Ibu Buta si Penjual Sayur

Jemy Haryanto

 

Sebuah kisah nyata menimpa seorang ibu penderita tuna netra. Yang dirinya rela banting tulang berjualan sayur demi masa depan anaknya. Tapi apa yang terjadi..?

Namaku Sewo. Bukan nama asliku tentunya. Hanya orang orang menyapaku demikian. Entah kenapa nama itu begitu melekat pada diri mereka. Tapi setahuku, nama itu berasal dari nilai mata uang dalam bahasa Jawa yaitu Sewu atau Seribu.

life is cruel

Aku tinggal di sebuah kabupaten yang baru dimekarkan beberapa tahun silam. Tepatnya di sebuah daerah transmigrasi. Bukan aku. Tapi bapak dan ibuku. Karena aku lahir di kabupaten ini. Di daerah inilah aku menetap sendiri tanpa sanak keluarga di sekitarku. Hanya ada Masku. Di sebuah rumah kecil. Yang hanya berukuran 8×6 meter. Beratap daun dan berdinding papan.

Aktivitasku sehari hari hanya sebagai pedagang sayur keliling. Tapi sayur mayur yang kujual itu bukanlah berasal dari kebunku sendiri. Karena aku tak punya lahan untuk bercocok tanam. Melainkan itu semua adalah hasil bumi milik para tetanggaku. Aku menjualkannya. Untuk keuntungan, aku mengambil dua ratus rupiah dari tiap ikat sayur yang laku terjual.

Namun jangan berpikir aku menjual sayur sayur itu menggunakan sepeda atau gerobak dorong. Tidak. Aku berjalan kaki dengan bakul di punggungku. Sebagai penunjuk jalan, aku menggunakan tongkat. Yah aku harus menggunakan tongkat untuk berjalan, karena kedua mataku buta.

Aku mengalami buta sejak lahir. Sehingga jangan heran sampai sekarang ini aku belum pernah melihat bentuk dan warna dunia. Hanya hitam yang mengelilingiku setiap hari. Meski demikian aku tetap bersyukur pada Tuhan. Karena telah memberiku hidup panjang.

Saat ini umurku sudah mencapai 54 tahun. Waktu dimana seharusnya aku menikmati hidup tenang di ujung fajar. Tapi itu tidak mungkin kulakukan. Mengingat aku mempunyai beban dan tanggung jawab besar terhadap darah dagingku. Yah aku memiliki seorang anak. Meski dia tidak bersamaku. Dia diasuh orang lain. Namun sebagai seorang ibu aku memiliki naluri untuk itu. Menjaganya. Melindunginya. Menafkahinya.

Aku terpaksa memberikan anak satu satuku itu kepada temanku, lantaran suamiku meninggalkanku. Di saat anakku berumur dua bulan. Tanpa alasan dia pergi. Tapi aku tahu. Dia memang tidak pernah mencintaiku. Menikah denganku pun itu karena dirinya terpaksa. Akibat digrebek Satpam perusahaan saat tengah memperkosaku.

Aku mengalami peristiwa buruk itu saat usia 24 tahun. Itu bermula ketika aku berjualan sayur menggantikan tugas ibu. Aku terpaksa mengambil peran itu, dikarenakan ibu sedang sakit. Ayahku sudah meninggal sejak aku masih kecil. Sementara Masku bekerja sebagai buruh di luar kota. Sehingga tinggal aku satu satunya yang menjadi harapan. Karena jika tidak, aku dan ibuku tidak ada biaya buat makan.

Ibuku sempat melarangku waktu itu. Dengan alasan kondisi mataku. Tapi aku mencoba tidak peduli akan hal itu. Yang pada akhirnya aku mendapat izin dari ibu.

“Tapi kowe ojo dolan adoh adoh ya nduk, engko nek nyasar. Pergi ke langganan langganan ibu wae,” pinta ibuku waktu itu dalam bahasa Jawa, dengan suara lirih, di atas pembaringan. Aku mendengarkannya.

Aku mulai berjualan pada esok paginya. Menggunakan tongkat. Akupun mengantarkan pesanan sayur para langganan ibu. Sisanya, aku berkeliling menjualnya. Sebenarnya aku sudah hafal jalan-jalan mana yang harus kulalui. Karena sebelumnya aku sudah sering menemani ibu berjualan. Namun karena keasyikan, hari itu aku berjualan hingga sore hari. Itu karena aku ditawari singgah oleh ibu-ibu di sebuah kompleks untuk bercakap cakap. Setelah itu aku pulang.

Perlu diketahui, saat ibu maupun aku berjualan waktu itu, sayur sayur kubawa adalah hasil bumi sendiri. Ibuku menanamnya di belakang rumah.

Tertatih tatih aku melangkah di atas jalan dengan tongkat. Namun aku bahagia. Karena semua sayur mayur yang kubawa dalam bakul, ludes dibeli. Sehingga ibuku tak perlu khawatir besok akan makan apa. Namun belum usai aku bersyukur atas nikmat itu. Tiba tiba……

Tanganku ditarik seseorang. Aku pikir  dia temanku. Ternyata bukan. Dia juga bukan perempuan. Melainkan laki-laki. Dia memaksaku dan hendak membawaku entah kemana. Aku mencoba melepaskan cengkraman itu. Tapi tangannya begitu kuat. Yang pada akhirnya aku pasrah saat dia membawaku menerobos semak belukar.

“Apa yang kamu inginkan?” tanyaku dengan perasaan was-was.

“Kamu jangan banyak bicara!” Ucap laki-laki itu, dengan suara berat. Kemudian tangannya mendekap mulutku dari belakang.

Aku mencoba berontak. Namun tenaga laki-laki itu cukup kuat. Aku mencoba berteriak. Tapi mulutku disumbat. Dan aku hanya bisa menangis saat drinya menjambak rambutku dan mendudukanku di atas rumput.

Aku berpikir saat itu dia hendak merampokku. Jika benar, aku akan berikan semua uang ibu padanya. Tapi ternyata tidak. Melainkan dia hendak memperkosaku. Tak khayal air mataku tumpah ruah saat dirinya dengan kasar melucuti pakaianku. Kemudian membaringkanku di atas rumput dalam keadaan bugil. Lima belas menit aku bersamanya di tempat yang aku sendiri tidak tahu dimana. Tak lama…..

“Hei..!!” terdengar suara teriakan seseorang.

Terang membuat aku senang saat itu. Karena aku bisa berteriak minta tolong pada orang itu. Meskipun sudah terlambat. Karena suara teriakan itu muncul usai lelaki biadap itu memperkosaku.

“Apa yang kalian lakukan di situ?!” dia bertanya kemudian melangkah buru buru mendekati kami. Aku segera mengenakan bajuku. Sementara lelaki yang memperkosaku sudah tidak bersamaku.

“Kamu kenapa dek?” Tanya laki laki yang berteriak tadi.

Aku tidak menjawab. Aku hanya menangis. Kemudian dia bergeser lebih dekat. Memegang pundakku.

“Kamu kenapa? Katakan. Jangan takut. Bapak Satpam di perusahaan ini,” pintanya dengan suara lembut. Ternyata dia seorang Satpam.

“Aku.. Aku diperkosa pak,” jawabku sembari menangis.

“Siapa yang memperkosamu?” Tanya Satpam itu lagi. Kali itu sepertinya dia sangat marah.

“Aku tidak tahu, Pak. Dia langsung lari saat mendengar bapak berteriak,” jawabku yang ketika itu sedang duduk bersimpuh. Sementara jari-jemariku meremas-remas baju yang sudah kukenakan.

Tak lama terdengar Satpam itu berbicara dengan temannya menggunakan Handytalk (HT). Dia memberitahukan kejadian yang baru saja menimpaku dan meminta Satpam lain mencari lelaki biadab itu. Yang kemungkinan besar masih bersembunyi di sekitar kawasan perusahaan.

“Kamu tenang saja. Lelaki itu pasti ketemu. Karena tidak ada jalan keluar selain di sini,” ucap Pak Satpam, menenangkanku. Kemudian memapaku ke pos penjagaan.

Dan benar saja. Tak lama lelaki biadab itu ditemukan, dan langsung digiring ke pos. Di pos penjagaan itu, dia diinterogasi. Dan barulah aku tahu kalau dia bernama Nyoto. Tak hanya itu, Nyoto juga dihajar habis-habisan.

“Ampuun Paak. Ampuun,” teriak Nyoto ketika mendapat hantaman bertubi tubi dari Satpam.

“Kami tidak mau tahu. Kamu harus bertanggung jawab terhadap wanita itu,” ucap salah seorang Satpam.

“Iya Pak. Iya. Saya akan bertanggung jawab,” ucap Nyoto, sembari merintih kesakitan.

Kemudian Nyoto langsung diserahkan ke kantor Polisi. Itu bertujuan agar dirinya tidak melarikan diri. Sementara aku pulang ke rumah dengan dihantar oleh Pak Udin, Satpam yang menolongku tadi. Sesampainya di rumah, aku langsung mencium kaki ibuku yang tengah terbaring di atas kasur. Aku menagis. Terang ibuku kaget melihat aku seperti itu.

“Ada apa, Nduk? Ada apa?” Tanya ibu, panik. Dia segera beranjak bangun lalu mengambil kepalaku.

“Maafkan Sewo bu. Maafkan Sewo,” ucapku, lirih.

“Iya. Ibu maafkan. Tapi ada masalah apa?” Ibuku bertanya lagi. Namun aku enggan menjelaskannya. Itu karena ibuku sedang sakit. Aku takut penjelasanku malah akan membuat sakit ibuku semakin parah.

Tak lama Pak Udin masuk ke dalam. Tampak wajahnya sangat kaget ketika melihat ibu.

“Loh. Kamu Puji kan?!” Pak Udin ingin memastikan.

“Pak Udden?!” ucap ibuku dengan logat Jawa Pontianak.

Lelaki berbadan tinggi besar itu langsung duduk di samping pembaringan ibu. Ternyata mereka sudah saling kenal. Pak Udin adalah kanalan almarhum bapakku. Namun setelah bapak meninggal, dia tidak pernah lagi bertemu keluarga kami.

“Kamu sakit, Ji?!” Tanya Pak Udin. Wajahnya dengan seksama menatap ibu. Ibuku tersenyum. Kemudian mengusap-ngusap betisnya.

“Yah. Mungkin kecapeaan Pak Udden. Besok juga semboh,” jawab ibuku.

“Jadi ini anak kamu?!” Pak Udin bertanya.

“Iyo Pak Uduen. Ini anakku nomor loro. Yang siji sedang di luar kota. Kerja,” jawab ibuku. Kemudian suasana hening.  Pak Udin mengangguk.

“Sebenarnya apa yang terjadi Pak Udden?” ibuku meminta penjelasan.

Tanpa banyak basa basi Pak Udin langsung menceritakan semuanya. Di situ aku merasakan ibuku sangat kaget. Dia juga tidak dapat menyembunyikan air matanya yang mengucur deras. Itu aku tahu saat ia menarik nafas.

“Walah Nduk, Nduk. Kondisi kita sudah kayak gini. Jangan buat yang neko neko Nduk. Ibukan sudah bilang jangan jalan jauh-jauh,” ucap ibu sambil menangis. Aku tidak tahan mendengar perkataan ibu. Aku juga menangis.

“Maafkan aku, Bu. Aku tidak tahu,” ucapku kemudian mencium tangan ibuku. Ibuku menarik nafas panjang. Sepertinya dia masih tidak mau menerima kenyataan itu. Suasana pun hening kembali. Kemudian…

“Jadi bagaimana Pak Udden. Apa yang harus kami lakukan?” Tanya ibuku pada pak Udin.

Lelaki tua itu menghela bafas. Lalu mengambil sebatang rokok dan menghisapnya. Dengan santai dia menghembuskan asap rokok dari mulutnya. Dia juga sedang berpikir keras.

“Begini, Ji. Dari yang sudah-sudah. Biasanya langsung dinikahkan. Itu dilakukan untuk menghindari prasangka-prasangka orang-orang. Tapi semuanya kukembalikan pada kamu. Mau menuntut ganti rugi, saja atau menikahkan dengan laki-laki itu,” jelas Pak Udin. Ibuku menarik nafas panjang. Panjang sekali, dan dalam. Aku merasa ibu begitu kecewa.

Sementara aku merasa pilu setelah mendengar penjelasan dari Pak Udin. Bagaimana aku menikah dengannya? Sedang aku sama sekali tidak mencintainya. Bahkan mengenalnya pun tidak. Tapi karena ibu memaksa, dan demi ibuku juga, aku siap melakukannya. Aku siap menikah dengannya. Apapun resikonya. Karena aku tidak ingin membuat wajah ibuku tercoreng di muka umum. Apa kata orang nanti, jika mereka tahu aku hamil tanpa suami.

Tiga hari kemudian aku menikah dengan Nyoto. Tanpa pesta pernikahan. Hanya memanggil tetangga dekat membaca doa. Setelah itu kami hidup berumah tangga. Namun ketakutanku terhadap pernikahan itu akhirnya terjadi juga. Nyoto tidak pernah menyayangiku. Bahkan selama tinggal serumah, dia tidak pernah menafkahiku. Untuk kebutuhan sehari-hari kami, ibuku yang sibuk banting tulang berjualan sayur. Sementara Nyoto hanya berleha-leha di rumah. Dia juga tidak peduli dengan kehamilanku yang pada saat itu sudah semakin membesar.

Kami sering bertengkar. Tak jarang dia juga sering memukulku. Itu dia lakukan ketika ibu tidak berada di rumah. Yang menyebabkan kedua pipiku memar. Sebenarnya aku sudah tidak tahan terus-terusan diperlakukan seperti itu. Tapi karena ibuku, aku mencoba bertahan.

Sampai suatu malam, ketika aku hendak tidur. Nyoto masuk ke kamar dengan langkah buru-buru. Aku yang tengah duduk di atas tempat tidur lasngung kaget lantaran suamiku itu meminta uang padaku.

“Aku perlu uang!” pinta Nyoto dengan suara ditekan.

“Aku tidak punya uang, Mas. Karena aku tidak bekerja. Mas sendirikan tahu. Selama ini, ibu yang menghidupi kita,” aku menjelaskan.

“Ah. Aku tidak mau tahu. Aku perlu uang sekarang!” Nyoto memaksaku.

“Tapi Mas. Aku benar-benar tidak punya. Sungguh!” Aku menegaskan lagi.

Nyoto melangkah mendekatiku. Kemudian duduk di sebelahku.

“Kau kan bisa minta pada ibumu,” dia memaksa. Aku menggelengkan kepala.

“Aku tidak berani, Mas, Aku malu. Seharusnya kita yang membiayai hidupnya.”

Nyoto mendengus.

Aku memang tidak bisa melihat Nyoto saat itu, tapi aku bisa merasakan kalau dirinya sangat marah padaku. Kemudian tangannya mengambil daguku dan menariknya dengan paksa. Hingga aku menangis.

“Kau pikir siapa dirimu! Berani beraninya kau menyuruhku menghidupi ibumu! Kau pikir dengan pernikahan ini aku suka?! Tidak! Kalau bukan karena Polisi memaksaku waktu itu, aku tidak akan menikahimu. Aku bertahan sampai anak itu lahir. Setelah itu, jangan pernah bermimpi aku akan di sampingmu lagi. Kau paham?!” tegas Nyoto.  Kemudian dia pergi lagi entah kemana.

Malam itu aku hanya bisa menangis. Seandainya Nyoto benar-benar serius meninggalkanku. Aku pasrah. Biarlah aku akan banting tulang menghidupi anakku setelah dia lahir kelak. Karena tak mungkin memaksakan kehendak orang lain untuk bertahan dalam sebuah hubungan jika tidak ada cinta di dalamnya. Dan jika terus dipaksakan, maka hanya akan melahirkan kepedihan dan kekecewaan. Seperti yang kualami saat itu.

Sembilan bulan kemudian, aku melahirkan anakku dengan selamat. Kata ibuku wajahnya lucu dan bertubuh sehat. Aku bahagia. Apalagi bayiku itu tidak seperti aku, cacat. Saat darah dagingku itu lahir, Nyoto masih di sampingku. Namun setelah dua bulan umur anakku, dia benar-benar pergi meninggalkanku. Tak tahu kemana. Karena dia melarikan diri diam-diam pada subuh hari. Tapi aku sudah siap sebelum itu benar-benar terjadi.

“Sabar ya Nduk,” ucap ibuku siang itu. Saat aku menyusukan anakku.

“Pasti ada hikmah di balik ini semua,” lanjut ibu sambil membelai rambutku. Aku menganggukan kepala.

“Yang harus kita pikirkan sekarang bagaimana merawat anak ini dan membesarkannya.”

Aku pun merawat anakku berdua dengan ibu. Kami bergotong royong. Karena sangat sulit melakukannya sendiri. Mataku buta. Sehingga aku memerlukan tangan ibu. Akibatnya ibu jarang berjualan. Tapi untung saja ia memiliki pelanggan tetap. Jadi mereka yang datang langsung ke rumah untuk membeli sayur.

Tak lama ibu jatuh sakit. Sakit yang sangat serius. Membuat dirinya tak mampu bertahan dan meninggal dunia saat bayiku berumur enam bulan.

Di situlah aku mulai bingung. Tak mungkin aku mengurus bayiku sendirian. Aku kemudian berbicara pada Masku.

“Apa yang kira-kira bisa Mas bantu untukmu, Wo’?” Tanya Mas Tanto, di rumah orang tuaku.

“Entahlah. Aku juga bingung, Mas. Aku selalu berpikir tentang masa depan anak ini,” jawabku mendesah. Sambil momongin anakku. Mas Tanto menarik nafas. Dia pun merasa bingung. Tak tahu apa yang harus dilakukan.

“Maskan tahu kondisiku. Tidak mungkin aku mengurus anakku ini sendiri. Belum lagi siapa yang akan mencarikan uang,” keluhku.

“Yah. Ini memang posisi yang sulit. Satu sisi itu anakmu. Di lain sisi dia juga perlu makan,” tutur Mas Tanto sambil mengusap kepala anakku.

“Terus terang aku juga bingung Wo’.”

Seketika suasana menjadi hening. Tak ada suara yang keluar dari mulutku juga Mas Tanto. Kami berdua berpikir keras waktu itu. Jika aku dapat melihat tentu wajah Mas Tanto juga ikut tegang. Sesekali dia mengusap-usap pundakku. Namun saat coba kusentuh, dia segera melepasnya. Aku tahu dia sangat iba padaku.

“Mmm.. begini saja,” tiba tiba suaranya memecah kesunyian.

”Iya Mas. Bagaimana?” aku penasaran. Mas Tanto menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya.

“Bagaimana kalau anak ini kita berikan hak asuhnya pada Om Yanto. Kebetulan dia belum punya anak. Aku pikir dia mau,” ucap dia.

Aku menggelengkan kepalaku. “Tidak Mas. Karena ini darah dagingku.”

“Itu hanya saran Wo’. Karena Mas juga bingung. Mungkin ini jalan terbaik buat kamu dan anakmu. Dan aku yakin Om yanto akan sayang padanya,” jelas Mas Tanto.

Aku sama sekali tak merespon. Aku memilih diam. Sambil berpikir baik buruknya atas saran itu. Karena aku tidak ingin timbul penyesalan di kemudian hari.

“Ok. Ok. Baiklah. Kamu pikirkan lagi yang matang. Jika kamu sudah punya keputusan, utarakan langsung pada Mas,” kata Mas Tanto padaku waktu itu.

Selama dua hari aku berpikir. Mempertahankan anakku tetap di tanganku. Tapi masa depannya akan suram. Atau mengikuti saran Mas Tanto. Tapi aku akan kehilangan anakku. Akhirnya keputusan pun lahir. Demi masa depan anakku, aku mengikuti saran itu.

Mas Tanto pun langsung menghubungi Om Yanto dan Mbak Tanti, istrinya. Sebenarnya mereka bukan orang lain. Melainkan masih berkait keluarga. Oleh merekalah kemudian anakku dirawat dan dibesarkan. Sementara aku memutuskan pindah dan hidup dengan Mas Tanto. Membangun pondok kecil di belakang rumahnya. Di situlah aku kemudian tinggal. Dan mulai berjualan sayur untuk biaya hidup.

Setiap hari aku harus bangun subuh. Mengambil sayur mayur di rumah para tetangga. Mengikatnya. Kemudian menjualkannya keliling kampung. Namun tidak mudah bagiku menjalankan usaha itu. Sering aku ditipu pembeli. Mentang-mentang aku buta. Mereka membohongiku. Terkadang uang lembaran seratus rupiah, mereka bilang seribu rupiah. Tak hanya itu. Sering pula ada orang iseng mengambil sayuranku diam-diam dari bakul di punggungku. Ada pula yang mengejekku. Aku hanya dapat menelan air ludah setelah mengetahui itu.

Meski demikian. Masih banyak pula orang baik di luar sana. Mereka sering membantuku. memberiku makan jika berpapasan di jalan. Jika aku kesasar, mereka akan mengantarku pulang sampai di rumah. Itulah motivasiku. Sehingga aku betah berjualan. Dan uang yang didapat dari hasil berjualan itu tidak kunikmati sendiri. Melainkan kusisihkan sebagian besarnya untuk kebutuhan anakku. Setiap enam bulan sekali uang itu kuberikan padanya lewat Mas Tanto.

19 tahun kemudian. Tak sengaja aku lewat di depan rumah Om Yanto. Tiba-tiba Mbak Tanti memanggilku.

“Wo’! Sayurnya!” teriak Mbak Tanti.

“Enggeh, Mbak,” jawabku kemudian melangkah tertatih-tatih menghampirinya.

“Aku ambil kangkung dua ikat ya. Piro?” Tanya Mbak Tanti.

“Lima ratus rupiah, Mbak. Jadi semuanya sewu,” jawabku. Kemudian mengambil dua ikat kangkung dan memberikannya pada Mbak Tanti.

“Oh iya. Tunggu sebentar,” ucap Mbak Tanti sembari beranjak dan masuk ke dalam rumahnya. Tak lama aku dengar dia melangkah keluar. Ternyata dia membawakan sepiring kue dan segelas air putih untukku.

“Ini ada sedikit kue aku buat subuh tadi. Dimakan Wo’,” dia mempersilahkan.

“Iya Mbak,” ucapku yang langsung menyambar salah satu kue. Sementara tangan lainnya memegang gelas.

“Kamu kenapa tidak pernah main ke sini? Kayak orang lain saja,” Tanya Mbak Tanti.

“Tidak enak Mbak,” jawabku. Kemudian meneguk segelas air putih di tangan.

“Apanya yang tidak enak, Wo’?” Tanya Mbak Tanti lagi. Aku diam sejenak.

“Anakku Mbak,” jawabku sambil menundukan wajahku. Terdengar Mbak Tanti menghela nafas panjang. Dia tidak bertanya lagi. Tak lama…..

”Pagi Mah,” ucap seorang anak muda. Yang suaranya membuat hatiku bergetar.

Aku merasa anak muda itu benar-benar berada dalam hatiku. Dalam jiwaku. Ya Tuhan. Itukah anakku? Darah dagingku? Sungguh aku sangat merindukannya. Namun….,

“Pagi,” suara Mbak Tanti seketika menyadarkanku.

“Loh. Kamu sudah mau berangkat?” Tanya Mbak Tanti.

“Iya Mah,” ucap anak muda itu.

“Yo wes. Hati-hati di jalan.”

Kemudian anak itu pergi dengan sepeda motornya. Membawa serta kebahagiaan yang tengah kurasakan. Dan entah kapan lagi aku dapat mendengar suaranya.

“Kamu tahu Wo’, tadi itu siapa?” Tanya wanita kemayu itu. Aku menggelengkan kepalaku. Mencoba meyembunyikan rasa tahuku.

“Itu Ratno. Anakmu.”

Aku menahan nafas sejenak. Aku tidak ingin menangis di hadapan Mbak Tanti. Aku takut dia akan merasa bersalah.

“Dia sudah tamat SMA. Sekarang dia mau ikut tes masuk polisi,” Mbak Tanti memberitahuku. Senangnya aku mendengar itu. Dan tak henti hentinya pula aku bersyukur dalam hati.

“Tapi kendalanya. Masuk Polisi sekarang tidak mudah dan pula tidak murni Wo’. Aku dan Mas Yanto diminta menyediakan uang 40 juta. Agar Ratno bisa lulus,” jelas Mbak Tanti sembari menghela nafas panjang. Aku hanya diam tanpa kata-kata. Karena aku tidak tahu menahu akan hal itu.

“Tapi untung saja Mas Yanto punya simpanan di Bank. Dan sisanya aku ambil dari uangmu. Karena uang yang kamu berikan pada Ratno, sampai sekarang belum terpakai. Tapi kami simpan untuk keperluan Ratno di masa depan. Dan sekaranglah uang itu diperlukan,” jelas wanita berkulit sawo matang itu, sedikit lirih.

“Mbak tidak usah khawatir. Aku senang jika akhirnya uang itu berguna buat Ratno,” ucapku.

“Terima kasih ya Wo’.”

“Oh iya Mbak. Apakah Ratno tahu kalau aku ibu kandingnya?” aku bertanya, meski berat.

“Sampai saat ini belum Wo’. Tapi kalau kamu ingin dia tahu, aku akan katakan padanya.”

Aku menggelengkan kepalaku.

“Tidak usah Mbak. Aku takut dia akan goyah. Aku sudah cukup senang mendengar dia mendapat pendidikan yang baik,” tegasku. Tak lama kemudian akupun pamit pulang.

Tak habis rasa syukurku pada Tuhan. Setelah mendengar berita kemajuan anakku dari ibu asuhnya. Hal itu membuat aku semakin bersemangat berusaha. Sampai suatu hari. Beberapa tahun kemudian. Tepatnya sore hari. Ketika aku sedang berada di rumah. Tiba-tiba datang tiga orang pemuda. Setelah berbincang sebentar. Ternyata mereka adalah crew salah satu TV swasta nasional.

Kedatangan mereka menemuiku tak lain adalah untuk menjadikan aku subjek dalam sebuah program di stasiun TV tersebut. Yaitu program ‘Kejamnya Dunia’. Merekam semua aktivitasku sehari-hari. Mereka tertarik dengan semangat hidupku. Cacat tapi tetap berusaha. Akupun mempersilahkan setelah mendapat izin dari Mas Tanto.

Di sinilah aku menceritakan semuanya. Kisah hidupku. Pengalaman pahitku selama itu. Sampai aku muncul di layar televisi. Membuat Om Yanto marah besar dan merasa tak terima. Karena Ratno tahu kalau aku adalah ibu kandungnya.

Om Yanto memang berbeda dengan Mbak Tanti yang mau menerima apapun. Sebaliknya, dia menuntut para crew TV itu. Meskipun akhirnya tak sampai ke persidangan. Karena aku dan Mas Tanto yang menginginkan. Dengan tujuan untuk memberi motivasi pada orang-orang yang cacat seperti aku. Agar tetap bangkit dan berusaha.

Tak puas dengan kekalahan itu. Om Yanto dan Ratno diam-diam datang ke rumahku. Mereka marah-marah. Bahkan sempat Ratno mengatakan…

“Saya ini anak Pak Yanto. Bukan anakmu Wo’. Jangan mengaku-ngaku. Kamu bisa saya tuntut,” ucap Ratno dengan suara tinggi.

life journey

Saat itu aku hanya bisa menangis. Meski demikian aku berusaha untuk tidak sakit hati padanya. Karena dia adalah anakku. Setelah kejadian itu aku tak pernah lagi lewat di muka rumah mereka. Tapi sebagai ibu, perjuanganku belum selesai untuk memberi nafkah anakku. Walau dia tak mengakui aku sebagai ibu kandungnya, aku masih tetap menyimpan sebagian uang hasil berjualan sayur untuknya. Sampai saat ini aku masih melakukan itu. Dan aku juga sangat merindukannya.

*********

 

14 Comments to "Ibu Buta si Penjual Sayur"

  1. Linda Cheang  6 December, 2013 at 13:05

    sedih…

  2. anoew  5 December, 2013 at 09:43

    astaga… ini kisah mengharukan, namun juga menegangkan. Terbukiti sekali lagi dunia tak ramah terhadap orang kecil, yang kurang mendapatkan anugerah seperti orang-orang lainnya namun jumawa.

    dasyat sekali artikel ini.

  3. Jemy Haryanto  4 December, 2013 at 23:02

    Mbak Dewi : santai, hehe. 13 tahun kerja di media bahkan sampai saat ini, kritikan selalu datang bertubi-tubi, sehingga saya tak terlalu risau dgn itu, sebaliknya saya rindu masukan-masukan.

    Chasandra : Jika saya memposisikan diri saya sebagai Sewo, yang ada hanya gelap. Artikel ini hanyalah follow up liputan saya tahun 2008. Selain penuturan Sewo, juga sumber2 paling dekat dgn subjek yang sengaja tidak saja sebutkan. Dan sayangnya lagi, anda tidak bersama saya waktu itu.

    Mas JC : Ketika kita berjalan pada satu ruang, maka kita akan bertemu permasalahan di sekitar ruang itu saja, tapi ketika semua ruang kita masuki, dan melakukan interaksi pada masing2 penghuninya, permasalahan yang cukup kompleks akan banyak kita temukan, bahkan sulit bagi kita untuk percaya. Salam hangat dari broneo mas JC.

    Summer girl : Hal itu sudah pernah saya tanyakan pada subjek,,,,

  4. Matahari  4 December, 2013 at 22:43

    Kenapa ibu kandung si anak tidak mau mengenalkan dirinya sejak lama sebagai ibu kandung Ratno? (telah ditawarkan oleh istri pak Yanto ) Si anak justru tau setelah pengakuan si ibu diliput TV…harusnya si ibu lebih dulu mengakui secara pribadi ke anak…baru bersedia diliput TV…karena tidak semua orang suka kehidupan pribadi diakses semua orang…untuk si anak juga sangat mengagetkan tiba tiba ada yang mengaku menjadi ibu kandungnya sementara sebelumnya dia tidak tau apa apa……Tapi ini kejadian di desa…dan si ibu juga tidak berfikir panjang…akhirnya malah menderita….kalau si anak sudadiberitau sejak lama kalau dia punya ibu kandung yaitu Sewo dan dia masih me,bantah…saya setuju dia ini anak durhaka…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.