Surat Kesepuluh dari Desa

Angela Januarti Kwee

 

Dear David,

Aku baru saja pulang dari Kapuas Hulu untuk urusan pekerjaan. Aku bahagia dua tahun belakangan selalu punya kesempatan menikmati keindahan tempat ini. Terlebih, aku tidak menyangka bisa ke kampung halaman seorang teman kantorku. Aku bertemu ayah, ibu, paman dan bibinya. Kami cukup lama di tempat ini karena harus menunggu beberapa orang yang akan dijumpai pulang dari ladang. Permandangan senja di sini indah sekali, David. Tampak sebuah bukit dari kejauhan dan pepohanan di sekitar kampung.

suratkesepuluh (1)

Menjelang pukul enam malam, hujan turun sangat deras. Kampung menjadi gelap sekali. Hanya beberapa rumah yang mendapatkan penerangan dari mesin genset yang dimiliki. Aku sedikit merasa aneh melihat kampung yang hanya berjarak 2,7 kilometer dari jalan utama belum mendapat pasokan listrik pemerintah. Kebanyakan masyarakat menggunakan pelita dan senter untuk penerangan seadanya.

David, ada kisah menarik dari petualangan ini. Ketika kami masih sibuk mewawancarai seorang ibu, hujan masih deras. Lantas, aku berdoa dalam hati agar Tuhan meredakan hujan dan kami bisa pulang tanpa harus basah kuyup. Kekuatan doa itu luar biasa, David. Tepat di waktu pekerjaan sudah usai dan hendak pulang, hujan menjadi reda. Kami tidak basah sama sekali. Lima belas menit setelah tiba di tujuan hujan kembali turun hingga pagi hari. Aku jadi teringat kisah seorang abang yang ia ceritakan padaku. Kisahnya kurang lebih sama dengan yang kualami. Sejak mendengar kisahnya, aku semakin percaya Tuhan selalu mendengarkan doa umat-Nya. Aku juga bersyukur Tuhan senantiasa menyertai setiap kegiatan yang kulakukan. Aku pun percaya Tuhan selalu menyertaimu, David. Ahhh, aku jadi rindu padamu. Bila sudah begini, hal yang bisa kulakukan hanya menulis surat dan mendoakanmu. Setelah itu, hatiku terasa sangat damai.

Masih banyak kisah-kisah lain yang belum kuceritakan padamu, David. Namun aku berharap kisah-kisah sederhana ini cukup menghiburmu yang jauh di sana. Sudah dulu ya. Sampai ketemu di surat selanjutnya…

Salam sayangku,

suratkesepuluh (2)

Mawar

 

About Angela Januarti Kwee

Tinggal di Sintang, Kalimantan Barat. Bersahaja namun sangat dalam memaknai kehidupan. Banyak sekali kegiatan yang berkenaan dengan kemanusiaan, kebhinnekaan dan wujud Indonesia yang plural. Menembus batas benua dan samudra membagikan cerita kesehariannya melalui BALTYRA.com

My Facebook Arsip Artikel

9 Comments to "Surat Kesepuluh dari Desa"

  1. J C  2 December, 2013 at 05:04

    Asiiiikkk…dikirimi surat lagi sama Angela…

  2. Linda Cheang  29 November, 2013 at 17:05

    surat indahnya bikin iri…

  3. Angela Januarti  28 November, 2013 at 13:52

    Kak Alvina VB : Saat aku berkunjung, hujan sangat deras jadi tidak bisa melihat bintang. Biasanya kalau pulang dari lapangan malam hari, aku sangat senang menikmati langit yang bertabur bintang.
    Memang sudah kepikiran untuk dibukukan, hanya saja menunggu kisahnya lebih banyak lagi, kak. Terima kasih sudah membaca tulisanku

  4. Alvina VB  28 November, 2013 at 13:40

    Angela, bikin surat yg selalu romantis dan enak utk dibaca. Pemandangannya indah sekali dan bukit tsb hampir mirip dengan Benbulben di Irlandia yg pernah kami kunjungi thn yg lalu; krn blm ada listrik di dekat gunung spt ini, pas malam hari bisa lihat jutaan bintang di langit. Bisakah kamu lihat jutaan bintang di desa tsb?
    Btw, kumpulan suratnya bisa dijadikan buku juga loh…

  5. Angela Januarti  28 November, 2013 at 08:24

    Dear. David
    Tidak perlu khawatir, kecintaanku akan alam malah semakin menumbuhkan cintaku padamu.

    @Pak Han : Kapan ke Kalbar lagi? Nanti kita berpetualangan bersama menjelajah Taman Nasional Betung Kerihun di Kapuas Hulu.

  6. Handoko Widagdo  27 November, 2013 at 20:38

    Mawar, sungguh besar cintamu padaku. Aku tahu alam Kapuas sungguh indah. Saya cemburu kepada hutan dan sungai. Jangan-jangan suatu saat cintamu akan desa, hutan dan sungai mengikis cintamu padaku. David.

  7. Angela Januarti  27 November, 2013 at 13:41

    @Bang Jason : Thank you

  8. Jason  27 November, 2013 at 12:34

    Kecintaannya terhadap alam sangat kuat ya…sampai-sampai ktika rindu seseorang dia sampaikan keluh-kesahnya ke angin,hujan, senja, bukit, lembah.memang hidup manusia tak bisa lepas dari alam, sebab alam bentuk intepretasi dari Sang Pencipta….kepiawaiannya mengayam kata-kata membentuk sebuah baris-baris kalimat yang menginspiratif…..slamat..terus menulis.

  9. James  27 November, 2013 at 09:53

    SATOE, surat dari desa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.