Etika & Moralitas Pendidikan: Peluang dan Tantangan

Handoko Widagdo – Solo

 

Judul: Etika & Moralitas Pendidikan; Peluang dan Tantangan

Penulis: Prof. Dr. H. Syaiful Sagala, S.Sos., M.Pd.

Penerbit: Kencana

Tahun Terbit: November 2013

Tebal: xlviii + 347 hal

ISBN: 978-602-7985-46.9 174.937

etika-moralitas-pendidikan

Apa akibatnya jika anak-anak kita diajar oleh orang-orang yang tidak beretika? Apa jadinya jika guru-guru yang mengajar anak-anak kita disupervisi dan dikoordinir oleh para atasan yang juga tunaetika? Pastilah anak-anak kita akan tumbuh sebagai manusia tunaetika. Akibatnya negara akan rubuh. Kekhawatiran semacam ini sah adanya. Contoh-contoh tindakan yang mengingkari etika dalam pendidikan sudah sering kita baca di media masa. Contoh paling nyata adalah kecurangan masal yang dilakukan oleh Dinas/sekolah/guru supaya anak didiknya lulus dengan baik di Ujian Nasional. Contoh lainnya adalah pemilihan dan pemindahan kepala sekolah dan pengawas sekolah oleh bupati/walikota tanpa mempertimbangkan kompetensi mereka. Pemilihan dan pemindahankepala sekolah dan pengawas sekolah lebih didasari pada sentimen – like and dislike; yang lebih sering akibat dari politik lokal.

Masalah tunaetika dalam dunia pendidikan bukan saja menjadi masalah Indonesia. Masalah ini dialami di berbagai belahan dunia. Itulah sebabnya institusi sosial tertua kedua setelah perkawinan yang masih eksis ini pernah digugat oleh Eric Form, Paulo Freire dan Ivan Illich.

Saat ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mencanangkan pendidikan karakter sebagai salah satu komponen penting yang menjadi penekanan dalam sistem pendidikan di Indonesia. Apakah mungkin pendidikan karakter dilakukan oleh pihak-pihak yang hanya beretiket tetapi tidak beretika? Beretiket berarti bersopan-santun, sedangkan beretika berarti bertindak benar sesuai dengan tata nilai. Seseroang bisa beretiket (berperilaku santun) namun belum tentu dia beretika.

Syaiful Sagala membongkar masalah tunaetika dalam buku berjudul  “Etika & Moralitas PENDIDIKAN: Peluang dan Tantangan.” Dalam buku yang berisi 10 bab ini, Sagala menunjukkan bahaya dunia pendidikan Indonesia yang mulai cenderung beretiket daripada beretika. Penulis memberi contoh ketiadaan etika dalam segala lini pendidikan, mulai dari ruang kelas sampai ke kantor Pemerintah Daerah. Sagala juga menunjukkan dengan jelas bahaya-bahaya yang dihadapi sektor pendidikan akibat dari praktik tunaetika.

Pengalaman Syaiful Sagala sebagai pengajar, sebagai aktifis lapangan dan sebagai konsultan membuat kajian dalam buku ini bukan hanya teoritikal. Pengalaman-pengalaman praktis di lapangan, baik dari tingkat kelas, sekolah, dinas dan pemda sangat memperkaya isi buku ini. Kalau ada kekurangan dari buku ini adalah kurangnya ide supaya etika di dunia pendidikan bisa ditegakkan. Himbauan dan harapan supaya semua pihak yang berkecimpung di dunia pendidikan untuk serta-merta menjunjung etika adalah bagai codot merindukan bulan. Sagala bertamsil: “Keteladanan, komitmen, dan integritas pribadi yang tinggi dalam diri penentu kebijakan menjadi tolok ukur terpenuhinya etika dan moralitas pendidikan.” Tidak akan berhasil. Sebab keteladanan, komitmen dan integritas pribadi telah surut dari bangsa ini. Ataukah memang gagasan menegakkan etika di dunia pendidikan akan dijadikan seri kedua dari buku ini? Semoga.

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

20 Comments to "Etika & Moralitas Pendidikan: Peluang dan Tantangan"

  1. Chandra Sasadara  7 January, 2014 at 16:42

    sekolah tanpa etika, etika tanpa sekolah.. pilih yang kedua aja..

  2. Handoko Widagdo  12 December, 2013 at 08:20

    Tunaetika tidak hanya terjadi di ruang kelas, tetapi juga di jajaran yang lebih atas. Cobalah menganalisis jumlah guru dan kebutuhan guru yang sesungguhnya. Indonesia itu kelebihan 500.000 (lima ratus ribu) guru. Mereka ini dibayar negara. Apakah ini bukan salah satu bentuk tunaetika?

  3. J C  12 December, 2013 at 05:41

    Tunaetika pendidikan Indonesia sudah sangat parah, setuju dengan pak Hand! Guru-guru sekarang kalau ngajar di sekolah lebih mementingkan hasil nilai saja. Contoh guru matematika, mereka hanya “mengajarkan” jawaban, atau cara sampai ke jawaban pertanyaan, bukan mengajarkan proses dan memberikan pengertian kenapa jalan penyelesaian pertanyaan harus seperti ini atau seperti itu…

  4. Handoko Widagdo  10 December, 2013 at 13:49

    Hennie, kondisi tunaetika di dunia pendidikan memang sudah sangat parah. Silahkan baca buku Pak Sagala ini kalau mau tahu lebih detail kerusakan sektor pendidikan di Indonesia.

  5. Hennie Triana Oberst  10 December, 2013 at 13:46

    Mas Hand, sudah separah itukah tuna etika di dunia pendidikan Indonesia?

  6. Handoko Widagdo  10 December, 2013 at 06:55

    Mbak Dewi, pengajaran etika memang harus dimulai sejak dini. Cara yang paling ampuh adalah keteladanan. Namun sayang keteladanan sudah jauh api dari panggang di Indonesia saat ini.

  7. Handoko Widagdo  10 December, 2013 at 06:54

    Mbak Wesi dan Bu Elnino, makanya saya menantang penulisnya untuk menulis jilid dua yang fokus pada cara penanganan tunaetika di dunia pendidikan.

  8. elnino  10 December, 2013 at 06:17

    Sayang sekali ya, dg gelarnya yg berderat dan pengalamannya yg luas di lapangan tidak diikuti dg perumusan solusi yg praktis n applicable. Kalo sekedar himbauan normatif ya, balik maning..berhenti di sekedar wacana.

  9. Dewi Aichi  10 December, 2013 at 05:10

    kalau diaplikasikan ke dalam kehidupan bersosial misalnya gimana ya? kan bisa tuh, harus dipraktekkan saat dan pulang sekolah, sejak usia dini. Jadi dengan otomatis bisa menciptakan generasi bangsa yang tau etika dan moral.

  10. wesiati  9 December, 2013 at 19:19

    kalo ide untuk solusinya nggak ada ya buat apa?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.