Media Sosial dan Saya

Linda Cheang

 

Salam kepada para pembaca Baltyra di mana saja. Kiranya tulisan saya ini menjumpai Anda semua dalam keadaan sehat.

Gara-gara BlackBerry Mesenger, saya jadi ingin menulis tentang media sosial itu dan media sosial yang lain yang juga saya gunakan sekarang ini secara intensif. Selanjutnya media sosial akan saya sebut sebagai medsos dan BlackBerry Meseenger akan disebut sebagai BBM.

Saya masih merupakan pemain baru, istilahnya newbie atau newcomer untuk penggunaan BBM, sejak akhir November lalu ketika saya memutuskan melengkapi diri dengan sebuah gajet berteknologi Android, yang bisa mendukung kelancaran pekerjaan dan bisnis saya. Sebuah gajet yang harganya di bawah Rp 1 jutaan saja, namun sudah dilengkapi beberpa perangkat lunak yang menolong saya seperti kemampuan akses ke internet untuk surat elektronik (surel alias e-mail), kamera lengkap dengan fasilitas untuk edit gambar, dan pada akhirnya untuk kelancaran bisnis (baca: kelancaran pemasukan pendapatan),  saya pasang juga medsos di luar Facebook  seperti BBM, WhatsApp (selanjutnya disebut WA),  dan akhirnya ada juga Viber dan LINE, lebih karena terpaksa dan dipaksa. Dua nama medsos terakhir itu saya gunakan supaya bisa kontak komunikasi suara secara gratis ke sesama pengguna medsos tsb, sepanjang ada koneksi nirkabel atau lewat pemakaian pulsa dari paket data tak terbatas alias unlimited per bulannya, dengan tujuan akhirnya adalah menghemat biaya pengeluaran.

Melalui artikel ini, saya ingin berbagi kisah saya sendiri  ketika bersentuhan dengan medsos bernama BBM dan kawan-kawannya.

Sejak sebelum memasang BBM di gajet Android yang saya miliki, saya memang tidak pernah suka dengan medsos BBM ini. Saat itu BBM hanya bisa digunakan oleh pengguna gajet BlackBerry alias BB, dan  sayapun tidak pernah bisa suka dengan gajet BB yang kecil mungil tsb, karena saat itu sedang booming tipe BB yang Gemini dan Bold, sebelum akhinya keluar seri yang lebih baik. Penyebabnya, beberapa perilaku teman saya  yang di luar kesadarannya, telah tega menjadikan saya korban mereka, ketika mereka mendadak jadi penyandang autisme ketika sedang bersama saya.  Hal itu benar-benar membuat saya sempat trauma dan berharap kelak BBM bisa dihilangkan sekalian saja, karena ada medsos lain yang lebih baik daripada BBM, atau BBM tsb bisa digunakan di gajet yang non BB. Akhirnya saya menemukan WA dan akhirnya pula BBM bisa dipasang di perangkat gajet non BB.

social-media-wordle

Benar, saya memang sempat jadi orang yang naif. Saya berpikir tanpa BBM, toh, sudah ada telepon, layanan pesan singkat (SMS) dan surel, serta Pesan masuk di Facebook Meseenger,  sudah bisa melakukan pekerjaan dan cari duit, tetapi pada perkembangannya, lebih banyak klien saya yang menghendaki komunikasi dilakukan lewat BBM atau WA, supaya lebih cepat ketika melakukan eksekusi atas keputusan yang diambil. Selain itu toh, saya sudah punya Yahoo Messenger, Skype, GTalk dan MSN.  Namun yang terjadi adalah, ketika saya sudah terima pesan dari SMS dan medsos lainnya tsb,  dan kegiatan seputaran komunikasi transaksi dilakukan lewat surel, ternyata bagi sebagian besar klien saya, waktu eksekusinya masih terlalu lama dan akhirnya yang terjadi adalah selain pulsa saya habis untuk telepon dan SMS,  transaksi lebih sering tidak terjadi. Artinya, boro-boro dapat  uang masuk, uang yang ada malah tergerus habis.

Situasi dan keadaan serta keperluanlah yang membuat saya terpaksa dan dipaksa untuk berdamai dengan BBM diikuti dengan Viber dan LINE. Sebenarnya saya lebih menyukai WA dan karena saya memang tetap tidak suka gajet BB, pada akhirnya gajet Android saya bisa pula dipasangi BBM.

Sejak ada BBM, saya banyak mendapatkan pengalaman menarik seputar BBM. Saya baru tahu istilah BC alias Broadcast, yaitu menyebarkan berita ke sesama pengguna BBM. Saya juga mengamati ada beberapa kawan cowok, yang sebelumnya tidak punya akun BBM, setelah dipasang di gajet Androidnya, mendadak mereka menjadi “lebih bawel daripada cewek”. Sebabnya, hampir setiap hal yang dialaminya, mereka cantumkan sebagai status di akun BBMnya. Pernah sehari sampai hampir mencapai 10 kali beberapa orang di antara mereka ganti status. Belum lagi ganti gambar profil (PP alias Profile Picture) dalam seminggu,  mungkin ada puluhan kali.

Kawan-kawan yang lainnya ada yang menjadikan BBM menjadi media berjualan. Melalui rajinnya mereka berganti PP dengan barang jualan dan ganti status, saya jadi bisa mengikuti perkembangan terbaru produk-produk mereka. Ya, hal itu tidak membuat saya terganggu asalkan mereka tidak berpromosi jualan dengan cara sering mengirim BC. Saya sendiri lebih memilih menulisi status BBM saya dengan promosi dan alamat blog jualan saya. Sehingga klien yang memerlukan informasi, silakan kunjungi blog jualan saya saja, baru untuk bertanya lebih lanjut dan eksekusi transaksi, boleh hubungi saya lewat BBM dan/atau medsos lainnya.

Ada lagi pengalaman menarik ketika saya menerima permintaan untuk masuk ke sebuah grup jualan. Sejatinya kalau mau berjualan, ya, yang disebarkan adalah info dan komunikasi seputaran barang jualan serta komunikasi untuk tercapainya deal transaksi. Barang yang dijual adalah tas dan  sepatu bermerek  terkenal yang tembakannya alias bajakannya alias KW sekian. Pada akhirnya saya memilih keluar dari grup tsb karena tidak tahan dengan suara kentrang-kentrung BBM masuk terus-terusan dari  obrolan para anggota lain, yang tidak berhubungan sekali dengan jualan atau transaksi. Lebih banyak ke heureuy,  bercanda yang nggak ada tujuannya, bahkan cenderung vulgar. Toh, kalau saya mau tanya barang jualannya, saya bisa kontak ke akun BBM si adminnya grup secara pribadi.

Ada juga kawan yang rajin melakukan PING,  tetapi ujung-ujungnya hanya untuk ngajak ngobrol ngalor-ngidul yang tidak ada tujuannya. Kalau sudah begitu biasanya saya biarkan, tidak saya tanggapi dan pesannya saya hapus. Belum lagi ada pengguna BBM yang langsung BC (broadcast) saja berita-berita yang sayangnya kebanyakan berupa berita tidak akurat alias hoax. Saya tidak membiasakan diri saya langsung ikut-ikutan BC tanpa saya periksa dulu keakuratan isi beritanya. Lebih sering saya hapus begitu saya yakin dan benar,  isi BC-nya berupa hoax. Sangat disayangkan saja zaman sudah canggih begini, sudah gunakan ponsel pintar pula tapi masih saja ada pengguna ponsel yang langsung sebarkan hoax tanpa diperiksa lagi.

Tentu supaya adil, saya juga bagikan sisi positifnya punya akun BBM. Urusan komunikasi transaksi dengan klien berjalan cepat dan lebih lancar jaya. Uang masuk juga lancar, para rekanan dan klien puas karena pelayanan yang cepat tepat, serta bisa bertukar informasi dengan teman atau kolega yang saya bantu. Pun bisa bertukar kabar dengan para anggota keluarga, kerabat,  kawan-kawan dan para sahabat. Saya juga mengelola sebuah grup rekan sekerja pelayanan  gereja, untuk memuat berita dan informasi apapun mengenai gereja tempat saya beribadah.  Saya juga ikut anggota sebuah grup dari para sejawat dan eks sejawat di kantor tempat saya kerja dulu, supaya di antara kami bisa saling terus berbagi  kabar. Kemudian saya juga diuntungkan dengan komunikasi BBM dari beberapa komunitas yang saya ikuti, berbagi informasi tentang  kegiatan yang akan dilakukan bersama para kawan sekomunitas. Namun untuk kegiatan traksaksi bisnis, selama ini jauh lebih banyak lewat WA daripada BBM.

Mengingat pengalaman trauma saya dengan BBM, walaupun saya sudah berdamai dengan BBM, saya bertekad tuntuk tidak menjadikan teman-teman saya menjadi korban ketika saya sedang ber-BBM atau menggunakan medsos lainnya. Sayalah yang menguasai akun BBM, bukan saya yang dikuasai oleh BBM. Jika saya sedang bersama teman-teman, berkumpul menghabiskan waktu bersama dan ada komunikasi transaksi masuk lewat BBM atau WA dan medos lainnya, yang harus saya selesaikan segera, saya usahakan untuk berbicara minta izin dulu kepada teman-teman saya untuk menjawab pesan yang masuk. Dengan cara ini saya menghargai teman-teman saya, khususnya karena masih ada beberapa teman yang tidak mengunakan gajet canggih, yang ponselnya masih sekedar untuk bertelepon dan berkirim SMS. Sejauh ini, sudah berjalan baik. Harapkan seterusnya akan terus berjalan baik adanya.

Walaupun sudah bisa BBM-an, saya masih senang menerima komunikasi yang dijalani lewat telepon,  SMS, surel bahkan ada klien yang lebih suka lewat lewat faksimili. Saya menikmati benar ketika dengarkan suara klien dengan bermacam-macam intonasi, logat dan ekspresinya. Saya menyukai saat-saat  membaca dan menikmati tulisan tangan yang tertera pada lembaran kertas termal faksimili dengan segala macam bentuknya. Adanya BBM dan teman-temannya, tidak boleh membuat saya melupakan cara-cara yang lebih jadoel dalam melakukan komunikasi.

Hand holding a Social Media 3d Sphere

BBM dan medsos lainnya adalah produk dari kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Memang, berkat perkembangan pesat TIK,  bisa memudahkan kita berkomunikasi dengan lebih mangkus dan  sangkil (efektif dan efisien) serta bisa berhemat. Kita patut bersyukur akan adanya kemudahan dalam hidup kita dengan adanya perkembangan TIK yang semakin dahsyat, namun di sisi lain, kemajuan TIK juga merupakan pedang bermata dua, yang jika dipakai secara tidak tepat guna, malah justru dapat mencelakakan penggunanya.

Mari kita  semua jadi penguna TIK yang bijak.

 

Salam.

Bandung, 6 Desember 2013

Linda Cheang

 

About Linda Cheang

Seorang perempuan biasa asal Bandung, suka menulis tentang tema apa saja, senang membaca, jalan-jalan, menjelajah dan makan-makan. Berlatar pendidikan sains, berminat pada fotografi, seni, budaya, sastra dan filsafat

My Facebook Arsip Artikel Website

28 Comments to "Media Sosial dan Saya"

  1. anoew  24 December, 2013 at 16:16

    Iya ya. Telponnya juga nggak aktif. Yaah batal deh mau dapet orderan hijab. Lumayan lho, buat di kantor. Tapi sudahlah, itu wis diambil orang.

  2. Linda Cheang  19 December, 2013 at 18:22

    Kang Anoew nah, orang yang kau sebut itu, udah entah ke mana kabarnya.

  3. anoew  19 December, 2013 at 14:04

    Saya termasuk golongan santai dalam ber-medsoc kecuali, membalas telepon yang masuk. Sama dengan Buto, hampir teman baltyrans tau kalau aku soantai di dunia itu. Ada notif FB masuk, ya biarkan saja toh tak harus dibalas buru-buru. Ada chat BBM bahkan sampai nge-PING, ya biarkan saja kalau memang belum sempat.

    Satu yang bikin risau, kalau low-bat dan jauh dari sumber listrik, apalagi Nyi EQ yang sering memfasilitasi dengan powerbank kebetulan kelupaan bawa

    Lind, betewe juragan Kerudung Naja ke mana ya?

  4. Linda Cheang  13 December, 2013 at 06:28

    JC aku sudah berikan tanggapanku mengenai “penyandang autisme” tsb. Setuju atau tidak setuju, istilah itu juga muncul, karena perilaku negatif para pengguna BBM juga.

    Aku gunakan BBM saat ini lebih untuk mengakomodasi klien dan komunikasi penting. Tidak semua ajakan grup aku penuhi dan bahkan aku sudah Del Con beberapa orang yang menurutku, tidak perlu kuteruskan lagi pertemanannya lewat BBM, karena sudah berperilaku negatif. So, aku santai, juga, lah.

    Btw, saat nulis ini, aku tidak ada dalam BBM Grup Baltyra, ya

  5. J C  12 December, 2013 at 22:38

    Setuju Phie, aku kurang nyaman dengan “penyandang autisme”, makanya aku tidak pernah pakai istilah ini. Aku lebih suka pakai istilah: “serasa dilem/dijahit/diobras di telapak tangan tuh handphone’nya”

    Linda, no worries about typo error. Rasanya bukan saatnya lagi sibuk dengan typo error atau ejaan atau tata bahasa. Kalau kita terobsesi dengan hal-hal seperti itu, secara tidak langsung atau tidak sadar, hal-hal yang lebih esensial dan hakiki jadi tersisihkan. Mari kita fokus ke isi artikel, isi tulisan, jangan terpaku pada hal-hal seperti itu.

    Soc-med? Semua di Baltyra juga pada tahu, aku paling santai dengan FB, tidak ada FB di semua gadget’ku, BBM sudah pengguna dari dulu, tapi aku santai saja, hampir semua Group BBM aku tolak, terserah dibilang sombong atau bagaimana. Group sekolah anak, group kelas anak,, group alumni SMP, SMA, univ, semua aku tolak, kecuali Group Baltyra… Ada yang kirim message, aku santai saja, pas baca dan pas sempat kita tanggapi/balas. Apa bedanya BBM/WA/Line/WeChat dengan SMS biasa? Duluuuu sebelum ada real-time messaging kita hanya ada SMS, apa pengirimnya juga tahu apakah kita sudah baca atau belum. Sekarang di BBM ada tanda “R” so what? Kalau memang bisa dibalas ya dibalas, kalau tidak santai saja kalau aku…

  6. Linda Cheang  12 December, 2013 at 20:02

    Pak Hand wah, kalau maunya Pak Hand kayak gitu, harus tanya ke pembuat Star Trek, bagaimana membuat teknologi teletransporter…

  7. Handoko Widagdo  12 December, 2013 at 19:57

    Bukan gantungan baju. Soalnya aku kan sering bepergian. Jadi aku bisa minta dikirimi baju baru dari rumah lewat gadget.

  8. Linda Cheang  12 December, 2013 at 19:33

    Pak Hand maksude gantungan baju,?

    elnino/b> ketika tahu cara memanfaatkan BBM sebagai produk dari kemajuan TIK, memang amat mendatangkan keuntungan. Hal yang aku nggak ngerti itu adalah, banyak orang yang gunakan BBMnya untuk chat sembarang waktu karena kurang kerjaan.

    Indah Noing ya, sebenarnya Indonesia nggak kekurangan orang pintar para ahli TIK untuk buat aplikasi yang hebat mengakomodasi semua keperluan.

    Beteweh, dikau salah kasih gambar, ya? hahaha…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.