Rachmawati dan Film Bung Karno

Roso Daras

 

Note Redaksi:

Film ini akan premiere tanggal 11-12-13 (dua hari lagi)

 

Lantas mengapa menyoroti “perseteruan” Rachmawati Soekarnoputri dengan Multivision ihwal film Soekarno: Indonesia Merdeka? Ada dua alasan juga. Pertama, lelah ditanya-tanya teman. Kedua, saya sendiri sedang terlibat dalam produksi film “Ketika Bung di Ende“, produksi Kementerian Pendidikan Nasional.

Sejak mencuat perseteruan Rachma dan Multivision (Hanung Bramantyo di dalamnya), tak terhitung teman yang meminta komentar atau pendapat saya. Pendapat saya yang datar adalah, “Tidak semestinya hal itu terjadi. Siapa pun, terlebih anak Bung Karno, seharusnya berterima kasih kepada para pihak yang berkenan memfilmkan bapaknya.”

film-bk-dan-rachma

Atas jawaban itu, ada juga yang ingin memperpanjang dengan pernyataan, “Tapi bagaimana kalau pemerannya tidak cocok? Atau jalan ceritanya tidak benar?” Cocok atau tidak cocok, itu mutlak tanggung jawab kreatornya. Kalau cocok, tentu akan dipuji, kalau tidak cocok, kreatornya pasti akan menuai kritik. Biarkan saja. Akan halnya jalan cerita…. Jangankan film, buku-buku karangan profesor, doktor, dan penulis-penulis besar pun banyak yang tidak benar.

Bukan itu saja. Buku sejarah untuk anak-anak sekolah di Indonesia pun pernah diselewengkan. Ada yang menulis kelahiran Bung Karno di Blitar (padahal di Surabaya), ada yang menulis Bung Karno pengkhianat, dan lain sebagainya. Sikap saya (tentang hal itu) sudah jelas, “Bung Karno tidak akan lebih besar jika kita puja-puji, Bung Karno tidak akan lebih kecil kalau kita caci-maki”. Sejarah Bung Karno, seperti sejarah yang lain, akan mengalir menemukan jalan kebenarannya sendiri.

Karena itu, atas pertanyaan teman ihwal “perselisihan” Rachma dan Multivision, pernah juga terlontar jawaban saya, “Sikap Rachma tidak pantas sebagai anak seorang Sukarno!” Terlalu vulgarkah komentar itu? Biarkan saja. Anak Sukarno, toh tidak selalu benar. Anak Sukarno bisa juga khilaf. Anak Sukarno bisa saja keliru, dan anak Sukarno, bisa saja melakukan perbuatan kontroversi. Anak Sukarno, bisa saja melakukan hal-hal yang –seandainya masih hidup— membuat Bung Karno murka.

Bung Karno bukan saja “milik” anak-anak biologisnya. Bung Karno adalah milik bangsa. Setelah dijatuhkan secara biadab oleh Soeharto, disusul pelarangan semua ajaran Bung Karno, disusul praktik-praktik pemutar-balikan sejarah, dilengkapi gerakan-gerakan desukarnoisasi, mengakibatkan semua kebesaran Sukarno seolah tertutup awan tebal. Tiga dasawarsa, bangsa ini seperti dilarang membicarkaan Bung Karno (kecuali yang mendiskreditkan).

Ario Bayu (pemeran Bung Karno pilihan Hanung) adalah generasi yang “tidak tahu” siapa Bung Karno. Pernyataannya sebagai seorang yang bukan nasionalis, sontak membuat Rachma menolak. Rachma seperti lupa, bahwa casting bukanlah rekruitmen kader partai. Hanung tidak butuh aktor nasionalis tetapi tidak memenuhi kualifikasi pemeran Sukarno seperti yang ada dalam alam kreatifnya.

Rachma tidak pernah berhitung, sukses Ario Bayu memerankan tokoh Bung Karno, justru bisa menumbuhkan dan melahirkan ribuan, bahkan jutaan Sukarnois baru. Keberhasilan Ario Bayu melakonkan Bung Karno, bisa meninggikan derajat Bung Karno yang telah dikhianati oleh anak bangsanya sendiri. Masih banyak hal positif lain terkait Bung Karno dan nasionalisme yang akan tumbuh subur jika film ini sukses menyedot penonton. Jika itu terjadi, Rachma sudah seharusnya malu. Malu besar!!!

Satu lagi yang cukup mengganggu saya. Aksi mengembalikan uang dua ratus juta rupiah dalam pecahan sepuluh-ribu-an, kepada pihak Multivision.  Sungguh menggelikan. Entah apa yang ada dalam pikiran Rachma saat melakukan aksi itu. Mungkin jengkel karena “Bung Karno” idolanya, Anjasmara, ditolak Hanung. Mungkin juga ada alasan lain yang tidak dia ungkap kepada publik.

Bung Karno kita kenal sebagai manusia istimewa. Keistimewaannya terutama karena dia lebih mengutamakan rakyat dibanding diri-pribadi maupun keluarganya. Keistimewaannya terutama sekali karena dia begitu humanis. Keistimewaannya terutama pula karena dia tidak hanya berkawan dengan kaum nasionalis, tetapi juga berkawan dengan komunis, agamis, bahkan yang tak berpaham sekalipun.

Mengingat itu semua, saya merasa harus lebih bekerja keras untuk syiar Bung Karno. Terutama ketika perbuatan anaknya, setidaknya di mata saya, disadari atau tidak disadari, justru (dalam bahasa anak muda) “bukan Sukarno bangeeeets”….

Nah ihwal keterlibatan saya dalam proyek film Bung Karno yang lain, garapan Kementerian Pendidikan Nasional, ini juga alasan mengapa saya tertarik memposting tulisan ini. Dalam film non-komersial yang didanai APBN ini, judulnya Ketika Bung di Ende. Film yang hanya memotret sebuah fase dalam perjalanan hidup Bung Karno, yakni fase antara tahun 1934 – 1938 ketika ia dibuang ke Ende, Flores (Pulau Bunga).

Pemeran Bung Karno di film ini adalah aktor Baim Wong. Menurut saya, kondisi awalnya “lebih parah” dibanding Ario Bayu yang mengaku bukan nasionalis. Baim bahkan mengaku, (awalnya) dia adalah pengagum Soeharto!!! Setelah menerima peran itu, secara profesional dia mendalami Bung Karno, membaca buku-buku tentang Bung Karno, berdiskusi (salah satunya dengan saya) tentang Bung Karno…. apa kata Baim sekarang? “Tidak ada pemimpin Indonesia sehebat Bung Karno!”

Tentang film “Ketika Bung di Ende”, tunggu tanggal postingnya…. (roso daras)

 

Backlink: http://rosodaras.wordpress.com/2013/09/30/rachmawati-dan-film-bung-karno/

 

9 Comments to "Rachmawati dan Film Bung Karno"

  1. J C  12 December, 2013 at 05:37

    Anak-anakku sudah kepingin nonton ini…cukup bangga juga ternyata anak-anak memiliki kesadaran untuk memahami sejarah negeri sendiri…

  2. Dewi Aichi  10 December, 2013 at 05:23

    Bravo…tadi saya kira itu Tora Sudiro, ngga taunya Ario Bayu he he…dan saya sepakat dengan pak Anwari “jangan sampai saya menukarnya menjadi Canadian Citizen”…sayapun tak akan menukar menjadi Brazilian Citizen…hehehehehe…..

  3. Handoko Widagdo  9 December, 2013 at 21:25

    Terima kasih untuk tambahan informasinya. Saya jadi lebih paham persoalan ini.

  4. Anwari Doel Arnowo  9 December, 2013 at 20:28

    Banyak tulisan saya mengenai Boeng Karno yang bisa membuat orang mengatakan saya adala Soekarnois. Dia itu (Koesno adalah nama asli Soekarno) adalah teman ayah saya, Doel Arnowo, sejak belia. Seperti saya ungkapkan di dalam tulisan-tulisan saya itu, saya menganut ungkapan bahwa HISTORY itu menggunakan satu huruf S, bukan dua seperti HISSTORY, kan jadinya His Story.. Cara seperti ini membuat sejarag menjadi seperti apa adanya.
    Saya bukan Soekarnois, tetapi warga negara Indonesia, sejak Repoeblik, Repoeblik Indonesia Serikat sampai Negara Kesatuan Republik Indonesia,
    Semoga akan tetap seperti itu adanya, jangan sampai saya menukarnya menjadi Canadian Citizen, apalagi saya akan mengenakan Kafiyyeh (?)
    Salam,
    Anwari Doel Arnowo 2013/12/09

  5. elnino  9 December, 2013 at 18:56

    Setuju seratus persen dengan pendapat pak Roso Daras. Bung Karno bukan hanya milik anak2 biologisnya jadi tidak semestinya segala hal yg berkaitan dg upaya menghidupkan semangat nasionalisme dicampuri atau direcoki.

  6. ariffani  9 December, 2013 at 17:00

    nasionalis atau tidak nasionalis tidak ada hubungannya dgn sebuah peran. tak perlu menjadi orang indonesia untuk cinta indonesia, jd tak perlu seorang nasionalis utk menjadi bung karno.

  7. djasMerahputih  9 December, 2013 at 13:34

    Logika politik apalagi logika fulus tak akan pernah bertemu dengan logika seni.

    Salam Joeang,
    //djasMerahputih

  8. Osa KI  9 December, 2013 at 12:45

    Saya juga termasuk yang malu dengan sikap Bu Rachmawati. Dunia sudah berubah, biarkan sejarah dipegang anak muda dan akan lahir anak-anak muda yang berjiwa Sukarno. Lewat caranya masing-masing

  9. Lani  9 December, 2013 at 09:03

    Bravo!

Terima kasih sudah membaca dan berkomentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Current ye@r *

Image (JPEG, max 50KB, please)