Mengintip Pembuatan Keramik Tradisional di Kota San Keuw Jong

Jemy Haryanto

 

SETELAH PROSES PEWARNAAN, SELANJUTNYA KERAMIK-KERAMIK ITU DIBAKAR SECARA TRADISIONAL DALAM TUNGKU NAGA ATAU DRAGON KILN. KONON TUNGKU INI MERUPAKAN SATU-SATUNYA YANG MASIH TERSISA DI DUNIA.

Industri kerajinan keramik berpusat di San Keuw Jong, nama lain untuk kota Singkawang, Kalimantan Barat merupakan kerajinan yang dikerjakan oleh masyarakat Tionghoa. Kerajinan warisan leluhur yang dikerjakan secara turun temurun itu diprediksi sudah dimulai sejak abad ke 19 silam, dan memiliki nilai seni artistik tinggi.

sebuah sketsa dari Zul MS

(Sketsa Zul MS)

Tak heran beragam motif antik dihasilkan dari produk kerajinan keramik dapat ditemukan dan tampilannya begitu memukau. Mulai dari motif tumbuh-tumbuhan seperti bunga mawar, bunga jampa, bunga meihoa, hingga pada pembuatan motif naga, delapan Dewa, naga sembilan, dan lain-lain yang kesemuanya mencirikan tradisi masyarakat Tionghoa.

Namun jika diperhatikan dengan seksama dari bentuk, glasir, warna, hiasan dan bahan-bahan yang digunakan, keramik-keramik tersebut sangat mirip dengan keramik buatan China kuno, yang meliputi masa Dinasti Tang (618-906), Sung (906­-1279), Yuan (1279-1368) dan Dinasti Ming (1368-1644).

Lahirnya kesamaan itu memang tak lepas dari pengaruh budaya yang dibawa para leluhur mereka yang berasal dari China Daratan, saat terjadinya gelombang migrasi besar-besaran di Singkawang dulu, untuk merubah nasib. Sehingga dengan berbekal ketrampilan mengolah bahan keramik yang mereka pelajari di negeri asalnya, juga beberapa contoh keramik, mereka kemudian membuat kerajinan.

tungku naga. foto jemy haryanto

Tungku naga

Keramik dengan motif naga timbul. foto jemy haryanto

Motif naga timbul

Namun menurut literature saat itu mereka (leluhur) tidak langsung memproduksi keramik, melainkan tempayan untuk menyimpan persediaan air minum yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat Tionghoa. Setelah sukses dengan tempayan, mereka pun memperluas hasil produksi dengan barang-barang jenis lain seperti mangkok, piring, teko dan kemudian keramik.

Dalam proses pembuatannya, para pengrajin di kota ini juga masih mempertahankan cara-cara tradisional. Selain roda putar untuk membentuk bodi keramik, mereka menggunakan tungku Naga atau Dragon kiln sebagai ruang pembakarnya. Di negara asalnya Tembok Besar, tungku ini sudah dikenal sejak abad ke-10 Masehi. Sedangkan keberadaannya di kota Singkawang tercatat sudah puluhan tahun, dan menurut kabar merupakan satu-satunya yang masih tersisa di dunia.

Bagian dalam tungku Naga. foto jemy haryanto

Bagian dalam tungku naga

Bagian kepala tungku terdapat tiga buah mulut. foto jemy haryanto

Tiga mulut tungku naga

Satu-satunya pintu untuk masuk ke dalam perut tungku Naga terletak di samping. foto jemy haryanto

Pintu satu-satunya untuk masuk ke perut tungku naga

“Didirikan sekitar tahun 1935. Namun telah mengalami beberapa kali perombakan dan perbaikan. Bahkan tiga dari tujuh tungku yang dimiliki masing-masing industri sudah tidak beroperasi lagi alias bangkrut,” ungkap Hendra, pemilik salah industri keramik yang produksi sejak tahun 1980 di kota seribu kelenteng itu.

Lahirnya sebutan tungku Naga sendiri menurut Hendra, dari cerita para orang tua, itu dikembalikan pada asal usulnya di daerah Guangdong, China Selatan. Dulu, masyarakat di sana belum mengenal yang namanya tungku untuk membakar keramik. Mereka (para pengrajin) hanya memanfaatkan goa-goa di sekitar pegunungan untuk difungsikan sebagai ruang pembakaran. Setelah sekian lama, dari mengamati bentuk goa, barulah mereka terinspirasi membuat tungku.

“Bentuknya yang panjang menyerupai Naga, kemudian masyarakat China menyebutnya sebagai tungku Naga. Biasanya, panjang tungku bisa mencapai 38 meter, memiliki sepasang mata, juga terdapat tiga buah mulut terletak di bawahnya. Mulut itu berfungsi sebagai pintu tempat memasukan api pembakaran,” jelas Hendra.

Lalu bagaimana proses pembuatan keramik-keramik tersebut? Sebenarnya caranya tak jauh beda dengan cara yang diterapkan di industri keramik tua yang ada di kota Jingdezhen, Propinsi Jiangxi, Cina Daratan. Langkah pertama adalah menyiapkan bahan baku berupa tanah kaolin,- tanah khusus untuk membuat keramik,- yang kemudian dicampur dengan tanah lokal dan direndam dalam air selama dua minggu.

Proses pembuatan dan pembentukan:

Proses pembentukan 1. foto jemy haryanto

Proses pembentukan 4. foto jemy haryanto

Proses pembentukan 2. foto jemy haryanto

Dua orang pekerja dengan kayu bakar. foto jemy haryanto

Tanah tersebut selanjutnya digiling dengan mesin untuk membuang kadar air sampai tanah berubah elastis. Satu bak tanah memerlukan waktu 2-3 jam. “Namun bisa juga dengan cara menginjak-injak tanah tersebut hingga lemas,” ucap lelaki beranak satu.

Setelah pengadonan  selesai, yang merupakan tahap kedua setelah penggilingan, bertujuan untuk meratakan kadar air yang masih terkandung di dalam tanah, selanjutnya tanah tersebut dipotong-potong dan disesuaikan dengan ukuran keramik yang nantinya akan dibentuk di atas roda putar.

Dalam proses ini tidak semua keramik dibentuk dengan cara yang sama, tapi disesuaikan dengan ukuran. Untuk keramik ukuran besar, ada proses penyambungan yang harus dibuat dalam tiga bagian. Sekitar satu hari waktu yang diperlukan.

keramik 7. foto jemy haryanto

keramik 6. foto jemy haryanto

keramik 5. foto jemy haryanto

keramik 4. foto jemy haryanto

keramik 3. foto jemy haryanto

keramik 2. foto jemy haryanto

keramik 1. foto jemy haryanto

Selesai tahap pembentukan, keramik kemudian berpindah ke tangan para pengrajin yang ahli dalam bidang dekorasi. Dalam proses ini berbagai motif dibuat dengan cara dicetak, diukir dan dicap. Lalu diistirahatkan selama kurang lebih dua jam sambil dibolak-balik di tempat yang teduh agar tidak retak dan pecah.

Selanjutnya keramik-keramik tersebut diglasir atau diwarnai dengan cara dicelup atau disiram. Teknik celup biasanya untuk barang-barang kerajinan yang kecil seperti mangkuk dan piring, yang dicelupkan satu persatu dalam wadah yang berisi cairan glasir, sedangkan keramik berukuran besar pengglasiran dilakukan dengan cara disiram di atas papan. Keramik itu dipegang terbalik kemudian disiram mulai dari badan bawah sampai ke tepian, sedangkan bagian dasarnya biasanya tidak diglasir. Bila ingin menghasilkan banyak wama (polychroom) dapat dilakukan dengan menggunakan kuas. Dalam dua hari, industri kerajinan biasanya dapat mengglasir sebanyak ribuan keramik.

Tahap selanjutnya adalah pembakaran. Semua keramik yang telah diglasir, besar maupun kecil dimasukan ke dalam tungku Naga. “Namun perlu diperhatikan, sebelum masuk pada proses ini, terlebih dahulu ruang pembakar harus diperiksa dan dibersihkan, karena bila kondisinya kotor atau terdapat lubang sekecil apapun, akan mengakibatkan hasil pembakaran pada keramik tidak memuaskan, bahkan mungkin sekali akan banyak keramik yang rusak,” terang Hendra.

Keramik-keramik tersebut kemudian disusun berdasarkan jenis ketahanan panas. Keramik yang tidak diglasir disusun di bagian belakang dekat ventilasi cerobong asap – jauh dari sumber api – agar tidak retak atau pecah. Sedangkan di bagian tengah disusun keramik berglasir yang ukurannya relatif kecil.

Setelah seluruh keramik tersusun dalam perut tungku Nagajumlahnya bisa mencapai ribuan keramik – maka pintu-pintu dan lubang-lubang perapian di sepanjang tungku ditutup dengan bata dan perekat tanah liat. Setelah itu, pembakaran pun siap untuk dimulai. Penyulutan api pertama dimulai pada ke-4 lubang di bagian depan atau kepala, dengan menggunakan kayu karet yang memiliki daya panas tinggi.

Api yang menyala di kepala Naga selama 12 jam harus terus dijaga jangan sampai kecil apalagi mati. Sesaat sebelum mulut di bagian kepala Naga ditutup dengan bata, maka pekerjaan selanjutnya adalah membuka jendela-jendela atau lubang-lubang perapian, secara bertahap mulai dari bagian depan. Setiap satu lubang jendela dibuka, langsung dimasukkan api pembakaran ke dalamnya.

Dan setelah api di satu lubang itu telah berubah warna menjadi putih, begitu pula pada kermik, itu pertanda bahwa keramik di dalamnya telah matang. Maka api lalu dikeluarkan dari lubang yang pertama, dan dipindahkan ke lubang berikutnya. Dan itu terus berlanjut sampai lubang terakhir.

“Pembakaran dari jendela ke jendela itu memakan waktu sekitar 12 jam, sehingga lama pembakaran seluruhnya adalah 24 jam, agar panas 1200° dapat dicapai. Namun saat memasukkan api ke dalam lubang, pengrajin harus berhati-hati, karena lengah sedikit bisa menyebabkan robohnya susunan keramik atau pecahnya keramik yang sedang dibakar,” ucap Hendra lagi.

Jika proses pembakaran telah usai, maka tungku Naga harus didiamkan dulu selama kurang lebih satu hari, dengan membiarkan keramik-keramik yang sudah matang tetap berada di dalamnya. Untuk memperce­pat proses penurunan suhu dalam tungku, maka pintu-pintu dan jendela-jendela dibuka lebar. Baru setelah tungku dingin kembali, keramik-keramik itupun dibongkar satu persatu dan siap dipasarkan.

“Untuk pasar keramik-keramik Singkawang para pelaku industri hanya berkutat di sekitaran lokal saja. Tidak mampu ekspor mengingat pasar telah dikuasai produk keramik modern dari negara China. Namun jika ada keramik dari sini terbang sampai keluar, itu karena pembeli yang datang langsung, biasanya mereka dari Jakarta, pulau Jawa dan negara Filipina. Dan keramik dengan motif tradisional China, khususnya masa dinasti Ming yang paling banyak digemari,” terang Hendra.

 

9 Comments to "Mengintip Pembuatan Keramik Tradisional di Kota San Keuw Jong"

  1. Jemy Haryanto  23 November, 2013 at 11:11

    Mbak Alivina : Tuhan memberkati, dan semoga kita selalu hidup dalam DamaiNya. Itulah makanya kita dituntut untuk terus belajar, tidak saja di bangku sekolah, tapi juga pada alam dan sekitar kita, kemudian melakukan perenungan. Saya sangat senang sekali karena akhirnya mbak dapat menemukan jawaban tersebut. salam hangat dari west borneo

  2. Alvina VB  23 November, 2013 at 00:09

    Wah hebat banget, ternyata masih ada pembuatan keramik lokal di Indonesia yg saya gak pernah tahu sebelumnya; mungkin butuh marketing yg bagus, jadi bisa bersaing di dlm dan LN.
    Saat membaca artikel ini, saya menangis brebes mili…krn teringat satu moment yg menjadi awal pembentukan kehidupan saya di sini. Sekali waktu… saya ada di studio art school di sini, sedang memproses salah satu vas keramik, dlm proses awal (seperti di gambar no. 1 dlm proses pembentukan utk mengeluarkan angin dlm tanah liat) sampe hampir masuk dlm proses pembentukan berikutnya (ini jauh sebelum proses pewarnaan dan pembakaran tentunya), sekonyong-konyong spt ada yg berbisik di dlm hati: “spt inilah kamu akan dibentuk di dalam tangan Tuhan”. Saya terkaget-kaget sendiri dan tidak mengerti saat itu, apa artinya? Tetapi stl itu, ternyata begitulah proses jln kehidupan pribadi saya, seperti tanah liat di dalam tangan penjunan, diproses dan dibentuk, teramat panjang dan sakit prosesnya ttp setelah tahu hasilnya memang teramat indah dan sulit utk diungkapkan dgn kata2. Saya sangat bersyukur telah melalui proses tersebut, mengingatkan saya pada lagu ini: http://www.youtube.com/watch?v=HArR9XqAZkc

  3. Jemy Haryanto  22 November, 2013 at 13:29

    Pak DJ : bisa diatur pak. salam juga. Mas JC : saya berharap demikian juga. sudah ada beberapa orang peneliti. saat ini yang sedang proses daftar ke UNISCO adalah songket Sambas. salam hangat dari west borneo

  4. J C  22 November, 2013 at 05:52

    Jemy Haryanto, wuiiihhh sangat menarik informasinya kalau Dragon Kiln ini adalah satu-satunya yang tersisa di dunia. Bisa dijadikan penelitian, dan kalau memang valid, bisa didaftarkan ke UNESCO World Heritage…

  5. Dj.813  22 November, 2013 at 02:19

    Wah bisa pesan bikin pot untuk bonsai.
    Trimakasih dan salam.

  6. Lani  21 November, 2013 at 11:43

    James : kamu dibelakang Handoko………

  7. James  21 November, 2013 at 11:10

    SATOE< San Keuw Jong

  8. Handoko Widagdo  21 November, 2013 at 11:09

    Terima kasih Pak Hendra. Sebenarnya kualitas keramik Singkawang tidak kalah dengan keramik dari tempat lain, termasuk China dan Vietnam. Hanya masalah pemasaran memang perlu dibenahi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.