Tuhan dan Keseharian

F. Rahardi

 

Komunitas Gereja Katolik di kota kelahiran saya adalah sebuah komunitas elit. Mayoritas pendukungnya adalah para priyayi dan WNI keturunan Cina. Kondisi komunitas itu sangat kontras dengan sosok ayah saya. Dia adalah penjahit di pastoran dan kemudian juga di bruderan. Dia miskin, tidak berpendidikan baik, dan juga bukan keturunan bangsawan. Ke mana-mana dia memakai kain sarung, kemeja, sandal dan peci, termasuk kalau ke gereja. Tetapi oang-orang termasuk para pastor dan bruder selalu tampak hormat bahkan agak takut pada ayah saya. Padahal orang-orang yang sekelas dengan ayah saya itu adalah minoritas dalam komunitas Gereja di Ambarawa dalam kurun waktu itu. Mengapa kalangan elit itu tampak hormat kepada ayah saya? Padahal setahu saya dia bisa saja diperlakukan seperti halnya pesuruh, tukang kebun, atau pegawai dapur. Disuruh-suruh, dibentak-bentak atau dilecehkan.

Mula-mula saya menduga, orang-orang itu merasa segan dengan ayah saya karena dia itu sakti. Mungkin dia itu sebenarnya jagoan hanya tidak pernah mau mempertunjukkan kehebatannya di depan umum. Ternyata dugaan saya itu salah. Ayah saya adalah orang biasa murni. Saya baru tahu mengapa orang-orang itu menaruh hormat pada ayah saya, setelah diberitahu seorang bruder. Katanya, ayah saya itu orangnya pendiam dan sederhana. Dia tidak banyak omong tetapi kalau sudah berbicara maka yang dibicarakannya hampir semua benar dan dijalaninya dengan konsisten. Hanya itu saja. Tetapi, justru itu dianggap sangat bernilai oleh si Bruder. Sebab dalam komunitas Gereja di Ambarawa, kata bruder, orang-orang sederhana seperti dia itu sangat langka.

Tahun 1964, ayah saya itu pindah kerja ke Bruderan Boro di Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta. Komunitas Katolik di sana ternyata sangat berbeda dengan komunitas Gereja Katolik di Ambarawa. Kalau yang datang ke gereja di Ambarawa adalah orang-orang yang rapi, necis dan sangat berpendidikan, maka di Boro ini yang datang hampir seluruhnya petani. Pukul lima pagi, jalan raya di depan gereja, bahkan juga halamannya penuh dengan dagangan. Ada kayu bakar, ada keranjang penuh singkong, sayuran, bahkan juga kambing. Para petani itu berangkat dari rumah sudah sekitar pukul empat pagi. Mereka ke gereja, lalu sepulang dari gereja akan terus ke pasar. Karena jarak dari rumah ke gereja cukup jauh sementara jarak gereja dengan pasar sangat dekat, maka mereka pun sekali jalan ke gereja sekaligus ke pasar. Gereja di Boro itu memang benar-benar gereja rakyat. Jemaatnya bapak-bapak dan mbok-mbok yang memakai lurik, surjan, dan bertelanjang kaki. Orang semacam ayah saya lalu menjadi tampak rapi dan agak elit. Di kawasan ini, doa Salam Maria dan Bapa Kami biasa terdengar di rumah-rumah gedek, di ladang-ladang, bahkan di sawah.

Di kawasan ini memang ada pastoran, ada bruderan, dan susteran. Para bruder itu beternak babi, mempunyai pabrik tenun tangan dan sekaligus penjahitannya. Para suster membangun rumah sakit dan sekolah perawat. Selain itu, masih ada SD, SMP, dan STM tenun dan jahit, serta SPG. Yang berobat ke rumah sakit di susteran itu hampir seluruhnya rakyat miskin, yang dari pelosok pegunungan maupun lembah kali Progo. Di desa inilah tiba-tiba saya melihat sosok Gereja Katolik yang pas untuk orang-orang seperti ayah saya itu. Bahkan untuk yang lebih sederhana lagi. Jemaat di kawasan ini banyak yang buta huruf dan buta bahasa Indonesia. Bangunan gereja itu sendiri memang terbuat dari tembok, namun kesannya sangat sederhana. Demikian pula halnya dengan perabotan di dalamnya. Kalau misa di Ambarawa kornya diiringi orgen, di  Boro ini iringannya gamelan.

Komunitas Gereja Katolik di Ambaawa mungkin merupakan duplikat dari Gereja Katolik Eropa. Ini bisa dimaklumi sebab Ambarawa adalah kotanya Belanda. Di zaman kolonial, Gereja Katolik di Ambarawa adalah Gerejanya orang-orang Belanda, Cina, dan para priyayi pribumi. Sementara komunitas Gereja Katolik di Boro, mirip dengan komunitas Gereja Katolik di NTT dan Timtim, pedalaman Filipina, Amerika Latin, dan Afrika. Di sana, komunitas Gereja Katolik mayoritas penduduknya adalah rakyat miskin. Ini membuat penjabaran konsep religius mereka juga berbeda. Tuhan, bagi mayoritas orang Katolik di Ambarawa adalah sesuatu yang agung dan sakral. Ritual mereka pun formal dan tertib. Di Boro, Tuhan adalah sesuatu di sela-sela kesibukan mereka sehari-hari. Untuk menghormatinya pun, mereka lakukan sambil lalu. Misa di Ambarawa didatangi jemaat yang berdandan rapi dan khusus meluangkan waktu untuk mengikuti misa. Sementara di Boro, misa adalah bagian dari perjalanan ke pasar atau ke sawah.

seeing-god-in-everyday-life

Ketika saya sudah menjadi guru dan mengajar di pedalaman Kabupaten Kendal, banyak saya temui orang-orang sederhana namun memiliki semangat religius yang tinggi. Mereka mengaku beragama Islam dan itu tertera di KTP mereka. Hampir semua buta huruf dan buta bahasa Indonesia. Mereka juga miskin meskipun tiap hari bekerja keras. Salah satu di antara mereka adalah Mbah Karyo. Dia seorang duda, dan tinggal bersama salah seorang anaknya yang sudah berkeluarga. Pekerjaan sehari-harinya adalah penyadap nira aren. Dia sama sekali tidak memegang jabatan apa pun di kampungnya. Dia juga bukan orang sakti atau dukun atau memiliki kemampuan lebih lainnya. Kemampuannya ya hanya satu, yakni menyadap nira aren. Namun, semua orang takut dan menghormatinya, termasuk Pak Lurah. Ketika salah seorang warga kampung mengamuk membawa golok dan tak ada seorang pun berani mendekatinya, dengan tenang dia datang lalu menenteramkan si pengamuk dan meminta goloknya.

Ketika saya tanyakan, mengapa dia berani mendatangi orang yang sedang kalap itu padahal orang-orang lain tidak, jawabnya sederhana. Katanya, karena dia dekat dengan Gusti Allah. Dekat dengan Gusti Allah? Apakah dia pernah melihatnya? Ternyata setiap hari dia dapat melihat Gusti Allah setiap saat kalau dia mau. Bahkan, yang paling mengejutkan saya, dia mengajak untuk melihat Gusti Allah itu kalau saya mau. Tentu saja saya bersedia. Maka, pada suatu sore saya pun diajaknya ikut melihat Gusti Allah itu. Anehnya, dia menenteng bumbung (buluh bambu) sebagai penampung nira aren dan di pinggangnya terselip golok. Saya tidak berani bertanya apa-apa dan hanya mengikutinya saja dari belakang. Kami berdua berjalan menyusuri jalan setapak yang menanjak melewati ladang-ladang singkong, kebun kopi, rumpun bambu sampai di pinggiran jurang.

Di lereng jurang itu, tumbuh pohon aren yang salah satu bunga jantannya sedang disadap. Pohon itu tumbuh agak di bawah sana hingga posisi bunga yang sedang disadap persis sejajar dengan tempat saya berdiri. Saya dimintanya berdiri di situ sementara dia menuruni tebing lalu memanjat pohon aren itu. Sesampai di atas, dia membuka tali pengikat bumbung yang telah penuh nira lalu menurunkannya. Pelepah bunga yang telah terpotong itu dia iris tipis dengan golok lalu meneteslah air nira yang manis itu. Dia pun berteriak, inilah Gusti Allah itu. Lalu bumbung baru pun dipasang untuk menampung air nira itu. Jadi, menurutnya, air nira itulah Gusti Allah. Saya tentu saja merasa dikibulinya. Akan tetapi, dia tampak cuek saja. Sepanjang perjalanan pulang pun dia malah bercerita tentang buah kopi, jagung muda, monyet, babi hutan, dan burung betet.

Sesampai di rumah, air nira itu dituang oleh anak perempuannya ke dalam kenceng (tempayan dari tembaga), lalu kenceng dan niranya itu ditaruh di tungku yang apinya sudah menyala. Saya pun disuruhnya duduk menunggui air nira yang sedang direbus itu. Setelah nira itu agak hangat dia mengambil cangkir lalu menciduknya dan diberikannya pada saya. Inilah Gusti Allah itu, minumlah, katanya. Saya pun menerimanya lalu meminumnya. Rasanya manis sekali. Tiba-tiba saya merasa seperti sedang mengikuti sebuah misa di dalam gereja dan sedang menerima anggur dari pastor untuk ikut meminumnya. Ketika air nira itu telah mendidih, dia pun mengambil tiga buah singkong berukuran besar, mengupasnya, mencucinya lalu mencelupkannya ke dalam air nira yang tengah mendidih itu. Tak berapa lama kemudian, singkong itu pun masak. Setelah diangkat dan ditaruh di atas piring, diapun menyodorkannya kepada saya. Ini juga Gusti Allah, makanlah. Kembali saya memakannya. Singkong itu empuk sekali dan sangat manis. Kembali, saya seperti sedang menerima hosti di dalam gereja.

Mula-mula saya mengira Mbah Karyo itu agak gendeng juga karena telah melecehkan Tuhan. Paling tidak saya mengira dia sedang mempermainkan saya. Ternyata tidak. Dia memang serius menganggap air nira dan singkong itu Tuhan. Itu memang sumber kehidupannya. Karena Tuhan adalah sumber kehidupan, maka nira dan singkong pun lalu dianggapnya Tuhan.  Saya lalu bertanya, apakah saya boleh menganggap pemerintah RI itu sebagai Tuhan? Karena saya bekerja sebagai guru negeri yang digaji oleh pemerintah. Jawabannya, ternyata terserah saya. Namun kemudian dia bertanya, agama saya apa. Saya jawab Kristen. Sebab kalau saya jawab Katolik, dia pasti tidak tahu. Dia tahunya Kristen. Dia lalu menanyakan apakah saya rutin ke gereja? Saya menjawab secara jujur tidak pernah. Dia lalu menyarankan agar saya rajin ke gereja. Dia sendiri, selalu melaksanakan sholat lima waktu dan setiap hari Jumat selalu sembahyang di masjid.

Sarannya itu segera saya laksanakan. Ketika hari Sabtu tiba, saya pun pulang ke Ambarawa. Minggu pagi saya mengikuti misa pada pukul enam. Namun, betapa malu dan kikuknya saya. Karena sudah sekian tahun tidak pernah ke gereja, semua orang tua yang mengenal saya melihatnya dengan pandangan aneh. Teman-teman sebaya saya seluruhnya mengejek, dan memperolok-olokkan saya. Lebih-lebih ketika saya tampak kebingungan di dalam gereja. Maklum ketika saya masih aktif ke gereja, tata cara misa masih menggunakan aturan lama. Kini, setelah Konsili Vatikan II, semua tata cara misa sudah berubah. Ini membingungkan saya hingga teman-teman saya semua cekikikan menertawakan. Saya pun kapok hingga tidak pernah mau ke gereja lagi. Ketika hal ini saya kemukakan kepada Mbah Karyo, dia ikut tertawa. Dia lalu menganjurkan saya untuk beribadah di sekolah saja. Katanya, mengajar anak-anak supaya menjadi pandai itu termasuk ibadah. Itu juga akan diterima oleh Gusti Allah. ***

Artikel dimuat di Buku Menggugat Tuhan

 

9 Comments to "Tuhan dan Keseharian"

  1. awesome  4 December, 2013 at 12:15

    like *jempol*

    ijin sharing

  2. Hilda  3 December, 2013 at 15:57

    iya Pak Rahardi, saya seorang follower blog Bapak yg ada di wordpress jadi sering baca tulisan2 yg Bapak tayangkan kembali, juga puisi2nya yg menggugah hati.
    Senang sekali ternyata Bapak juga menulis di Baltyra
    Saya ingin belajar menulis dari Bapak nih….hehehe

    Salam hangat

  3. phie  3 December, 2013 at 02:59

    Bpk Rahardi apakah dulu suka menulis di Majalah Hidup? Alm. ayah saya pelanggan setia majalah Hidup sampai akhir hayatnya. Nama bapak tidak asing utk saya karena saya suka ikutan baca. Kalau salah orang ya maaf pak hehehe…

    Terima kasih untuk tulisannya.

  4. F. Rahardi  3 December, 2013 at 02:10

    Hilda, benar, saya F. Rahardi yang pernah menjadi wartawan Majalah Trubus, dan juga penyair. Belakangan saya juga menulis novel. Terimakasih atas tanggapannya. Alvina VB, sepertinya saya pernah membalas ulasan Anda yang sangat panjang ini, yang bisa menjadi artikel tersendiri, dan telah mengingatkan saya akan banyak hal. Maklum tulisan ini saya buat sekitar 20 tahun yang lalu. Terimakasih.
    F. Rahardi

  5. Hilda  2 December, 2013 at 22:42

    tulisan yg menggugah dan indah sekali….apakah ini Pak Rahardi yg dulu wartawan Trubus dan penyair itu?…salam kenal ya Pak. Tuhan memberkati.

  6. J C  2 December, 2013 at 05:16

    Pak Rahardi, muanteeeeppp sekali yang ini…pesan Mbah Karyo jelas: “Tuhan ada di dalam diri/hati masing-masing”

  7. Linda Cheang  28 November, 2013 at 16:12

    Tuhan itu tidak bisa dibatasi oleh aturan, tata cara ibadah apalagi dogma. Tuhan itu semestinya membumi dan orang-orang ynag mendapat amanah menjadi Hamb Tuhan alias wakil TUhan, semestinya yang menunjukkan dalam hidupnya, beta Tuhan itu merakyat.

    Tapi minta maaf, ya, yang saya lihat secara nyata, ternyata nggak begitu. Hamba Hamba Tuhan zaman kini, malah memperlihatkan bahwa Tuhan itu jauuhhhhhh….. tinggiiii………

  8. Alvina VB  28 November, 2013 at 10:56

    Bpk. Rahardi, pengalamananya selalu menarik utk dibaca. Saya dibesarkan di dalam lingkungan Katolik dan saya tidak pernah merasa kekatolikan itu masuk ke dalam hati nurani saya, karena apa? Tidak ada contoh teladan dan pancaran kasih dari suster dan bruder (yg saat itu masih org2 Belanda) yg teramat strict dan terkesan angker banget. Saat itu misa di gereja masih menggunakan bhs latin dan saya tidak mengerti arti dan maknanya sebetulnya apa. Lambat laun, yg bruder dan suster Belanda yg tua2 digantikan dengan yg lebih muda dan mereka rata-rata dari Jawa Tengah/ Flores dan kita pikir ya org Ind apalagi dari P.Jawa pasti akan lebih baik dari bruder2 dan suster2 Belanda tsb. Ternyata setali tiga uang; entah kenapa sepertinya roh2nya bruder dan suster Belanda tua tsb merasuki pastor2 dan suster2 muda tsb, mereka juga tidak kalah galaknya dan tidak mengenal kasih. Saya tidak pernah melihat kasih Tuhan terpancar melalui perkataan dan perbuatan mereka. Saya dan kawan2 dulu memberikan nama2 suster tsb dgn julukan yg hanya kita saja yg tahu sehingga kl kita membicarakan mereka tidak ada yg pernah tahu sebetulnya mereka sedang kita bicarakan, he..he….. Saya banyak melihat kekerasan yg dilakukan suster dan pastor di lingkungan sekolahan saat itu, baik melalui perkataan atau perbuatannya. Sekali waktu, krn saya kesal melihat adik saya dicaci-maki seorg suster abis2an krn dia memakai kalung emas ke sekolahan (peraturannya waktu itu memang kita tdk boleh pakai perhiasan apapun ke sekolahan, ttp adik saya lupa menanggalkan perhiasannya dari hari sebelumnya, hari Minggu ada recepsi kel. dekat ), saya menantang dan meminta Tuhan menunjukan pada saya kl Tuhan itu betulan ada, saya ingin bertemu dgn seorg suster yg baik dan memancarkan kasih Tuhan. Ternyata baru saat saya kuliah, salah satu dosen pembimbing saya adl seorg suster bule dari Amerika (ttp dia tidak memakai kudung) dan dia baik sekali dan memancarkan kasih Tuhan, walaupun dia tidak pernah sekalipun bicara ttg Tuhan kepada saya, ttp tutur katanya sangat lemah lembut, tindakan dan perbuatannya berbeda dgn suster2 yg saya kenal dulu. Beliau adl satu2nya suster yg saya temui dlm kehidupan saya yg saya bisa katakan punya kasih Tuhan dan kemungkinan besar adl panggilanNya utk menjadi seorg suster. Saya suka berpikir apakah bruder dan suster yg galak2 tsb dulu terpanggil/ terpaksa utk masuk biara? Karena menurut sejarah gereja dulu yg saya dengar, banyak org muda yg menggabungkan diri saat itu krn tekanan ekonomi dan juga tekanan dari keluarga mereka. Banyak org Eropa dulu (terutama di Irlandia dan Italia) memilih salah satu anaknya utk masuk jadi suster/ pastor. Senang/ tidak senang itu spt perintah org tuanya, jadi bukanlah panggilan dari Tuhan, masuk krn terpaksa. Makanya beda dgn org yg betulan terpanggil, betulan utk melayani. Banyak penyimpangan yg terjadi di dlm gereja katolik, selain politik, salah satu akarnya adl org2 tsb yg melayani di dlm gereja bukanlah panggilan jiwanya. Saya salut dgn siapa saja yg melayani gereja krn panggilan jiwanya bukan krn terpaksa/ mempunyai motivasi pribadi (dari keluarga terutama).

  9. Lani  28 November, 2013 at 07:47

    Satoe

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.