Perjalanan Terakhir (2)

Wesiati Setyaningsih

 

Artikel sebelumnya:

Perjalanan Terakhir (1)

 

Motor berhenti di depan sebuah rumah mewah yang tampak sepi. Entah kenapa orang mesti membangun rumah demikian besar kalau memang penghuninya tidak banyak. Aku belum pernah masuk rumah Very meski sudah berteman dengannya sekitar tiga bulan. Yang saya tahu hanya bahwa dia anak tunggal. Kalau memang tidak ada saudara-saudara orang tuanya dari kampung yang ikut tinggal di rumah ini, pasti akan kesepian sekali berada di rumah sebesar ini.

Rasanya seumur hidup aku belum pernah masuk ke rumah semewah itu. Ruangannya yang luas dengan atap yang tinggi, lantainya yang bersinar, di mataku rumah ini seperti istana. Aku cuma bisa melongo. Aku tidak menyangka Very itu benar-benar anak orang kaya. Memang dari motornya yang keren itu, aku tahu orang tuanya pasti orang berduit. Cuma, penampilannya yang kumuh tidak karuan membuat saya tidak pernah membayangkan ternyata rumah orang tuanya semegah ini.

Kalau lihat penampilannya jelas masih mendingan aku dari mana-mana. Biar tidak sekaya Very, bajuku selalu bersih karena Ibu selalu merawatku dengan baik sejak kecil. Jadi aku terbiasa rapi dan bersih. Eyang Kakung yang kupanggil ‘Yang Kung’ juga selalu mengajarkan untuk rapi. Bisa jadi dengan penampilan yang lebih rapi dibandingkan dengan Very, orang pasti mengira akulah yang anak orang kaya. Bukan Very.

Begitu masuk rumah Very segera berlari ke atas, aku mengikuti di belakangnya sambil mengengok ke kanan dan ke kiri. Kamar Very terletak di lantai dua, di depan kamar ada sebuah televisi layar datar yang besar dengan speaker panjang di kanan kirinya. Entah kenapa Very tidak betah di rumah. Kalau aku jadi Very, mending nonton film di rumah saja, sudah kaya bioskop dipindah di rumah begini.

Begitu dia membuka pintu, aku bisa melihat kamarnya luas, kira-kira tiga kali kamarku.  Tempat tidurnya dengan kasur empuk spring bed dan bed cover yang bagus. Ada lemari sepatu dengan pintu geser berkaca transparan. Ada lemari baju besar dengan pintu geser juga. Very membuka pintu lemari dan terlihatlah jajaran baju-baju dia yang begitu banyak dan tampak berwarna-warni.

“Baju segini banyak kok kalo ke sekolah bajunya kaya enggak pernah dicuci. Kamunya kaya orang enggak pernah mandi.”

“Itu aku langsung berangkat dari warnet.”

“Berarti enggak mandi?”

“Ya enggak, lah.”

Aku duduk di kasur dan membaringkan tubuh saya sementara Very sibuk memilih-milih baju yang akan dia ambil. Mataku menangkap sebuah AC tertempel di salah satu sudut dindingnya. Aku tidak bisa membayangkan kalau dia tidur di rumahku, jangan-jangan dia tidak bisa tidur nanti. Aku menoleh ke dinding di sudut, ada sebuah pintu di salah satu dindingnya.

“Itu apa?” tanyaku sambil menunjuk.

Very menoleh sekilas.

“Oh, situ kamar mandi.”

“Ada kamar mandinya juga di dalam kamar?”

Aku bangkit dan melongok kamar mandi di kamar Very. Aku melihat kamar mandi yang bersih dengan shower dan toilet duduk ditata dengan detil yang mewah. Dindingnya berhias porselen warna hitam putih. Begitu pintu kubuka, terdengar suara mendengung kotak kisi-kisi di langit-langitnya dan lampunya langsung menyala.

“Ada kamar mandi keren begini dan kamu sering enggak mandi?” aku menggumam heran.

Hidup itu ironis. Aku selalu mandi di kamar mandi di rumah yang biasa saja dengan bak mandi besar dan dengan toilet jongkok. Tidak ada yang membersihkan kamar mandi selain aku. Aku sendiri yang bertanggung jawab atas kenyamananku sendiri. Toh aku betah di rumah. Tapi Very yang semua ada, malah jarang di rumah karena mengeluh tidak betah. Aneh.

“Kok sepi?” tanyaku tersadar kalau dari tadi tidak terdengar ada orang lain di rumah.

Very sibuk memasukkan baju ke tas ransel besar. Tanpa menoleh dia menjawab,

“Cuma ada Mbak Isah di dapur belakang sama Pak Munir yang lagi bersihin gudang. Gimana nggak sepi? Mending kamu tinggal di kampung. Ada anak kecil buat digodain. Di sini? Kamu mati kesepian juga enggak ada yang tau.”

Aku menatap Very dengan kasihan. Seburuk-buruknya nasibku yang cuma tinggal sama Ibu di rumah sederhana, sepertinya asib Very lebih buruk meski dia kaya dan hidup bersama  kedua orang tunyanya. Aku cuma punya Ibu, tapi Ibu memperhatikanku. Very hidup bersama orang tuanya, tapi terabaikan.

Kami segera membereskan semuanya. Very menyambar buku-buku pelajaran dan sepatu. Lalu dengan satu gerakan cepat dia tutup ransel dan segera dia tenteng.

“Ayo keluar. Kamu nanti yang bawain ranselnya ya?” katanya seraya menutup pintu kamar.

Aku mengangguk saja dan mengikuti dia keluar. Setengah berlari Very menuruni tangga dan menuju pintu depan.

“Mbak Isaaah!” Very berteriak sambil berjalan keluar, “Aku pergi dulu! Pintunya tolong dikunci lagi yaaaaa!”

Seorang perempuan muda tergopoh-gopoh keluar.

“Bawa ransel segala mau ke mana?” tanyanya.

“Mau minggat.”

“Hah? Mbok kalo ngomong itu yang bener.”

“Bener.”

Very segera menaiki motornya dan setelah memberikan ranselnya untuk kubawa. Motor mulai berjalan dan aku sempat tersenyum untuk pamit pada mbak Isah yang melongo menatap kami berdua.

Kami melaju meninggalkan perumahan yang sepi. Tepat di pos penjagaan, kami berpapasan dengan sebuah mobil mewah berwarna hitam. Very berteriak,

“Mati aku!”

Seperti orang kesetanan dia menarik gas lebih kencang lagi dengan tiba-tiba. Hampir saja aku terpelanting ke belakang.

“Kenapa?” teriakku.

Segera aku berpegangan pada perut Very kencang karena takut jatuh.

“Itu mobil Papaku. Papa sama Mama sudah pulang. Moga-moga nggak liat kita aja.”

Very melirik spionnya dengan panik.

“Gilaa! Mobilnya balik, ngejar kita!”

“Hah?” sekarang aku jadi ikut ketakutan. “Terus gimana?”

“Nggak tau.”

Very makin mengendalikan motornya seperti orang kesetanan. Lalu lintas yang cukup ramai begitu keluar dari perumahan dia lalui dengan serampangan. Di belakang, sebuah mobil hitam di belakangnya juga melaju kencang seolah tak ingin kehilangan sasaran.

Kami jadi kejar-kejaran. Bagaimanapun motor bisa lebih lincah dari mobil dan kami hanpir tak terkejar.

“Keliatan nggak?” tanya Very panik.

Aku menoleh. Mobil Papa Very yang melaju kencang terlihat masih agak jauh dari kami.

“Keliatan sih, tapi masih agak jauh.”

“Masih ngikutin?”

“Masih.”

“Adduh..!”

Very makin melaju motornya dengan kencang. Ketakutan saya sekarang bukan lagi karena Papa Very yang marah, tapi karena takut jatuh. Jalan berlubang-lubang dan dalam kecepatan tinggi bisa saja Very tidak melihat. Sudah banyak kejadian orang meninggal dalam kecelakaan bukan karena tabrakan tapi karena lobang di jalan.

Apapun yang kamu takutkan akan terjadi, begitu pernah kudengar. Tepat ketika aku berpikir, “jangan-jangan nanti ada lobang dan Very nggak bisa menghindar’, saat itu juga tiba-tiba Very berteriak lalu terjadi guncangan hebat dan aku melayang.

Yang sebenarnya terjadi adalah Very tidak bisa menghindar dari lubang besar di jalan dan motor yang sedang melaju dalam kecepatan tinggi itu seperti terbalik. Aku terpelanting karena beban di punggungku membuat dudukku tidak mantap. Aku masih sadar ketika aku terbanting ke aspal lalu kepalaku membentur trotoar. Aku juga masih mendengar orang-orang berteriak ngeri.

Beberapa detik kemudian terasa ada guncangan luar biasa dalam tubuhku seperti terlepas dari sebuah beban. Tepat pada saat itu tubuhku terasa begitu ringan hingga rasanya aku terbang. Aku bisa segera melihat Very juga tergeletak di depan motornya. Mungkin dia terpelanting ke depan sementara aku ke belakang. Dia mengerang kesakitan. Tak berapa lama Very bangkit dan dengan terpincang-pincang dia berjalan tergesa tempat orang berkerumun. Dia menembus kerumuman itu dan berteriak panik.

soul-leaving

“Robiii! Roob… Bangun Rob!”

Aku heran melihat dia berteriak ke sesuatu yang dikerumuni orang-orang itu. Aku benar-benar bingung mendengar Very masih juga berteriak-teriak. Aku di sini, tapi Very berteriak memanggilku di tempat lain. Jangan-jangan dia tidak bisa melihatku karena jatuh tadi, pikirku.

“Robiii..! Bangun Roob! Robiii..” Very mulai menangis.

Dengan penasaran aku ikut masuk ke dalam kerumuman dan melihat apa yang ditangiskan Very. Di situ aku melihat tubuhku sendiri tergeletak dengan kepala bersimbah darah. Aku langsung panik melihat kenyataan bahwa aku seperti terpisah dari tubuhku sendiri.

“Very, kenapa ini?” terdengar suara di sebelahku.

Seorang laki-laki bertubuh tegap dan tampan, wajahnya mirip Very, ikut mendekati tubuhku. Very menoleh dengan wajah panik, takut sekaligus bingung.

“Pa..” rintihnya, “Robi..”

“Papa liat kamu tadi ngebut terus jatuh.”

Very tidak menjawab malah menangis makin keras. Aku sendiri malah tidak bisa menangis lagi. Entah kenapa rasanya hatiku juga ringan saja. Ini aneh. Harusnya aku ketakutan atau panik seperti Very. Tapi, tidak. Aku baik-baik saja. Perasaanku seringan tubuhku.

“Sudah, kita bawa ke rumah sakit  dekat sini saja. Mama yang nyetir, kamu yang pangku Robi. Papa bawa motor kamu pulang, nanti kalo urusan selesai kalian pulang dulu.”

Very tidak menjawab, hanya mengikuti saja ketika Papanya dibantu Very dan dua orang berusaha mengangkat tubuhku ke jok belakang mobil. Very duduk di belakang, memangku kepalaku sementara Mamanya mengendarai mobil dalam diam.

“Rob.. Bangun Rob..” Very merintih tanpa malu lagi pada Mamanya yang duduk di depan dengan wajah tegang.

Karena memang rumah sakit ini tidak jauh dari lingkungan tempat tinggal kami, baru sebentar mobil sudah sampai di ruang UGD rumah sakit. Mobil diparkir tepat di depan UGD dan beberapa perawat segera menerima tubuhku dan diletakkan di kereta dorong.

Very berjalan mengikuti tubuhku yang didorong perawat sementara Mamanya mengikuti dari sebuah jarak. Aku sendiri berjalan di sebelah Mama Very sambil sesekali melihat ke wajahnya dan mengira-ira apa yang kira-kira sedang dipikirkannya. Pagi ini dia baru saja marah hebat pada anaknya. Kini anaknya mengakibatkan sahabat dekatnya sendiri celaka. Apa yang kira-kira akan dikatakannya? Aku tidak bisa menemukan apa-apa selain wajah yang keras dan bibir yang mengatup rapat. Sesekali dia menarik nafas dalam.

Sampai di UGD seorang dokter segera memeriksa. Dengan menggunakan stetoskop dia memperkirakan apakah detak jantung di tubuhku masih ada. Dokter menutup tirai agar Very tidak bisa melihat. Entah apa yang dia lakukan di sana, tapi Very harus menunggu beberapa saat.

Aku duduk di sebelahnya tapi dia tak tahu aku di situ. Sepanjang waktu dia menangis. Mamanya duduk diam di bangku tunggu lain. Entah kenapa dia tidak memeluk Very atau apa untuk menenangkan anaknya. Sepertinya amarahnya sejak tadi pagi belum reda.

Dokter membuka tirai. Entah kenapa aku tidak heran ketika dia mengatakan pada Very,

“Ikhlaskan temannya, ya Mas.”

Seketika wajah Very, yang sudah sembab dari tadi, memucat.

“Maksudnya?”

“Detak jantungnya sudah tidak ada.”

“Kenapa tidak dilakukan apapun? CPR kek. Apa kek.”

“Sudah kami lakukan. Tak berhasil. Dia sudah meninggal.”

Tiba-tiba aku seperti disadarkan atas semua ini. Itulah kenapa aku tidak merasakan sakit lagi. Mungkin itu juga yang menyebabkan aku tidak mengalami takut lagi seperti Very. Aku jadi ingat pesan Yang Kung beberapa saat sebelum beliau meninggal.

Katanya, orang mati itu tidak merasakan apapun lagi yang dia rasakan waktu dia hidup. Kalau kita masih hidup, tubuh kita masih bisa merasakan sakit dan karena masih bisa merasakan sakit, kita masih bisa merasakan takut. Ketika orang sudah mati, tidak ada rasa sakit lagi. Maka tidak ada lagi rasa takut. Waktu itu aku tak terlalu percaya. Tapi itulah yang saya rasakan sekarang.

soulleaving

“Tidaak! Tidaaak! Bohong!” Very berteriak-teriak seraya menerobos balik tirai.

Aku cuma bisa memandangi Very yang berlari melewatiku.

“Robbiii…! Bangun Rooob. Jangan mati Rob…! Jangan matiii…!” Very tersedu.

Di luar Mama Very menghampiri dokter dan mereka bicara sebentar. Lalu dokter mengantar Mama Very ke seorang perawat dan mereka berlalu. Tinggallah Very menangis hebat sendirian sambil memeluk tubuhku. Rasa kelu merambati diriku.

Aku berdiri kebingungan di sebelah Very. Kuelus punggungnya, juga kepalanya, tapi dia tak menyadarinya sama sekali. Dia masih saja menangisiku yang terbaring dengan mata rapat dan tangan menyilang di perut.

“Aku nanti sama siapa Roob…” Very merintih perih.

Terbanyang bahwa selama ini dia selalu ke mana-mana sama aku. Aku tidak bisa menyalahkan kalau dia berpikiran begitu.

“Very, jangan begitu. Masih ada teman-teman lain,” aku berusaha menghiburnya.

Aku tidak tahu apakah dia bisa  mendengarku atau tidak, tapi aku tak peduli. Aku sudah terbiasa selalu bersamanya, jadi dalam situasi membingungkan seperti inipun aku spontan menghiburnya.

“Aku nggak punya teman Rob. Cuma kamu yang mau tetap jadi sahabatku. Teman lain nggak ada yang mau deket sama aku. Mereka cuma mau deket kalo aku traktir mereka. Mereka maunya makan-makan di tempat mahal. Taunya aku anak orang kaya,” Very tersedu.

“Enggak Rob, aku nggak punya duit. Mama cuma kasih uang yang cukup buat jajan sebulan di kantin. Kalau kurang Mama nggak mau kasi uang lagi. Aku cuma bisa traktir kamu di mie ayam depan situ Rob.”

Aku tersadar bahwa kini aku di rumah sakit yang biasa aku pandangi saat aku makan mie ayam bersama Very. Aku berpikir tentang orang-orang yang ada di dalam sini. Apa yang mereka rasakan, baik pasien maupun siapapun yang menunggui atau menjenguk mereka?

“Rob, kamu masih ingat nggak waktu kita makan di warung mie ayam depan rumah sakit ini Rob. Kita sering di situ Rob. Aku curhat sama kamu dan kamu dengerin. Kalo sudah begitu kamu akan ngomel seperti nenek-nenek.”

Very terisak-isak. Begitulah saya, suka panjang lebar menasehati Robi. Meski sering kali Very kesal karena nasehat saya terdengar seperti omelan nenek-nenek, nyatanya cuma pada saya dia selalu mengutarakan kekesalannya.

“Rob, bangun lagi Rob. Ngomel lagi yang panjang… Lebih panjang dari kamu biasa ngomelin aku, Rob. Omelin aja aku, Rob, yang penting kamu bangun lagi. Robiii pliss…”

Very masih menelungkup memegangi tubuhku.

“Mas, sabar Mas,” seorang perawat lelaki mendekati dan mengelus punggungnya. “Jangan ditangisi sampai begitu, kasian temennya nanti.”

Very bangkit dan menatap perawat itu.

“Kamu tau apa?” tiba-tiba dia marah. “Kamu pernah nggak ngalamin kaya aku gini? Pernah nggak?”

Perawat itu agak kaget dan mundur sedikit.

“Saya memang nggak pernah ngalamin, Mas. Belum ada teman saya yang meninggal. Tapi saya pernah ngalamin ibu saya meninggal.”

Very terdiam. Dia tidak berkata-kata lagi tapi kembali menelungkupi tubuhku.

“Mas boleh tungguin temannya di sini. Tapi sambil berdoa saja, ya. Jangan ditangisi sampai kaya gitu. Nanti kalo urusan administrasi selesai, temannya kami bawa ke kamar mayat lalu dibawa ambulans pulang.”

Very tidak peduli. Dia masih menelungkup di atas tubuhku. Bahunya naik turun karena terisak, meski dia tidak menangis lagi.

Tinggallah kami berdua, Very yang tersedu menangisi tubuh saya dan saya yang bingung harus bagaimana. Saya merasa sendirian dan Very mungkin juga merasa sendirian. Padahal kami ada di ruangan yang sama. Hanya saja Very tidak melihatku dan aku tidak bisa merengkuh Very.

Kami berdua berada salam situasi yang sama, terguncang. Semua ini begitu tiba-tiba dan aku benar-benar tidak siap. Mungkin Very juga sama kagetnya denganku tapi setidaknya dia masih ada di alam yang biasa dia tinggali sementara aku tiba-tiba pindah ke alam yang sama sekali berbeda dengan begitu saja.

UGD rumah sakit begitu sunyi, sesunyi kehidupanku yang dalam beberapa detik  sudah berubah berpindah ke suatu tempat yang sama sekali belum pernah kubayangkan. Aku termenung dalam angan yang menerka-nerka semua ini akan seperti apa.

Isak tangis Very masih terdengar.

 

bersambung…

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

36 Comments to "Perjalanan Terakhir (2)"

  1. wesiati  27 November, 2013 at 12:47

    bahwa aku kafir dan merusak akidah… itu pujian luar biasa…

  2. Lani  26 November, 2013 at 22:27

    34 DA : la kayak ndak tau aja………..belum pernah dicokot Hiu Hawaii sih………hahaha esuk2 kumat aku

  3. Dewi Aichi  26 November, 2013 at 22:21

    Lani..wooooo..hiu Hawaii emang cakep cakep ya?

  4. Dewi Aichi  26 November, 2013 at 22:20

    soalnya banyak compliment kok…kita kan tukar tambah compliment wkwkwkw

  5. Dewi Aichi  26 November, 2013 at 22:19

    yang mana?

  6. wesiati  26 November, 2013 at 21:59

    dewi : your compliment is really something.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *