(Bukan) Gadis Alim

Phie – Midstate

 

Disclaimer: Untuk yang Sudah Dewasa Saja

Cerita saya ini hasil pengalaman pribadi dan orang sekitar saya yang suka berbagi cerita saja. Mungkin buat sebagian pembaca cerita ini terlalu vulgar dan setelah baca tulisan ini barangkali saya dihujat kafir, murtad, pendosa, brengsek, atau apalah ya silahkan saja kan saya tidak berhak mengatur pemikiran orang lain toh?! Ini berawal dari artikel saya yang lalu tentang Puerto Rico jadinya merembet kemana-mana, biasalah guyonan di kolom komentar memang kadang lebih asyik daripada artikel itu sendiri hahaha…. Terima kasih ya buat jeng Elnino, Ci Lani, Nia, dan Summer Girl yang sudah menginspirasi tulisan saya kali ini.

my life

Duluuuuu….waktu masih tinggal di Indonesia karena lingkungan dan pendidikan agama, pandangan saya tentang hidup bersama sebelum menikah, pre-marital sex, cinta sesama jenis atau hamil di luar nikah itu ya tabu atau aib yang tidak boleh dilakukan dan sebisa mungkin harus ditutupi kalau sudah telanjur terjadi. Sejak tinggal di Amerika ya jelas lah kehidupan di sini mambuka mata saya bahwa yang hal-hal tersebut yang saya sebutkan tadi itu bukan hal yang tidak lazim terjadi. Makanya kalau membahas masalah ini harus dipisahkan jauh-jauh dari kacamata agama dan teman-temannya. Hal-hal itu terjadi saja di perjalanan hidup kita, suka atau tidak suka. Yang menjalankan saja tenang-tenang saja kok yang ribut orang lain, begitu kan kira-kira? Tidak heran sampai sekarang bagi negara religius mungkin Amerika ini suka dicap kafir, atheis, dan sebagainya.

Waktu saya masih single, saya ngedate tidak hanya dengan satu lelaki saja. Untunglah saya tidak tinggal dekat dengan orang tua, papa-mama saya bisa jantungan kali tuh kalau tahu anak perempuannya seperti ini di negeri orang. Umur saya waktu itu sudah menginjak ke angka 27 dan jodoh yang saya inginkan tak kunjung tiba. Terus saya berpikir, “Wah ini sih harus banting stir kan saya pengin punya anak sebelum umur 30”.

Saya tidak jelek-jelek amat (eheeemmm….!) meskipun body saya tidak seperti modelnya Victoria’s Secret, saya juga tidak bloon dan lemot (eheeemmm lagii!) dan kelakuan saya pun manis (uhuuuukkkk….)…ya ini bukan memuji diri saya sendiri, tapi saya sadar kemampuan saya kalau saya punya ‘beauty, brain, and behaviour’ jadi ya yang mau ngedate dan saya jadikan gebetan banyak lah, laku keras istilahnya hehehe sampai kewalahan nolaknya!

Semua lelaki saya kenal itu ya bermacam-macam sifat dan perangainya sih, tapi satu kesamaan kalau mereka ganteng semua kok…hahahaha…biar tidak memalukan diajak jalan-jalan (yang dulu berteman dengan saya di Friendster pasti pernah lihat beberapa fotonya). Kan namanya juga saya lagi tahap mencari pasangan hidup yang akan jadi partner saya sehidup semati dalam suka dan duka jadi harus benar-benar cari kandidat yang sesuai. Kalau sampai salah pilih kan tidak bisa di-return atau exchange seperti beli barang di toko!

Jadi saya pun at least punya 3 gebetan (belum sampai tahap pacar, karena pacar di sini kan artinya sudah tahap serius) dalam waktu bersamaan. Kenapa harus lebih dari 1? Karena saya tidak mau mengulang episode patah hati jaman kuliah dulu. Pacaran sudah 4 tahun kok saya ditinggal kawin dan dicuekin begitu saja. Hati ini sakit sekali rasanya, sejak itu pula saya bersumpah tidak akan ada lagi acara tangisan menyayat hati dan putus asa karena cinta. Nehiiiiiii!!!! Dengan para pria itu jadwal ngedate pun bisa otomatis tidak bertabrakan dengan sendirinya, pintar-pintar saya sajalah mengaturnya. Mereka pun pastinya punya gebetan lain selain saya, tapi saya juga tidak peduli sepanjang kami ‘jalan’ tidak ada yang ribut dan merasa dirugikan. Prinsip saya adalah ‘bukan suami orang’ gitu aja! Sampai akhirnya saya menjatuhkan pilihan ke lelaki yang tepat, meskipun di awal-awal pernikahan kami banyak ributnya menuju proses adaptasi, dia orang yang tiba-tiba muncul tanpa banyak menuntut ini-itu dan saya langsung yakin saja menuruti kata hati untuk menikah dengannya. Dengan menikahinya maka tamatlah sudah masa lalu saya yang kelam tapi berkesan itu hehehehe….

itsmylife

Soal ngedate dengan yang dulu-dulu itu ya buat saya semua harus dicoba luar dalam, kalau hanya ‘jalan’ biasa yang makan dan minum atau main games sih sama teman kerja juga bisa. Dengan para gebetan itu kan kita berbagi perasaan dan segala macam romantisme lainnya yang tidak dilakukan dengan teman kerja biasa. Pokoknya cukup puas lah saya ketika itu mau model yang kayak gimana aja. Tidak ada ikatan dan tidak ada kewajiban apapun.

Istilahnya hari ini saya memutuskan tidak mau meladeni lagi ya sudah tidak usah menjawab telponnya dan tidak perlu bertemu menjelaskan alasannya. Jadi kalau mau soal mitos ini itu yaaaa di buku catatan kelam saya ada buktinya, yang dilihat dari luar (jempol atau hidung dan bentuk lain) bukan ukuran…..jadi ya tidak seperti yang dilihat langsung hahahaha…makanya saya bisa menjawab keresahan hati Jeng Nia hihihihi… Berapa kali saya tertipu dengan penampilan luar yang rupawan dan gagah perkasa tenyata ‘dalam’nya kok ya bikin penonton kuciwa. Ada yang ‘luar-dalam’ sepertinya bagus tapi performa-nya bisa sambil lomba bikin popcorn di microwave yang 1 menit 30 detik saja. Lalu ada juga yang selalu bersemangat tapi sepanjang acara tetap saja empuk bagai singkong yang sudah jadi tape. Kalau sudah begitu ya maaf-maaf saja saya coret dari list. Saya bukan kejam tapi realistis saja lah, masa iya saya harus menghabiskan waktu dan tenaga dengan ‘para lelaki gagal’ itu.

Mau dibilang free sex ya terserah pemahaman masing-masing saja, kalau menurut saya  nih mereka yang saya kencani ini bukan yang ketemu di night clubs atau pinggir jalan lalu ber-one night stand lalu besoknya tidak ada kontak lagi…NO NO NO, saya juga tidak mau seperti itu kok kesannya jual murah amat! Biasanya saya kenal mereka sudah agak lama dan beberapa kali pergi bareng baru dari situ mau diteruskan agak exclusive atau tidak, tergantung ada chemistry atau tidak.

Kita sudah sama-sama dewasa, harus tahu bertindak yang bertanggung jawab dari sebab akibat hubungan seperti ini. Kriteria saya pun banyak sebelum saya jadikan gebetan, harus punya kerja yang jelas, statusnya bukan illegal, pendidikan pun ada, plus tidak punya banyak hutang (status financial stabil). Kan buat kandidat teman hidup masa depan, masa iya saya bawa ke orangtua saya yang asal-asalan hehehe…. Mau dibilang saya matre ya tidak juga, kalau keluar makan kami bayar sendiri-sendiri atau malah saya yang bayarin. Saya juga tidak mengharap kado mahal, diberi ya syukur…tidak diberi ya beli sendiri. Saya malah merasa kalau suka diberi kok rasanya jadi ada ikatan, jadinya saya sering menolak. Waktu itu kerjaan saya lumayan dan mampu saja beli apa yang saya pengin dan mau, jadi kenapa harus mengharap diberi hadiah? Kata sahabat sih gengsi saya setinggi langit hehehe….

Saya punya cerita tentang ‘lelaki gagal’ dari teman shopping saya, umur 35 tahun dia berasal dari Ecuador. Keluarganya penganut Katolik taat dan dia tidak pernah melakukan hal-hal yang tidak lazim (menurut dia) seperti saya. Berkenalan dengan seorang dosen bujang tua (waktu menikah 5 tahun lalu si lelaki sudah 43 tahun, belum pernah menikah atau punya anak sebelumnya) di dating site dan berlanjut kopi darat (si lelaki datang ke negaranya).

Akhirnya mereka memutuskan menikah setelah komunikasi intens 1 tahun. Kenyataan buruk pun tiba, ternyata si lelaki punya problem masalah kejantanan. Hal ini baru diketahui setelah menikah. Katanya sampai 2 minggu mereka akhirnya baru berhasil melakukan hubungan intim yang benar (saya ketawa ngakak waktu dia cerita). Jadi 2 minggu pertama si teman saya ini masih perawan saja. Setelah itu pun setiap kali mereka hendak berhubungan harus dirancang sejak awal, misalnya sore-sore si suami akan menanyakan (SMS) istrinya kalau setuju nanti jam 5-6 sore kasih tau supaya si suami minum pil biru (Viagra) dulu.

Waaaahhhh….repot bener ya, mau ‘on’ kok susah sekali harus ada waktunya. Dan menurut teman saya ini, sudah minum pun tidak bereaksi banyak alias tetap kecil dan agak masih loyo padahal secara penampilan yang tinggi besar dan berwajah lumayan tidak ada gambaran kalau property-nya sungguh mengecewakan. Akhirnya karena ketidakpuasan itu rumah tangga mereka tidak harmonis, selalu ada masalah (yang dibikin) muncul one thing leads to another yang berujung dengan masing-masing membayar divorce lawyer sebesar $ 3,000. Sekarang mereka sedang dalam proses cerai dan konseling dengan psikolog atau pastor pun tidak membantu. Pesan saya ke dia: makanya lain kali dicoba dulu, tidak ada urusan dengan agama bilang ini itu tidak boleh dan berdosa, sekarang dia tidak bisa memuaskan apa ya kita datang ke pastor bilang ‘pastor, suami saya burungnya loyo gimana dong solusinya?’. Jelas-jelas ini pastornya tidak akan punya solusi yang baik kecuali pastornya mesum hahahaha…..

Ya begitulah sekelumit pengalaman saya yang sudah membukakan mata dan telinga serta mengajarkan  banyak hal bahwa “live happily ever after” dengan mudahnya itu hanya dongeng Cinderella. Ada kalanya nilai dan norma yang pernah kita terima tidak sesuai lagi di tempat baru dan kita harus berkompromi dengan keadaan. Artikel saya pun tidak untuk menggurui atau mengajarkan yang tidak-tidak, semua pilihan ada konsekuensinya masing-masing yang harus ditanggung pelakunya suka atau tidak suka.

 

87 Comments to "(Bukan) Gadis Alim"

  1. Nonik  22 March, 2014 at 00:24

    ngakak tenan di bagian akhir tulisan ini, sampe mau njomplang hahahaha….

    Salam kenal Mbak Phie….

  2. Alexa  11 December, 2013 at 18:23

    tulisan yang berkesan tapi terus terang yang mengagetkan adalah komen no. 71,
    sampe ada yg nggeret-geret ke sini

  3. Lani  11 December, 2013 at 12:18

    80 SUMMER GIRL : wakakakaka……..ngakak sampai mrebes mili, krn ngebayangin………klu ibunya sampai tau, apakah dia ora mati ngadeg??????? mak cekengkeng!

  4. phie  11 December, 2013 at 10:00

    Summer: itulaaahhhh….dari dulu sbnrnya di sana itu udh biasa, cuma suka pada pura2 ajaaaaa

  5. phie  11 December, 2013 at 09:58

    ci Lani, jeng El: hahahaha….pak Lurah terusik kejantanannya….uhhuuuyyyyy

  6. phie  11 December, 2013 at 09:58

    ci Lani, jeng El: hahahaha….pak Lurah terusik kejantanannya….uhhuuuyyyyy

  7. phie  11 December, 2013 at 09:57

    Lurah Baltyra: couldn’t agree more! realistis aja lah yaaaa…ga perlu tinggal di LN utk melakukan itu, hanya di sana kan istilahnya msh diem2 krn jaga image hahaha…..seperti yg aku bilang di komen sebelumnya, coba lihat silsilah keraton yg selirnya byk bgt dan Taman Sari itu apa bukan namanya sex party si Raja ngintip2 dari menara utk milih 2,3,dst cewe yg mau “dipake” malemnya. Masyarakat kita di sana emang sukanya MUNAFIK dan MEMBOHONGI DIRI SENDIRI. makasih yaaaaaa atas kejujuranmu jg hahahaha….klo bukan krn dirimu ya aku ora bakal crito2 ngene ki

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.