Guru Gemblung (5): Tak Ada Karya yang Sempurna

Wesiati Setyaningsih

 

Sebagai orang plegmatis yang mengikuti mood. Kalau saya belum menemukan alasan yang cukup kuat, biar diapain juga saya tak akan melakukannya. Tapi kalau saya sudah punya satu alasan kuat, saya akan berusaha sekuat tenaga. Kalau sudah ketemu alasannya, saya selalu punya satu prinsip, “mbuh piye carane”. Maksudnya, apapun caranya, keinginan saya harus tercapai.

Ketika saya menemukan alasan menulis buku, bahwa buku ini harus untuk membuka wawasan para orang tua atas kinerja guru, saya langsung semangat. Kebetulan waktu saya macet itu, sembari membaca buku “Stop self sabotage”, saya membaca buku Perahu Kertas-nya Dewi Lestari. Saya sudah pernah membaca dari depan sampai selesai, dan saya baca lagi untuk mengisi waktu. Siapa tahu, tiba-tiba ada ide melintas gara-gara membaca novel itu. Meninggalkan tulisan dan membaca buku akhirnya membaca trik saya selanjutnya ketika macet menulis.

nothing is perfect

Ternyata memang di novel inilah saya mendapat ide di halaman-halaman akhir yang justru belum pernah saya baca, pada bagian epilog Dewi Lestari menulis tentang proses novel tersebut. Dewi menceritakan bahwa saat menulis novel tersebut, dia dihadiahi suaminya e-book ‘panduan menulis buku dalam 14 hari’.

Penasaran dengan ide menulis buku cepat itu saya mulai ‘googling’ mencari panduan-panduan menulis. Ternyata di internet banyak panduan menulis buku secara singkat, 10 hari, atau bahkan 7 hari. Hampir semua menyarankan memiliki buku notes kecil yang bisa ditulisi ide-ide yang tiba-tiba muncul. Kemudian saran untuk menulis konsep lebih dulu dan seterusnya.

Salah satu artikel yang cukup menyentak saya, menulis kalimat yang bunyinya kira-kira begini di nomor paling akhir, “yakinlah dengan tulisanmu, karena tak ada karya yang sempurna”.

Wah, itu keren sekali, untuk orang yang selama ini tidak percaya diri dengan kemampuan sendiri, kalimat itu benar-benar menginspirasi sekaligus ‘nendang’ agar saya terdorong maju.

Memang tidak ada karya yang sempurna karena karya sebagus apapun pasti akan menerima kritikan dari orang lain. Jadi, kenapa mesti ragu untuk mulai menulis? Tinggal dimulai saja. Lalu ikhlaskan tulisan itu akan dikomentari apa. Berbesar hati saja bahwa semua kritik yang muncul itu memang menjadi dampak dari semua karya yang kita hasilkan. Tidak melakukan apa-apa saja saya tetap dikomentari orang. Apalagi ini menghasilkan buku. Pasti akan ada komentar. Tapi setidaknya dengan buku ini, ide-ide saya tidak cuma tersimpan dalam benak tapi dibaca banyak orang. Apakah isinya nanti akan menjadi inspirasi atau tidak, itu bukan lagi urusan saya.

Dengan dorongan kesadaran baru, mulailah saya menulis ide-ide yang bisa saja jadikan artikel. Saya inventaris semua dengan menomori tiap ide untuk memperkirakan berapa artikel yang bisa saya buat. Tiap nomor berisi ide satu artikel. Judul artikel akan menyusul kemudian setelah artikel selesai, yang penting artikel disusun dulu. Ada banyak ide yang bisa saya tuangkan, baik artikel yang sudah ada di note Facebook dan saya tinggal mengambil saja, atau saya harus membuat baru karena memang belum ditulis.

Pekerjaan menginventaris artikel menjadi sangat menyenangkan karena saya sudah punya alasan yang kuat untuk menulis sekaligus sudah tahu harus bagaimana. Setelah ini selesaik saya ingin segera menyusunnya.

Masalahnya sekarang, saya harus pergi ke Bali untuk mendampingi teman saya yang menjadi wali kelas XI. Perjalanan ke Bali memakan waktu cukup banyak : 5 hari. Berarti akan ada waktu 5 hari yang tersia-sia begitu saja kalau saya tidak menulis sama sekali. Itu tidak bagus untuk mood saya yang sudah terlanjur menghangat. Kalau saya tidak memulai menulis buku ini, bisa-bisa mood saya turun lagi nanti.

Akhirnya saya putuskan saya membawa laptop ke Bali. Agak gila memang, tapi demi sebuah mimpi, saya tak peduli. Sepanjang perjalanan ke Bali saya menulis dan menulis. Karena bis dipasang wifi, sesekali saya Facebook-an dari laptop untuk mengusir bosan. Sekalian saya ambil juga note-note dari Facebook untuk digabungkan dalam file naskah buku.

Saya menulis di perjalanan, juga waktu di hotel. Saya memilih bertahan di hotel dan tidak ikut jalan-jalan bersama teman-teman guru lain karena saya harus menjaga kesehatan selama perjalanan dan semangat menyusun buku ini jauh lebih besar.

Kalau baterei laptop habis, saya charge di tempat stop kontak yang ada di atas seat. Tadinya guide melarang saya men-charge di situ.

“Nggak bakal bisa, bu,” katanya,”kan nggak stabil.”

Saya mencoba nge-charge waktu kami ke warung saat solat subuh dan menunggu di Banyuwangi menunggu penyeberangan. Tapi batere belum penuh ketika bis sudah mau berangkat. Akhirnya tanpa sepengetahuan si mbak guide, saya charge di bis saja, dan nyatanya batere laptop bisa terisi penuh. Si mbak akhirnya tahu saya nge-charge di bis, tapi dia diam saja.

Saya tetap bisa mengikuti semua kegiatan dengan senang. Tiap kali sampai di obyek, laptop saya tutup dan saya charge kalau memang baterenya sudah mulai habis. Saya membaur dalam kegembiraan para siswa dan teman-teman guru pendamping. Ketika masuk bis, saya buka laptop lagi.

Sepanjang jalan saya mendengarkan anak-anak yang menyanyi dan guide dari Bali menemani kami begitu kami datang di Bali, yang sesekali melucu. Saya ikut tertawa, nimbrung celetukan juga, tapi saya tetap mengisi waktu dengan mengetik. Notes berisi catatan ide ada bersama saya dan sesekali saya tengok untuk memastikan artikel apa saja yang kurang.

Di tengah keasyikan saya menulis saat piknik ini, toh saya tak sepenuhnya menyibukkan diri. Anak-anak suka sekali menyanyi dangdut koplo. Guide kami yang orang Bali ini seorang perempuan muda bertubuh gemuk dengan kulit sawo matang dengan suara cempreng dan suka melucu. Suatu malam setelah berbasah-basah dari pantai Kuta, beberapa anak bajunya masih basah, bis terjebak macet padahal sebentar lagi sudah sampai hotel.

Seorang anak masih menyanyi dangdut koplo diiringi sorak sorai teman-temannya. Mbak guide digoda anak-anak itu dan diajak berjoget. Mbak guide itu mau saja diajak joget tapi lama-lama malu sendiri dan berhenti. Laptop masih menyala di pangkuan saya. Melihat kehebohan itu saya tidak tahan juga. Laptop saya tutup,  lantas saya berdiri. Saya datangi mbak guide lalu saya tarik untuk berjoged.

Anak-anak bersorak sorai. Saya tarik juga teman saya yang wali kelas dari anak-anak di bis itu. Kami semua berjoged di dalam bis yang kena macet. Ada anak yang nyeletuk.

“Lah, kita diliatin orang, bu.”

Saya lihat lalu lintas di luar. Orang-orang di atas motor menatap kami yang ada di dalam bis dengan lampu yang menyala. Dari luar pasti tampak jelas kami semua joged gila-gilaan. Tapi saya bilang, “ah, biar aja. Kan mereka enggak kenal kita. Besok kan kita pulang, nggak bakal ketemu mereka lagi.”

nothingperfect

Dan kami semua berjoged-joged lagi sambil tertawa-tawa sampai lelah karena berjoged dan kebanyakan tertawa. Jadi disamping menulis artikel-artikel saya, saya masih bisa menikmati perjalanan.

Pulang dari Bali, ketika sampai Blora menuju Semarang, saya tengok file buku ini. Halaman di file sudah menunjukkan 100 halaman lebih, dengan ukuran halaman A4 dan spasi 1,5. Saya sungguh puas dengan hasil ini.

Setelah saya edit lagi, saya kirimkan file ini kepada pak Handoko. Karena beliau juga sibuk dengan pekerjaannya sebagai konsultan pendidikan yang mengharuskan beliau pergi ke berbagai kota di Indonesia bahkan sesekali ke luar negeri, saya tidak bisa segera menerima file yang sudah di-edit oleh beliau.

Ketika akhirnya saya menerima kabar bahwa naskah yang sudah di-edit, saya membuka lampiran di email dengan perasaan geli. Beliau memberi judul di file tersebut : GURU GEMBLUNG.

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian “kesasar” menjadi guru. Mencoba mendobrak “pakem baku” proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya.

Sering dianggap “off-track” bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

6 Comments to "Guru Gemblung (5): Tak Ada Karya yang Sempurna"

  1. Linda Cheang  18 December, 2013 at 10:55

    lha, Bu Wes. kalo semua manusia bisa membuat karya sempurna, Tuhan bisa pensiun…

  2. Handoko Widagdo  18 December, 2013 at 07:52

    Judul Guru Gemblung itu muncul karena inspirasi setelah membaca semua teks.

  3. J C  16 December, 2013 at 22:20

    * ujug-ujug ingat proofleader yang kehabisan obat (si Nur Mberok tuh) *

  4. djasMerahputih  16 December, 2013 at 16:29

    Tak ada karya yang sempurna, yang ada hanya judul lagu “Sempurna”,
    dan merk ro*** Sampoerna..

    Belum sempat mengoleksi bukunya, baru bisa beli buku “Proklamasi”nya OSA KI.

    Salam kompak,
    //djasMerahputih

  5. Lani  16 December, 2013 at 12:59

    doea…….runner up gemblung!!!!! hahaha

  6. James  16 December, 2013 at 11:07

    SATOE, Gemblung

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *