Sejarah Imigran Jepang ke Brasil (4)

Dewi Aichi – Brazil

 

Jejak Persilangan (Jepang-Brasil)

Dari generasi ketiga di Brasil, keturunan Jepang sekarang sudah mulai terbuka dan membaur dengan masyarakat Brasil. Kakek-nenek imigran bekerja keras di lapangan sehingga anak-anak dan cucu-cucu mereka memiliki masa depan yang baik di Brazil.

jepang-di-brazil

Pada tahun 1960, Jepang  juga mulai meninggalkan lahan-lahan garapan mereka dan menuju ke kota-kota untuk menyelesaikan studi mereka. Tujuan utama adalah Sao Paulo, yang telah menjadi kota dengan jumlah terbesar Jepang di luar Jepang. Dan awal tahun 1970, orang-orang keturunan menjadi bagian dari realitas koloni Jepang di Brazil. Saat ini, sekitar 61 % dari cucu dari cucu keturunan Jepang telah terjadi persilangan(hubungan) dengan etnis lain dan mengurangi ikatan hubungan leluhur dengan Jepang, karena sebagian besar tidak berbicara atau mengerti tentang bahasa Jepang.

 

Kontribusi dari imigran Jepang

Foto di bawah:  Liberdade sebuah tempat di kota Sao Paulo yang dianggap sebagai negeri Matahari Terbit  di Brasil, karena sebagian besar koloni Jepang  berkumpul dan hidup di sini.

japan-town

Apa yang terjadi saat ini menunjukkan bahwa koloni Jepang sepenuhnya terintegrasi dengan budaya Brasil. Kemauan besar untuk bekerja, dan tetap mempertahankan kultur mereka ,seni, adat istiadat, bahasa, keyakinan dan pengetahuan memberikan kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi dan pengembangan kebudayaan negara Brasil.

Tidak ada keraguan bahwa Jepang, bersama dengan Portugis, India, Afrika, Italia, Spanyol, Arab, Cina, Jerman dan banyak orang lain, membantu untuk membentuk sebuah masyarakat  multikultural, multi ras yang indah yang disebut Brasil.

Dan memang benar bahwa masyarakat Brasil tidak mempunyai basic apakah itu wajah Brasil itu seperti apa? Semuanya sudah bercampur dengan ras-ras bangsa lain. Semua wajah berada di Brasil, membentuk percampuran wajah yang luar biasa indahnya. Tak banyak yang mengetahui apakah dia orang Brasil saat dia berada di Amerika? Saat orang Brasil berada di Indonesia, tak banyak yang tau, bisa saja dikira orang Jepang, orang cina, orang Jerman, orang Australia. Mereka akan tau dari bahasa yang dia ucapkan.

 

Sejarah di balik: Fenomena Dekassegui

Fenomena yang diamati saat ini adalah cara warga Brasil keturunan Jepang dan pasangan mereka untuk bekerja di Jepang, karena sebagian besar pekerja di industri. Apakah dekasseguis (出稼ぎ). Saat ini, lebih dari 300.000 berada di Jepang dekasseguis.

Dan begitulah adanya. keadaan berbalik. Saat ini warga negara Brasil terbesar yang berada di luar Brasil, berada di Jepang. Mereka pekerja industri dan banyak juga yang menduduki posisi penting. Warga Brasil yang bekerja di Jepang, mempunyai gaji lebih besar diatas-rata-rata. Tidak seperti warga negara lain yang bekerja di bidang industri/pabrik, yang gajinya lebih kecil, contohnya warga Indonesia yang sebagai kenshusei, warga Philipine, dan lain-lain.

Di Jepang bisa terlihat adanya bank-bank besar milik Brasil, seperti Itau, Bradesco, selain itu, banyak sekali toko-toko khusus yang menyediakan bahan makanan masyarakat Brasil, butik-butik bertebaran dimana-mana dengan pemiliknya warga Brasil. Sampai sekolah-sekolah yang dikelola oleh warga negara Brasil, untuk menerima anak-anak Brasil yang tidak dimasukkan ke sekolah Jepang. anak-anak yang sekolah di sekolah milik Brasil di Jepang, jika sewaktu-waktu pulang ke Brasil, mereka tinggal membuat surat keterangan yang dikeluarkan oleh sekolah dimana ia belajar, untuk melanjutkan ke sekolah di Brasil.

Kedua negara ini(Brasil-Jepang) sama-sama mengadakan acara penting dari negara masing-masing, di Brasil, koloni Jepang tetap mengadakan matsuri, obong, dan merayakan hari-hari besar mereka di Brasil. Begitupun dengan warga negara Brasil yang berada di jepang, juga mengadakan pesta-pesta, carnaval, dan sebagainya. Bahkan di Jepang ada sebuah stasiun tv yang menawarkan acara tv Brasil secara langsung, namanya IPC.

 

Generasi Nikkei di Brasil

Jumlah imigran Jepang, sekitar 200.000 datang ke Brasil dan hari ini diperkirakan bahwa 1,5 juta orang Brazil memiliki keturunan Jepang, yang disebut Nikkei. Saat ini, koloni Jepang di Brazil dibagi menjadi:

  • Issei ( Jepang generasi pertama, lahir di Jepang ): 13 %
  • Nisei ( anak dari Jepang ): 31 %
  • Sansei ( cucu dari Jepang ): 41 % ;
  • Yonseis ( cicit dari Jepang): 13 %

Jika Anda adalah keturunan Jepang dan ingin mengetahui informasi lebih lanjut tentang imigrasi anggota keluarga anda sebagai bagian dari kapal di mana mereka datang, tanggal keberangkatan dan kedatangan dan lokal/lahan tempat mereka bekerja, dengan data-data tersebut, di Jpang telah menyediakan alat canggih untuk bisa melacaknya. Sehingga anda tidak akan kehilangan jejak keturunan anda di masa lalu. Semua data ini dikumpulkan dan disimpan selamanya di situs  “Historical Museum Imigrasi Jepang” untuk Brasil. Tanpa diragukan lagi,  ini adalah sebuah karya yang sangat bernilai yang mereka lakukan dan masih membantu menjaga  sejarah imigrasi Jepang, terutama untuk generasi baru dengan akar orang Jepang.

sumber: Tales of the Imigrasi Jepang oleh JAPAN FOKUS pada 17 JUNE 2008

 

Gambar alat untuk melacak:

pelacak

 

About Dewi Aichi

Berasal dari Sleman Jogjakarta, saya blasteran (antar kelurahan maksudnya), happily married to a Brazilian guy. Dari Jogja merambah dunia. Pernikahan lintas benua adalah pilihannya. Setelah beberapa tahun di Distrik Aichi, Jepang, sekarang tinggal di Brazil bersama keluarga tercintanya. Tingkat sudrunnya setara dengan saudara-saudara sepersudrunannya seperti Nur Mberok, Elnino, Fire dan jelas Lani van Kona. Di sini saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, saya hanya sekedar menulis apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang menarik buat saya untuk ditulis. Jika ini bermanfaat untuk diri saya sendiri dan juga untuk teman-teman, saya sangat bersyukur

My Facebook Arsip Artikel Website

18 Comments to "Sejarah Imigran Jepang ke Brasil (4)"

  1. anoew  4 December, 2013 at 05:58

    *mendadak ilang sinyal*

  2. J C  4 December, 2013 at 05:50

    * tur cemokot – kelir kuning? * (iki ngomong dhewe lho, ora nyethake apapun juga)

  3. anoew  4 December, 2013 at 05:37

    Aku ethok-ethok ra weruh malah mbok cethakne wealah….

  4. Dewi Aichi  4 December, 2013 at 01:33

    Anoew, suika=semangka, piye to?

  5. anoew  3 December, 2013 at 14:35

    lho kok bisa semangka tho? memangnya imigran jepang suka bawa-bawa buah?

  6. Dewi Aichi  2 December, 2013 at 23:16

    Anoew…waduh..soal semangka ini yang berat he he…saya butuh bukti-bukti dari yang berkaitan dengan semangka yang cemokot ini. Anda siap saya interview?

  7. Dewi Aichi  2 December, 2013 at 23:15

    Matahari, terima kasih atas komentarmu, ya, selama ini saya bisa lihat, tentu saja dengan waktu saya yang baru 4 tahun di Brasil, belum banyak hal yang bisa saya sampaikan, tetapi dari selama saya tinggal di Brasil, tidak melihat adanya perlakuan berbeda terhadap warga keturunan Jepang di Brasil.kalau soal keturunan, di Brasil memang tidak ada diskriminasi.sebab bisa dikatakan tidak ada penduduk asli, kecuali orang pedalaman yang disebut India(dibaca: Injio), seperti kalau di Indonesia ada suku Dayak.

    Sedangkan warna kulit kadang masih ada diskriminasi. Walau tidak secara terang-terangan diucapkan, tetapi dari sikap sangat menunjukkan adanya diskriminasi. Orang negro kerap dicurigai bertindak kriminal,misalnya ketika sedang terjadi kerobutan atau kerusuhan, kebetulan di lokasi itu ada orang negro, bisa menjadi orang pertama yang dicurigai. Ini hanya sekedar satu kasus, tidak semua begitu.
    Soal attitude…nah ini yang perlu saya garis bawahi, menurut saya, orang Brasil terlalu malas, santai, rileks, boros, konsumtif, di jalan raya juga tidak menghormati sesame pengguna jalan…dan kebiasaan para pria menghabiskan waktunya di bar bar. Untuk keturunan Jepang, mereka masih membawa budaya Jepang di Brasil, contohnya adalah kebersihan dan disiplinnya.
    Penampilan fisik di Brasil bisa menjadi perkara lain, bullying..khususnya untuk anak-anak, ini sangat merisaukan. Kebetulan saya ada tulisan tentang kegemukan, yang baru saja menjadi bahan diskusi di tv, nanti saya rangkum dulu, untuk bisa ditayangkan di Baltyra.

  8. anoew  2 December, 2013 at 20:57

    Dengan memasukkan bagian pengalaman pribadi bersuamikan keturunan Jepang, tinggal di Jepang dan berkeluarga lintas etnis dan benua, sepertinya akan jadi buku yang sangat menarik

    Aku setuju dengan komennya Josh Kharisma. apalagi Dewi pernah berteman dengan Suika..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.