Mengintip Ma(gda)lena: Sebuah Meta-puisi atas Puisi

Alfred Tuname

 

Tulisan ini merupakan sebuah pembacaan atas film (cinema) melalui puisi. Film adalah sebuah puisi yang teraudio-visual. Ada nilai seni imajinatif yang menggetarkan bergerak di hadapan mata yang memandang. Kemudian, pada perkembangannya film menjadi semacam, mengutip filsuf Alan Badiou, manifestoof “human presence”. Membaca film pun menjadi penting sebab film “supplies a formal power, which is put at the service of a universal value:human existence, freedom”i. Seperti karya sastra (puisi), film mengangkat nilai-nilai universal yang bertebaran dalam realitas.

malena

Pada tulisan ini, “realitas” film Malena (2000) pun dibaca secara bebas melalui sebuah puisi karya seorang penyair muda NTT, Mario F Lawi (MFL). Puisi itu berjudul Magdalena, dipublikasikan oleh Kompas pada hari Minggu, 14 April 2013. Puisi Magdalena adalah “meta-puisi” dalam proses pembacaan film Malena. Narasi imaginatif dalam puisi Magdalena karya MFL akan menjadi “kerangka hermeneutik” untuk membuka tirai fenomena sosio-politik pada film Malena.

Ada Apa dengan Mario F Lawi?

Di Kompas, keterangan tentang sosok penyair muda berbakat ini sangat singkat. “Mario F Lawi, lahir di Kupang, NTT, 18 Februari 1991. Mahasiswa jurusan Komunikasi, Universitas Nusa Cendana. Bergiatd i Komunitas Sastra Dusun Flobamora”. Itu saja.

Untuk itu, pembacaan atas buku Yohanes Sehandi (YS), berjudul “Mengenal Sastra dan Sastrawan NTT” (2012), sedikit-banyak memberi keterangan tentang sosok penyair muda yang satu ini. YS hanya menggolongkan penyair MFL dalam kategori “Masih 42 SastrawanNTT”. Tidak ada narasi biografi singkat tentang MFL seperti 22 sosok sastrawan NTT sebelumnya. Mungkin saja, YS masih melihat “jam terbang” kepenyairan MFL belum cukup memadai saat itu.

Akan tetapi, jika kita terus membaca bagian ketiga tentang “Menyelisik Sastra NTT” dalam buku YS, maka akan terkuak magma membara yang terbentang antara dua kutub singularis, YS dan MFL. Kutub kritikus sastra adalah YS; kutub sastrawan adalah MFL. Magma membara itu menyeruak lantaran gelaran berda argumentasi berbeda antara dua kutub itu dalam magnet kesusastraan NTT.

Sebagai kritikus, YS “mendakwa” bahwa cerpen MFL berjudul “Ketika Kelam Mendekam dalam Rahim Negeri Kami” yang dimuat Pos Kupang,25 April 2010, adalah bukan cerpen. Menurutnya, karya MFL itu hanyalah “sejenis renungan, khotbah, pendalaman iman, refleksi iman, dan sejenis itu” (YS, 2012). Dikatakan juga bahwa cerpen MFL itu tidak memiliki setting.

MFL menolak “dakwaan” konservatis tersebut. Ia menilai cerpennya itu bersifat surealis dan mengikuti gaya penulisan sastrawan Agus Noor dan Avianti Armand. Sayangnya, sang kritikus tidak menerima argumentasi tersebut. Sang kritikus menuntut “kamus” unsur intrinsik dalam penulisan cerpen. Atas reaksi MFL, sang kritikus malah menggunakan standar moral untuk mengurung karakter sang sastrawan muda itu. Ia menulis bahwa MFL adalah sosok yang tidak maumenerima kritik dan tidak rendah hati.

Ada apa dengan semua itu? Dugaan sementara, buku karya YS itu adalah simptom dari sekian perselisihan antara penulis itu sendiri dan MFL, kritikus dan sastrawan. Dalam hal ini, MFL adalah “subject cause of desire”  atas penulis buku YS. Karenanya, setiap argumentasi MFL dipreteli habis-habisan dalam buku itu dan malah cenderung ad hominem.

Bahwa kritik sastra sangat penting untuk menghadirkan kualitas sastra yang baik. Akan tetapi, tidak selamanya setiap kritik harus diterima begitu saja. Argumentasi dalam kritik memelukan argumentasi balasan atas kritik. Inilah dialektika yang membangun kualitas sastra NTT.“Tesis” kritikus selamanya tidak selalu benar. Diperlukan“anti-tesis” untuk melahirkan sintesa yang mencerahkan bagi sang kritikus itu sendiri, sastrawan dan juga pembaca tentunya.

Dengan demikian, adalah kurang bijak pula rasa-rasanya jika YS (kritikus) menuntut MFL untuk menerima begitu saja kritikannya, apalagi hanya untuk menemukan, dalam bahasa Lacan, “object petit a”. Bukankah dengan cerpennya itu, MFL sudah berhasil memanfaatkan ruang kebebasan untuk berekspresi dan berani melakukan berbagai eksperimen dengan tulisannya? Bukankah cerpen MFL itu, seperti cerpen-cerpen Danarto, merupakan refleksi atas pengalaman imajinatif dan pengalaman religius? Aksi seperti inilah yang seharusnya didorong sehingga penikmat sastra tidak lagi membaca karya sastra NTT yang monoton dan itu-itu saja. Catatannya, makna sebuah karya sastra tetap kembali pada pembacanya.

Lalu, ketika kita punya mimpi bahwa sastra NTT dapat bersaing dengan kualitas sastra nasional bahkan internasioanal, maka biarkanalah para punggawanya berkreasi dan bereksperimentasi. Sastrawan NTT tidak akan pernah mencapai bulan jika terus memakai kamus (intrinsik).

Nah, dari sekelumit “sengketa lahan” sastra lokal di atas, kita pun dituntun untuk mendekati sosok MFL, tanpa harus perlu mengais-ngais narasi biografi. MFL adalah sastrawan muda NTT (bukan pemula) dan karyanya berkualitas nasional. Karenanya, puisi-puisi karyanya itu bisa kita nikmati di media Sinar Harapankompas danTempo. Salah satu di antaranya adalah puisi Mangdalena yang dipakai dalam tulisan ini. MFL sendiri adalah pemimpin redaksi Jurnal Sastra Santarang. Bukunnya yang telah terbit berjudul Poetaeverba,Memoria dan Malaikat Hujan.

 

Ada Puisi, Ada Film

Dalam bingkai yang subyektif, membaca puisi karya MFL adalah sangat “menggelinjangkan”. Dengan pembacaan yang mendalam, sensasi-sensasi pengalaman imajinatif sekaligus religius seakan menyala dari puisi-puisinya. Mangdalena adalah salah satu puisi itu. Puisi Magdalena adalah refleksi pengalaman imajimatif sekaligus religius penyair. Penyair ini begitu fasih mengurai sonnet  hidup sosok Magdelana dalam baitnya yang puitik. Berikut adalah puisi Magdalena.

Magdalena

Menangkap mu.Berkali-kali aku harus memastikan agar kau

Tak ikut tenggelam ke dalam nikmat yang mangsi. Bersusah

Aku menyelamatkanmu dari amukan para penyelam, seorang

Murid kujustru berniat menggenapimu berulang kali. Sungguh

Pintu mutak hanya menerbitkan birahi atau aroma narwastu

Yang pernah kau labuhkan di kakiku. Kuharap kau masih

Mengingat ketika pertama batu-batu bersijatuh di hadapanmu,

SiJ anggut Putih yang bersikeras mengarahkan rajam tajam ke

Arah lambungku. Kubuat sukatan dengan tanah liat dan

Sepotong kayu, tak lebih kelit dari jarak hati dan payudaramu.

Ara yang kupelihara segera mengutuk dirinya karena tubuhmu

Ternyata lebih ranum dari daging pejalnya. Misalkan surga itu

Doa para imam agung, maka lebih pantas kau menghadapku.

Amin. Kukatakan kepadamu, ia seumpama lemak yang menetes

Dari merpati panggang kini hinggap di tanganmu. Tentu saja

Jauh sebelum aku menangkapmu. Menyelamatkan angkamu.

(naimata, 2012)

 

Adalah sesuatu yang menarik pula jika mengintip puisi Magdalena  MFL ini dalam pembacaan hermeneutik atas film Malena (2000) yang disutradarai oleh Giussepe Tornatore. Di sini, puisi Magdalena menjadi radar untuk mendeteksi detak-detak fenomena sosio-politik dalam film Malena.

Film Malena berkisah tentang seorang perempuan muda cantik dan mempesona bernama Malena yang diperankan oleh Monica Anna Maria Belucci. Ia memiliki seorang suami yang berprofesi sebagai tentara, Nino Scordia (GaetanoAronica). Saat itu, Italia terlibat dalam Perang Dunia II. Oleh karena itu, suaminya harus mengikuti perang dan meninggalkan Malena hidup sendirian. Terdengar kabar bahwa suaminya meninggal di medan perang. Dalam “kedukaanya”, Malena tetap mempesona. Pesona itu menyilaukan pandangan setiap lelaki saat ia melintas di kota kecil Sisilia, Italia. Sosok lelaki usia remaja bernama Renato Amaroso, diperankan oleh Giussepe Sulfaro, pun terpesona oleh kemolekan Malena. Dengan segala muslihat dan keluguan, Renato diam-diam mencari posisi yang tak kelihatan untuk terus mengkonsumsi kenikmatan yang terpancar dari kemolekan Malena. Sontak, kemolekan Malena menjadi luka bagi dirinya sendiri. Ia menjadi musuh bersama masyarakat, khususnya para perempuan di kota itu. Gelombang diskriminasi terus menghantam dirinya. Hingga akhirnya, ia mendapati suaminya kembali dari medan perang dan menikmati hidup tanpa intimidasi sosial.

 

Ada Magdalena dalam Malena

Setiap orang kristiani pasti tahu sosok Magdalena. Dia adalah sosok perempuan berdosa yang bertobat. Ia adalah seorang pelacur yang bertobat dan mengikuti Isa Almasih dan ajaran-ajaran-Nya. Setelah terselamatkan dari “dasar lautan gelap” hidung belang, Magdalena menjadi bagian dari kelompok murid Isa Almasih. Karena itu, tubuhnya tidak lagi merupakan seonggok daging fana penawar kenikmatan birahiah tetapi menjadi kenisah roh. Jiwa dan raganya menjadi “alter christus” yang harum narwastu.

Dalam film Passion of The Christ (2004) besutan Mel Gibson, secara kebetualan Magdalena diperankan oleh aktris Monica Bellucci. Monica Bellucci tampak segaja dipilih untuk “mengeksplorasi” kemolekan tubuh aktris Italia ini. Dalam banyak film yang perankan oleh aktris ini, penokohannya juga digodok dalam citra yang vulgar dan berani. Sebut saja filmL’Appartement (1996), Irreversible (2003) Remember Me, My Love (2004) dan She Hate Me(2004).

Film Malena menampilan sosok perempuan cantik dan molek yang sedang menanti kabar kepulangan suaminya dari medan perang. Malena adalah nama sapaan untuk Magdalena. Dalam penantiannya (avenir), ia hanya seorang diri. Kecantikan dan kemolekannya menjadikannya luka bernanah dalam masyarakat. Ia dirajam oleh birahi para pria yang membatu, dari yang tua hingga yang muda, dari yang berjanggut putih hingga yang masih tubuh buluh halus. “Kuharap kaumasih/ Mengingat ketika pertama batu-batu bersijatuh di hadapanmu,/Si Janggut Putih yang bersikeras mengarahkan rajam tajam ke/Arahlambungku…/”. Karena birahi kaum berjanggut, Malena di-personanon grata-kan secara sosial.

Para perempuan pun ikut nimbrung menista Malena. Sebab, eksistensi Melena berikut atribut kecantikan dan kemoleknannya membuat para perempuan tersebut virupaii. Para perempuan virupa ini sibuk mencerca lantaran mereka kehilangan pesona di hadapan para pria. Birahi para pria yang membatu dan pergunjingan para perempuan virupa datang berseliweran bersamaan dengan perjalanan hidup Malena yang solitary. Celakanya, pada saat itulah ia menjadi “solitaire” dalam rantai sosial patologis. Semua itu membentuk tatahan-tatahan tirani mayoritas yang mengeras.

Tirani mayoritas telah mengekslusi Malena dari kontak sosialnya berikut aksi komunikatifnya. Sembari dipenjara oleh penantian panjang akan suaminya, ia pun dikurung kesepian dalam keramain kota. Mata-matapara penghuni kota terus menelanjanginya. Di mata tirani mayoritas,kencantikan menjadi obyek seksual pria dengan perempuan lain (:virupa)menjadi korbannya (victim). Keterasingan Melena merupakan risiko politik seksualitas paternal.

Tirani mayoritas itu terhimpun dalam sebaran politik seksualitas yang diskursif. Hegemoni dan determinasi budaya stereotipe bergelinding bersama diskursifitas paternal yang aktif dalam masyarakat. Akibatnya, kehidupan perempuan seperti Malena pun dijepit oleh budaya stereotipe tersebut. Dengan begitu,

Thetruth of woman’s life and of her actual experience is engulfed again and again by those institution of our society, owned and operated by men, to keep her believing that she is what men say she is, that she wants what men say she wants, that she knows only what men say she knowsiii.

 

Kehidupan Malena pun dipecut kesengsaraan tanpa kebebasan. Kehidupan hariannya hanyalah perjumpaan-perjumpaan atrikulatif antara dirinya dengan definisi-definisi institusi sosial paternal. Karenanya, dalam rezim politik totaliter (Musolini-fasis), ia hanya berjumpa dengan kemunafikan. Di situ, kecantikan dan kemolekan menjadi permainan kekuasaan. Masyarakat menyebutnya pelacur.

Sementara, dalam pemerintahan yang cenderung liberal (ditandai dengan kehadiran tentara sekutu di Italia dan berakhirnya Perang Dunia II), kemunafikan nyaris sirna. Saat itulah, anarkisme sosial merebak. Anarkisme lahir dari akumulasi kemarahan yang kian ekspresif. Kanalisasi kemarahan itu tidak terbendung. Musuh-musuh masyarakat menjadi sasaran amukan massa. Dalam pada itu, lembaga-lemabaga sosial paternal tunduk di bawah opini massa dan tidak berdaya. Malena pun menjadi sasaran anarkisme massa dan teralienasi dari kehidupan sosial.

Dari konteks itu, disadari bahwa perpindahan rezim socio-political (fasis ke liberal) belum paripurna. Sisa-sia fasisme Musolini masih mengikat. Sementara bentuk kebebasan masih buram. Suatu gerak “revolusi” masih tampak fiasco. Benar kata Walter Benjamin,“everyrise of fascism bears witness to a failed revolutioniv. Oleh karena itu, kebebasan itu dimengerti hanya sebagai ekspresi balas dendam. Dalam konsteks film Malena, sosok Malena ditafsir sebagai “mata” imperial yang harus dicongkel di jalanan. Saat itulah, sang imperium menjadi, dalam istilah Giorgio Agamben, homosacerv. Kemanusiaan Malena seketika menjadi “domba” yang cukur habis. Secara sosio-simbolis, ia telah terbunuh (impune occidi).

Di tengah katastrope sosial yang seksis itu, ada pun seorang remaja bernama Renato (12 tahun). Dalam sikulasi kehidupan Malena yang“dialektis”, Renato berperan sebagai, dalam istilah Slavoj Zizek,vanishing mediator. Renato berperan untuk memecahkan kebuntuan komunikasi sosial Malena. Berhadapan dengan tirani mayoritas, Renato tidak dapat berbuat apa-apa selain diam dalam empati dan nyaris tidak berdaya dalam “rezim” eros. Atau seperti seperti sajak MFL,“/…seorang muridku justru berniat menggenapimu berulang kali/”.Hingga akhirnya, dia-lah yang memberitahu Nino Scordia kemana Malena mengasingkan diri.

Secara lebih radikal, peran Renato dapat diulik menggunakan triad psikoanalisis Freudian:Id, Ego, dan superego. Di sini, Renato adalah id, Para pria adalah ego dan institusi-institusi sosial adalah superego. Di sini, Renato sebagai Id (themute man) terus menguntit subject of desire-nya, dalam hal ini Malena. Ia tidak banyak berbicara. Freud mengatakan desire is silent. Tetapi, Id berwatak chaotic. Ia memiliki karakterinnocence dan pada saat yang mengunggah primordial evil;a ggressive all the time. Inilah sisi paradoks Id. Sementara itu, para pria warga kota sebagai Ego terus berusaha untuk menguasai Malena. Dengan mengkalkulasi kuasa dan pengaruh, Ego bekerja dalam logika having (:to have). Untuk itu,rasio bekerja ekstra. Sebab, menurut Freud, “Ego was ‘in itsproprer sense a subject’ not as an essence, but a function to bef illed”. Lalu, institusi sosial sebagai superego merupakan sebuah internalisasi otoritas paternal. Sebagai sebuah repressing agencysuperego mengaktivasi sensor sosial untuk melahirkan Ego ideal. Superego memproduksi commonideal sebagai radar untuk mengidentifikasi individu-individu.Dalam proses identifikasi itulah, individu-individu dikastrasi dalam mengeksplorasi jouissance-nya.

Dalam konteks film Malena, eksplorasi aksi superego bekerja di sepanjang perjalanan Malena. Logika having yang begitu ekspresif tampak nyata (kaum Pria). Sementara Id terus menguntit Malena di mana pun dia berada (Renato); di ruang publik pun di ruang privat. Dalam pada itu, superego terus menggerus jouissance dengan aturan-aturan ideologis yang ekspansif. Di tengah gempuran superego, Malena tetap mempertahankan diri sebagai subyek; pemilik atas dirinya sendiri (substansi Cartesian) sekaligus terlepas darinya (out of joint-subyek Zizekian).

Proses subyektivasi Malena adalah gerak “perjumpaan” dengan the Real (perspektif Lacanian). The Real itu adalah suaminya yang keberadaannya belum terbahasakan. Cinta menjadi pelumas bergairah untuk sebuah perjumpaan yang paripurna. Atas dasar cinta ini pula sang subyek berkelindan dalam bergulatan nan panjang. Cinta pun menjadi sebuah kategori perjuangan (a category of struggle)vi. Malena berjuang untuk tetap setia pada cintanya, meskipun ia harus terlepas dari sosialitasnya bahkan dirinya sendiri.

Di sini, Malena adalah alter-Mangdalena. Getir perjalanan hidup Magdalena hanya proses subyektivisasi untuk menjumpai sang “Aku” dalam puisi MFL. Ia pun melepas semua “atribut” hidup lamanya untuk mengikuti sang “Aku”. “Jikalau seorang datang kepadaKu dan ia tidak membenci bapanya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak menjadi muridKu” (Lukas, 14:26), demikian kata sang“Aku”. Tentu kebencian bermakna sosio-simbolis; kebencian bukan kepada orang-perorangan, tetapi pada bangunan struktur ideologis. Setelahnya, “/maka lebih pantas kau menghadapku/Amin…/”. Disanalah surga yang tak terbahasakan.

 

Ada Happy Ending

Akhir yang indah dibahasakan secara visual ketika Malena dan suaminya bertemu. Itu terjadi setelah, semua Perang Dunia II berlalu.Semua tentara kembali ke negaranya. Di kota kecil, di negara Italia, Malena menemukan suasa “surga”. Tidak ada lagi penguasa, tidak ada tertindas; tidak ada lagi tuan/nyonya, tidak lagi hamba; tidak ada lagi orang asing. Semua adalah saudara. Inilah perjumpaanya dengan the Real  yang lantas terlepas sebagai tanda reaktifasi subyektivisasi sang subyek (Malena). Komunikasi dan sentuhan Canettivii-an merupakan usaha subyektivisasi subyek yang baru. Malena menjadi subyek “beraroma narwastu” yang menyembuhkan kaki sosial yang patologis. Malena pun menjadi manusia baru justru di pusat dimana ia pernah diperggunjingkan.

 

Djogja, November 2013

AlfredTuname

 

————————

i Alain Badiou, Cinema (UK: Polity Press, 2010), hlm. 6

ii Virupa dalam aksara Sansekerta berarti buruk rupa. Istilah ini dikutip dari novel Seno Gumira Ajidarma yang berjudul “Nagabumi I: Jurus Tanpa Bentuk” (Jakarta: Gramedia, 2009)

iii Vivian Gornick dan Barbara K. Moran, Woman in Sexist Society (USA:Basic Books, Inc, 1971), hlm. xxv

iv Yong-June Park, Slavoj Zizek: Demanding the Impossible (UK: Polity Press, 2013), hlm. 25

v Homo sacer, Kerényi writes, “cannot be the object of sacrifice, of sacrificum…”, dikutip dari buku Giorgio Agamben, Homo Sacer: Sovereign Power dan Bare Life (California: Stanford Universit Press, 1998), hlm. 48

vi Yong-June Park, loc .cit., hlm 122

vii Merujuk pada perspektif filsuf Elias Canetti dalam bukunya “Crowds dan Power” (New York: The Continuum, 1978)

 

4 Comments to "Mengintip Ma(gda)lena: Sebuah Meta-puisi atas Puisi"

  1. J C  9 December, 2013 at 06:05

    Alfred, penyajianmu memang puitis! Cerita disajikan dengan puitis, cerita jalan-jalan juga puitis, bahkan yang seperti ini juga sangat puitis…

    Apa aku bilang Kang Anoew semrinthil khan…(Kang Anoew, pilem ini sepertinya kalau di DVD jauh lebih yahud dan bikin dirimu pating greges —-> karena tanpa sensor blas, aku lagi cari juga sih )

  2. anoew  6 December, 2013 at 18:54

    resensi yang indah, seindah tungkai Monica Belluci hingga ke betisnya.

    mantab, Al.

  3. Handoko Widagdo  6 December, 2013 at 15:42

    Persengketaan antara sastrawan dan kritikus memang selalu terjadi.

  4. Linda Cheang  6 December, 2013 at 13:12

    tapi Malena yang film, diperankan Monica Belucci, sekseh sekaleee….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.