Proses Imigrasi di Amerika

Summer Girl

 

us-immigration-and-customs-enforcement-seal-plaqueProses imigrasi di Amerika sangat mudah, biayanya sudah fix dan kita tidak perlu bolak balik datang ke kantor imigrasi karena status application kita bisa dicek secara online.

Dulu ketika saya mengurus visa kunjungan ke Kedubes Amerika di Jakarta, semua karyawan di kedutaan yang orang Indonesia sangatlah tidak ramah, membuat pengunjungnya menjadi tidak nyaman. Semuanya dilakukan tanpa senyum, sok berwibawa, tapi petugas kedutaan yang melakukan wawancara sangat ramah dan bisa berbahasa Indonesia.

Walaupun kita sudah membuat appointment jauh-jauh hari tapi itu tidak jaminan, walaupun appointment kita misalnya jam 8 pagi tapi tetap saja kita harus antri panjang di depan kedutaan sejak jam 6 pagi, kemudian antri lagi untuk melewati security, untuk membayar di depan loket, dan menunggu lagi untuk panggilan wawancara. Saya antri mulai jam 6 pagi tapi baru dapat panggilan wawancara jam 12 siang. Sangat melelahkan. Belum lagi kalau visanya ditolak, tentu selain badan yang lelah, pikiran kita juga jadi kesal bukan kepalang.

Ketika akan menikah dulu saya mencari-cari informasi bagaimana proses untuk menikah dengan orang asing, ternyata prosesnya sangatlah berbelit-belit dan yang pasti akan ada biaya tambahan untuk oknum-oknum tertentu agar document nya bisa diproses dengan lancar.

Karena saya sudah pusing duluan dengan proses-proses rumit tersebut akhirnya diputuskan untuk menikah di luar negeri saja. Teman saya waktu itu (saya sebut teman karena kita tidak pernah pacaran) mulai mencari-cari informasi di situs imigrasi Amerika www.uscis.gov bagaimana caranya untuk bisa mensponsori saya ke Amerika secara legal. Didapat informasi untuk bisa menikah di sini pertama-tama dia harus apply visa tunangan. Formulirnya di print lewat situs tersebut, setelah diisi kemudian dikirim beserta dokumen-dokumen pendukung seperti foto-foto berdua, surat menyurat dan lain-lain yang menyatakan bahwa kita memang punya relationship, kalau statusnya divorce harus disertakan surat cerai yang sudah dilegalisir, pembayaran pajak tiga tahun terakhir, selain itu dia juga harus menyertakan cek pembayaran fee sebesar 200 dollar sekian untuk visa tunangan tersebut.

Seminggu kemudian dia menerima surat tanda terima dari USCIS (US Citizenship and Immigration Services) yang menyebutkan bahwa dokumennya sudah diterima dan ceknya sudah dicairkan. Proses selanjutnya tinggal menunggu apakah diperlukan dokumen tambahan atau kasusnya disetujui. Di dalam tanda terima tersebut ada nomor case yang bisa digunakan untuk mengecek status secara online.

Dua bulan kemudian case tersebut disetujui dan dia menerima surat pemberitahuan bahwa kasusnya sudah disetujui dan saya akan menerima panggilan dari Kedutaan Amerika di Jakarta untuk datang wawancara. Kira-kira dua minggu kemudian saya mendapat telpon dari Kedutaan Amerika untuk datang wawancara, tetapi sebelumnya saya harus datang untuk mengambil formulir beserta keterangan mengenai dokumen-dokumen yang harus dibawa pada saat wawancara.

Di antaranya general check up dari dokter atau rumah sakit yang sudah ditunjuk, surat kelakukan baik dari Polda Metro Jaya. Semua proses tersebut dilakukan dalam waktu singkat karena antara telpon yang saya terima dari kedutaan sampai panggilan wawancara hanya berbeda satu minggu. Saya pergi ke Polda Metro Jaya pada saat jam makan siang dan melakukan general check up pada saat sepulang kerja, semuanya sangatlah melelahkan secara jasmani dan pikiran. Waktu itu untuk membuat surat kelakukan baik harus meminta surat pengantar dari RT/RW, kelurahan, semua itu saya harus bayar walaupun tertulis gratis, kemudian di Polda Metro Jaya saya harus membayar lebih karena surat itu diperlukan untuk pergi ke luar negeri.

Saya sangat kesal pada waktu itu. Belum lagi saya harus bolak balik ke pak RT karena kadang-kadang dia tidak ada di rumah, masih di kantor, datang lagi tetapi dianya tidak di rumah karena keluar makan, seperti orang penting saja, setelah bertemu dengan pak RT ternyata dia bilang surat pengantarnya tidak ada, pergi ke sekretarisnya saja, setelah ke sekretarisnya ternyata istrinya bilang dia belum pulang kantor, akhirnya saya tinggalkan uang, besoknya saya langsung terima surat pengantar tersebut. Di kelurahan pun sama saja, semuanya harus pakai uang pada waktu itu.

Setelah dokumennya dan formulirnya siap saya datang untuk wawancara di hari yang sudah ditentukan. Saya datang jam 6 pagi untuk antri, bayar fee 100 dollar kalau tidak salah, kemudian menunggu untuk dipanggil, untuk visa tunangan sebenarnya tidak ada wawancara lagi, kita hanya ditanya apakah benar punya relationship dengan dia, setelah semuanya oke langsung disetujui, visanya berlaku selama 6 bulan, jadi dalam waktu 6 bulan saya harus sudah ada di Amerika. Selain itu setelah disetujui, petugas wawancara meminta saya untuk menunggu dan dipanggil kembali untuk diberikan dokumen dalam amplop tertutup. Amplop tersebut harus diberikan ke petugas imigrasi di bandara waktu kita masuk ke Amerika.

Lima bulan kemudian saya berangkat ke Amerika melalui bandara Los Angeles, petugas imigrasi di sana memeriksa visa tunangan saya dan saya memberikan amplop tertutup ke petugas tersebut. Setelah memeriksa semuanya petugas tersebut segera memberikan stamp ke paspor dan bilang welcome to America, have a good evening.

Setelah tiba di Amerika kita diberikan waktu 90 days untuk menikah, kalau tidak jadi menikah saya harus kembali ke tanah air, kalau jadi menikah setelah itu kita harus adjust status untuk menjadi permanent residence. Setelah menikah saya langsung mencari-cari informasi di www.uscis.gov bagaimana caranya untuk adjust status. Kita berdua harus isi formulir yang ditandatangani kita berdua, disertai cek pembayaran fee-nya (kalau tidak salah waktu itu tidak sampai 300 dollar) dan juga dokumen-dokumen yang dibutuhkan seperti surat nikah yang sudah dilegalisir, bukti-bukti kalau kita memang menikah seperti bank account atas nama berdua dll. Semuanya dikirim ke alamat yang sudah ditentukan.

Pada saat mengirim formulir untuk adjust status kita juga bisa sekalian mengirim permintaan untuk work permit dan travel permit, sehingga selama proses green card masih berlangsung kita bisa melamar pekerjaan dan juga untuk travel permit kalau kita bermaksud untuk pulang ke tanah air selama proses green card berlangsung. Tentu saja semua itu dengan biaya tambahan, tapi saya tidak apply untuk itu karena tidak bermaksud untuk kembali ke Jakarta dalam waktu dekat.

unitedstates_immigration

Seminggu kemudian saya menerima surat tanda terima dan sebulan kemudian saya menerima surat panggilan untuk melakukan foto dan sidik jari di hari dan tempat yang sudah ditentukan. Petugas imigrasi di tempat tersebut sangat strict dan tidak ada senyum sama sekali. Antriannya sangat panjang tetapi petugasnya bekerja sangat cekatan dan antrian bergerak dengan cepat.

Enam bulan setelah saya mengirim dokumen untuk adjust status, saya menerima panggilan untuk wawancara di hari, tempat dan tanggal yang sudah ditentukan, waktu itu saya ingat jam 12.30 siang, lima belas menit sebelumnya kami berdua tiba di sana, pemeriksaannya sangat ketat tapi mereka sangat tepat waktu. Jam 12.35 siang nama saya sudah dipanggil dan petugas yang mewawancarai sangat ramah, terlihat sekali kalau dia berpendidikan, kita hanya disuruh menunjukkan bukti bahwa memang benar-benar menikah. Setelah itu disetujui petugasnya bilang green card akan dikirim seminggu kemudian.

Green card pertama yang saya terima berlaku untuk jangka waktu dua tahun, enam bulan sebelum expired saya sudah harus mengajukan perpanjangan, prosesnya seperti pertama kali hanya saja untuk ini tidak diperlukan wawancara, hanya sidik jari, foto kemudian menunggu green card perpanjangannya disetujui dan dikirim, tidak ada surat menyurat atau telpon karena semua bisa dicek online kasus kita sudah sampai dimana. Fee-nya sekitar 485 dollar kalau tidak salah, saya dengar sekarang mencapai seribu dollar lebih. Green card perpanjangan diterima untuk masa berlaku 10 tahun. Proses perpanjangan green card ini memakan waktu sekitar 6 bulan.

Ada seorang teman yang meminta saya untuk membawa adiknya ke sini, saya bilang tidak bisa begitu, semua itu ada kriterianya siapa-siapa saja yang saya bisa bawa ke sini, silakan cek website www.uscis.gov, teman tidak bisa mensponsori teman, kalau adiknya mau datang kesini, apply turis visa saja tapi dia tidak bisa kerja dan harus kembali ke tanah air dalam jangka waktu tertentu, apply turis visa juga tidak mudah, banyak orang yang tidak disetujui applikasinya. Tapi sepertinya dia kesal dan bilang saya sombong. Padahal saya bilang yang sebenarnya.

Ada seorang sepupu yang ingin menitipkan anaknya ke saya, saya bilang tidak bisa, kalau mau sekolah harus mencari sekolahnya dulu, apply, bayar dan visa studentnya akan diproses berdasarkan itu, tidak bisa asal datang, tinggal dengan saya, bisa jadi illegal namanya dan saya tidak mau ditumpangi orang yang illegal. Tapi seperti biasa dia marah dan tidak mau menegur ibu saya sampai sekarang, saya tidak peduli karena saya juga tidak rugi, tidak jadi sepupu juga tidak apa-apa.

Pertama kali tinggal di sini saya merasa sangat homesick, rindu dengan Jakarta, dulu saya sangat benci dengan kemacetan Jakarta tapi setelah saya tinggal di sini saya sangat kangen, kangen dengan makanannya, kangen dengan kehidupan warna warninya, kangen dengan keluarga kandung, memutuskan untuk hidup kembali di Indonesia kapan-kapan, hal itu berlangsung selama 5 tahun. Setelah lewat 5 tahun rindu saya semakin lama semakin pudar, saya semakin betah tinggal di sini. Kalau dulu pulang ke Jakarta selama 3 minggu serasa masih kurang, sekarang 3 minggu itu sangat lama, saya menghitung dari hari ke hari, dari jam ke jam, terasa sangat lama, tidak sabar untuk balik ke sini.

Saya kangen dengan suasana yang tenang dan nyaman, suasana pertemanan yang tulus, bercanda dengan teman kerja, tidak ada yang saling sakit hati, kalau marah bilang marah, kalau sudah selesai minta maaf dan kembali berteman seperti biasa, tidak ada yang bergosip antara teman, paling-paling kita bergosip tentang atasan yang suka bikin kesal.

Tidak seperti suasana di Jakarta, ada teman yang kesal hanya disimpan dalam hati, kalau ditanya tidak mau jawab, tidak tahu apa sebabnya, tahu-tahu tidak mau berbicara dengan kita dan bikin kita sendiri jadi bertanya-tanya apa salah kita, selalu membicarakan keburukan sesama teman sendiri, selalu minta traktir.

Itu semua terjadi pada saat saya kembali ke Jakarta tahun lalu. Ada seorang teman yang tiba-tiba tidak mau berbicara dengan saya, janji untuk main ke rumah tetapi ternyata tidak terdengar kabar beritanya, saya telpon bilangnya hari Sabtu, saya tunggu tidak datang, saya telpon lagi tapi dia bilang sedang ada urusan lain. Sejak itu dia tidak pernah berbicara dengan saya lagi. Saya juga bingung apa sebabnya karena sepertinya saya tidak pernah menyinggung perasaannya, saya di sini dia di sana, walaupun dulu berteman dekat tapi sejak lulus SMA sudah tidak pernah berkomunikasi sampai ketemu lagi di facebook.

Karena ada beberapa hal yang membuat suasana sangat tidak nyaman, walaupun saya masih cinta Indonesia tapi berdasarkan kunjungan terakhir ke sana saya memutuskan untuk apply menjadi warga Negara Amerika. Segera setelah tiba di sini kembali, di bulan yang sama, saya mencari informasi untuk bisa menjadi warga Negara sini, formulir diprint lewat internet, pembayaran sebesar 680 dollar beserta dokumen-dokumen yang lain dikirim lewat pos. Tujuh bulan kemudian saya sudah resmi menjadi warga Negara Amerika. Apakah saya menyesal telah meninggalkan status saya sebagai warga Negara Indonesia, sampai saat ini saya tidak tahu, saya tidak mau memikirkan masa depan, yang saya pikirkan pada saat ini hanyalah bagaimana hidup dengan perasaan tenang dan nyaman.

Bagaimana kalau suatu saat saya ingin pindah untuk tinggal di Indonesia, saya belum memikirkan itu lagi, setahu saya sampai saat ini Indonesia belum menganut dual citizenship dan untuk warga Negara asing masih sulit untuk bisa tinggal di Indonesia kecuali untuk bekerja atau menikah dengan warga Negara Indonesia. Untuk bisa pensiun di Indonesia pun sepertinya tidak mudah, walaupun dana pensiun saya nantinya bisa diambil di Jakarta melalui Kedubes Amerika tapi yang saya dengar pengurusan izin untuk tinggal kembali di Indonesia untuk retired tidak mudah. Saya juga belum google untuk masalah ini karena perjalanan hidup saya masih sangat panjang, masih banyak waktu untuk memikirkan hal itu.

 

122 Comments to "Proses Imigrasi di Amerika"

  1. Summer Girl  20 June, 2014 at 08:25

    Mr. Djieng liong, bukti2nya spt foto berdua, email, kartu pos dll.. tapi kalo cuma surat aja tanpa pernah ketemuan gak bakal disetujui, makanya bukti kalo pernah ketemuan spt tiket pesawat, photo, harus dikirim semuanya.

  2. Djieng liong  21 April, 2014 at 02:54

    Hi, trima kasih tuk informasinya ya, boleh saya brtanya? Syarat” tuk pmbuktian psngn qta itu fiancee apa ajah ya detailnya? Foto” qta brdua, trus? Email ? Chat? Itu ajah? Ga ada yg lain lg ?!?
    Terima kasih sebelumnya

  3. Summer Girl  4 December, 2013 at 21:17

    no. 115, mbak phie.. spt pemain football ya .. badannya gede2, walaupun duitnya banyak tapi kalau ukurannya kecil buat apa ya … hahaha…

  4. phie  4 December, 2013 at 11:01

    jeng Nia: saya ndak syuka nyang gedhi2 awake…biasane cilik njerone…hahahahaha…..

  5. phie  4 December, 2013 at 10:59

    tuu kan ketinggalan potonyaaa

  6. phie  4 December, 2013 at 10:58

    ini Miss Ngaing Ngaing emnag sukaaaaaakkk skali mancing2…..
    niihhh….nyang begindang doyaannn??? ya jelas cakepan pemain sepak bola FIFA kmn2 donk aahhh

  7. Lani  4 December, 2013 at 10:49

    jeng Phie dan yu Lani… hedewww lagi2 yg dicolek 2 org ini dan yg dibahas ini lagi ini lagi
    sy jaman di Indonesia suka nonton pemain sepak bola… disini kagak soalnya gak langganan. kalo American football gak nonton krn sama sekali gak mudeng sama aturan mainnya…
    jeng Phie gak suka yg gede2? pemain rugby banyak yg ganteng lho…
    +++++++++++++

    Miss ngaing-ngaing : ngomongin cowo gantenk kg ada habisnya, malah tambah semakin kemecer!
    Satu pertanyaan: sing gede apane????? Ngibritttttttt……..kkkkk

  8. nia  4 December, 2013 at 10:45

    mbak Summer dan Nyai Mberok… kalau di Wonosobo mau bikin passport mending gak pake agent. bener sih gak perlu antri lama tp tetep ke kantor imigrasi bolak balik 3 kali. kalo 10thn lalu pake agent cukup dateng sekali pulangnya udah dapet passport

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.