Perjalanan Terakhir (3)

Wesiati Setyaningsih

 

Ruang tengah tampak luas tanpa meja kursi tamu yang biasanya ada di situ. Tamu datang dan pergi, beberapa tinggal sementara. Rumah jadi penuh orang. Ada yang ikut sibuk mengurus ini itu, ada yang duduk diam berdoa atau cuma melamun saja. Sebagian besar menangis atau menahan tangis.

Aku duduk di dekat Ibu yang duduk termenung dengan wajah sembab dan mata kosong. Dia menatap tubuhku yang tak lagi bernyawa. Sapu tangan yang sudah basah tergenggam di tangannya, sesekali dia pakai mengusap matanya atau hidungnya.

blurred_figures

Di sebelahnya ada Bude Warti, tetangga depan rumah yang gemuk tapi baik hati, mengelus lengan Ibu.

“Sabar ya Mur..” katanya.

Ibu tak menjawab. Bude Warti sendiri sesekali mengusap matanya dengan sapu tangan. Tissue tak akan sanggup mengeringkan air matanya.

“Aku liat dia tadi pergi sama temannya yang sering ke sini itu.”

“Very, namanya,” tukas Ibu.

“Iya,” jawab Bude Warti, “aku nggak ngira itu terakhir aku liat dia.”

Ibu mengusap matanya dengan sapu tangan.

“Aku sudah bilang sama dia untuk tidak pergi, Mbak. Aku bener-bener pesan, nggak usah pergi! Eh, dia pergi juga.”

“Pada ngapain to sebenarnya?”

“Tadi Mamanya Very yang ke sini, nganter jenasah, katanya Very boncengin Robi, lantas jatuh karena ada lobang di jalan. Kepala Robi membentur trotoar. Tahu-tahu sudah meninggal.”

“Kok ya sepele ya..” Bude Warti menggumam.

Ibu menghela nafas panjang.

“Aku sekarang sendirian, Mbak.”

Bude Warti menghela nafas sambil mengelus lengan Ibu.

“Lha iya, sejak kecil Ibumu sudah meninggal. Baru dua tahun lalu Eyang Kakungnya Robi meninggal. Eh, sekarang malam Robi ikut nyusul,“ katanya mengelus lengan Ibu berulang-ulang, “sabar ya Mur.”

Ibu menyusut matanya.

“Rasanya nggak kuat aku, Mbak… Hidupku ini untuk apa?”

“Hidup kamu, “ kata Bude tersendat, “ya untuk orang-orang di sekitarmu to, Mur.”

Suaranya terdengar gamang. Aku tahu Bude Warti sendiri tidak yakin ketika mengatakannya. Mungkin dia paham kalau dia sendiri belum tentu kuat kalau mengalami kejadian seperti ini.

“Nggak ada yang membutuhkan aku, Mbak.”

“Ah, ya ada. Pasti ada. Tuhan menciptakan kamu karena satu alasan. Setidaknya kamu sudah membesarkan anakmu dengan baik, Mur. Robi itu anak baik.”

Ibu terisak.

“Aku didik dia sebaik mungkin, Mbak. Gimana lagi, dia satu-satunya gantungan hidupku nanti.”

“Aku tahu. Bukan kamu saja yang senang kalo Robi jadi anak baik. Semua orang di sekitarnya juga senang. Aku sering lihat anak-anak seusia dia merokok di pinggir jalan. Tapi aku enggak pernah lihat dia seperti itu.”

“Semoga begitu, aku nggak bisa mengawasi dia sepenuhnya. Aku mesti kerja kan, Mbak.”

“Percayalah. Dia anak baik. Dari kecil dia keliatan kalo memang baik. Ingat tidak waktu dia kecil dulu, Mur?”

“Apa?”

“Dia sukaa banget ke rumahku. Tau-tau sudah masuk rumah sampai aku kaget. Tapi ya nggak ngapa-ngapain. Cuma duduk-duduk di ruang tamu, baca koran.”

Ibu tertawa kecil sambil menghapus matanya.

“Nanti kalau sudah siang, kadang-kadang aku ajak makan. Itu juga kalau enggak ditawarin, biarpun dia tahu ada makanan, enggak pernah ngambil.”

Ibu tersenyum.

“Sampai sekarang sudah besar, kalo mau berangkat sekolah dan aku lagi di luar, ya nyamper dulu, cium tangan. Bude pamit dulu mau sekolah, katanya. Oalah..”

Ibu diam saja mendengarkan Bude Warti berkisah. Pelayat lain ikut mendengarkan.

“Enggak pernah kedengeran anakmu bikin ulah.”

Ibu cuma mengangguk.

“Makanya Murti, ikhlaskan saja. Biarkan dia melangkah ringan dengan keikhlasanmu. Kalo kamu menangis terus nanti dia lihat dan tidak tega ninggalin kamu.”

Ibu mengangguk, “Aku coba, Mbak. Semoga bisa.’

“Harus bisa.”

Percakapan Ibu dan Bude Warti membuatku tersentuh. Ternyata mereka menganggap aku ini anak baik. Ada rasa bangga menyelinap dalam dadaku. Setidaknya aku mengisi hidupku sebagaimana mestinya.

“Ramai juga rumah ini.”

Sebuah suara mengusik telinga hingga aku menoleh. Sontak aku melonjak memeluknya begitu tahu siapa yang berbicara.

“Yang Kung!”  seruku antara girang dan heran.

‘Yang Kung’ itu panggilan sayangku untuk Eyang Kakung, Bapak dari Ibuku. Yang Kung tertawa lebar. Giginya yang ompong terlihat. Aku suka melihat Yang Kung yang sedang tertawa karena tawanya selalu membuatku ikut tertawa. Dan yang jelas, aku selalu melihat tawa itu sebagai penghapus ketakutanku waktu dimarahi Ibu.

Aku sering melihat tawa itu waktu aku melakukan sesuatu yang oleh Ibu justru diteriaki, “nakal!” lantas Ibu bisa mencubit pahaku.

Kalau sudah begitu Yang Kung cuma menggumam,  “Itu kan anakmu sendiri to Mur. Lahir dari perutmu sendiri. Kamu keluarkan dengan berdarah-darah. Kamu rawat dengan susah payah. Sekarang sudah jadi anak segar bugar kamu cubitin. Dia itu bukan nakal, tapi cuma belum tahu mana yang salah mana yang benar. Bukan cubitan yang dia butuhkan. Tapi kata-kata yang menjelaskan panjang lebar. Mbok ya sabaaar….”

Biasanya gumaman Yang Kung akan ditutup dengan kalimat yang sangat nendang,

“Jangan-jangan sebenarnya kamu sedang marah dengan dirimu sendiri, jadi apa yang dilakukan anakmu langsung tampak salah di matamu.”

Jangankan Ibu, aku saja yang mendengar ikut merasa Yang Kung sedang ‘menampar’ Ibu dengan kata-katanya. Kalau sudah begitu Ibu akan memelukku dan menangis. Aku jadi ikut menangis.

life-after-death

Kini Yang Kung datang untukku seperti dulu. Kalau dulu Yang Kung melindungiku dengan menasehati Ibu, kini Yang Kung datang untuk menemaniku. Kami memandangi Ibu yang hanya bisa melihat tubuhku yang terbujur kaku dan lecet-lecet sedikit di kepala, kaki dan tangan. Selebihnya baik-baik saja. Aku sendiri heran kenapa saya bisa mati begitu saja padahal aku cuma jatuh dan kepalaku membentur trotoar.

“Yang Kung, aku kangen sekali..”

Yang Kung menatapku dan tersenyum. Senyum yang selalu kurindukan sejak beliau tidak ada. Selama ini aku sering menangis sendiri karena kalau ingat Yang Kung.

“Sekarang Yang Kung di sini, menemanimu.”

“Kenapa tau-tahu Yang Kung di sini?” tanyaku.

“Ya memang aku disuruh ke sini.”

“Sama siapa?” pertanyaanku terlontar begitu saja.

“Sama siapa menurutmu?” Yang Kung balik bertanya sambil tersenyum.

Tiba-tiba aku merasa bodoh.

“Aku sendiri ingin segera menemani kamu begitu aku tahu kamu datang. Cuma aku harus menunggu perintah. Enggak bisa langsung datang gitu aja.”

“Tapi, kenapa Yang Kung? Kenapa bukan mmm… Michael Jackson misalnya?”

Yang Kung terbahak.

“Kan kamu enggak kenal dia.”

“Kenal kok.”

“Dia enggak kenal kamu.”

Aku meringis.

“Jadi yang datang menemuiku di alam ini adalah mereka yang aku kenal?”

“Tidak cuma kamu kenal, tapi orang yang sangat menyayangimu dan kamupun sangat menyayanginya.”

“Begitu, ya?”

“Kalau kamu sudah ada di suatu tempat,  lantas orang yang kamu sayangi datang tempat itu, apa yang kamu lakukan?”

Aku memandangi Yang Kung berusaha mengira-ngira.

“Jelas saja kamu ingin menemani dia, memberitahu perjalanan yang akan dia lalui, karena kamu sudah pernah melaluinya, begitu bukan?”

Aku mengiyakan.

“Itulah yang aku lakukan. Ketika aku tahu kamu ke sini, aku sangat ingin menemanimu. Apalagi ini perpindahan yang tiba-tiba. Kamu sama sekali tidak tahu apa-apa tentang ini semua.”

Aku tersenyum bahagia.

“Aku berterima kasih sekali Yang Kung ada di sini.”

“Itu karena kamu sayang sama aku juga. Jadi aku terpanggil ke sini.”

Aku mengangguk. Jelas saja aku sayang sama Yang Kung. Dia selalu ada untukku bahkan sejak aku bayi. Apalagi ketika Bapak meninggalkan aku sejak kelas 3 SD, peran Yang Kung dalam hidupku semakin besar sekali.

“Siapa yang menemani Yang Kung di masa…mmm…” aku kesulitan mencari kata yang tepat, “seperti ini..?”

“Ketika aku mati, maksudmu?”

Aku mengangguk.

“Eyang Putri-mu yang menjemputku,” kata Yang Kung menerawang.

“Aku meninggal karena sakit, jadi sebelumnya aku sudah berada di alam antara. Beda dengan kematianmu yang tiba-tiba, kamu tidak mengalami masa antara yang cukup lama. Semua berlangsung cepat.”

life_after_death

Aku mengangguk-angguk mengerti.

“Aku mengalami masa di antara dunia nyata dan fana. Di alam antara itu Eyang Putrimu sudah datang. Dia bahkan menemaniku untuk berpindah alam. Jadi semua berjalan perlahan dan tidak terlalu mengejutkan. Aku sudah cukup siap.”

“Begitu, ya?” gumamku. “Tapi, kenapa Eyang Putri?”

Yang Kung memandangku lekat sebelum menjawab,

“Karena dialah satu-satunya orang yang selalu ada dalam hatiku setelah kematiannya. Aku tidak terlalu dekat dengan orang tuaku yang sudah meninggal. Kami sebelas bersaudara dan bapak ibuku sibuk mencari uang untuk menafkahi kami. Belum lagi budaya waktu itu orang tua memang tidak dekat dengan anak, takut anaknya jadi kurang ajar.”

Aku tertawa.

“Enggak kaya jamanku, ya?”

Yang Kung ikut tertawa.

“Iya, di jamanmu anak-anak dibiarkan bergaul bebas dengan orang tuanya,” Yang Kung terkekeh.

“Setelah dia meninggal, tak ada perempuan lain yang mengisi hatiku. Aku bahkan selalu mimpi bertemu dengannya kalau aku kangen. Mungkin saat itulah dia mengunjungiku.”

Aku meringis, antara geli dan haru mendengar kisah cinta Yang Kung.

“Aku aja belum sempat pacaran,” keluhku.

Yang Kung tertawa kecil.

“Tapi kamu pasti punya seseorang yang sangat kamu cintai. Setidaknya kalau dia meninggal nanti, kamu akan segera datang menjemputnya dan menemaninya.”

Aku menerawang. Mataku menatap Ibu yang sedang menangis di temani para tetangga.

“Orang yang masih hidup dan paling aku sayangi cuma Ibu. Enggak ada orang lain,” gumamku.

Yang Kung diam sambil memandangi Ibu.

“Aku mengerti,” gumamnya. “Kalau aku masih diperbolehkan menjemput satu orang lagi nanti, aku juga ingin ada untuknya.”

“Apakah kita cuma diperbolehkan menjemput satu kali?”

“Enggak tahu,”  Yang Kung menggeleng, “enggak ada yang tahu. Yang jelas aku sangat menyayangi ibumu.”

Aku diam, tenggelam dalam pikiranku sendiri.

“Ibumu itu sudah kehilangan Ibunya waktu dia umur sembilan tahun.”

Aku sudah sering mendengarnya. Tapi aku tak keberatan mendengarnya lagi.

“Aku membesarkan dia sendirian sampai dia akhirnya menikah dengan lelaki pilihannya sendiri tak lama setelah lulus SMA. Mereka sudah pacaran sejak masuk SMA. Lulus SMA lelaki itu bekerja di sebuah usaha percetakan besar. Gajinya lumayan, katanya. Ibumu waktu itu juga bekerja jadi pelayan toko. Ya sudah, mau apa? Aku ini cuma lelaki. Tidak punya pertimbangan panjang lebar. Mereka saling cinta, ya sudah. Mau nikah ya nikah aja. Ngapain repot?”

Yang Kung berhenti sejenak. Pandangannya beralih ke arah lain. Aku ikut menatap ke arah tersebut. Seorang lelaki kira-kira berusia tiga puluhan duduk lesu di salah satu kursi yang dijajar di depan rumah, di bawah bentangan tenda yang dipasang siang tadi. Aku baru tahu Bapak juga datang melayat.

“Bapakmu itu dulu tampan. Sangat tampan. Tak heran kemudian ada perempuan lain yang menyukainya. Itulah kenapa akhirnya Bapak Ibumu bercerai. Dia memilih menikahi perempuan itu. Sudah hamil, dengar-dengar begitu.”

“Apakah memang begitu?”

Yang Kung menggeleng. “Tidak. Perempuan itu membohongi Bapakmu.”

“Bapak tahu kalau dibohongi?”

“Tahu, tapi setelah menikah. Mau apa? Sudah terjadi.”

“Katanya sekarang sudah cerai lagi?”

“Belum. Perempuan itu yang pergi meninggalkan dia.”

“Oh, kenapa? Dulu dia mengambil hati Bapak sampai dia meninggalkan aku dan Ibu, sekarang dia tinggalkan Bapak. Kadang-kadang cinta itu aneh.”

“Kamu salah paham tentang apa yang disebut cinta, Robi. Kamu masih muda, belum tau apapun tentang cinta.”

Aku meringis. Jelas saja, pacaranpun aku belum pernah.

“Salah paham gimana?”

Meski tak tahu untuk apa, aku ingin mendengar penjelasan tentang cinta menurut Yang Kung.

“Kadang-kadang sesuatu mereka pikir cinta, padahal itu cuma emosi sesaat. Kalau mereka baru bertemu, lalu merasa selalu ingin bertemu, itu hanya emosi belaka bukan cinta sebenarnya.”

“Cinta yang sebenarnya seperti apa?”

“Cinta sebenarnya itu harus sudah teruji dan mereka benar-benar sudah bisa mengatasi. Bukan hanya tentang perasaan ingin selalu bertemu, tapi penerimaan secara keseluruhan atas orang lain. Itulah cinta.”

“Penerimaan… Aku enggak paham.”

“Temanmu bisa bilang cinta sama pacarnya. Wong ketemunya cuma sebentar-sebentar. Tidak tiap hari. Coba kalau dia tau jeleknya kebiasaan dia. Suka kentut misalnya? Apa dia masih cinta?”

Aku tertawa.

“Enggak tau, deh.”

“Ibu kamu tetap sayang kok sama kamu meski kamu dulu suka ngompol dan be’ol di celana. Kamu enggak dibuang gitu aja karena bau,” Yang Kung tersenyum menggodaku.

Aku tergelak.  “Wah. Itu ya yang namanya cinta sejati.”

“Benar. Itulah cinta sejati. Penerimaan sepenuhnya. Biarpun kamu baik, kamu pas nakal, kamu pas wangi atau pas be’ol, Ibumu tetap sayang.”

“Aku paham sekarang,” kataku. “Apakah Ibu benar-benar mencintai Bapak?”

Yang Kung mengangguk. “Itulah kenapa dia melepaskan Bapakmu. Karena dia mencintai lelaki itu sepenuhnya.”

Aku mengerut tak paham.

“Mencintai Bapak tapi membiarkan Bapak menikah dengan perempuan lain? Maaf, tapi Ibu bodoh banget.”

“Itu pikiranmu, anak muda. Kamu belum tau apa-apa..”

“Iya, memang. Kan aku belum pernah pacaran,” akhirnya aku membela diri begitu lagi.

“Mencintai sepenuhnya itu harus menerima, bukan? Termasuk kalau kebahagiaan orang yang kamu cintai itu ternyata bukan bersamamu.”

“Oh..” aku terpana.

“Selama ini pemahamanku tentang cinta salah ya, Yang?”

“Bukan salah. Cuma kamu belum memahami sepenuhnya saja.”

Aku mengangguk.

“Aku pikir dulu mereka bercerai karena aku.”

“Ah, bukan. Kenapa mesti berpikir seperti itu? Kamu ini suka sekali merasa bersalah atas hal yang bukan tanggung jawabmu.”

“Aku kan tidak tahu, tauku mereka sering sekali ribut waktu itu.”

“Mereka ribut di dekatmu bukan berarti ribut karena kamu. Beda.”

“Iya, aku baru tau sekarang.”

“Bapakmu sudah makin tua sekarang, tapi kegantengannya masih tersisa,” Yang Kung menggumam.

Kami memandangi Bapak. Gurat ketampanan dari dagunya yang bagus, hidungnya yang mancung dan keseluruhan penampilannya yang gagah, bisa kulihat bahwa dia dulu pasti digilai banyak wanita. Entah ke mana hatinya sebenarnya berlabuh, pada Ibu atau perempuan itu.

“Kamu mewarisi kegantengan Bapakmu, Rob,” Yang Kung menatapku lekat. “Pasti banyak yang naksir.”

“Yang Kung bercanda. Aku belum punya pacar.”

“Tapi yang nangisin kamu banyak, cewek-cewek.”

“Mana? Nggak ada.”

“Ada. Kalo kamu mau menggunakan pendengaranmu dengan baik, pasti kamu tau.”

Aku tercenung mendengar kata Yang Kung.

“Begitukah?” tanyaku setengah percaya.

Yang Kung mengangguk yakin. Aku termenung memikirkan bagaimana caranya.

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

23 Comments to "Perjalanan Terakhir (3)"

  1. anoew  3 December, 2013 at 20:25

    kehidupan setelah mati diceritakan dengan wuapik tenan sama penulisnya.. ckckck S A L U T..!

    @Yu Nut, aku emoh jejer sama Dewi Similikithi soale nek ngakak kebanteren..

    @Wik, neraka bagian A yo, kok ada AC-nya..

  2. J C  2 December, 2013 at 05:21

    Aku terpana membacanya…semakin lama serial ini semakin menarik…(lha tenan gambare dikomentari lagi… )

  3. Chandra Sasadara  29 November, 2013 at 13:49

    Ya robbi, terimalah robi…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *