaminya, ia bertingkah dengan emosional yang mulai liar. Sesekali Hayati berdiri memegang wajah suaminya, lalu terjatuh, kemudian merangkak meraih sepasang sandal Sugondo. Ia menyodor-nyodorkan sandal tersebut ke arah jasad Sugondo, sambil menggandeng sebelah tangannya yang sudah mulai kaku itu. Melihat tindakan Hayati yang mulai semakin tak terkendali, saudaranya yang duduk tak jauh dari aksi itu buru-buru bertindak cepat, dengan menghalang-halangi dan berusaha membawa Hayati menjauh dari mayat suaminya. Namun Hayati meronta, sambil terus menoleh kearah Sugondo, dari mulutnya keluar kata-kata; ” Ayo kita pergi…tinggalkan alam derita ini… Bawa aku… bawa anak-anakmu!” Mendengar kalimat Hayati yang menyayat-nyayat itu, setiap perempuan seperti wajib menitikan airmata, dan para lelaki pun yang ada di sana, terasa sulit kedua-matanya untuk tidak berkaca-kaca.

Pada pagar bambu halaman rumahnya, Hayati duduk bersandar. Kakinya lurus membujur dan mengejang, sementara tangannya menekan kedua pelipisnya dengan mata yang terus deras mengalirkan tanda kepiluan. Sesekali wajah Hayati menengadah ke langit, bibirnya yang pucat dan kering mengisyaratkan sebuah kata-kata tengah diucapkan, entah kepada siapa sikap tangan yang sebentar-sebentar menyembah itu ia tujukan.

Di saat yang sama orang-orang mulai sibuk mempersiapkan prosesi pemakaman Sugondo. Beberapa kerabatnya ada yang membujuk Hayati agar bisa menenangkan diri di gubuk ibu Sunarya dan Suhemi saja, yang dekat bersebelahan dalam satu halaman. Hayati yang sempat menolak, pada akhirnya berhasil dibimbing oleh dua orang saudaranya untuk berpindah, demi lancarnya persiapan prosesi pemakaman suaminya.

Delapan hari menjelang sejak kematian Sugondo, kedua mata Hayati masih lembab di bawah kelopakmatanya yang nampak membengkak. Hari itu Hayati terlihat berpanas-panasan di ujung dermaga, melepas Sukarno, anaknya yang ia pastikan kembali ke tempatnya belajar. Tak ada lambaian tangan, tetapi kedua ibu dan anak itu terus saling berpandangan, hingga laju perahu yang ditumpangi Sukarno semakin menjauh dari Hayati berdiri.

Memberangkatkan Sukarno kembali ketempatnya belajar jelas bukanlah Kemampuan, melainkan tak lebih dari kemauan keras Hayati yang ingin nasib keturunannya, kelak dengan ilmu pengetahuan hidupnya akan lebih baik. Dalam benak Sukarno yang mulai tumbuh pada kenyataan keluarganya kini, pundak ibunya disadari terlalu rapuh untuk memanggul segenap beban hidup yang sekarang kepada tubuh kecilnya harus bertumpu.

Tetapi Sukarno remaja juga tak kuasa menolak kemauan keras sang ibu, sekali pun ia sudah tahu cara memperingan beban hidupnya yang sarat. (Selain saling berdo’a, juga demikianlah kira-kira terjemah dari bahasa bisu ibu dan anak yang hanya bisa saling berpandangan dalam pisah itu.) Akhirnya perempuan yang baru mengenakan status Jandanya itu kembali menatap langit, sebelum akhirnya berbalik badan untuk melangkah pulang.

Sepanjang perjalanan pulang, pandangan ke depan Hayati seringkali terabai, ia kerap melangkah dengan menundukan kepala dengan sesekali menghamburkan tatapannya ke langit jauh. Sungguh sebuah kecamuk perasaan seorang ibu muda yang patah “tulang punggungnya,” dan harus melanjutkan perjuangan almarhum suaminya seorang diri, benar-benar seorang diri.

Tahun-tahun kini terlintasi sudah oleh daya juang seorang janda Hayati didalam mempertahankan dan melanjutkan hidupnya. Dengan terasa sudah empat tahun ia menjaga Sukarno agar tetap menimba ilmu, dengan terasa selama itu pula ia tetap merawat ibu dan anak perempuannya dengan baik sebagaimana biasa. Apapun daya, bagaimana pun pergumulan upaya Hayati sebagai kepala keluarga, tetapi nyata sudah bahwa ada pepatah “dimana ada kemauan, di situ ada jalan,” kini memberikan kebenarannya.

Dalam rentang waktu itu pula, sebenarnya janda Hayati juga tak bisa dibilang sepi dari deru hasrat kaum lelaki. Namun cintanya pada Sugondo yang lahir dari bunga-rampai penderitaan dan sudah berkerak di dalam hati dan kenangnya itu, seringkali menjadi kendala janda Hayati membukakan diri pada setiap hasrat lelaki yang menemui.

Namun kini setelah Hayati mampu mengkompromikan kesetiaan masalalu dengan kenyataan masakini yang kian berat saja ia panggul sendiri, ternyata tidak sertamerta semuanya berjalan landai tanpa ada rintangan. Setiap lelaki yang datang pada Hayati, biasanya mulai berguguran hasratnya manakala Hayati menyuguhkan kenyataan, bahwa dirinya hidup bersama dengan ibunya yang buta serta anak perempuannya yang lumpuh, tak bisa apa-apa kecuali sebagai tempat ia mengabdi. Namun ada pula lelaki yang mundur teratur manakala ia tahu bahwa Hayati juga punya anak laki-laki yang masih bersekolah, yang pasti butuh biaya semakin besar di tiap tahunnya.

Tetapi bagi Hayati semua kenyataan lelaki tersebut tidaklah menjadi beban pikiran apalagi sampai mengendorkan semangatnya untuk terus berjuang dan mengabdikan diri buat keluarganya. Karena Hayati sadar, dirinya tidak sedang mencari cinta untuk asmara. Tetapi jauh dari itu semua, ia ingin ada teman hidup yang memahami keadaannya dan bertanggungjawab atas pilihannya.

Hingga pada akhirnya kriteria lelaki yang Hayati idamkan, datang juga. Lelaki yang berhasil menyunting Hayati dengan segala kenyataanya itu, adalah seorang duda tanpa anak. Cakrawala hidup keluarga ibu Sunarya pun bermekaran, terkira keadaan akan segera berubah menjadi lebih baik dan membahagiakan semuanya. Lalu dua tahun kemudian Hayati kembali dikarunia seorang anak laki-laki dalam lembaran hidupnya yang baru. Mungkin orang yang benar-benar merasa paling bahagia dengan kehadiran seorang anak tersebut adalah suami Hayati. Karena sebelum berpisah dan menemukan Hayati sebagai istri pengganti, lelaki dari desa tetangga tersebut sudah dua puluh tahun lebih berkeluarga, tanpa dikaruniai seorang anak yang selama itu pula ia nanti-nanti.

Namun apa lacur, “Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih,” harus kembali terucap untuk keluarga ini. Pada saat anak ketiga Hayati dari pasangan barunya tersebut sudah mulai bisa berjalan tertatih-tatih, langit di atas keluarga inipun kembali dirundung kabut. Ferdi, demikianlah anak yang belum genap dua tahun itu bernama, kini sudah harus kehilangan seorang bapaknya. Ferdi terpaksa harus menjadi yatim, setelah bapaknya tak mampu bertahan dari sakit kerasnya yang tiba-tiba. Sebelum semua itu, Sukarno pun telah belajar merantau untuk memperingan beban ibunya, serta mencegah agar keluarganya tak terjerembab pada ngarai putus-asa. Demikianlah Sukarno bangkit, dengan melepas dan merelakan tunangannya menjadi milik orang-lain, demi kecintaannya pada keluarga.

Sekian.

Situbondo, 17 Oktober 2013

 

 

13 Comments to "Suara Parau dari Pulau"

  1. J C  18 November, 2013 at 08:23

    Haduuhhh sungguh miris membaca kisah keluarga ini…semoga kehidupan Sukarno akan lebih baik…

  2. ariffani  17 November, 2013 at 10:44

    Masya Allah. . masih ada yang lebih susah dari saya.

    semoga ibu Hayati selalu di beri ketabahan yang semakin kuat dan Sukarno bisa membawa keluarganya untuk kehidupan yang lebih baik lagi,

    Terimakasih Pak Faiz atas pencerahannya, dan membuat saya untuk semakin bersyukur atas apa yang telah saya miliki semua.

  3. elnino  16 November, 2013 at 21:13

    Sungguh memprihatinkan nasib keluarga ini. Semogalah Sukarno yang mulai beranjak dewasa mampu membantu meringankan beban ibunya menghidupi keluarga yang tidak memiliki sosok kepala keluarga ini lagi.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.