Perjalananku napak tilas di Bogor

Wiwit Sri Arianti

 

Hari ini, tanggal 17 Maret 2013 merupakan hari bersejarah dalam hidupku, karena hari ini genap 25 tahun aku menjalani kehidupan dalam suatu mahligai ikatan janji suci sehidup semati bersama kekasih hati, orang lain menyebutnya sebagai “perkawinan perak” he he he…  Rencana semula kami akan pergi ke pulau seribu, lokasi yang dikenal indah dan tidak terlalu jauh dari Jakarta. Namun berubah jadi ke Bogor, kota tempat kami mengawali hari-hari indah di awal pernikahan.

Kami sepakat melakukan perjalanan ini dengan berkendaraan umum sambil nostalgia jalanan yang pernah kami lewati selama tiga tahun lebih menjadi warga penduduk Bogor. Perjalanan menuju Bogor kami awali dengan naik kereta commuter dari stasiun Tebet. Setelah mendapat tiket dan kereta datang, kami berdua  memilih tempat pada gerbong tengah karena gerbong paling depan dan paling belakang khusus untuk wanita.  Saya senang dan sangat setuju dengan kebijakan ada gerbong khusus wanita dalam kereta, hal ini dapat meminimalisir kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh para lelaki iseng dan tidak bertanggung jawab.

Kami memilih naik kereta yang ada AC-nya, kereta ini kondisinya jauh lebih baik dan lebih bersih, beda banget dengan kereta ekonomi yang panas tanpa AC dan penumpang berdesakan gak karuan. Hari ini kami beruntung karena kereta tidak penuh penumpang sehingga terasa nyaman dan dapat menikmati perjalanan. Perjalanan dari Jakarta (Tebet) ke Bogor terasa singkat karena tidak sampai 60 menit, kereta sudah memasuki kota Bogor. Inilah stasiun kereta api Bogor yang dibangun pada tahun 1881 terlihat masih kokoh.

napaktilasbogor (1)

Setelah turun dari kereta narsis dulu ah…., aku berpose di dekat kereta yang baru saja mengantar perjalanan kami ke kota penuh kenangan.  Selain keretanya yang bersih dan nyaman, ternyata stasiun Bogor juga sudah berubah lebih baik, lihatlah di peron ini terlihat bersih dan penumpang turun dengan tertib, jauh dari kesan kumuh. Sungguh perubahan yang sangat menggembirakan dan membuat kami para penumpang merasa nyaman dan aman.

napaktilasbogor (2)

Dari stasiun Bogor kami naik angkot atau angkutan kota sejenis colt kecil berwarna hijau, yang menjadi transportasi andalan dan mengantarku berangkat dan pulang kerja serta kemanapun aku pergi menjelajahi kota Bogor.  Ternyata Bogor sudah sama dengan Jakarta, Surabaya dan kota-kota besar lainnya di Indonesia, terutama situasi lalu lintas, jalanan macet dan sepertinya angkot semakin banyak sehingga macet di mana-mana.

Dari stasiun Bogor kami bergerak menuju Kebun Raya  bersama penumpang lain, berdesakan dan panas, sudah pasti namun kami menikmatinya. Tiba-tiba telingga menjadi akrab lagi dengan bahasa Sunda penumpang di dalam angkot dan mamang penjual makanan yang berjejer sepanjang jalan menuju Kebun Raya Bogor, serasa jadi penduduk Bogor. Suasana ini masih sama seperti puluhan tahun yang lalu, macet dan bising dengan suara klakson dari pengendara yang tidak sabar ingin segera menjalankan kendaraannya, padahal situasi jalanan padat.

Perjalanan dari stasiun menuju Kebun Raya terasa lama karena jalanan yang macet dan kami turun di depan pintu masuk Kebun Raya, persis di depan pasar Bogor. Pada awal kehidupan pernikahan kami, Kebun Raya Bogor menjadi tempat kami beroleh raga setiap minggu 2 kali diawali dengan lari keliling Kebun Raya 2 atau 3 kali putaran.  Sehingga kami cukup mengenal banyak karyawan kebun raya mulai dari kepalanya, staf administrasi, dll sampai dengan  tim kebun yang bertugas mengurus tanaman supaya tetap hidup dan tumbuh dengan baik. Bahkan pada hari minggu, kepala kebun raya, keluarga dan banyak karyawannya yang ikut olah raga bersama kami . Karena hubungan baik itu kami pernah mengajak ratusan anak  dari keluarga yang kurang beruntung (miskin) di Kota Bogor untuk rekreasi di kebun raya dengan gratis. Jadi intinya, kebun raya merupakan salah satu tempat yang istimewa buat kami. Sehingga itulah kenapa kami memilih Kebun Raya Bogor sebagai tempat  yang kami pilih untuk mensyukuri 25 tahun usia pernikahan kami. Inilah foto lelaki yang telah setia mendampingiku selama 25 tahun bernarsis ria di samping pintu masuk Kebun Raya yang menjadi pusat konservasi tumbuhan.

napaktilasbogor (3)

Kebun Raya Bogor didirikan pada tanggal 18 Mei 1817 oleh seorang Botanis asal Jerman yang bernama Prof. Dr. C. G. C. Reinwardt. Awal pendirian kebun raya yang luasnya 87 hektar ini untuk melakukan penelitian manfaat berbagai tumbuhan serta koleksi tanaman yang bernilai ekonomi yang berasal dari kawasan Indonesia dan manca Negara.

Dari sekitar 50 jenis tumbuhan yang berhasil diintroduksi di Kebun Raya Bogor. Salah satu tanaman yang kini berkembang menjadi ekspor utama Indonesia yaitu Kelapa Sawit atau Elaesis guinnensis. Jenis tumbuhan asal Afrika Barat ini untuk pertama kalinya didatangkan ke Indonesia dan ditanam di Kebun Raya Bogor pada tahun 1814 kemudian menjadi induk bagi kelapa sawit yang tersebar di berbagai pelosok perkebunan di Asia Tenggara.

Di kebun raya ini kira-kira terdapat 20.000 jenis tanaman, yang terdiri dari berbagai macam tanaman dari dalam maupun luar negeri, termasuk anggrek dan kaktus. Kebun ini juga dilengkapi dengan perpustakaan, laboratorium, dan Museum Zoologi.  Di dalam kebun ini kita juga dapat melihat bunga raksasa yang terkenal dengan sebutan bunga bangkai (Amorphophalus Titanum Beccari) karena memang menebarkan aroma bangkai yang ditanam pada tahun 1912 sebanyak 11 pohon, berasal dari hutan Sumatera dan ditemukan oleh ahli Botani dari Italia bernama Beccari. Sayang sekali saat kami datang tidak ada satupun bunga bangkai yang mekar.

Kita tidak perlu khawatir tersesat atau bingung untuk menjelajahi setiap sudut yang indah dalam kebun raya ini karena  kita dapat membaca dulu papan pengumuman yang berisi tentang  informasi umum terdiri dari denah kebun raya, fasilitas apa saja yang ada di kebun raya, tempat-tempat menarik dan koleksi tanaman yang ada di kebun raya. Seperti foto di bawah ini:

napaktilasbogor (4)

Setelah masuk lebih dalam, kita juga dapat menemukan petunjuk  di setiap perempatan jalan yang dapat memandu arah perjalanan kita, seperti papan petunjuk jalan seperti dalam foto di bawah ini.

napaktilasbogor (5)

Salah satu tempat yang tidak akan kulewatkan ketika mengunjungi Kebun Raya Bogor adalah sebuah pendopo dengan tiang merah putih yang sejuk di depannya ada satu tugu Pancasila dengan tulisan “Tetenger, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia”. Maka di depan pendopo juga aku berfoto untuk mengenang semangat dan perjuangan Bung Karno, tokoh dan pahlawan yang sangat kukagumi. Entah benar atau tidak, sewaktu aku masih sekolah di SMP, suatu malam aku bermimpi bertemu dengan Bung Karno dan diajak pergi naik pesawat katanya mau disekolahkan. Belum sampai berangkat dan aku juga belum sempat bertanya pada beliau mau diajak kemana, aku terbangun dan rasanya menyesal  kenapa tidak sempat bertanya.

Ketika mimpi itu aku ceritakan pada Eyang putri, beliau mengatakan bahwa itu pertanda baik, dan aku akan mendapatkan anugrah dari Tuhan Yang Maha Esa. Setelah itu berhari-hari pikiranku sibuk menerka-nerka kira-kira anugrah apa yang akan aku terima ya? Entah  kenapa aku percaya betul dengan apa yang dikatakan oleh Eyang putriku tentang anugrah yang akan aku terima. Tahayulkah menurut teman2 pembaca?  Bagiku bukan, aku percaya dengan Eyang putri karena beliau itu orang yang sangat baik dan tulus kepada siapapun dan aku percaya orang yang memiliki sifat seperti Eyang putri itu pasti memiliki “ketajaman rohani”  karena selalu berpikir positif sehingga jiwanya “bersih”. Dengan demikian, menurutku Eyang putri mampu menangkap pesan Tuhan yang orang lain mungkin tidak bisa menangkapnya.

Singkat cerita, apa yang aku percayai itu terbukti, karena tidak terlalu lama setelah mimpiku itu aku terpilih menjadi Ketua OSIS, aku juga terpilih sebagai pelajar teladan dan menjadi salah satu pasukan pengibar bendera  tingkat propinsi Jawa Timur. Dan masih sekolah di SMP, pada tahun 1977 aku juga terpilih sebagai peserta Jambore Nasional di Sibolangit mewakili Jawa Timur dari Karesidenan Malang. Memang pada masa aku di SMP itu sungguh-sungguh masa yang sangat membahagiakan. Apalagi setelah pulang dari jambore, aku bersama satu teman namanya Lutfi dari SMP lain setiap minggu diundang untuk datang ke Perkemahan Sabtu Minggu (PERSAMI) di hampir setiap kecamatan di kabupaten Malang untuk berbagi pengalaman tentang Jambore Nasional dan memotivasi teman-teman penggalang lain untuk rajin latihan Pramuka supaya mereka juga mempunyai kesempatan dikirim ke Jambore yang akan datang. Hehehe….betul kan  apa yang Eyang putri katakana tentang anugrah itu? “believe or not”.

napaktilasbogor (6)

Kita kembali ke isi kebun raya, di salah satu lokasi juga dapat kita temukan kolam teratai yang indah dan menyejukkan dengan bunga teratai jenis besar berwarna putih dan pink, sayang waktu kami datang bunga teratai belum ada yang mekar penuh sehingga belum sempurna keindahannya. Kita bisa duduk di tepi kolam di bawah pohon yang rindang untuk menikmati keindahan bunga teratai sepuasnya.

Setiap  melihat bunga teratai selalu mengingatkanku pada sekolahku di Sekolah Menengah Pekerjaan Sosial (SMPS) Tarakanita di Jogjakarta, seorang biarawati yang menjadi Kepala Sekolah namanya Sr. Theresella orang yang sangat berjasa menempa kami murid-murid menjadi seorang pekerja social. Suster selalu mengatakan bahwa seorang pekerja social itu ibarat bunga teratai, meskipun tempatnya di dalam lumpur tapi tetap terpancar keindahannya.

napaktilasbogor (7)

Di dalam Kebun Raya ini juga dapat kita kunjungi rumah anggrek, tempat koleksi dan budidaya anggrek. Kebetulan saat kami datang sedang ada pameran berbagai jenis koleksi dan budidaya tanaman termasuk bunga anggrek. Sehingga akupun tidak melewatkan momen yang spesial di hari spesial ini dengan bernarsis ria di antara berbagai jenis bunga anggrek yang cantik sambil membayangkan diriku secantik bunga anggrek wkwkwk…..

napaktilasbogor (8)

Derasnya air sungai yang membelah di tengah Kebun Raya Bogor juga menjadi pesona tersendiri dan kita bida melintas di atas sungai tersebut dengan menggunakan jembatan gantung yang berwarna merah. Ada banyak pengunjung yang melintasai jembatan tersebut, beberapa remaja terlihat asyik berphoto ria, sementara sebagian lain menyeberanginya. Tak terkecuali juga beberapa orang dewasa dan tua, yang menunggu antrian untuk menyeberang atau sekedar berphoto dengan latar belakang jembatan itu. Maklum, kapasitas jembatan itu hanya bisa untuk 15 orang dalam sekali waktu sehingga kelebihan harus mengantri. Demikian juga suamiku tercinta juga tidak ketinggalan ikut berpose di atas jembatan.

napaktilasbogor (9)

Bagi kita yang muslim, juga tersedia sebuah masjid  dengan air wudlu yang dingin menyegarkan di dalam lokasi kebun raya dan ada seorang muadzin yang merupakan pengurus masjid tersebut selalu siap mengumandangkan adzan setiap kali tiba waktunya shalat.  Ketika terdengar suara adzan, para pengunjung pun mulai berdatangan untuk melaksanakan sholat berjamaah.

napaktilasbogor (10)

Kebun Raya ini juga terletak bersebelahan dengan Istana Presiden yang indah dan asri. Dari seberang kebun raya kita juga dapat menikmati istana tersebut.  Inilah foto Istana Bogor dilihat dari dalam Kebun Raya, tempat dimana Presiden beristirahat ketika sedang berkunjung ke Bogor. Tempat yang indah, bersih dan sejuk dengan hamparan rumput menghijau.

napaktilasbogor (11)

Dari semua keindahan yang dapat kita nikmati kebun raya, ada satu hal yang mengecewakanku adalah dibolehkannya mobil masuk dan berkeliling kebun raya seperti foto di bawah ini. Menurutku hal ini sangat mengganggu kenyamanan pengunjung dalam menikmati indahnya kebun raya, selain bising juga asap knalpotnya sangat mengganggu. Selain itu juga sangat berbahaya bagi anak-anak yang sedang bermain dan berlarian, waktu itu sempat ada anak kecil yang hampir tertabrak karena sedang bermain kejaran dengan teman-temannya tiba-tiba nyelonong mobil dari arah yang berlawanan.

Menurutku, lebih baik memperbanyak sepeda yang bisa disewa oleh pengunjung untuk berkeliling menikmati seluruh sudut menarik dan koleksi tanaman di kebun raya.  Bersepeda  sama dengan berolah raga yang dapat menyehatkan badan dan tidak menimbulkan polusi udara.  Semoga ada yang sempat membaca tulisan ini dan ikut menyampaikannya kepada piak yang terkait sehingga dapat memberikan alternatif lain untuk mengelilingi kebun raya selain kendaraan yang berpolusi.

napaktilasbogor (12)

Selain menikmati perjalanan dengan commuter yang bersih dan sejuk, berdesakan di angkot warna hijau yang panas, bisingnya klakson mobil yang macet mengantri jalanan, kami juga menikmati “soto mie” makanan khas kota Bogor. Satu porsi soto mie berisi daging sandung lamur, mie kuning, bihun, risol, irisan kol, dilengkapi dengan irisan tomat, emping mlinjo dan bawang goreng, hmm…yumy.

Soto Mie Bogor

napaktilasbogor (13)

 

Kami juga membeli pisang emas yang  muaniis untuk oleh-oleh.

napaktilasbogor (14)

Pisang Mas

Akhirnya, sampai di sinilah sebagian kecil ceritaku tentang tempat-tempat yang indah di kebun raya, namun sebetulnya masih ada banyak sudut yang indah yang bisa Anda kunjungi.  Menjelang sore kami kembali ke Jakarta dengan berkendaraan umum sama seperti waktu berangkat  dengan perasaan yang lebih bahagia.  Senjapun menyambut kami  di Jakarta dan mengantar sampai di peraduan untuk beristirahat melepas lelah setelah menempuh perjalanan seharian.  Berharap suatu hari nanti masih dapat menikmati lagi dengan suasana yang lebih indah.  Alhamdulillah,… Trimakasih Tuhan untuk semua berkah dan anugerahMU ini.

 

46 Comments to "Perjalananku napak tilas di Bogor"

  1. Wiwit Arianti  18 December, 2013 at 15:49

    Bu Lani,…
    Kata mas J C bener lho kalau bu Lani salah satu arsitek Baltyra, jadi jangan mengurangi sejarah Baltyra ya he he he…

  2. Wiwit Arianti  18 December, 2013 at 15:45

    Pak ODB,…
    Kijang or rusa totol2 putih gak kelihatan di foto istana itu karena mengambil fotonya dari dalam kebun raya dan posisinya di samping agak belakang. Kalau mengambil fotonya dari depan pasti nampak.

  3. Wiwit Arianti  18 December, 2013 at 15:42

    Wah saya gak tahu mas Anoew, apakah itu legenda atau hanya desas desus, waktu itu hanya mendengar dari beberapa orang yang bergerombol di dekat jembatan dan nampaknya ragu mau menyeberang.
    Karena tidak sedang pacaran, ya sudah kami langsung menyeberang dan foto2 di atas jembatan. Juga tidak tertarik untuk mengorek lebih jauh, selesai menyeberang jembatan, meneruskan perjalanan menuju pintu gerbang trus pulang deh.
    Tapi menarik juga ya, coba nanti saya tanyakan kepada tanteku yang suaminya pernah menjadi Kepala KBR, barangkali beliau tahu.

  4. anoew  18 December, 2013 at 13:06

    apakah legenda / desas-desus yang mengatakan jika sepasang kekasih berkunjung ke KRB akan menjadi putus hubungannya, mbak?

  5. Wiwit Arianti  17 December, 2013 at 09:33

    Betul mas J C,….angkotnya itu yang bikin gak nyaman.
    Ayo mas, ke Bogor menikmati lagi bermacam makanan yang lezat skalian mengingat lagi namanya hehehe….

  6. J C  16 December, 2013 at 22:10

    Aku ada sedikiiittt kenangan dengan Bogor. Tahun 1994 ada kerja praktek di Cimanggis, kalau weekend biasa ke Bogor jalan-jalan dan makan. Tentu saja ke Kebun Raya Bogor dan coba beberapa makanan di Bogor (yang aku sudah lupa semua ).

    Bogor sebenarnya sangat ok untuk dikunjungi, hanya sayang sekali Bogor adalah kota SEJUTA ANGKOT yang membuat lalulintas amat-sangat-parah macetnya.

    Btw, benar tuh, si Lani salah satu arsitek Baltyra, tanpa Lani, Baltyra sepa…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *