Solo – The Spirit of Java (3): Kraton Surakarta Hadiningrat

Tjok Mas & Anoew

 

Kraton Surakarta Hadiningrat

0a

Setelah berganti-ganti pusat pemerintahan mulai dari Kotagede, Pleret hingga Kartasura, akhirnya peristiwa Geger Pecinan (pemberontakan oleh etnis Tionghoa) memaksa Kerajaan Mataram untuk memindahkan kratonnya dari Kartasura ke desa Sala. Namun masalah belumlah usai ketika konflik internal terus berlanjut dan masih ditambah dengan campur tangan Belanda yang bertujuan memecah belah, membuat kerajaan ini akhirnya terpecah menjadi dua yaitu Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta pada tahun 1755 melalui perjanjian Giyanti.(*pict 1)

 1

***

Berbeda dengan Pura Mangkunegaran yang suasananya lebih hommy, mengunjungi Kraton Surakarta Hadiningrat aku lebih merasakan suasana musium kerajaan dengan sedikit banyak sentuhan tradisional, kalau bukan disebut berbau magis. Saat memasuki komplek kraton yang mempunyai luas 54 hektar (dimulai dari Alun-alun Utara hingga Alun-Alun Selatan, Pasar Klewer dan Masjid Ageng Surakarta) ini, aku seperti menyusuri lorong waktu dan ‘melihat’ segala aktifitas kraton di masa lampau.

Perjalanan kuawali dari gerbang kraton paling utara yaitu Gapura Gladak yang di sisi kiri dan kanannya dijaga oleh dua arca Dwarapala bersenjata gada. Konon, arca yang juga terdapat di depan pintu utama kraton ini dimaksudkan sebagai penjaga lingkungan kraton dari serangan musuh yang tak kelihatan mata biasa. (*pict 2)

2

Aku menyusuri ruas jalan yang dinaungi pohon beringin tua di kanan kirinya, lalu setelah sampai di Alun-Alun Utara segera memarkir kendaraan dan mulai menikmati setiap detail yang kulihat. Dimulai dari Pendopo yang berdiri megah tepat di seberang Alun-Alun membelakangi museum dan kraton. (*pict 3, 4)

3

4

Bangunan utama kraton ada di belakangnya, dipisahkan oleh jalan kecil dengan tembok besar yang mengelilingi komplek kraton. Tembok yang mengelilingi komplek kraton ini disebut Baluwarti, yaitu dinding pertahanan setinggi  5 meter dengan tebal 1 meter, yang mengelilingi dua bagian utama kraton mulai dari Kemandungan Lor sampai Kemandungan Kidul. (*Pict 5)

5

Semua bangunan kraton (Pagelaran, Siti Hinggil, Kori Brojowolo, Kori Kamandungan, Kori Sri Manganti dan Panggung Sangga Buwana) boleh dikunjungi  wisatawan, kecuali Sasana Sewaka, Sasana Pustaka dan Maligi. Dan meskipun aku bertanya mengapa untuk kedua kalinya, pemandu kami hanya menjawab “pokok’e mboten angsal” (pokoknya tidak boleh). Walaah,  rupanya virus pokok’e  memang sudah menyebar ke mana-mana.

***

Lanjut ke dalam bangunan utama kraton, di sini juga terdapat museum yang dulunya merupakan perkantoran pada masa raja Paku Buwono X. Museum ini terbagi atas 9 ruang pamer yang berisi aneka pusaka dan benda-benda peninggalan kraton. (*pict 6)

6

Hal pertama yang menarik perhatianku adalah keberadaan beberapa patung model Eropa di depan bangunan utama, sehingga menghasilkan kombinasi unik antara arsitektur Jawa dengan sentuhan Barat. Patung-patung elok ini adalah hadiah dari kerajaan Belanda yang memiliki hubungan pasang-surut dengan Kraton Surakarta di masa itu (Peristiwa Geger Pecinan sempat membuat hubungan Kraton Surakarta dan Belanda merenggang). (*pict 7, 8, 9)

7

8

9

Selain itu juga singgasana raja yang elok membawa pikiranku melayang ke masa lalu, seolah kulihat sang raja duduk dengan diapit pengawal dan prajurit di depannya serta para abdi dalem di masing-masing sisinya. (*pict 10)

10

Menoleh ke arah selatan kulihat Panggung Sangga Buwana, yaitu suatu menara tinggi yang dipakai oleh raja pada saat-saat tertentu untuk bertemu dengan Nyai Loro Kidul. Konon raja-raja Mataram rutin bertemu dengan penguasa Pantai Selatan tersebut di menara itu. Tentang apa dan berapa lama, sesungguhnya aku pun penasaran namun cukup kutahan dalam hati karena penjelasan pemandu wisata hanyalah sampai di situ. Hmm… (*pict 11)

11

Melihat ke arah Utara, di sana ada sederet bangunan yang di masa itu digunakan sebagai perkantoran. Segala urusan administratif kerajaan dikerjakan di sini.. (*pict 12)

12

…dan ternyata, bangunan ini pernah terbakar dan selesai dipugar pada tanggal 30 Agustus 2003. (*pict 13)

13

***

Setelah puas mengamati dan menyimak penjelasan tentang seluk-beluk kraton kami menuju museum (dulunya dipakai sebagai kantor pemerintahan urusan istana). Pertama kali yang tertangkap mataku adalah patung berkostum cerah dalam posisi siaga dengan tangan kirinya (seolah) memegang sebilah pedang dan tombak di tangan kanannya. Patung ini ditempatkan di hampir setiap pintu.  (*pict 14)

14

Awalnya kami eyel-eyelan tentang patung tersebut berasal dari mana, apakah dari Cina atau dari negeri 1001 malam. Kami beradu pendapat dengan sangat ngeyelnya bahkan, sampai bertaruh siapa yang salah menebak nanti harus membelikan tiket bus wisata Werkudoro agar bisa ikut Solo City Tour keesokan harinya. Dan ternyata.., sudahlah tak ada yang benar menebak, kami masih ketinggalan bus itu pada keesokan harinya karena satu dan lain hal hahaha…

Akhirnya terkuak. Misteri tebak-tebakan itu menjadi terang setelah mendapat penjelasan dari pemandu wisata, yang menerangkan bahwa patung tersebut adalah patung Orang Kasim dari Turki yang berniat mengabdikan diri ke kerajaan namun disangsikan kesetiaannya oleh raja. Lalu demi membuktikan kesungguhan dan kesetiannya untuk mengabdi, mereka lantas memotong alat kelaminnya sendiri (awas berbahaya, jangan ditiru) hingga sejak saat itu dikenal sebagai Orang Kasim.

Orang-Orang Kasim ini ditugaskan untuk menjaga Keputren (tempat putri / kerabat putri dari raja) dan mengawal segala kegiatan mereka, begitu keterangan dari pemandu. Aku mengangguk paham, lalu tertawa geli saat kulihat temanku sedang mengusap-usap dagunya dengan raut muka seperti menahan ngeri. (*pict 15)

15

“Eh tau nggak?” Ujarnya kemudian. “Pisang itu tadinya setandan utuh lho. Pada malam-malam tertentu, Orang-Orang Kasim ini akan mengupas kulitnya lalu makan pisang rame-rame sama patung-patung lain yang ada di komplek kraton.” lanjutnya dengan muka sok serius.

Hmmm.., untuk yang bagian ini aku jelas tak percaya. Huh, memangnya aku anak kecil?! Kutinggalkan saja dia yang masih berasyik masyuk dengan si patung Kasim itu, entah apa yang sedang ia “diskusikan” dengannya aku tak hendak tahu.  Lalu aku masuk lebih ke dalam melihat foto para raja dan memanjakan mata ini dengan aneka benda bersejarah yang masih terawat keasliannya, termasuk topi PB X yang saat itu berpangkat letjen. (*pict 16, 17, 18, 19)

16

17

18

19

Tak kalah menarik adalah relief di dinding museum yang menceritakan aneka peristiwa di istana seperti misalnya wilujengan (selamatan), tayuban, bahkan saat peperangan. (*pict 20)

20

Wah.. saat melongok ke ruangan berikutnya ada yang berbeda dengan yang kutemui di Kraton Mangkunegaran. Di sini kutemui patung yang sama namun dalam bentuk yang lebih besar sedang duduk bersila. Baru aku tahu kemudian bahwa mereka adalah sepasang patung pengantin yang duduk membelakangi seperangkat tempat tidur utama beserta perlengkapannya. Tempat tidur itu disebut senthong, sebagai suatu tempat yang penting bagi keluarga Jawa.

Orang Jawa jaman dulu juga sering menyebut tempat tidur itu sebagai ruang Dewi Sri (dewi padi), sang pemberi kesuburan dan kemakmuran. Nah, tentang mengapa kedua pengantin itu (dikenal dengan sebutan Joko Blonyo dan Loro Blonyo) berada di depan senthong, aku kurang begitu jelas atau memang kurang bisa menangkap penjelasan dari pemandu akibat ulah temanku  yang ngotot  berpose di depan senthong. (*pict 21)

21

Di ujung, menjelang pintu keluar telah kulihat dari jauh dua buah kereta kencana yang aura kewibaannya terasa kuat memancar dari tempat kami berdiri. Salah satu dari dua kereta kencana yang menarik perhatianku adalah Kyai Moroseba (dibuat tahun 1770) yang hanya dipakai saat acara Tinggalan Dalem Jumenengan Paku Buwono (peringatan bertahtanya Paku Buwono). Sedangkan kereta satunya yang bernama Kjahi Groedo aku lupa, pernah atau tidak dipakai untuk suatu acara khusus karena temanku (lagi-lagi) mengatakan sesuatu yang membuat konsentrasiku buyar saat menyimak penjelasan pemandu. Hmm, dasar… (*pict 22, 23)

22

23

Puas mengunjungi kraton dan menghirup aroma sejarah dari dalam museum kami pun keluar dan…, kursi rotan tua yang berada di depan dan di samping pintu museum sewaktu tadi  kami masuk ternyata luput dari perhatianku. Kursi itu sungguh tua, lebih tua dari pada aku bahkan temanku yang mengaku-ngaku masih muda itu. Beuuugh…. (*pict 24, 25)

24

25

Kraton, baik Mangkunegaran maupun Kasunanan, sungguh membuatku betah berada di kota ini dan telah kuputuskan untuk menjelajah lebih dalam lagi, menelusuri jejak sejarah yang masih banyak belum kuketahui.

(bersambung)

 

25 Comments to "Solo – The Spirit of Java (3): Kraton Surakarta Hadiningrat"

  1. Tjok Mas  26 November, 2013 at 17:34

    terimakasih semuanya yang sudah membaca, salam hari Selasa

  2. JL  23 November, 2013 at 08:23

    Buto: jane aku yo weruh ning nek di cetha no Wonge mengko nesu lan muni heellleeeh

  3. elnino  22 November, 2013 at 08:14

    Woalah Buto…aku malah lagi nggatekke

  4. J C  22 November, 2013 at 05:57

    Komentar nomer 18…ckckckck…

    meriamnya gede tenan… sayang gak boleh dinaiki

    mancing, jelas sekali ini mancing… (kudu ada surat ijin kaleeee… )

    Foto nomer 2 dari bawah bisa jadi inspirasi para fotografer pre-wed, manten saling memotret… dan terpantul dari kaca… (asal jangan terjadi penampakan).

    Siapa yang meragukan betapa berbahagianya manten anyar ini…

    * mlayuuuuu sing buantteeerrrr *

  5. Dj.813  22 November, 2013 at 02:25

    Hebat….!
    Möohat foto-fotonya saja sudah sangat menarik.

    Salam manis dari Bad Slzig.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.