Asyiknya Menyimak Ki Purbo Asmoro Mendalang

Dwi Klik Santosa

 

Sejak saya kuliah di Jogja, pada rentang 1995-1999 nama Ki Dalang Purbo Asmoro sudah saya kenal dengan baik. Setidaknya dua kali pernah saya saksikan beliau mendalang di Balairung UGM pada setiap kali Dies Natalis kampus itu. Pertama kali menonton pementasan Mas Purbo, yang nyenthel berkesan di benak saya, beliau punya khas yaitu mampu membawa perasaan hanyut pada aliran cerita yang dilakonkan. Teknik bercerita sambil membunyi sayup-sayup gamelan menyatu dan mengiringi, bagi pendengaran dan pencernaan saya begitu terasa dramatis. Dan mampu masuk melesak ke dalam benak. Apalagi yang dibawakannya waktu itu lakon Dewa Ruci, waaahhhh ….

Menyimaknya secara hikmat, seperti membayangkan saya ini seorang Bima yang masuk ke dalam pusaran lautan yang antah, asing dan sunyi. Cuma bedanya, naga Nabatnawa yang membelit sosok Bima berhasil dikalahkan dan dibuang dari tubuhnya. Setelahnya Bima pun bertemu dengan makhluk kecil sebesar kelingking jarinya, yang serba sosoknya mirip dengannya mengaku bernama Dewa Ruci. Masuk ke dalam pemahaman garba Dewa Ruci, ksatria kedua Pandawa itu menyerap pengetahuan yang jernih dan luas, dan tak dimengertinya selama itu selama hidupnya.

sedang nagaku
kerumitan yang setia membelitku
adalah hantu bagi setiap langkahku
berjalan kesana kemari
bertanya dan berlari
tak selalu atau sempat mendapati

ki purbo asmoro

Menyaksikan lagi pementasan Mas Purbo, kemarin itu di Hall Soehana The Energy, SCBD, Senayan, dengan format pendek dalam lakon Wahyu Makutarama cukup hanyut dan asyik. Dalam ruang ampiteater yang hanya menampung maksimal 250 orang, seperti biasanya, gaya pementasan wayang kulit purwa gagrak Surakarta dalam dua jam mengalir, khas dengan sigraknya. Apalagi dibawakan seorang dalang yang piawai memainkan fragmen secara dramatikal, waaa ….

Dalam sajian durasi pendek itu, lumayan sunyi ruang itu, hanya suara dalang yang antap dan melodius serta gamelan yang ritmis menggelitiki sekitar 250 sosok penontonnya yang duduk tenang dan nampak hanyut menyimak. Dan sesekali terdengar tawa yang renyah, sewaktu tiba-tiba Petruk, Bagong dan Gareng menyeruak ikut berkelakar. Bagi mister, miss, mrs yang hadir berjumlah separuhnya dari hadirin disediakan layar monitor berupa ketikan terjemahan dalam Bahasa Inggris, yang sangat cepat dan bisa mengimbangi bincang mas dalang, dilakukan oleh seorang Kathrin Emerson. Rupanya Kathrin ini adalah seniman serba bisa. Tidak saja mahir menerjemahkan dari bahasa Jawa, yang rumit karena ada tingkatan-tingkatan itu ke dalam bahasa Inggris, namun juga sempat dalam durasi 5 menit dipanggil sang dalang untuk mengendang mengiringi sajian Jineman Uler Kambang.

Wahyu Makutharama, yang bisa diartikan sebagai anugerah mahkota Rama kira-kira berkisah tentang sukma-sukma para pahlawan pada zaman Ramayana, yaitu zaman sebelum para Pandawa lahir yang ingin terus mengilhamkan pengabdiannya kepada para ksatria pembela kebenaran. Sebab inkarnasi roh para iblis yang gentayangan demikian dominan menjadi momok kehidupan kekinian. Maka, pada akhirnya para dewa pun mengizinkan sukma Rama menitis kepada Kresna. Sukma Sinta menitis kepada Sembadra. Sedang sukma Laksmana menitis kepada dua jiwa. Hasratnya kepada Arjuna sedang sufistiknya kepada Baladewa.

“Kenapa harus ke saya?”

Begitu Baladewa bertanya kepada pujangga Kahyangan, Bathara Narada.

“Sebab hanya kau yang kuat menerima goda dari hawa nafsu berahi ingin beristri lagi.”

Waaaa … dalam sejenak, saya pun merenung dan berpikir. Lalu siapa ya, yang cocok menitis ke jiwa saya. Karena dua-duanya, hasrat apalagi berahi .. hakhakhak …. dan juga sufistik barangkali, sangat melekat kepada .. kepada … lalala ..

Lalu saya membayangkan dan melirik ke sohib saya, Kang Kaji ini. Siapa, ya, yang paling cocok menitis ke dalam jiwanya … Hmm … Sepertinya Narada. Ya, Narada. Sebab sosok tokoh wayang ini sakral dan senang mendongak ke atas.

“Kok begitu?” protes Kang Tow.

“Ya, kan, sosokmu tidak mudah tergoda oleh uang yang jatuh atau … kiri dan kanan .. pemandangan cewek yang aduhai …”

 

Meruya

28 November 2013

: 09.3o

 

7 Comments to "Asyiknya Menyimak Ki Purbo Asmoro Mendalang"

  1. anoew  3 December, 2013 at 20:09

    wah mantab, tentang titis menitis… “Kenapa harus ke saya?”

    Begitu Baladewa bertanya kepada pujangga Kahyangan, Bathara Narada.

    “Sebab hanya kau yang kuat menerima goda dari hawa nafsu berahi ingin beristri lagi.”Ini pastinya asik, tak seperti biasanya (meski saya jarang nonton wayang di TV, kecuali sekali-kalinya nonton langsung) dialog antartokoh berlangsung panjang dan terkadang njlimet.

  2. J C  3 December, 2013 at 16:22

    Sudah “berabad-abad” yang lalu terakhir nonton wayang…

  3. Dewi Aichi  2 December, 2013 at 23:39

    Wah..luar biasa nih Kathryn berkomentar di baltyra……

  4. Dewi Aichi  2 December, 2013 at 23:38

    Durasi pendek, berapa lama mas Dwi? kalau pertunjukan wayang kulit biasanya ditambahi “semalam suntuk”, aku suka ngga sabar…

  5. Dewi Aichi  2 December, 2013 at 23:37

    Ulasan begitu menarik mas Dwi…saya tidak salah lagi bahwa mas Dwi memang benar-benar menyimak Ki Purbo mendalang, tidak ngantuk ya?

  6. James  2 December, 2013 at 11:21

    SATOE, Ki Dalang

  7. Kathryn Emerson  2 December, 2013 at 11:18

    Terima kasih sekali Pak, support dan antusiasme sangat menyenangkan. Semoga bisa ketemu Bapak di pentas2 lain, Pak Purbo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.