Solo – The Spirit of Java (4): Pasar Klewer dan Masjid Agung Surakarta

Tjok Mas & Anoew

 

Pasar Klewer dan Masjid Agung Surakarta

Budaya Jawa iku ora beda karo pusaka kadatone. Lamun dipepeptri bakal hamberkahi, nangin lamun siniosio bakal tuwuh haldipun (budaya Jawa itu sama dengan pusaka keraton. Jika dihormati akan memberi berkah, namun jika disia-siakan akan memberi hukuman).

***

Berawal dari keinginan membeli oleh-oleh di salah satu sudut Pasar Klewer setelah keluar dari tempat parkir kendaraan yang berada persis di sisi barat, aku jadi lupa waktu lalu meneruskan langkah untuk blusukan ke dalam pasar. Kondisi pasar yang penuh sesak dengan penjual dan pembeli serta lalu-lalang orang dengan beragam urusannya itu sebenarnya cukup membuatku pusing. Namun rasa pusing itu terkalahkan oleh pesona pasar seluas 12.950 m² yang merupakan pusat tekstil dan grosir batik terbesar di Jawa Tengah ini.

Dulu sebelum menjadi pasar, kawasan ini adalah pakretan, yaitu tanah lapang yang digunakan sebagai tempat parkir kereta para abdi dalem dan juga tamu-tamu dari kerajaan lain yang akan sowan (menghadap) raja ke Kraton Surakarta Hadiningrat. Nah di jaman sekarang, di tempat itu telah berdiri pasar megah dan beromzet milyaran per harinya, yang konon satu tingkat di bawah pasar Mangga Dua di Jakarta.  (*pict 1, 2)

1

2

Di depan pasar ini atau tepatnya dekat sudut gapura barat kraton, ada penjual makanan khas Solo yang tak bakal dijumpai di kota lain, yaitu Tengkleng. Makanan ini adalah olahan tulang kambing dengan sedikit dagingnya yang masih menempel, lalu diberi kuah bumbu gulai yang tak terlalu bersantan. Tengkleng juga bisa dikombinasikan dengan jeroan kambing sebagai pelengkapnya seperti lidah dan tulang rusuk, tergantung selera pembeli. Selain itu, ternyata ibu penjual ini juga menyediakan torpedo dan aku sedikit bingung, apakah itu termasuk jeroan atau bukan… (*pict 3)

3

Rasa kurang nyaman untuk makan di tempat ini yang selain sempit dan panas, adalah pengamen yang sepertinya kok datang dua kali padahal belum juga 5 menit yang lalu dia sudah menyanyikan sebuah lagu yang tak jelas di telinga. Bahkan setelah pengamen yang sama itu berlalu, tak lama kemudian datang lagi pengamen lain. Pengamennya memang berbeda tapi pas kuperhatikan, gitar yang dipakainya tetap sama… (*Pict 3a)

3a

***

Pasar Klewer ini dibangun pada jaman penjajahan Jepang (1942-1945) di saat otoritas Kraton Surakarta mulai menurun bersamaan dengan era baru memasuki masa kemerdekaan. Di masa itu, kesulitan ekonomi tak hanya dialami oleh masyarakat di sekitar Kraton Surakarta namun juga dirasakan para bangsawan di di dalam Kraton dan Pura Mangkunegaran. Para bangsawan ini  lantas menjual barang berharga yang mereka miliki seperti perhiasan, keramik dan benda-benda antik lainnya.

Namun berbeda dengan para masyarakat yang menjajakan dagangannya secara langsung ke setiap orang yang berlalu lalang, mereka menjual barang berharga itu ke suatu tempat yang berada di sebelah selatan gerbang utama Pura Mangkunegaran. Tempat itu sekarang dikenal sebagai Pasar Triwindu atau Pasar Ngarsopuro (ngarso = depan, puro = istana) (*pict 4, 5, 6, 6a)

4

5

6

6a

Sedangkan bagi masyarakat yang masih berjualan di sekitar kraton, di kemudian hari disediakan tempat untuk menampung mereka dan sejak saat itu, tempat itu dikenal dengan nama Pasar Klewer.

Sebutan “Klewer” itu sendiri berasal dari kebiasaan masyarakat yang berdagang kain batik dan pakaian bekas di sepanjang Supit Urang dengan cara menggantungkan dagangannya di dinding Baluwarti sehingga terlihat semrawut dan pating klewer ( tak rapi beraturan). Dinamakan “Supit Urang” karena bentuk jalan tersebut bila dilihat dari pintu gerbang kraton seperti supit / capit udang, mengikuti alur Baluwarti yang melindungi bangunan utama kraton.  (*Pict 7)

7

Sejak itu, setelah pemerintah menyediakan tempat bagi masyarakat untuk berdagang, kondisi pating klewer tetap terjadi dan sepertinya telah menjadi ciri khas pasar ini sampai sekarang , tetap semrawut dan kleweran hahaha… (*pict 8, 9))

8

9

Dari blusukan ke pasar ini aku berhasil mendapatkan tas dan juga gaun cantik dengan harga murah setelah adu tawar dalam bahasa Jawa ngoko (bahasa Jawa tingkat biasa, yang dipakai antarteman atau sebaya). Ini membuat penjualnya sering tersenyum. Entah kenapa, mungkin karena logatku yang aneh di telinga mereka ataukah karena aku tidak menggunakan bahasa Jawa halus / kromo saat bertransaksi dan berbicara dengan orang yang lebih tua. Wah, sempat malu juga meski sebelumnya aku telah mendapatkan kursus kilat untuk menawar barang dalam bahasa Jawa hehehe… (*pict 10)

10

***

Puas blusukan dari Pasar Klewer yang akhirnya malah jadi membeli tas dan beberapa gaun batik, aku bermaksud ke tempat parkir kendaraan untuk pulang. Tapi tunggu dulu, ternyata di seberang pasar, tepatnya di sebelah utara pasar, kujumpai Masjid Agung Surakarta dengan bentuk bangunannya yang unik. Dan seperti halnya kraton, masjid ini merupakan bangunan yang dilindungi / termasuk Benda Cagar Budaya sesuai dengan UU Cagar Budaya No. 11 Tahun 2010 & Permenbudpar  RI. (*pict 11, 12)

11

12

Dan aku menikmati keunikan bangunan Masjid Agung Surakarta ini, yang bahan interiornya sebagian besar terbuat dari kayu jati kualitas nomor satu. (* pict 13)

13

Di Masjid Agung ini juga tempat diadakan perayaan Grebeg Maulud yang diadakan setiap tanggal 12 Mulud Kalender Jawa untuk memperingati hari Maulud Nabi Muhammad SAW. Dalam upacara ini, para abdi dalem Kraton berbusana Jawi Jangkep Sowan Kraton mengarak gunungan dari Kraton Surakarta menuju Mesjid Agung. Ada dua buah gunungan yang diarak yaitu, gunungan jaler (pria) dan gunungan wadon (wanita) yang berisi hasil bumi serta aneka penganan dan jajan pasar.

Gunungan diarak dari dalam kraton dengan kawalan prajurit lalu dibawa menuju Masjid Agung di alun-alun utara untuk didoakan oleh ngulamadalem (ulama Kraton). Setelah itu, gunungan dibawa kembali ke kraton untuk dibagikan para abdi dalem, sedangkan gunungan satu lagi diperebutkan oleh masyarakat pengunjung yang meyakini akan mendapatkan berkah dari gunungan tersebut.

Konon, isi dari gunungan tersebut yang kotor karena telah jatuh ke tanah pun, masih diambil pula oleh warga karena mereka meyakini bahwa makanan dan hasil bumi dalam gunungan tersebut selain mendatangkan berkah, juga bisa menyembuhkan segala penyakit. Wah…!  (*pict 14 – dari Koran Sindo)

14

Selain Grebeg Maulud ada juga perayaan Grebeg Pasa  yang diadakan untuk merayakan hari raya Idul Fitri 1 Syawal . Acara ini berlangsung setelah melakukan sholat Ied. Prosesi acaranya sama dengan Grebeg Maulud yaitu para abdi dalem mengarak gunungan dari kraton ke Masjid Agung untuk didoakan ulama kraton yang kemudian dibagikan ke masyarakat pengunjung. Perayaan ini juga dilakukan oleh Kraton Yogyakarta sebagai salah satu keturunan Dinasti Mataram.

***

Menurutku, kota Solo ini adalah kota yang sarat budaya di mana masyarakatnya masih memegangnya dengan teguh. Mereka meyakini dengan memegang dan menghormati budaya leluhur, maka berkah akan senantiasa datang namun jika sebaliknya akan membawa kesialan.

Puas hati rasanya bisa melihat dua tempat sekaligus dalam satu area seperti Pasar Klewer dan Masjid Agung Surakarta ini. Panas matahari yang menyengat pun tak akan menyurutkan niatku untuk blusukan ke daerah lainnya, selama itu mengandung nilai sejarah dan keunikan tersendiri.

Dan aku akan terus melangkah. (*pict 15)

15

(bersambung)

 

48 Comments to "Solo – The Spirit of Java (4): Pasar Klewer dan Masjid Agung Surakarta"

  1. Lani  5 December, 2013 at 08:01

    KANG ANUUU : mana foto TORPEDO nya? Kuwi wedus wadon po????? Hahahaah……..
    Aku jd kelingan, ktk msh kecil omah ortu kebonnya luas banget, nah spt kebon binatang, kami memelihara sedozen wedus, marmot, trewelu, bebek, anjing, kucing, aneka burung, ikan gurame. Tiap pagi ributnya minta ampun, dgn suara mrk……..
    Yg aneh tp nyata, si bebek menganggap aku induknya kemana saja aku pergi sll ngikuti sambil kwek-kwek tiada henti……krn aku yg sering kasih makan, biasanya keong/bekicot aku remuk cangkang-e dan mrk tinggal nyosor dagingnya……..

  2. anoew  5 December, 2013 at 07:38

    Tjok Mas, mana foto torpedo kambingnya?

    Hennie pengen liat torpedo kambing? Ini nih ada fotonya

  3. anoew  5 December, 2013 at 07:32

    Yu Lani dan Kang Buto, jelaslah yang memberkikan kursus kilat itu aku. nggak cuma kursus kilat tapi sekaligus juga kursus petir, halilintar dan gledek..

  4. Alvina VB  4 December, 2013 at 22:58

    Tjok Mas, terima kasih sudah berbagi cerita di sini, jadi kangen kota Solo euy….Dulu waktu masih muda, (he..he…emang sekarang dah uzur?) kl ke Solo dan nginep di tempat kawan, pembantunya yg selalu beli makanan khas Solo setiap pagi di pasar tradisional yg katanya masih baru dateng dari berbagai kawasan di Solo. Pokoknya makanan di Solo ada ciri khasnya tersendiri di lidah, yg gak saya dptkan di Jakarta. Ayam/ bebek bakar manis khas Solo muntep dah pake sambel dan sayuran. Gudegnya juga beda dgn gudeg dari Yogya kayanya? Kl kambing saya nyerah dah…soalnya gak makan kambing. Lah kok malah ngomongin makanan, he..he…..

  5. Lani  4 December, 2013 at 22:54

    HENNIE : apakah kamu sak-betule ngerti, apa itu torpedo kambing???? msh sama ngekel…………saking gelinya

  6. Summer Girl  4 December, 2013 at 21:41

    liputan yang menarik, kapan ya bisa ke solo lagi ?

  7. Hennie Triana Oberst  4 December, 2013 at 21:22

    JC, Lani, lho kan di tulisannya Tjok Mas menulis ada torpedo kambing. Aku kan cuma mau tau

  8. Lani  4 December, 2013 at 21:14

    HENNIE : wakakakka………..apakah Tjok Mas akan mengabulkan menjepret TORPEDO KAMBING? ngekel ampe meh kwalik aku………..

  9. J C  4 December, 2013 at 21:10

    Tjok Mas, mana foto torpedo kambingnya?

    Guuubbbrrraakkk…Hennie…

  10. J C  4 December, 2013 at 21:10

    Wah, sempat malu juga meski sebelumnya aku telah mendapatkan kursus kilat untuk menawar barang dalam bahasa Jawa hehehe…

    Hhhmmm…siapakah yang memberikan kursus kilat…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.