[Xixi Diary Sang Superstar] Pertemuan

Masopu

 

Diiringi sinar matahari yang masih panas membakar kulit, Iqbal menuju ke masjid al Ikhlas. Secarik kertas yang diperoleh dari petugas adminitrasi rumah sakit kemarinlah yang menuntun langkahnya ke masjid tersebut. Xifana Adestya Maharani, nama yang tercantum di kertas tersebut begitu menarik perhatiannya. Terbayang wajah wanita yang kemarin pingsan saat terserempet angkot. Wajahnya yang putih dipadu dengan kerudung biru sungguh suatu pemandangan yang menyejukkan hati. Meski hanya sesaat melihatnya, kenangan itu membekas di hatinya.

memory

Namun sesungguhnya bukan hal itu yang membuatnya ingin bertemu. Keinginannya bertemu murni hanya ingin tahu bagaimana keadaan gadis yang kemarin diantarnya ke rumah sakit. Seberapa parah luka yang dideritanya saat ini. Hembusan angin seakan ikut mendorong langkahnya untuk segera bertemu dengannya.

“Assalamu alaikum.” Iqbal menyapa seorang bapak-bapak tua yang tengah duduk di teras masjid. Tangannya terus memutar tasbih. Bibirnya yang dipait kulit pipi yang mulai mengeriput terus berkomat-kamit membaca dzikir.

“Waalaikum salam. “ jawab lelaki tua tersebut sambil memperhatikan wajah Iqbal dengan seksama.

“Maaf pak apakah di sini ada seseorang yang bernama Xifana Adestya Maharani? “ Iqbal bertanya dengan penuh kesopanan.

“ Siapa nak? “ tanyanya dengan muka tenang.

“Xifana Adestya Maharani pak? “

“Nak Xixi. Dia masih mengajar mengaji nak. “

“Xixi pak? “ tanya Iqbal dengan raut muka kaget. Lamat-lamat ingatannya tertuju pada seseorang yang mempunyai nama panggilan sama. Nama yang sempat membuatnya kelimpungan.

“Kok kaget nak? Ada yang salah? “ tanya lelaki tersebut keheranan.

“Enggak pak. Saya hanya kaget dengan nama yang bapak sebutkan tadi. Xixi itu siapa ya pak? Sepertinya saya pernah mendengar nama itu? “ tanya Iqbal berusaha menutupi kekagetannya.

“Xixi itu nama panggilan wanita yang kamu sebutkan tadi. Dia guru mengaji anak-anak TPQ di sini. “

“Oo begitu pak. Maaf saya hanya tahu namanya Xifana Adestya Maharani saja pak. Dia kemarin mengalami kecelakaan dan saya yang membawanya ke rumah sakit. Namun karena ada meeting di kantor, dia saya tinggal dulu di rumah sakit.“ terang Iqbal.

“Oo anak ini yang menolong Xixi kemarin. Terima kasih ya nak……” lelaki tersebut kebingungan mau memanggil nama Iqbal.

“Perkenalkan pak nama saya Iqbal. Lengkapnya Iqbal Fathoni.“ Iqbal memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya, saat dia sadar orang tersebut kebingungan mau menyebut namanya.

“Terima kasih atas bantuannya nak Iqbal kemarin. Saya Solehudin, pengurus masjid al Ikhlas ini nak.“ jawab lelaki tersebut sambil menjabat tangan Iqbal. “Tunggu sebentar, saya akan panggilkan nak Xixi kemari.“ lanjutnya.

Segera lelaki bernama Solehudin tersebut berdiri dari duduknya. Dilangkahkan kakinya menuju ruang kelas tempat Xixi mengajar murid-muridnya. Sejenak suara anak-anak yang sedang belajar mengaji terhenti saat lelaki tersebut memasuki ruang kelas. Tak lama kemudian muncul seorang gadis berkerudung biru berjalan ke arah Iqbal. Pandangan matanya tertunduk. Tepat ketika sampai di dekat Iqbal, gadis berkerudung biru tersebut duduk.

“Assalamu alaikum,“ sapanya sambil menyilangkan tangan di depan dadanya.

“Waalaikum salam,“ jawab Iqbal sambil menyilangkan tangan di depan dadanya seperti yang gadis itu lakukan. ”Benarkah anda Xifana Adestya Maharani?“ tanya Iqbal dengan suaranya yang halus.

“Benar mas itu nama saya. Apakah mas yang kemarin menolong saya?“ tanyanya sambil tetap menjaga pandangannya agar tidak langsung beradu pandang dengan mata Iqbal.

“Iya. Saya Iqbal yang kemarin membawa mbak Xifana ke rumah sakit.“

“Panggil saya Xixi mas.“

“Xixi ….?“ tanya Iqbal sedikit kaget.

“Kenapa mas?“

“Enggak apa-apa mbak. Sepertinya saya pernah mendengar nama itu?“ jawab Iqbal tergagap kaget.

Sekilas matanya melihat ke arah wanita yang sedang berdiri di depannya. Dia mencoba mengingat-ingat nama yang baru saja terucap dari bibir gadis itu. Nama yang sesungguhnya punya kesan mendalam baginya, meski hanya bertemu dua kali saja. Tapi penampilan yang berbeda membuatnya meragukan kalau sosok di depannya adalah wanita yang sempat membuatnya kelimpungan.

Iqbal hanya berdiri terdiam. Dia mencoba mengingat sesosok wanita dengan nama panggilan yang sama. Sesosok yang dikenalnya beberapa tahun yang lalu. Tapi hanya namanya saja yang terkenang, sementara wajahnya dia sudah terlupa.

“Ah andai Xixi dulu penampilannya seperti ini.“ gumamnya.

“Kenapa, mas?“ tanya Xixi.

“Ma…ma… maaf mbak.“ Iqbal tergagap.

“Mas yang kemarin mengantar saya ke rumah sakit?“ tanya Xixi sambil tetap menundukkan wajahnya.

“Iya mbak. Panggil saja Iqbal.“

“Terima kasih atas bantuannya kemarin mas Iqbal. Allah telah mengirim mas untuk menolong saya.“ Xixi berkata sambil menganggukkan kepala pelan. Anggukan yang menandakan dalamnya ungkapan terima kasihnya.

“Sudah kewajiban saya untuk menolong mbak Xixi yang sedang terkena musibah. Jangan berterima kasih sama saya, berterima kasihlah pada Allah.“ kata Iqbal.

“Iya mas. Tapi tetap saya juga harus berterima kasih sama mas Iqbal. Tanpa perantaraan mas, mungkin saat itu saya masih tergeletak di jalan.“

“Sudahlah mbak gak usah membahas masalah itu. Bagaimana keadaan mbak sekarang?“ tanya Iqbal dengan perasaan hati kurang enak. Sejujurnya dia tidak begitu menyukai jika kebaikan yang telah diperbuatnya malah membuat orang lain tak enak.

“Alhamdulillah sehat mas. Itu kenapa saya saat ini sudah bisa mengajar di TPQ ini.“

“Syukurlah kalau begitu mbak. Kalau boleh tahu mbaknya tinggal di mana?“ tanya Iqbal.

“Saya tinggal di depan sana mas. Kira-kira 300 meter dari sini ada gang masuk ke kiri, saya tinggal di rumah nomer 21.“ jawab Xixi.

“Terima kasih mbak. Silahkan mbak melanjutkan mengajar anak-anak di TPQ.“ kata Iqbal sambil memberi tanda agar Xixi kembali ke ruang kelas.

“Iya mas, Gak enak sama pak Kiai kalau dia harus mengawasi adik-adik belajar mengaji. Saya tinggal dulu. Wassalamualaikum.“ kata Xixi sambil merapatkan tangannya di dada sambil membungkukkan badan.

“Waalaikum salam warrahmatullah.“ jawab Iqbal sambil melakukan hal yang sama.

Xixi berjalan kembali menuju ke ruang kelas. Sementara Iqbal berjalan meninggalkan halaman masjid, setelah melihat Xixi berjalan meninggalkannya. Begitu tubuhnya hilang di balik pintu ruang kelas, Iqbal meninggalkan halaman masjid.

 

Denpasar, 07032012.1244

 

3 Comments to "[Xixi Diary Sang Superstar] Pertemuan"

  1. Alvina VB  29 November, 2013 at 04:02

    Akhirnya si Iqbal ketemu si Xixi juga, ttp si Iqbal blm ngeh ya ini org yg sama dgn yg dia pernah kenal dulu….
    Lanjut….

  2. James  27 November, 2013 at 09:56

    SATOE, rendevouz ??

  3. [email protected]  27 November, 2013 at 09:55

    Astaga…. FATANAH disini…..
    :O
    eh fatonah…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.