Mengapa Suka Ikut Pusing dengan Urusan Orang Lain?

Summer Girl

 

Pada saat saya ke Jakarta tahun lalu, di sana sedang ngetop-ngetopnya lagu Ariel Noah yang berjudul Separuh Aku, di mana-mana diputar lagu itu, di radio, restoran, supermarket, dijadikan soundtrack sinetron, lagunya enak didengar, saya juga suka lagu itu.

Seorang teman di Facebook menulis status yang intinya dia tidak mengerti dengan masyarakat Indonesia, mengapa mereka masih mendukung Ariel Noah yang sudah jelas-jelas melanggar ajaran agama dengan melakukan perzinahan, sex bebas, gonta ganti pacar?

Saya tidak ikut mengomentari statusnya karena hal itu sangat sensitive dan akan panjang urusannya. Buat saya pribadi, saya tidak peduli Ariel Noah atau siapapun melakukan free sex, gonta ganti pacar dan lain-lain, itu urusannya sendiri, masalah dia akan masuk neraka siapa yang peduli, toh dia yang akan masuk neraka, bukan saya. Yang saya hargai adalah hasil karyanya, kalau lagunya memang bagus tentu saya akan menyukainya tanpa melihat siapa itu si Ariel.

Buat saya status tersebut merupakan buah pikiran dari seseorang yang berpikiran picik, orang seperti itu tidak akan maju karena jalan pikirannya sangat sempit, apakah dia sudah yakin bahwa dia selalu melakukan perbuatan sesuai dengan ajaran agamanya? Dengan caranya yang sudah ikut campur urusan orang lain tentunya itu juga merupakan salah satu hal yang melanggar ajaran agamanya, apapun agamanya tentu kita tidak diperbolehkan membicarakan keburukan orang lain.

urusanorang

Apabila sebuah tabloid memberitakan sebuah berita dan membuatnya menjadi sesuatu yang menghebohkan, tentu itu sah2 saja karena itu pekerjaan mereka dan mereka berusaha membuat uang dari berita tersebut.

Saya sendiri suka sekali membaca berita-berita gosip seputar artis di Indonesia, hanya sebagai hiburan saja dan juga bisa dijadikan sebagai bahan tulisan di Baltyra. Saya juga ikut membaca komentar-komentar dari public tentang sebuah isi berita yang menurut saya komentarnya kadang-kadang menyeramkan, terkesan menghakimi, seolah2 mereka tahu sekali kehidupan personal dari artis yang sedang diberitakan.

Contohnya, tentang Mayangsari dan Bambang, banyak sekali yang berkomentar sirik tentang mereka, saya tidak kenal secara personal dengan mereka berdua, karena tidak tahu kebenarannya tentunya sayapun tidak berhak mengomentari apapun, hanya senang baca beritanya. Komentar-komentar dari pembaca antara lain tentang si mayang yang suka main dukun, perebut suami orang dll. Menurut saya yang berhak mengomentari hanyalah keluarganya sendiri, istri pertama, anak-anaknya dan keluarga kandungnya yang benar-benar tahu permasalahan sebenarnya.

Apakah benar si Mayang main dukun? Mungkin, namanya juga dalam usaha merebut pujaan hatinya, cara apapun bisa dilakukan baik halal atau tidak, terserah dia, kan resiko ditanggung sendiri. Apakah si Bambang memang benar-benar mencintai si Mayang? Tidak tahu, yang tahu hanya dia sendiri, bisa jadi dia benar-benar mencintai, atau bisa juga berpura-pura karena hanya ingin menyakiti istri pertamanya. Apakah si mayang benar-benar bahagia hidup dengan Bambang? Belum tentu, bisa jadi hidup saya lebih bahagia daripada dia. Apakah saya iri dengan Mayang? Tentu saja, karena saya masih harus kerja keras sedangkan dia sudah tidak perlu lagi karena hartanya sudah berlimpah. Jadi kalau saya iri apakah saya berhak mengomentari kehidupan pribadinya? Tentu saja tidak, karena iri yang saya miliki adalah dalam artian secara general yang mana semua orang pasti menginginkan hidup seperti itu, tidak perlu kerja keras tetapi punya harta berlimpah, itu adalah impian semua orang, tetapi saya tetap tidak berhak menghakimi kehidupan mereka berdua.

Ada juga kasus baru-baru ini dimana seorang artis menikah dengan artis lainnya, si artis laki-laki berpindah agama karena di Indonesia tidak bisa menikah dengan yang berbeda agama. Setelah menikah ternyata pria tersebut dikabarkan kembali ke agamanya. Semuanya ikut heboh, MUI dan Forum Pembela Islam ikut sibuk, ikut berkomentar sana sini, bilang pernikahannya tidak sah dan harus segera dibatalkan, orang-orang pun ikut sibuk berkomentar sinis di antaranya menyuruh mereka pergi ke neraka, mengusir mereka dari bumi Indonesia, memberondong mereka dengan sumpah serapah yang sangat tidak pantas.

Mungkin karena tidak kuat dengan tekanan yang dialami sehingga artis wanita itupun mengajukan pembatalan pernikahan, padahal saya yakin di hatinya pasti sangat sedih, mereka berdua pasti sangat saling mencintai, kalau tidak saling cinta mana mungkin mereka memutuskan untuk menikah, tekanan-tekanan tersebut pasti sangat membekas di hatinya dan bisa menjadikannya trauma sepanjang hidupnya.

Untuk MUI dan FPI, apakah mereka tidak punya kerjaan lain selain mengurusi urusan orang lain? Memisahkan kedua orang yang saling mencintai menurut saya itu juga perbuatan dosa, yang penting mereka berdua sudah menikah secara sah di mata Negara dengan mengikuti aturan yang berlaku, masalah setelah itu si pria balik lagi ke agamanya tentu itu merupakan urusan pribadi mereka, masalah sah atau tidak sah di mata agama, itu juga urusan pribadi mereka, tidak ada yang tahu apakah nantinya mereka akan masuk neraka atau surga. Kalau orang tua mereka ikut campur boleh-boleh saja karena mereka yang sudah membesarkan dan membiayai mereka, tentunya semua itupun diselesaikan secara kekeluargaan, pihak luar dilarang ikut campur.

Begitu juga dengan orang-orang yang sudah berkomentar dengan sinis dan pedas, mereka tidak berhak untuk mengusir pasangan artis itu dari bumi Indonesia karena mereka pun sama-sama warga Negara Indonesia, kalau mereka menyuruh pergi ke neraka darimana mereka tahu kalau artis itu bakal masuk neraka, kalau memang sudah pasti ya silakan pergi ke neraka bareng-bareng karena membicarakan keburukan orang lain juga merupakan dosa dan bisa membawa mereka ke neraka juga.

Berbeda dengan kasus Angelina Sondakh yang baru saja diputus 12 tahun penjara karena kasus korupsi, untuk hal ini saya bisa berkomentar karena hal ini berhubungan dengan orang banyak dan saya anti korupsi, kabarnya dia menangis terus-terusan setelah mendengar putusan tersebut, komentar saya kenapa harus menangis, kan dia sudah merugikan Negara dan merugikan saudaranya sendiri sesama orang Indonesia, uang yang dikorupsinya tentu lebih baik bila digunakan untuk mengurangi kemiskinan dan lain-lain yang lebih berguna, dulu sebelum ketahuan korupsi pasti dia juga tertawa-tawa pada saat berbelanja barang-barang mewah, jadi kenapa sekarang harus menangis? Mengenai kehidupan pribadinya yang katanya dulu tidak harmonis dengan almarhum Adjie Massaid, tentu saja saya tidak berhak untuk berkomentar karena itu bukan urusan saya.

Dulu saya adalah silent reader setia KOKI Zeverina sejak pertama kali di Kompas, sangat bagus di awalnya, banyak cerita-cerita menarik yang dishare antar sesame kookier, sayang sekali semakin banyak participant-nya semakin beragam pula komentar-komentarnya. Banyak kritik-kritik pedas yang ditujukan ke kehidupan pribadi si penulis, padahal si penulis sudah bersusah payah menuliskan hasil ceritanya dan mengirimkannya ke KOKI, tapi bukan hasil tulisannya dikritik malah kehidupan pribadinya yang diulas. Sayapun akhirnya meninggalkan KOKI karena sudah tidak baik buat saya pribadi.

Pada saat saya pindah ke sini, tetangga banyak yang bertanya kemana saya karena tidak pernah kelihatan dan tiba-tiba menghilang begitu saja, ibu saya bilang kalau saya sudah menikah dan pindah ke Amerika. Gosip pun berkembang dengan cepatnya, beberapa di antaranya adalah saya memang menghilang karena hamil duluan jadi malu kalau ketahuan tetangga, tidak mungkin saya ke Amerika karena tidak kelihatan sibuk mengurus surat-suratnya, mereka bilang pasti hanya pindah ke kota lain, biar keren dibilang ke Amerika, ada juga yang bilang saya ini matre karena hanya mau dengan orang bule saja padahal masih banyak orang Indonesia yang single.

Salah seorang saudara saya yang suka sok-sokan bisa meramal nasib seseorang pernah bilang kalau saya sudah ditakdirkan untuk hidup di Indonesia dan tidak akan pernah bisa hidup di negara lain. Sejujurnya perasaan saya sangat down setelah mendengar ramalan itu tetapi saya tetap berkeyakinan bahwa nasib dan hidup saya ada di tangan Tuhan, bukan di tangan dia. Ternyata setelah dia mendengar kabar saya pindah ke luar negeri seolah2 tidak percaya dan cemberut mendengarnya, mungkin malu karena ramalannya tidak terbukti.

Dari cerita-cerita di atas buat saya sangatlah memalukan kita sebagai mahluk Tuhan yang katanya memiliki derajat paling tinggi di antara mahluk2 Tuhan lainnya ternyata berkelakuan paling rendah di antara mahluk-mahluk lainnya. Mengapa kita harus ikut campur urusan orang lain, padahal hidup kita sendiri belum tentu sempurna, bagaimana perasaan kita apabila ada orang lain menggosipkan tentang kehidupan kita yang sama sekali belum tentu benar, pastilah kita akan sakit hati. Karena pemikiran saya yang maju inilah yang mungkin membuat kehidupan saya beberapa langkah lebih maju dibanding teman-teman saya di Indonesia.

 

77 Comments to "Mengapa Suka Ikut Pusing dengan Urusan Orang Lain?"

  1. XY  21 July, 2018 at 19:18

    Hidup memang lebih damai tanpa dikelilingi orang2 yg suka mencampuri urusan orang lain. Beruntung selama hidup saya, keluarga, saudara, teman2 lama dan orang2 yg saya pernah kenal bukan tipe orang yg suka ikut campur urusan orang. Yg paling sibuk mencampuri urusan hidup saya justru orang2 yg saya tidak kenal dan tidak ingin kenal.
    Ketika kita tidak ingin berurusan dengan mereka dan protes tidak suka urusan kita dicampuri, orang2 yg hobi ikut campur urusan orang ini akan sibuk berkomentar macam2, mencap kita sombong, egois, diskriminatif, tidak menghargai budaya (ikut campur) orang Indonesia. Benar2 ribet kelakuan orang2 di negara ini, yg bukan urusan hidupnya diribetin.
    Dari tulisan ini dan komentar2nya, saya menemukan bukan hanya saya yg merasa kapok berurusan dengan orang Indonesia.

    Terimakasih atas tulisannya!

  2. XY  21 July, 2018 at 19:00

    Hidup lebih damai tanpa dikelilingi orang2 yg suka mencampuri urusan orang lain. Beruntung selama hidup saya, keluarga, saudara, teman2 lama dan orang2 yg pernah saya kenal bukan tipe orang yg suka ikut campur urusan orang. Yg paling sibuk mencampuri urusan hidup saya justru orang yg saya tidak kenal dan tidak ingin kenal.
    Ketika kita tidak menanggapi dan protes tidak suka urusan kita dicampuri, orang2 yg hobi ikut campur urusan orang ini akan sibuk berkomentar macam2, sombong, egois, diskriminatif, tidak menghargai budaya (ikut campur) orang Indonesia.
    Dari tulisan ini dan komentar2nya, saya menemukan bukan hanya saya yg merasa kapok berurusan dengan orang Indonesia.

    Terimakasih atas tulisannya!

  3. Lani  9 December, 2013 at 22:48

    72 AKI BUTO : hanya satu, kumpulan itu dinamakan “kumpulan orang kurang kerjaan” jgn lupa pasang PLANG!

  4. Hennie Triana Oberst  9 December, 2013 at 22:34

    JC, hiii…serem banget. Bacanya aku jadi merinding nih.

    SG & Matahari, nanti kalau sudah mulai lancar dan waktunya lega, aku akan mulai nyoba nonton.
    Aku termasuk orang yang kurang suka nonton. Hanya acara tertentu saja biasanya yang aku tonton.
    Terima kasih informasinya ya.

  5. Summer Girl  9 December, 2013 at 11:17

    Pak jc ceritanya mengerikan sekali, semoga anggota baltyra tdk ada yg seperti itu. Ada bbrp hal yg tdk perlu saya ceritakan yg membuat saya kapok bergabung dg ibu2 disini, saya pernah ikut kumpul2 2x setelah itu tdk pernah lagi, ketemu org indonesiapun sangat jarang, lebih baik menghindar saja.

  6. J C  9 December, 2013 at 05:47

    Summer Girl, setuju sekali…

    Di komunitas yang dulu itu sering sekali di belakang layar banyak orang usil yang ingin tahu urusan orang lain. Ada sekelompok ibu-ibu yang khusus “mempelajari” dan “menelaah”, si A itu siapa, tinggal di mana sebenarnya, kerjaannya apa, istri/suaminya siapa, bekerja di mana, bila perlu posisi dan gajinya, anak-anaknya sekolah di mana, uang sekolahnya berapa, ranking berapa di sekolah. Kelompok ini merasa perlu “memvalidasi” hal-hal tsb apakah benar sesuai seperti yang si A sampaikan dalam artikel-artikelnya. Atau mencari tahu si A sebenarnya seperti apa karena tidak “mendeklarasikan” hal-hal tsb.

    Kalau si A keberatan untuk proses validasi tsb, langsung akan di’cap sombong, dibicarakan di belakang, dan jadi “common enemy” ibu-ibu dalam kelompok ini. Kalau tempat tinggal si A misalnya di Jakarta dan sekitarnya, kelompok ini malahan tidak akan sungkan dan ragu untuk “kebetulan lewat” dan mampir ke rumah (kalau sampai tahu informasi rumahnya di mana), atau “kebetulan lewat” mampir di kantornya.

    Beberapa waktu lalu, di awal-awal Baltyra, salah satu kontributor yang aktif sekali waktu itu, sekarang sepertinya masih jadi silent reader juga demikian, tidak akan sungkan dan ragu untuk mencari tahu dan menggali informasi lebih jauh, siapa, di mana tinggal (negara mana), kerjanya apa, posisinya apa, istri/suami siapa, dari mana, kerjanya apa, dan banyak sekali keusilan yang tidak nyaman menggali dalam sekali kehidupan personal seseorang. Jika seseorang tidak mau digali lebih jauh, dia akan dengan gampang men’cap’nya dengan ‘sombong’, ‘bohong’ atau sering adalah berhalusinasi dan berimajinasi bahwa si B, si C, si D pasti tinggalnya di tempat-tempat sesuai imajinasi dia. Dan di belakang akan menebar gosip begini dan begitu dengan japri ke e-mail. Untungnya kontributor yang satu ini sudah “lenyap”, walaupun aku cukup yakin most likely masih jadi silent reader.

  7. Summer Girl  9 December, 2013 at 03:33

    Bu matahari, drama korea memang sangat berbeda dg sinetron2 indonesia yg gak jelas, masih sekolah sudah rebut2an pacar, kemudian ada ibu tiri yg suka menjambak rambut anak tirinya, sangat tdk mendidik, banyak pelajaran yg bisa diambil dari drama korea spt brain, keselamatan pasien adalah nomer satu, dokternya sangat care, kisah percintaannya pun tdk pernah melewati batas. Masalah body selalu bikin saya iri, bagaimana mereka bisa kurus spt itu, mungkin hanya makan salad setiap hari. Drama pertama yg saya tonton adalah endless love, tp saya sempat vacum gak nonton sama sekali selama bbrp tahun, spt lupa sama sekali, mulai lagi th. 2011. Ada bagusnya juga nonton drama korea krn saya jadi jarang shopping hehehe..

    Mas enief, thanks compliment nya ya.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.