Guru Gemblung (4): Sebuah Alasan

Wesiati Setyaningsih

 

Ketika anda mengatakan anda sudah ikhlas, harusnya anda segera mempersiapkan diri akan terjadinya peristiwa yang akan menguji keikhlasan anda. Karena begitu anda mengatakan “saya ikhlas”, pada saat itu juga alam semesta langsung merancang sebuah ujian yang akan membuat anda berpikir lagi, apakah anda sudah benar-benar ikhlas atau belum. Begitulah yang sebenarnya.

Selama satu semester saya menjadi wali kelas X-1, banyak sudah peristiwa yang harus saya hadapi. Sejak awal semester sudah ada anak yang mulai menampakkan kebiasaan bolos sekolah. Sepanjang semester, para guru mengeluh karena anak-anak di kelas ini suka ribut dan sulit diatur. Saya sebagai wali kelas kewalahan mengatur mereka. Apapun saya lakukan, dari menghukum mereka dengan tidak mengajar, sampai mengadakan ‘silent time’ di mana mereka tidak boleh bicara sepatah katapun dan hanya boleh duduk diam mengikuti aliran nafas. Dengan kata lain, saya paksa mereka untuk meditasi. Toh tidak ada satu carapun yang berhasil.

Belum lagi saya harus menghadapi anak yang tawuran dengan teman sekelasnya sendiri dan saya dipanggil ke Polsek. Saya mendapat kerepotan karena harus menangani mereka. Belum lagi setelah itu salah satu anak mengajak teman-temannya dari ormas untuk mendatangi Polsek keesokan harinya karena motornya ditahan beberapa hari di Polsek setelah dia tertangkap. Saat akan tawuran anak itu tidak sempat lari, lantas motornya ditahan sebagai hukuman. Dia tidak terima lantas mengadu pada teman-temannya dari ormas. Bersama teman-teman ormasnya dia mendatangi Polsek ramai-ramai. Gara-gara itu saya ikut kena semprot ibu polisi yang merespon berlebihan (lebay).

Kurang apa penderitaan saya coba? Saya sudah menghadapi banyak hal karena mereka. Saya tetap memenuhi kewajiban saya sebagaimana mestinya meski saya kesal pada mereka. Selama ini saya bilang, saya ikhlas. Tapi itulah kesalahan saya : merasa sudah ikhlas. Maka pada detik itu juga alam semesta seolah mempersiapkan ujian terbesar terhadap saya hingga saya menyadari, bahwa saya belum ikhlas-ikhlas amat. Peristiwanya justru terjadi ketika terima rapor. Saya sudah gembira karena setidaknya satu semester yang penuh derita karena selalu menghadapi anak-anak yang ribut di kelas, bolos, bermasalah dengan Polsek dan juga menerima keluhan dari guru-guru yang mengajar di kelas itu.

Hari pembagian rapor itu juga menjadi hari yang saya tunggu-tunggu karena setelah membagikan rapor saya akan ke Solo bertemu dengan Dewi Murni, pak Handoko dan teman-teman lain dari Baltyra. Siang itu karena anak-anak saya, Dila dan Izza mendapat ranking yang bagus di kelas, mereka meminta hadiah. Saya dan suami sepakat mengajak mereka makan siang di Pizza Hut dekat rumah sebelum saya berangkat ke Solo bersama Izza. Semua serba menggembirakan.

Anak-anak memesan makanan yang mereka inginkan, lalu foto-foto untuk dipasang di Facebook. Saya sudah berhenti makan karena kenyang, sedang memandangi anak-anak yang sedang menghabiskan makanan yang tinggal sedikit, ketika hape berdering dan nama kepala sekolah tertera di sana. Dengan agak kaget dan heran saya angkat, terdengar suara beliau yang bicara cepat, menanyakan nama satu anak di kelas saya.

“Bu Wesi walinya?” tanya Kepala Sekolah.

“Iya,” kata saya heran.

Ada apa gerangan?

“Kok saya ditelpon dinas katanya rapornya ditahan ya?”

Saya kaget sekali. Tidak ada ceritanya hari itu saya menahan rapor. Bahkan anak-anak yang hari itu orang tuanya tidak bisa datang mengambil rapor saja, rapornya saya berikan kepada anak yang bersangkutan, namun menunggu semua orang tua yang hadir sudah pulang.

Kepala Sekolah mengatakan bahwa beliau sudah menjelaskan pada Dinas Pendidikan Kota di mana kami semua para guru bernaung bahwa tidak ada guru sekolah kami yang menahan rapor dan konfirmasi ini akan beliau sampaikan lagi pada Kepala Dinas. Saya menutup telepon dengan gundah.

Hari itu saya sudah senang karena selain tugas sebagai guru sudah separuh jalan selesai, anak-anak saya menunjukkan prestasi yang baik, juga saya akan bertemu teman-teman Facebook saya dari Baltyra. Tapi tiba-tiba saya menerima fitnah yang menusuk hati seperti ini. Padahal saya merasa sudah melakukan yang terbaik. Keikhlasan saya benar-benar dipertanyakan dengan masalah ini.

Saya pulang ke rumah dan bergegas mengemasi baju untuk berangkat ke Solo dengan perasaan aneh luar biasa. Sambil menyiapkan ini itu saya mengirim sms pada salah seorang anak yang waktu pembagian rapor membantu menerima orang tua murid. Saya tanyakan apakah orang tua anak yang rapornya dikatakan saya tahan itu tadi datang.

Sebelum membagi rapor saya meminta orang tua yang belum membayar kewajiban administrasi menuju ruang guru lebih dulu untuk mendapat memo bahwa rapor anaknya bisa saya bagikan meski belum melunasi administrasi. Setelah itu mereka bisa masuk ke kelas lagi dan mengambil rapor anaknya. Tapi saya tidak merasa ada orang tua dari anak tersebut menghadap saya di kelas.

Dari murid yang saya sms itu dia mengatakan,

“Bundanya datang kok bu, tapi tadi pas disuruh ke ruang guru, beliau keluar. Habis itu enggak balik lagi.”

Saya menerima sms itu saat sedang menunggu bis menuju Solo. Segera saya sms kepala sekolah saya mengatakan tentang hal ini. Kepala Sekolah minta saya menanyakan nomor hape orang tua anak tadi. Dari murid saya itu saya tanyakan apakah dia punya nomor hape bunda temannya, karena dia cukup dekat dengan anak tersebut. Beruntung sekali murid saya itu punya dan dia kirim ke saya. Segera saya kirimkan nomor hape anak tadi kepada kepala sekolah dan beliau yang menelpon orang tua murid tadi.

Masalah selesai dan saya bisa tenang dalam perjalanan ke Solo. Tapi benak saya tidak bisa melepaskan begitu saja, karena ada sesuatu yang sangat mengganggu saya. Saya terus berpikir bahwa begitu teganya orang melaporkan saya ke Kepala Dinas, siapapun dia, tanpa menanyakan dulu kejadian yang sebenarnya seperti apa.

Sudah banyak yang saya lakukan untuk membimbing anak tersebut karena di kelas dia termasuk anak yang tidak mau berpartisipasi dengan baik, bahkan tugas-tugas dari saya sering dia abaikan. Kemarahan saya menumpuk karena setelah menghadapi anak-anak yang sulit di kelas ini, di akhir semester pertama saya harus menghadapi ‘pengkhianatan’ keji seperti ini. Air mata saya meleleh karena sakit hati.

Detik itu juga ada suara yang menggedor batin saya,

“Kalo ikhlas enggak pake sakit hati, dong.”

Saya tersentak. Kalau memang ikhlas, untuk apa sakit hati? Kecuali kalau memang saya tidak ikhlas melakukan ini semua. Akhirnya perlahan saya relakan apa yang telah terjadi pada saya. Pembagian rapor itu hari Sabtu. Karena masalah telah diluruskan, hari Senin ibu dari anak tersebut akan mengambil rapor. Meski sudah masuk hari libur, oleh Kepala Sekolah saya diminta tetap menemui beliau dan menyerahkan rapor pada beliau langsung. Saya setuju saja karena saya merasa wajib melayani beliau seperti saya melayani orang tua lain di hari Sabtu.

Di Solo saya akhirnya bertemu pak Han dan Dewi Murni. Pak Han menunjukkan buku yang sekiranya bisa menjadi contoh dari buku yang akan saya susun. Saya mendapat gambaran bagaimana buku saya harus saya susun, tapi satu hal, saya sudah punya alasan yang sangat kuat kenapa saya harus menulis buku.

Saya memang tidak bisa memahami alasan yang diberikan oleh pak Handoko untuk menulis buku : menginspirasi para guru. Tapi saya punya alasan lain yang menurut saya lebih kuat : agar para orang tua dan orang awam tahu bagaimana pekerjaan guru yang sebenarnya. Banyak tanggung jawab yang kami lakukan, tidak semata-mata menangani kertas-kertas sebagai benda mati, tapi anak-anak yang akan menjadi penerus bangsa. Dan lebih lagi, anak-anak ini adalah anak-anak mereka.

cover-buku-wesiati

Tapi nyatanya para orang tua ini sering kali tidak mau tahu perjuangan kami, para guru. Urusan pendidikan anak-anak mereka diserahkan begitu saja pada kami, para guru ini. Ketidakberesan pada anak-anak mereka adalah kesalahan kami. Di lain pihak, mereka sendiri sering mempelakukan kami para guru ini dengan seenaknya.

Alasan inilah yang menjadi titik tolak kenapa akhirnya saya tulis buku yang pertama kali saya tulis sendiri : Tersesat di Jalan yang Benar, hingga selesai.

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

11 Comments to "Guru Gemblung (4): Sebuah Alasan"

  1. Lani  12 December, 2013 at 06:29

    10 setuju bnaget sm lurah Baltyra………sdh berani punya anak, jd ortu ya hrs bertanggung jawab, mosok arep lempar tanggung jawab ke guru dan ke org lainnya……….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *