Metabolic Syndrome

Kathryn Piper – Tokyo

 

“Astaga di Jepang orang ternyata gak boleh gemuk! Masak lingkar perut aja ada batas maksimalnya!”, “Gawat orang gemuk di Jepang kena denda!”

Ungkapan ini lumayan sering saya dengar dan kadang dapat pertanyaan tentang hal tersebut. Nah berhubung saya baru saja ikut tes kesehatan tahunan dan memang lingkar perut saya diukur, jadi dapat ide buat nulis soal lingkar perut ini.

Metabolic-Syndrome

Pear-and-Apple-Body-Shape

Dimulai sejak April 2008 (tahun kerja di Jepang selalu mulai bulan April), dalam tes kesehatan resmi diwajibkan adanya pemeriksaan untuk “metabolic syndrome”. Salah satu ukuran tes yang dipakai adalah ukuran lingkar perut. Nah sekarang kita belajar dulu tentang “metabolic syndrome” ini.

# Apa sih “metabolic syndrome” itu?

Metabolic syndrome bukan penyakit, tapi suatu syndromes, kumpulan gejala atau faktor resiko yang berpotensi menyebabkan seseorang terkena penyakit jantung, stroke atau diabetes. Dengan kata lain, tes “metabolic syndrome” digunakan sebagai pengawasan dan pencegahan terhadap penyakit-penyakit tersebut. Tes ini diharapkan dapat membuat orang lebih waspada, sadar dan melakukan perubahan gaya hidup sebelum terlambat dan nyawa jadi taruhannya.

 

# Apa saja point yang diukur dalam tes “metabolic syndrome” tersebut?

Di Jepang ada beberapa acuan kriteria yang dipakai, tapi satu sama lain tidak jauh berbeda angkanya. Di sini saya berikan acuan standard yang dipakai di tempat saya bekerja. Seseorang perlu mewaspadai “metabolic syndrome” jika memiliki:

Ukuran lingkar perut: pria di atas 85 cm, dan wanita di atas 90 cm

Diikuti dengan salah satu dari faktor resiko di bawah ini:

1. Kadar gula darah

Puasa: di atas 100 mg/dl, atau kadar HbA1c di atas 5.6%, atau sedang dalam pengobatan diabetes

 

2. Kadar lemak darah

Trigliserida di atas 150 mg/dl, atau HDL kolesterol di bawah 40mg/dl (pria), di bawah 50mg/dl (wanita)

 

3. Tekanan darah

Tekanan darah sistolik di atas 130 mmHg, atau diastolik di atas 85 mmgHg, atau sedang dalam pengobatan hipertensi

Jika di antara 3 point di atas, ada 2 yang positif, yang bersangkutan akan diberikan pengarahan dan support untuk memperbaiki gaya hidupnya. Penyakit jantung (selain penyakit jantung bawan), stroke atau diabetes dianggap berkaitan dengan pola gaya hidup sehari hari. Di Jepang dikenal dengan istilah “生活習慣病, seikatsu syuukan byou” yang memang secara harafiah diterjemahkan sebagai “lifestyle diseases”.

 

#Apa saja yang bisa dilakukan untuk mencegah “metabolic syndrome” tersebut?

Jawaban nya mudah, menjalani pola hidup sehat. Tapi saya tahu, menjalankan pola hidup sehat tidak gampang, apalagi di tengah rutinitas dan kseibukan kerja yang tinggi, plus tinggal di tengah kota yang padat, macet dan sering bikin emosi tinggi. Apa boleh buat, stressors selalu ada dalam kehidupan kita, tinggal sekarang tergantung bagaimana kita mengendalikan stressors tersebut. Berikut tips pola hidup sehat:

– Usahakan tidur cukup, sehari 6-7 jam.

– Kurangi pemakaian garam. Dianjurkan sehari di bawah 10g (kalau bisa di bawah 6g/hari)

– Olahraga. Tidak perlu olahraga khusus di gym, cukup jalan atau lari 30 menit setiap hari.

– Tidak merokok

– Makan seimbang, sehat. Intinya apapun yang berlebihan tidak baik, jadi semua secukupnya.

Pastikan cukup konsumsi sayuran, salad, buah.

– Batasi minuman beralkohol. Seminggu minimal 2 hari bebas alkohol. Di Jepang ada istilah “休肝日, kyuukanbi”. Kalau secara harafiah diartikan dari kanjinya, hari libur untuk hati (liver). Maksud sebenarnya hari bebas minum minuman beralkohol untuk detoksifikasi, mengurangi beban kerja liver mengolah alkohol. Konsumsi alkohol jangka panjang meningkatkan resiko terjadinya kanker hati.

 

# Di Jepang kalau lewat batas ukuran lingkar perut, apa betul kena denda?

Wah kalau tidak ditanya malah saya tidak tahu, karena di sini biasa saja rasanya. Tidak ada yang panik bicara soal denda. Jadi coba cari cari info soal ini, hasilnya (sementara) TIDAK ada denda untuk orang yang lalai periksa kesehatan atau terkena “metabolic syndrome”. Penalty hanya diberikan ke badan “health insurance society” nya jika dianggap lalai menjalankan tugas mengurusi masalah “metabolic syndrome” tersebut. Kalau dipikir pikir, pemerintah Jepang rajin juga ya mengurusi masalah kesehatan warganya.

metabolic_syndrome

Akhir-akhir ini rasanya semakin banyak orang usia muda yang terkena penyakit diabetes, jantung atau stroke. Baru saja ada teman yang cerita sepupunya di usia 40 tahunan meninggal mendadak karena serangan jantung. Mungkin sudah waktunya di Indonesia juga dimulai screening “metabolic syndrome” dengan mengukur lingkar perut. Cara yang murah meriah, praktis untuk membantu kita lebih aware terhadap kesehatan dan gaya hidup sehari hari. Siapa tahu umur harapan hidup di Indonesia bisa meningkat seperti di Jepang, dan nanti kita juga bisa dengar ungkapan “Gawat …! Ternyata di Indonesia gak boleh gemuk!” hehehe.

 

Salam sehat,

Kathryn – Tokyo

 

References:

1. http://www.zyrcon.com/2008/09/post-4.html

2. http://www.mayoclinic.com/health/metabolic%20syndrome/DS00522

3. メタボリックシンドローム – 特定健康診査について (Keio Univ. Hospital)

 

Note Redaksi:

Selamat bergabung menjadi salah satu kontributor, setelah selama ini menjadi silent reader…ditunggu artikel-artikel yang lain, terutama yang seperti ini, muantaaapp…terima kasih Ibu Dokter…

 

58 Comments to "Metabolic Syndrome"

  1. Piper-Tokyo  28 January, 2014 at 15:00

    Halo Ananda, sorry telat banget nih reply nya.

    Setahu saya sampai saat ini stem cell therapy masih banyak kendalanya dan belum clinically approved. Masih banyak yang harus dibenahi, termasuk kemungkinan timbulnya kanker via stem cell therapy. Beberapa penyakit neurodegenerative, seperti Parkinson sudah lumayan maju sih untuk stem cell therapy.

    Untuk penyakit kronis liver seperti cirrhosis, di Jepang thn 2012, ada publikasi penelitian terapi memakai infus bone marrow cell dengan hasil yg cukup menjanjikan. Tapi rasanya belum ada kelanjutannya setelah itu. Karena masih uji coba, pasien yang bisa ikut juga terbatas, hanya kandidat pasien yang memenuhi persyaratan tertentu.

    BTW, di artikel saya yang mana ya baca tentang liver stem cell?

  2. Ananda  21 January, 2014 at 16:02

    Dokter Kathryn, sy tertarik dengan bahasan dokter tentang liver stem cell. Dok,sy mohon info mengenai pengobatan liver melalui stem cell di Jepang. Ayah sy menderita seriosis. Mohon info ya dok, untuk pengobatan di jepang seperti apa. Tks.

  3. T.Moken  2 December, 2013 at 11:08

    Dr Piper, saya baik-baik saja. Saya suka kesana kemari membaca. Kalau lagi rajin , ya beri komentar. terima kasih.

  4. awesome  28 November, 2013 at 09:26

    thanks for sharing …. ijin lanjutin share ya ….

  5. Piper-Tokyo  27 November, 2013 at 07:23

    Jeng DA, waaaah sugoi naik turun tangga dr lt1 sampai 8!
    Ini sih gak heran pantesan singset nan sexy dah
    Btw, dulu waktu gempa tsunami dan ada pemadaman listrik krn masalah reaktor nuklir, banyak yg lift mati di mansion/apartment. Kasihan juga sih yg tinggal di tower mansion, mesti pake tangga sampai lt 20 gitu.
    Habis kejadian itu jd banyak yg mikir2 ulang tinggal di tower mansion

  6. Lani  26 November, 2013 at 02:56

    DA : menggeh2…………tp njur ndatuk to???????

  7. Dewi Aichi  26 November, 2013 at 00:54

    Lani…..ngapa lari? aku ngga bawa teklek buat lemapr dirimu kok….mumpung lagi baik hati, aku ngga akan menganiaya siapapun wkwkw…maksudku pas praktek, awal2nya menggeh2 ha ha..mbasan sudah terbiasa, ya enjoy saja….

  8. Lani  26 November, 2013 at 00:26

    50 DA : dgn kata lain sakit penyakitmu yg berhubungan dgn pernafasan njur mariiiiiii sak-kalan………..mlayuuuuuuuuu……….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *