Guru Gemblung (2): Sakit

Wesiati Setyaningsih

 

Tidak ada orang yang gagal. Yang ada hanyalah orang yang takut sukses. Begitulah senyatanya. Begitu banyak alasan kenapa orang tidak berhasil dan biasanya mereka menyalahkan semua berasal dari luar diri, entah itu orang lain atau situasi. Berapa orang yang berani mengatakan, “saya gagal karena saya menggagalkan diri saya sendiri”?

Ketika Pak Handoko Widagdo mengatakan, “tulislah pengalamanmu menjadi sebuah buku agar buku itu bisa menginspirasi para guru di Indonesia”, harusnya saya bangga. Mestinya kemudian dengan semangat menyelesaikan tulisan saya agar bisa segera jadi buku dan seperti harapan pak Han, menginspirasi pada guru. Nyatanya tidak seperti itu.

Saya memang mulai berusaha dengan mengumpulkan note-note saya dari Facebook, kemudian menjadikannya satu dan mengirimkannya kepada pak Handoko. Tapi benak saya segera berkecamuk analisa-analisa yang bertentangan satu sama lain. Satu sisi jelas saya ingin menulis dan menyusun buku. Itu mimpi saya sendiri sejak lama. Selama ini saya baru menulis buku ramai-ramai.

Buku pertama saya, ‘Pocong nonton tivi’ adalah sebuah buku dongeng yang saya tulis bersama  sembilan teman lain. Waktu itu ada proyek di Lespi (Lembaga Studi Pers dan Informasi) dan Budi Maryono yang ikut memotori proyek ini mengajak saya. Ceritanya Lespi sedang ingin membuat produk literasi media, yaitu menyadarkan anak-anak mengenai bahaya menonton televisi  terlalu banyak. Jadi diundanglah 10 penulis untuk menulis dongeng yang isinya tentang literasi media. Saya tergabung di dalamnya dan menulis salah satu cerita, dan jadilah buku ini buku pertama saya.

Buku kedua adalah antologi cerpen berisi 12 cerpen dari 12 penulis. Saya tergabung dalam sebuah komunitas menulis bernama Lini Kreatif Writing dan komunitas itu menyelenggarakan semacam lomba menulis cerpen. Cerpen-cerpen yang paling layak muat dikumpulkan dan dijadikan buku. Iseng saja saya menulis cerpen, siapa tahu menurut pengelola komunitas ini, Budi Maryono, bagus. Ternyata akhirnya jadilah buku kedua saya.

Namun, bukannya berbangga diri lalu bersemangat menulis buku ini, saya malah mengkerut takut. Menginspirasi para guru? Memang saya ini siapa?

Pertanyaan “saya ini siapa?” digarisbawahi oleh pak Handoko. Dengan segera dia bisa membaca bagaimana saya menilai diri sendiri.

Dia bilang, “kamu menilai rendah diri kamu sendiri.”

Saya tersentak. Saya tidak mengira bahwa itu sebuah pandangan yang merendahkan diri sendiri. Saya pikir itu sebuah kerendahan hati yang baik. Jadi saya membela diri bahwa itu sebuah perilaku yang positif.

Tapi pak Handoko tetap saja tidak sependapat. Menurut dia itu adalah sebuah cara pandang yang negatif. Saya mengerutkan kening. Saya tahu ada yang tidak beres dengan diri saya. Tapi memandang rendah diri sendiri, saya rasa bukan itu yang sedang saya lakukan.

Toh bagaimanapun pak Han meyakinkan saya bahwa tidak ada yang salah dengan cara mengajar meski saya bukan guru yang memiliki bekal cukup dan pengalaman yang lebih dari yang lain. Dan terus saja saya tak bisa mempercayainya. Saya terus berpikir bahwa saya butuh alasan yang lebih bagus daripada ‘menginspirasi orang lain’. Itu terlalu tinggi buat saya.

who-am-i1

Belum lagi ternyata di dalam diri saya ada ketakutan tersendiri bahwa orang-orang akan mengomentari saya, seperti yang biasa saya dengar selama ini terhadap apapun yang saya lakukan. Maka, meski saya berusaha merumuskan apa yang harus saya tuliskan, tetap saja saya gagal menemukan konsep yang pas karena ada halangan yang begitu besar menutupi pikiran saya, bahwa saya tak pantas menulis buku ini. Saya bukan siapa-siapa.

Semakin saya melawan diri saya yang mengatakan bahwa saya ini bisa melakukannya, semakin besar juga perlawanan yang saya rasakan. Muncul suara-suara yang terus menakut-nakuti saya bahwa apapun yang saya lakukan selama ini selalu salah di mata orang lain. Bahkan tidak melakukan apa-apa saja bisa saja menuai komentar. Padahal saya tidak sedang melakukan apapun. Apalagi membuat sebuah karya, pasti komentarnya akan luar biasa, pikir saya.

Saya ketakutan. Lebih tepatnya, saya sedang menakut-nakuti diri saya sendiri.  Terbayang bahwa teman-teman akan mengomentari hal-hal yang tidak menyenangkan tentang buku ini kalau nantinya benar-benar jadi buku dan dipublikasikan. Kengerian membayangi saya, ketika buku ini dicetak, lalu dibaca banyak orang, lalu dipromosikan (buat apa dibuat kalau tidak dipromosikan?), lantas orang akan berkomentar, “alah, begini saja saya juga bisa” atau “ah, begini saja ditulis, dasar lebay”, dan komentar-komentar negatif lainnya.

Saya terkepung dalam bayangan saya sendiri dan tak bisa keluar. Saya ingin keluar dan membunuh semua bayangan itu, tapi berulang kali saya melakukannya, saya gagal. Beruntung saya punya teman-teman yang baik seperti Wiwin Wintarto yang penulis dan selalu mendorong saya. Karena sudah sering menulis buku, ada sekitar 14 novel teenlit sudah dia hasilkan, dia tahu benar rasanya menulis buku sampai selesai lalu menghadiri launching bukunya sendiri.

who-am-I-       Buat dia kengerian saya sama sekali tidak beralasan. Dia mencontohkan acara launching buku yang dilakukan seorang teman yang menerbitkan buku secara indie. Katanya, “semua memuji, kok. Nggak ada yang komentar negatif.”

Harusnya saya percaya, tapi saya berkilah juga bahwa situasi saya berbeda. Padahal apa bedanya? Itu semua cuma satu sudut pandang yang saya ambil sendiri dan saya pakai sendiri. Saya sedang menyakiti diri sendiri, saya tahu. Tapi saya tak bisa menghentikannya.

Kalau saja kita melihat semua ini dari apa yang tampak, semua begitu sederhana. Tulis saja semua, kirim ke pak Han, selesai. Entah kenapa saya malah berputar-putar dalam ketakutan saya sendiri dan pusing sendiri. Saya heran karena pak Han tidak menyerah dengan ‘keanehan’ saya dan membiarkan saya pusing sendiri. Pak Han tidak pergi meninggalkan saya dengan mimpi yang tak akan pernah terwujud karena saya ketakutan tentang apa yang akan saya hadapi kalau mimpi itu menjadi nyata.

Dia tetap meyakinkan bahwa buku ini penting. Apapun dikatakannya untuk membuat saya mau menulis, sementara saya juga tetap saja bertahan dengan menghambat diri saya sendiri. Saya heran kenapa ada orang yang begitu peduli bahwa saya harus menunjukkan kemampuan saya yang menurut dia luar biasa. Sementara saya sendiri selalu berpikir saya ini biasa saja dan bukan siapa-siapa.

Saya tahu pak Han bukan orang yang ‘manis’ dia orang yang ‘straight’ dan apa adanya dengan kalimatnya yang kadang-kadang pendek-pendek. Toh saya kaget juga ketika suatu ketika saya curhat tentang keraguan dan ketakutan saya, dia katakan,

“Kamu sakit.”

Kalimatnya sangat pendek. Cuma dua kata. Tapi dua kata itu menendang kepala saya dengan keras hingga rasanya seperti membentur tembok dan kehilangan kesadaran sekejap.

“Kamu sakit,” kalimat pendek itu terngiang dalam kepala saya.

“Sakit? Saya sakit? Hei, saya ini guru, saya punya banyak murid, tapi dia mengatai saya sakit. Mana ada guru yang sakit mengajar?” pikir saya menyanggah.

Masalahnya sebenarnya saya mudah percaya pada orang lain. Jadi ketika pak Han mengatai saya sakit, saya langsung mengorek diri saya sendiri dan mencari-cari, jangan-jangan saya memang benar-benar sakit. Dan pada saat itu juga terjadilah sebuah perjalanan baru yang justru membuat saya menyadari sesuatu yang selama ini saya simpan dalam-dalam, atau bahkan saya sembunyikan diam-diam.

Dari hanya rencana menulis sebuah buku, ternyata perjalanan ini menjadi sebuah langkah awal pembongkaran jati diri yang saya sudah bangun selama ini. Sebuah perjalanan yang membuat saya terus bersyukur bahwa saya pernah disadarkan bahwa selama ini saya salah membangun pola pikir saya. Dan pada saat yang sama, saya didorong untuk merombak diri  menjadi saya yang baru.

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian “kesasar” menjadi guru. Mencoba mendobrak “pakem baku” proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya.

Sering dianggap “off-track” bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

11 Comments to "Guru Gemblung (2): Sakit"

  1. wesiati  27 November, 2013 at 12:30

    JC : berarti aku nunggu mbok banting?

    DA : iya nih. kenapa kita semua bertemu?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *