[Xixi Diary Sang Superstar] Sang Malaikat Penolong

Masopu

 

Putaran roda mobil terus berpacu membelah hitamnya aspal jalanan. Iqbal yang duduk di belakang kemudi melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sejuknya udara di pagi itu menggodanya untuk menurunkan kaca avanza-nya. Hanya separuh saja yang menutupi jendela mobil yang selalu setia menemaninya. Pandang matanya terus memperhatikan jalanan yang dilauinya. Sementara alunan lembut lagu-lagu dari letto lembut menyapu gendang telinganya.

Laju mobilnya melambat saat melewati sebuah pasar. Aktivitas yang lumayan padat sedikit banyak berpengaruh pada kelancaran lalu lintas di jalan itu. Riuh rendah berbagai suara sedikit banyak mengganggunya. Perlahan laju mobil yang dikemudikannya semakin lambat hingga hampir ke titik 10 km/jam.

“Braaak,” suara sebuah benturan menyadarkan dirinya. Kaki kanannya sigap menginjak pedal rem, saat dilihatnya sebuah angkot yang berjalan di depannya berhenti. Matanya segera melihat ke arah depan. Beberapa orang berlari ke arah angkot yang berhenti tersebut. Beberapa kata makian sempat terlontar dari mulut mereka.

Melihat hal itu, Iqbal segera menepikan mobil yang dikemudikannya. Dengan segera dia berjalan ke arah kerumunan orang yang ada. Dilihatnya seorang gadis berkerudung biru terbaring di depan angkot tersebut. Tubuhnya yang tak sadarkan diri sedikit terabaikan. Orang-orang yang ada di sekitarnya sibuk menghakimi sopir angkot yang menabraknya.

malaikatpenolong

Saat matanya melihat ada tetesan darah yang merembes dari balik kerudung birunya, Iqbal segera meminta bantuan beberapa orang untuk membawa gadis tersebut ke mobilnya. Dengan ditemani seorang wanita dan seorang pria yang tadi membantunya memindahkan tubuh gadis tersebut, Iqbal membawanya ke rumah sakit terdekat. Tak dihiraukan lagi orang-orang yang hendak menghakimi sopir angkot tersebut.

Mobil melaju dengan cepat, tak berapa lama kemudian sudah memasuki areal parkir sebuah rumah sakit. Dengan tergesa dipanggilnya seorang perawat yang kebetulan ada di depan lobi rumah sakit. Perawat bertindak cepat memberi pertolongan medis. Tubuh wanita yang masih tak sadarkan diri tersebut segera dibawa ke ICU untuk mendapatkan perawatan. Sementara Iqbal segera mengurusi urusan administrasinya, meski dia sendiri tidak mengetahui siapa gadis tersebut.

“Masalah administrasi nanti saya urus mbak. Ini kartu nama dan nomer telepon saya.” Iqbal menyodorkan kartu namanya sebelum pergi meninggalkan ruang administrasi.

+ +

Jarum jam baru menunjukkan pukul 15.30 saat langkah kaki Iqbal memasuki ruang adminitrasi rumah sakit. Tanpa banyak tanya segera dia menghampiri petugas administrasi.

“Selamat sore mbak. Saya mau mengurusi masalah korban kecelekaan yang tadi pagi masuk ke sini mbak.” Iqbal memulai pembicaraan.

“Oo masnya yang tadi mengantarkan wanita tersebut. Mas wanita tersebut sudah pulang tadi jam 11 siang. Setelah diobservasi sama dokter luka-luka yang dialaminya tidak berbahaya. Karena itu dia diijinkan untuk pulang mas.”

“Terus masalah biayanya bagaimana?”

“Biayanya sudah dibayar sama yang bersangkutan.”

“Ya sudah kalau begitu mbak. saya pamit pulang dulu.” kata Iqbal sseraya berdiri.

“Mas ada pesan dari wanita tersebut agar masnya mencari beliau di alamat ini.” kata petugas administrasi tersebut sambil menyerahkan secarik kertas bertuliskan nama dan alamat. Mata Iqbal memperhatikan nama yang tertulis di sana “Xifana Adestya Maharani”. Setelah itu Iqbal berpamitan.

 

Denpasar, 15022012.0157

 

4 Comments to "[Xixi Diary Sang Superstar] Sang Malaikat Penolong"

  1. anoew  20 November, 2013 at 18:33

    Xixi, kau selalu membuatku fenasaran…

  2. J C  20 November, 2013 at 15:05

    Hoooorrreee…akhirnya ketemu Iqbal…bagaimana ending’nya ini…hhhmmm…

  3. Matahari  20 November, 2013 at 15:03

    Saya hanya baca ujung cerita…ada nama Iqbal..terjawab sudah komen JC dan Handoko yang sering bertanya…dimana Iqbal…Saya sendiri tidak ikuti cerita ini secara lengkap…..tapi sedikti tau jalan ceritanya….dan Iqbal akhirnya muncul juga…

  4. James  20 November, 2013 at 14:44

    SATOE, sang Malaikat

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.