[Xixi Diary Sang Superstar] Malaikat Pembimbing

Masopu

 

Sejak peristiwa kedatangan ibu-ibu wali murid ke TPQ, Xixi terus mengalami teror. Kata-kata tak sedap sering terdengar ketika dirinya melewati sekumpulan ibu-ibu yang sedang bercengkerama di sore hari. Mulai dari sindiran halu sampai kata-kata kasar. Meski dirinya tak menghiraukannya, namun dirinya khawatir hal itu akan diikuti oleh beberapa orang anak-anak TPQ yang melihatnya.

“Assalamualaikum,” sapa Xixi saat dirinya melewati beberapa orang ibu yang sedang duduk-duduk di teras rumah warga.

Ibu-ibu hanya melihat sebentar ke arahnya. Tak ada jawaban dari bibir mereka. Tatapan mata sinis menghampirinya. Sementara seorang ibu bertubuh tinggi kurus langsung memalingkan muka begitu melihat dirinya yang mengucap salam. Sementara beberapa ibu yang lainnya malah meludah ke arah jalan yang hendak dilaluinya. Sorot kebencian menghambur dari mata mereka, menjilati sisi-sisi hatinya.

Xixi tidak terkejut mengalami perlakuan seperti itu. Ada rasa getir yang mendera hatinya, namun hal itu tak membuatnya kehilangan senyuman. Dibalasnya perbuatan ibu-ibu tersebut dengan senyum manis yang dipunyainya. Kemudian dengan langkah seperti biasa diteruskannya langkah kakinya menuju ke masjid. Riuh-rendah cibiran yang dilontarkan ibu-ibu tadi tak dihiraukannya. Yang terbayang hanyalah wajah-wajah polos anak-anak didiknya di TPQ.

Ketika langkah kakinya telah memasuki pelataran masjid, beberapa orang anak segera berlari menghampiri. Tangan-tangan mungil mereka segera menggapai tangannya. Bergantian mereka menyalami dan mencium tangannya. Setelah itu dengan langkah bergegas segera berlari ke dalam ruang TPQ. Diikutinya langkah mereka dengan keriangan. Sejenak terlupakan olehnya perbuatan ibu-ibu tadi.

Kisaran waktu tak terasa terus berlalu. Riuh suara anak-anak yang belajar membaca Al-Qur’an akhirnya terhenti, saat suara sari tilawah terdengar dari masjid. Xixi segera mengakhiri pengajarannya hari itu dengan do’a. Setelah itu satu persatu anak didiknya berjalan ke arah masjid untuk menunggu saat adzan maghrib dengan tertib. Jamaah lain yang akan menunaikan sholat berjamaah pun sudah mulai berdatangan. Satu persatu mereka duduk berjajar. Rapi mengisi shaft-shaft yang masih kosong.

Hasrat untuk buang air kecil yang tadi tertahan, menuntun Xixi ke kamar kecil masjid. Setelah melaksanakan hajadnya, Xixi melangkah ke arah pancuran air untuk berwudhu. Dilihatnya beberapa orang ibu yang tadi mengejeknya ada di sana. Mereka segera minggir ketika melihat dirinya melngkah ke tempat wudhu. Tatap mata sinis mereka terus menyoroti setiap langkah Xixi.

“Dasar pelacur. Apa pantas wanita seperti ini jadi guru anak-anak kita?” umpat seorang ibu yang berdiri di ujung kanan dekat pancuran air. Wajahnya yang masih basah bersimbah air wudhu memncarkan api kedengkian.

“Iya-ya kenapa pak Kiai memilih dia jadi guru di sini? Kenapa gak menunjuk salah satu dari kita? Apa kita tidak lebih baik dari wanita sundal ini?” seorang ibu berkerudung merah menimpali umpatan temannya tadi.

“Atau jangan-jangan dia sudah berhasil merayu pak Kiai ya? Maklumlah pak Kiai kan duda dan anak-anaknya pada tinggal di luar kota mana tahan digodain wanita sundal ini,” timpal yang lain.

“Huss jangan sembarangan kalau ngomong. Jangan jelek-jelekkan pak Kiai. Gak mungkinlah beliau berkelakukan seperti itu.” seorang ibu berkerudung biru yang baru masuk ke tempat wudhu mengingatkan mereka. “Apa sih untungnya buat ibu-ibu untuk terus menjelek-jelekkan dia? Apa tidak ada kesempatan bagi orang yang berbuat salah untuk memperbaiki diri?” tanyanya lagi sambil menatap mereka satu persatu.

“Mbak Cici…… ” seru ibu-ibu tadi berbarengan.Wajah mereka pucat pasi melihat ibu berkerudung biru itu. Tatap mata mereka seakan tak percaya melihatnya. Satu persatu dari mereka berlalu pergi meninggalkan Xixi dan wanita itu berdua.

“Assalamu alaikum Ukhti” sapanya kepada Xixi yang baru menyelesaikan wudhunya.

“Waalaikum salam.”

“Apakah ukhti yang bernama Xixi?” tanya wanita yang berusia sekitar 30-an tahun tersbut.

” Benar mbak.” jawab Xixi dengan sorot mata keheranan.

“Kenalkan aku Cici, lengkapnya Uci Mufida. Aku putri pak Kiai yang tinggal di Semarang.”

“Mbak putri beliau?” tanya Xixi dengan raut muka keheranan.

“Iya aku putri beliau. Aku putrinya yang ke-3. Aku datang ke sini selain untuk menjenguk beliau, juga untuk membantumu mengatasi semua masalahmu dengan beberapa orang ibu di sekitar sini. Bapak sudah menceritakan semuanya tentangmu. Dan aku turut prihatin dengan masa lalumu dan juga perlakuan warga sekitar saat ini.” katanya dengan suara yang penuh kelembutan.

Cici kemudian menceritakan bagaimana pak Kiai meneleponnya. Percakapan by telepon tersebut membahas masalah keberadaan Xixi di TPQ. Keberatan beberapa orang jamaah masjid kepada dirinya. Hal itu ada kaitannya dengan masa lalu dirinya yang suram. Serta penyakit yang di deritanya saat ini.

Warga sekitar yang sudah menganggap Cici sebagai teladan tentunya akan mendengar setiap nasehat yang dirinya berikan. Hal ini tak lepas dari latar belakang pendidikannya yang alumni al Azhar Kairo serta kehalusan budi pekertinya. Karena itulah pak Kiai meminta dirinya untuk pulang dan tinggal beberapa saat dengannya. Beliau ingin membangun kesadaran warga bahwa seburuk apapun masa lalu seseorang, jika dia ingin bertaubat maka wajib diberi kesempatan.

Guardian_Angel_by_Animaker131

Pertimbangan lainnya adalah keberhasilan Cici dalam menyadarkan beberapa orang wanita panggilan seperti halnya Xixi di masa lalu. Dengan bimbingannya, mereka sadar dari jalan hidupnya yang salah dan sekarang bahu membahu dengan Cici dalam menggugah kesadaran warga sekitar tempatnya tinggal saat ini. Meski awalnya mendapat perlawanan, lambat laun mereka akhirnya bisa menerima metode pengajaran yang Cici berikan.

Atas pertimbangan itu pulalah, maka pak Kiai meminta Cici menyadarkan warga sekitar masjid. Xixi mendengar ceritanya dengan takjub. Cerita Cici akhirnya terhenti, saat suara iqomat memanggil mereka untuk segera masuk ke masjid dan melaksanakan sholat berjamaah.

 

Denpasar, 09022012.0220

 

5 Comments to "[Xixi Diary Sang Superstar] Malaikat Pembimbing"

  1. Linda Cheang  19 November, 2013 at 07:43

    Ibu-ibu ganas, akan selalu ada di manapun

  2. J C  18 November, 2013 at 08:22

    Ini gerombolan ibu-ibu nyinyir ampun…kayak yang paling suci saja ya…

  3. Dj. 813  16 November, 2013 at 00:45

    Oooooo…. maaf ada ibu Probo.
    Maaf tadi tidak lihat….

  4. Dj. 813  16 November, 2013 at 00:42

    Yooooouuuuuuu….!!!
    Disini malah tidak ada orang sama sekali….

    Dimana penggemar Xixi…???

    Terimakasih mas Masopu.
    Salam.

  5. probo  15 November, 2013 at 09:36

    satuuuuu

    cici sang penolong………

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.