Guru Gemblung (3): Stop Sabotase Diri

Wesiati Setyaningsih

 

Seringkali saya berpikir, apakah setiap orang selalu jujur pada dirinya sendiri? Berapa orang yang berani mengakui kalau dia memang mengalami sesuatu yang tidak beres dalam dirinya sendiri tanpa pengingkaran apapun?

File pertama naskah buku sudah saya kirimkan ke pak Han dan saya beri judul ‘Guru Juga Manusia’. Saya pikir judul itu yang nanti cocok untuk buku. File kembali pada saya dengan koreksian pada file MS Word yang baru kali itu saya lihat bisa muncul dalam file Word. Beberapa artikel dianggap tidak relevan, berarti harus saya buang. File yang kembali pada saya akhirnya berhenti karena saya tidak tahu harus bagaimana.

Sampai di sini saya macet dan tidak punya ide apa-apa. Pak Han sendiri belum punya konsep yang jelas buku ini harusnya seperti apa. Saya bingung dan putus asa karena selain belum menemukan konsep yang jelas, saya juga harus berkutat dengan suara-suara dalam diri saya bahwa saya tak perlu meneruskannya karena saya merasa ‘bukan siapa-siapa’.

under-estimate            Saya sadar, menyusun buku ini penting. Tapi melawan diri sendiri agar saya bisa menemukan ide dan menyelesaikannya dengan lancar juga tidak mungkin. Maka saya mulai mengorek diri saya sendiri, kira-kira apa yang selalu membuat saya menggagalkan impian saya sendiri tepat ketika mimpi itu sudah ada di depan mata.

Bisa jadi hal ini sudah berlangsung seumur hidup saya. Agak mengerikan bahwa kesadaran ini datang terlambat, tapi bahkan sebuah keterlambatan itu jauh lebih bagus daripada tidak pernah sama sekali. Setidaknya selama umur masih ada, saya masih sempat memperbaiki semuanya. Maka saya bongkar lagi sana sini untuk mencari buku itu, dan saya mulai baca lagi dari depan. Sementara menunggu ide datang dengan jelas, saya mulai membaca buku ‘Stop self sabotage’ itu lagi.

Buku ini sudah dikirimkan oleh seorang teman beberapa waktu lalu. Tapi saya bukan pembaca yang baik. Saya tidak sabaran (atau mungkin agak sulit untuk fokus pada hal-hal yang kurang menarik perhatian saya), jadi kalau membaca buku yang tidak benar-benar menyita perhatian saya, saya cuma baca bagian depan, lalu balik-balik sekilas, lalu mencari bagian belakang, dan akhirnya saya merasa sudah membaca keseluruhan buku. Alhasil, saya tidak bisa mendapatkan pesan keseluruhan dari buku tersebut. Begitulah yang terjadi ketika saya membaca buku yang sudah lama saya miliki ini. Saya baca dari depan sampai tengah, lalu bagian belakang, setelah itu terlupa. Saya jadi tidak mendapat apa-apa.

Kali ini, dengan niat agar saya berhasil akan memperbaiki diri, saya baca lagi buku tersebut. Saya mulai mencari tahu apa yang membuat saya selalu menggagalkan diri saya sendiri.

Pola pengasuhan, tanpa kita sadari sering menjadi penentu utama kita akan jadi apa. Tidak banyak yang menyadari bahwa bagaimana mereka dididik waktu kecil, oleh siapapun itu, merupakan penyebab dari situasi kehidupan yang mereka alami di saat dewasa. Semua respon dan kata-kata yang diberikan oleh pengasuh seorang anak di waktu kecil, tertimbun dalam alam bawah sadar dan seringkali menjadi penentu cara berpikir kita dalam menghadapi situasi-situasi dalam kehidupan kita.

Saya sering mendengar orang tua yang anaknya sedang dipuji mengatakan, “ah, dia bukan apa-apa”, “ah, nakal, kok”, atau semacamnya. Padahal selain kata-kata adalah doa, bila si anak mendengar, maka yang tertanam di dalam alam bawah sadarnya adalah bahwa dia ‘bukan apa-apa’ dan ‘nakal’. Maka kata-kata itulah yang dia jadikan identifikasi untuk dirinya.

Pasti akan beda urusannya andai orang tua mengatakan, “iya, dia sekarang sudah pintar begini, begitu,” atau “iya, kemarin dapat nilai bagus di mapel ini dan dapat piala karena juara ini”. Bukannya mengatakan keburukan anaknya, tapi orang tua menyampaikan hal-hal yang baik. Masalahnya, dalam budaya kita, mengatakan prestasi anak-anak bisa dikategorikan dalam sombong. Sebuah kata yang begitu mudahnya menjadi sebuah intimidasi dan kita akan melakukan apa saja agar tidak dikatakan ‘sombong’, termasuk menjelek-jelekkan anak sendiri.

Tak jarang pula yang terjadi adalah sebuah kesalahpahaman. Misalnya saja Ibu saya menyarankan saya untuk lebih memperhatikan anak-anak.

“Jangan main laptop saja!” kata Ibu. “Perempuan itu yang penting urusan rumah dan anak-anak beres.”

Saya memahami dengan salah bahwa Ibu tidak suka saya menulis. Atau lebih buruk lagi, saya menafsirkan bahwa menulis itu sebuah larangan. Padahal maksud Ibu saya, boleh saja saya menulis, yang penting urusan anak-anak dan rumah tangga tetap tertangani dengan baik.

Dengan membaca buku “Stop Self Sabotage” saya mulai mencoba mengindentifikasi, pola sabotase diri yang saya lakukan. Apakah saya menyabot dengan mengatakan,

“Kamu tidak layak mendapatkan keberhasilan itu.” (merasa tidak pantas mendapatkan yang diinginkan)

Atau

“Sudahlah, enggak usah. Enggak akan berhasil.” (menyerah sebelum mulai)

“Paling nanti juga hasilnya jelek. Percuma.” (tidak ada gunanya mencoba)

Yang jelas, banyak naskah novel yang berhenti di tengah jalan karena saya merasa ceritanya tidak aneh dan jelek. Justru di saat yang sama saya dipacu teman-teman Baltyra untuk menulis sebuah serial yang mulanya berupa cerpen yang bercerita tentang seorang anak bisu bernama Ngatimin. Karena teman-teman Baltyra memaksa saya menulis lanjutannya, terpaksa saya lanjutkan lagi dan ketika saya diminta menyusun buku oleh pak Handoko ini, serial ini mulai jalan beberapa. Anehnya, serial ini dinikmati teman-teman Baltyra bukan di blog   Baltyra tapi dikirim lewat inbox Facebook mereka.

Tapi buku ini malah belum menemukan konsepnya. Sementara pada waktu yang sama, Dewi Murni mengabarkan bahwa dia akan datang dari Brasil, pulang kampung ke Jogja. Dia mengajak kami yang di sekitar Jogja untuk ketemuan. Saya senang sekali akhirnya bisa bertemu dengan teman-teman Baltyra, termasuk pak Handoko.

Kalau kami jadi ketemuan, maka itu akan menjadi pertemuan saya yang pertama dengan pak Han. Sekaligus saya akan minta masukan mengenai buku ini. Siapa tahu kami bisa berbagi ide bagaimana baiknya. Saya masih berusaha mengatasi sabotase diri pelan-pelan dan mengikuti prosedur yang ada, sampai pada memberikan ijin pada diri sendiri untuk meraih keberhasilan saya sendiri. Saya tulis kalimat-kalimat yang muncul dalam benak saya dan selama ini menggagalkan saya, lalu saya tulis juga kalimat-kalimat pemberian ijin.

Akhirnya tibalah hari yang ditentukan untuk bertemu dengan teman-teman. Meski belum begitu yakin kalau saya sudah bisa mengatasi sabotase diri, tapi saya berharap pertemuan dengan pak Han bisa menjadi titik terang agar buku ini bisa menemukan konsep yang jelas. Saya berencana berangkat ke Solo bersama Izza setelah pembagian rapor. Di Solo saya akan menginap di rumah pak Han bersama Dewi Murni dan dua teman Baltyra lainnya. Agak mengherankan bahwa persahabatan di Facebook ternyata membawa kami menemukan satu sama lain dan bergaul dekat hingga seperti saudara. Tapi itulah kenyatannya.

confident

Siapa sangka sebuah titik tolak dari pembuatan buku ini justru karena saya mendapatkan alasan yang sangat kuat tepat sebelum saya berangkat ke Solo, tepatnya setelah pembagian rapor. Ada sebuah peristiwa yang cukup mengagetkan dan ternyata menjadi alasan yang kuat dari dalam diri saya sendiri untuk menyelesaikan buku ini hingga benar-benar jadi buku. Tidak sekedar menjadi naskah yang separuh jadi dan tersimpan di laptop sebagai file belaka.

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian “kesasar” menjadi guru. Mencoba mendobrak “pakem baku” proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya.

Sering dianggap “off-track” bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

8 Comments to "Guru Gemblung (3): Stop Sabotase Diri"

  1. phie  6 December, 2013 at 12:39

    paling susah utk memecuti diri sendiri ya mbakyu…saluutt!

  2. wesiati  5 December, 2013 at 05:41

    hahaha…. guru gemblong. ya lengket semua to om james.

    well, sebenarnya saya juga masih terus memperbaiki diri. enggak mudah menghentikan sabotase diri yang mungkin sudah berjalan sejak saya kecil. entah kapan mulai terbentuk. tapi yang jelas, saya sudah bisa mengidentifikasi dengan mudah ketika sabotase diri berlangsung dalam diri saya. saya juga dengan mudah mengidentifikasi bila hal ini terjadi pada orang lain. hal ini terjadi paling banyak di kalangan murid2 saya juga anak-anak saya. ini agak menyedihkan, karena saya jadi melihat diri saya sendiri dalam diri mereka.
    cuma ya karena saya pernah ngalamin, saya dorong sekuat tenaga agar mereka tahu bahwa mereka sedang menyabot diri mereka sendiri. biar nanti2 kalau sudah dewasa mereka jadi pribadi-pribadi yang lebih baik daripada saya.

  3. J C  3 December, 2013 at 16:29

    Wesi, membaca perjalanan dan pengalaman ‘spiritual’mu ini (dalam tanda petik lho) memang luar biasa, hanya yang punya kejembaran hati dan pikiran yang bisa seperti ini…muanteeeppp…dan memang tutor kita bersama pak Hand memang tutor yang luar biasa…

  4. Hennie Triana Oberst  3 December, 2013 at 12:02

    Wesi, salut, kamu sudah bisa mengatasi sabotasi diri.

  5. Dewi Aichi  2 December, 2013 at 23:23

    Kalau ngga gemblung ngga bisa bikin buku Tersesat Di jalan yang Benar….untung kamu gemblung hehehe..

  6. Lani  2 December, 2013 at 12:15

    JAMES : gemblung & gemblong lain dunk………..
    Gemblung = ora waras
    Gemblong = ini makanan terbuat dr ketan wuenaaaaaak ditabur parutan kelapa muda gurih yum! atau bs jg dibakar dimakan sama tempe bacem hadoh ngileeeeeeeeer aku………

  7. James  2 December, 2013 at 11:09

    Guru Gemblong apa Guru Gemblong ???

  8. Linda Cheang  2 December, 2013 at 08:43

    Mantap Bu Wes! Berani untuk berhenti sabotase diri sendiri, itu memerlukan perjuangan yang tidak mudah juga.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *