Sejarah Imigran Jepang ke Brasil (5 – selesai)

Dewi Aichi – Brazil

 

Incredible Japanese Immigrants

Pergi ke Brasil, mengumpulkan uang dengan bekerja di perkebunan kopi dan kemudian berkeinginan kembali ke Jepang sesegera mungkin merupakan impian bagi banyak keluarga Jepang di awal abad kedua puluh. Itu satu-satunya jalan keluar. Pada saat itu, Jepang adalah negara yang kacau oleh banyaknya penduduk dan biaya yang digunakan untuk  perang melawan Cina dan Rusia.

keluargabesarimigranbrazil

Di kota, tingkat pengangguran meningkat drastis. Di pedesaan, petani yang  memiliki tanah disita karena tidak mampu membayar pajak, sehingga mereka tidak mampu  menghidupi keluarga. Dengan keadaan yang seperti ini, pemerintah Jepang pertama kali tertarik untuk memasyarakatkan imigrasi dengan menyebarkan issue bahwa “Di Brazil, ada pohon yang mengeluarkan emas : kopi”. Hanya dengan memetiknya pakai tangan anda. begitu kata-kata dalam poster saat itu.

Dari pihak pemerintah Brazil, keuntungan dengan  kedatangan imigran Jepang terutama karena pada tahun 1902,  imigran Italia, mulai meninggalkan perkebunan kopi sehingga Brasil membutuhkan pekerjaan kasar. Pada tahun 1908, petani, tukang kayu, pemilik toko dan pemilik pabrik di ambang kebangkrutan menjadi “tentara bayaran ” (Ryu Mizuno ,dalam buku catatan Kasato Maru) kapal pertama yang memuat imigran Jepang di Brazil pada tanggal 18 Juni 1908, membawa 165 keluarga.

 

Sungguh berat hati meningalkan tanah air mereka untuk pindah ke Brasil

Sebelum keberangkatan mereka ditempatkan di asrama, semua diminta untuk menjalani semacam karantina di Pelabuhan Kobe ( 429 km sebelah barat Tokyo ), di mana mereka ditangani oleh para dokter dan diberikan bekal pelajaran bahasa dasar Portugis. Beberapa mengambil kesempatan untuk membeli baju-baju model Barat di toko-toko terdekat.

Detik-detik keberangkatan, mereka berkemas-kemas, dan bersama-sama menyanyikan lagu perpisahan Hotaru no Hikari ( ” Dalam cahaya kunang-kunang ” ) dan lagu kebangsaan Jepang. Kesedihan yang luar biasa ketika anggota keluarga terpaksa tinggal di tanah Jepang, tidak dapat melakukan perjalanan karena penyakit menular, banyak keluarga terpisah pada waktu itu. (dikisahkan oleh antropolog Koichi Mori).

Dalam buku ” O Súdito” yang ditulis oleh Jorge Okubo menuliskan bahwa selama perjalanan mereka sangat menderita, tidak ada kenyamanan sama sekali, mereka berjubel dalam satu kapal, anak-anak yang yang masih kecil berada di pangkuan ibu.  Mereka tidur bercampur-campur antara pria dan wanita, dewasa dan anak-anak di atas tikar yang digelar di lantai kapal, dalam keadaan terbuka tanpa atap.Kamar mandi dengan air tawar hanya dua kali seminggu, dan setiap orang hanya bisa menggunakan tiga ember air.

Dalam keadaan normal, perjalanan membutuhkan waktu dua bulan. Mereka ditampung di kantor imigrasi di Sao Paulo, setelah mendarat dan dijemput dari Pelabuhan Santos. Orang Jepang mulai merasakan perubahan dan mengenal beberapa perbedaan seperti :orang Jepang terbiasa mandi ofuro yang baknya terbuat dari kayu, tapi setelah di Brasil, mereka menggunakan shower, ini adalah pertama kalinya mereka melihat,  beras yang terbiasa dimakan setiap hari, diganti dengan  roti Prancis. (dikisahkan oleh antropolog Celia Oi).

Dari tempat penampungan, mereka dibawa dengan menumpang kereta api menuju tempat mereka akan bekerja yaitu perekebunan kopi. Sampai di lokasi, mereka melihat rerumputan yang tinggi, matahari terik, tempat tidur dari jerami atau alang-alang, dan juga nyamuk yang banyak sekali. Dengan melihat semua itu, mereka sudah tampak sedih dengan hidup yang akan mereka jalani di tempat asing ini.

 

Kekecewaan dan harapan di Brasil

Harapannya adalah untuk mengumpulkan uang dengan cepat tetapi karena mereka menerima pembayaran pertama harus dipotong untuk membayar biaya perjalanan mereka dari jepang ke Brasil, ditambah lagi pengeluaran untuk biaya hidup seperti makanan dan obat-obatan ,mereka tidak disediakan obat-obatan. Imigran Jepang merasa diperlakukan seperti budak.

Banyak yang melarikan diri karena keadaan tersebut. Kehidupan baru mulai membaik setelah mereka mulai bekerja pada sistem disebut ” kemitraan” yaitu dalam perjanjian dengan pemilik tanah, pekerja melakukan untuk melakukan pengolahan tanah, menanam tanaman tanaman kopi dan mengembalikan ke tuan tanah setelah tujuh tahun, menjelang panen kedua.

Sebagai gantinya, mereka mendapatkan keuntungan dari panen pertama (panen kopi dua tahunan ) dan segala sesuatu selain untuk menanam kopi. Jenis kontrak ini adalah motif yang memungkinkan banyak imigran Jepang membeli tanah pertama mereka.

Meskipun saat ini mereka sudah di sini selama satu dekade,  masih banyak waktu berpikir bagi mereka yang merencanakan untuk tinggal selama maksimal tiga tahun. Mimpi mereka untuk kembali ke Jepang tetap hidup dan  ini yang membuatnya tetap mendidik anak-anak dengan cara Jepang, dalam rumah, hanya berbicara dalam bahasa ibu mereka dan menyekolahkan anak- anak  disekolah Brasil yang memberikan pelajaran bahasa Jepang, sekolah di mana mereka diajarkan untuk membaca dan menulis dalam bahasa Jepang.

Tidak seperti yang direncanakan semula, namun hanya 10 % dari jumlah 190.000  imigran Jepang yang berimigrasi sebelum Perang Dunia II kembali ke tanah air. Sisanya memutuskan untuk menetap di Brasil ,dan membantu membangun kisah generasi kedua dari Jepang di negara itu dan membantu dalam pengembangan ekonomi negara Brasil.

 

Selesai

 

About Dewi Aichi

Berasal dari Sleman Jogjakarta, saya blasteran (antar kelurahan maksudnya), happily married to a Brazilian guy. Dari Jogja merambah dunia. Pernikahan lintas benua adalah pilihannya. Setelah beberapa tahun di Distrik Aichi, Jepang, sekarang tinggal di Brazil bersama keluarga tercintanya. Tingkat sudrunnya setara dengan saudara-saudara sepersudrunannya seperti Nur Mberok, Elnino, Fire dan jelas Lani van Kona. Di sini saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, saya hanya sekedar menulis apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang menarik buat saya untuk ditulis. Jika ini bermanfaat untuk diri saya sendiri dan juga untuk teman-teman, saya sangat bersyukur

My Facebook Arsip Artikel Website

40 Comments to "Sejarah Imigran Jepang ke Brasil (5 – selesai)"

  1. Dewi Aichi  10 December, 2013 at 05:08

    Aduh Lani, lihat pemain-pemain bola Eropa jiannn uhuk..marai pengen enom meneh wkwkwkw….dan kemarin lihat Zinedine Zidane..yang lama aku rindukan…aku ngga tau nanti si Wesley Snaidjer main ngga ya…ini pemain yang tak gembol dan tak taruh di dompetku je wkwkwkw..

  2. Lani  10 December, 2013 at 05:06

    DA : klu mmg tdk/belum mampu mengamankan didlm negeri sendiri, ya jgn sampai mengajukan, apalagi dipilih sbg ajang pertandingan dunia krn sgt riskan……..krn pemainnya tingkat dunia, klu sampai do mati……wah, mrk bakal kehilangan jago2 dunia….payah tenan!

  3. Dewi Aichi  10 December, 2013 at 04:50

    Oya Matahari, ada yang kelupaan, di Brasil kalau bulan Juni-Juli itu udaranya dingin, karena Brasil musimnya berlawanan dengan Eropa. Brasil punya musim sama dengan Australia.

  4. Dewi Aichi  10 December, 2013 at 04:49

    Lani, dan berturut-turut, setelah piala dunia, lalu 2016 adalah olimpiade..banyak kok pro kontra dari masyarakat sendiri, yah seperti orang-orang Indonesia yang malu melihat carut marutnya negara Indonesia, begitu juga Brasil….masyarakat juga malu dengan negaranya yang super violence….

  5. Lani  10 December, 2013 at 04:40

    DA : demi keselamatan dirimu, rak sah nonton piala dunia secara ngluruk nang stadium. Soale sgt riskan, lbh baik melotot sampai copot hahahha didepan TV sj, malah lbh jelas, jgn lupa yg bening2 aku gembolke sak dozen jd iso dinggo gonta-ganti kkkkkkk………
    Knp ya Brazil bs terpilih utk dijadikan ajang pertandingan piala dunia? Klu gak mampu mengamankan kondisi buat para penontonnya, dan pemainnya jg……..
    Apakah ora nggarai geger klu sampai terjadi pembunuhan besar2-an, lo ya sapa tau???????

  6. Dewi Aichi  10 December, 2013 at 03:17

    Matahari, duh bener banget , kemarin Atlético Paranaense vs Vasco, supporternya gila..kriminal semua, orang satu diinjak-injak sama orang segitu banyaknya, brutal, itu akhirnya mati. Dari lapangan langsung dilarikan masuk ke helikopter, tapi sudah tidak bergerak sama sekali. Dan kejadian itu ada di beberapa bagian, yang luka-luka juga banyak. Sudah berkali-kali masyarakat Brasil pesimis dengan adanya piala dunia, Brasil sendiri tidak bisa mengamankan negaranya, gimana mau mengamankan Piala Dunia, dan ada berita yang baru saja tayang, beberapa wanita dan pria membuat website semacam menawarkan jasa seks, untuk tamu-tamu dari luar negeri, menjual wanita-wanita muda …sekarang sudah ditangkap. suami melarang aku melihat piala dunia langsung ke lapangan, padahal dekat, dengan Metro dan angkutan umum bus, ngga nyampe 30 menit, kalau pakai mobil sendiri ya lebih cepat, bisa 20 menit. Tapi sayang, kali ini ngga boleh, saya sih lihat dari segi positifnya saja, bahwa suami khawatir akan keselamatanku, toh dulu tahun 2002 aku diijinkan nonton di lapangan, yang saat itu anakku masih 2 tahun umurnya, karena memang keadaan aman. Di Brasil? Nooooooo…..lihat di tv saja dengan ndeprok, atau slonjor, atau sambil makan, santai, tidak usah ke mana-mana. Aura piala dunia sudah sangat kuat di Brasil. Pro kontra tentunya ya.

  7. Dewi Aichi  10 December, 2013 at 03:04

    Maaf Matahari, benar, maksudku bukan Irak, tapi Iran…he he he

  8. Matahari  10 December, 2013 at 02:50

    Oh Irak juga tidak menayangkan live pengundian Piala Dunia ? yang saya dengar di TV disini bukan Irak tapi Iran…Mudah mudahan saja Piala Dunia 2014 ini sukses..dan aman ….tidak rusuh seperti pertandingan sepak bola kemaren kalau tidak salah sampai suporters saling pukul…sudah jatuh masih diinjak injak…sampai helicopter harus datang ke tengah lapangan untuk menolong yang luka berat…bagaimanapun kejadian itu cukup membuat orang khawatir karena terjadi di Brasil yang tahun depan akan jadi tuan rumah.Suami saya bilang Brasil yang akan juara karena pemain pemain Eropa yang tangguh akan KO dihajar suhu di Brasil bulan Juni dan Juli yang mungkin panas terik…he he

  9. Dewi Aichi  10 December, 2013 at 02:09

    Matahari, wow…mengikuti juga ternyata ya…benar sekali, Irak tidak mau menayangkan saat Fernanda Lima ada di situ, banyak media yang memberitakan juga rupanya di Brasil, setelah beberapa jam acara selesai, media langsung ramai, bener-bener mencuri perhatian. Baju yang Fernanda Lima pakai itu disesuaikan dengan Warna emas Piala Dunia. jadi memang begitu beritanya, Irak tidak mau melihat Fernanda Lima, ha ha..suaminya Fernanda ada di dekatnya kok, waktu acara berlangsung,

  10. Dewi Aichi  10 December, 2013 at 02:05

    Lani…wah…memang aku tiap weekend biasanya ke gunung, di sana ada rumah yang bisa aku tempati tiap weekend, bukan rumahku, tapi rumahnya pakdhe hi hi…disana yang nginep beberapa keluarga biasanya, tempatnya masing2 tiap keluarga, jadi enak, trus kalau makan, kita ngumpul di dapur terbuka, yang dapurnya pernah aku tuliskan di baltyra itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.