Percakapan Santun

Ki Ageng Similikithi

 

Wajahnya begitu santun. Pandangannya menatap ke luar lewat jendela yang terbuka lebar. Angin sejuk berembus lembut.  Akhir pekan yang cerah.  Tahun  delapan puluhan awal. Saya mengantar  seorang kerabat bertamu ke Salatiga. Di rumah peristirahatannya. Bapak tersebut, sebut saja namanya bapak Karyo, adalah pejabat Kepala Biro Kepegawaian propinsi salah satu dinas pemerintahan.  Sehari sebelumnya sudah memberikan waktu di akhir pekan untuk  menemuinya.

“ Dimas, berpuluh tahun saya telah mengamati perjalanan karier banyak pejabat di propinsi ini, sejak awal mereka masuk, sampai ke puncak. Perjalanan panjang penuh warna”.

Ucapannya lembut , sambil menarik napas panjang, seolah menggumam terhadap diri sendiri. Saya duduk di kursi seberang. Sementara kerabat saya duduk di kursi di dekat pak Karyo. Kerabat saya terbata menjawab, seperti tidak siap.

“Injiiiiiih pak. Mila kula sowan Bapak, badhe nyuwun pangestu” . Iya pak, makanya saya menghadap mohon restu.

“Tanpa diminta pun saya selalu memberi restu. Saya adalah abdi negara.  Kewajiban saya adalah mengabdi untuk negara”.

Kerabat saya semakin tidak siap memberi response. Kedua tangannya terselip di antara ke dua lutut. Badannya ikut bergoyang saat menganggukkan kepala berulang kali. Dengan gagap dia berkata.

“ Kawula sampun wonten luar Jawa 13 tahun. Nderek nyuwun penempatan wonten mriki”.

Saya sudah bertugas di luar Jawa selama 13 tahun. Mohon penempatan di daerah sini.

Katanya lirih menghiba.  Bahasa tubuhnya semakin menunjukkan jika dia di bawah angin posisinya. Hanya mengangguk angguk. Tidak “mengangguk-angguk sambil berseru tri lili lili lili”, seperti dalam lagu anak-anak itu. Kedua tangannya semakin tenggelam di antara ke dua lutut.

“Dimas, sudah sampai saatnya sampeyan balik ke sini, lenggah dadi manggalaning praja,  ngayahi tugas narendra gung binathara”.  Duduk sebagai pejabat publik, menjalankan tugas mulia.  Kerabat saya semakin kehabisan perbendaharaan untuk berkata. Hanya bilang “ injih mekaten”, sambil mengangguk-angguk pelan.

Pak Karyo memperbaiki posisi duduknya. Bersandar di kursinya. Sambil terus bicara tentang kewajiban dan tugas pegawai negeri. Matanya tetap menatap langit di luar, seolah mencari petuah dari langit. Beberapa kalimatnya masih teringat saya, seperti yang sering diutarakan dalam penataran P4. Kalimat-kalimat itu begitu magis, seolah datang dari dunia sakral. Saya ikut terbawa, kedua tangan saya menyilang di dada  dan ikut mengangguk-angguk. Tidak sesering kerabat saya.

Hampir setengah jam ritual itu berjalan khidmat. Dalam bahasa yang sangat santun. Penuh ungkapan indah pengabdian abdi negara. Ketika pak Karyo berhenti, dan mempersilahkan kami minum teh, saya menginjak kaki kerabat saya untuk berpamitan.  Dia mempersiapkan sesuatu. Amplop dengan garis-garis merah di tepi, par avion.

Pak Karyo masih menatap langit di luar sana. Sesekali menarik napas.  Tiba-tiba setting ritual berubah. Kerabat saya masih dalam posisi duduk. Mendekatkan diri sambil menunduk.  Kedua tangannya bebas dari jepitan lututnya. Tetapi di antara jari tangannya menjepit amplop Par Avion itu.  Pak Karyo  tetap tak mengubah posisinya. Tak membuka kacamatanya.  Tetap memandang langit. Tetap bersandar di kursi. Tetapi jari-jari tangannya dengan sigap menjepit amplop dari kerabat saya tadi.

budaya amplop

Saya terkesiap. Kejadian berlangsung begitu cepat. Pak Karyo berujar. “Ah mbok nggak usah repot Dimas”, tetapi amplop langsung pindah tangan. Amplop ini biasanya untuk pos udara. Paling tidak butuh waktu seminggu jika untuk kirim surat ke luar Jawa. Tetapi pagi itu perjalanan amplop itu hanya berlangsung dalam detik.

Gratifikasi kadang tidak bisa dipisahkan dari kesantunan Jawa. Mungkin hanya ungkapan terima kasih semata. Tetapi kalau gratifikasinya rumah, itu sudah lain masalahnya. Entahlah apapun namanya, entah itu gratifikasi, glondong pengareng-areng, memang produk budaya yang bisa menuju jalan sesat.

 

Salam damai

Ki Ageng

 

27 Comments to "Percakapan Santun"

  1. Ki Ageng  31 December, 2013 at 18:25

    Salam hangat dan selamat tahun baru 2014. Salam damai

  2. Lani  28 December, 2013 at 10:21

    22 Maturnuwun, atas penjelasannya…….skrng jd jelas banget……..welah dalah, bener2 wis keblingeeeeeeeer………kelakuan para penguasa tsb

  3. tjiptadinata effendi  28 December, 2013 at 08:15

    Selamat pagi Ki..wah tulisan ini santun sekali,tapi tajam bagaikan sembilu ,bagi yang menerima suapan..padahal sudah dewasa,tapi masih mau disuapin yaa..sungguh sangat memprihatinkan… salam kenal dari saya effendi (nama asli_)

  4. Alvina VB  18 December, 2013 at 06:01

    Koreksi: semua kata Major, seharusnya Mayor (Setingkatan dgn Gubernur).

  5. Alvina VB  18 December, 2013 at 05:59

    Ki, percakapan santun juga terjadi di sini, cuma bedanya di ruang tertutup.
    Gonjang-ganjing politik thn ini baik di Montreal, Toronto dan Ottawa, banyak para politician yg terlibat korupsi, kolusi dan nepotism. Dalam waktu 10 bln, kita punya 3 Major, dua Major sebelumnya terlibat korupsi. Kota deket Montreal, Laval, sama aja Majornya malah ditangkep krn terllibat korupsi dan gangster. Sedangkan di Ottawa 3 Senators baru dipecat krn menggunakan uang negara dengan seenaknya. Saat ini screening dan editing buat pengeluaran para Senator sedang disorot, jadi 3 Senator tsb baru awalnya. Jadi gak di East/ West, korupsi selalu ada, sepanjang org2 yg punya power tsb. menggunakan powernya dengan seenaknya. Major Toronto, Rob Ford is another crazzzzy politician from Toronto.

  6. J C  18 December, 2013 at 05:52

    Lani, pustun konon adalah bahasa Arab untuk menyebut perempuan-perempuan Pakistan dari suku/etnis tertentu yang konon ayu-ayu. Jadi memang DEDENGKOT KORUPTOR yang dari partai yang konon sangat menjunjung tinggi nilai agama paling doyan kruntelan. Yang satu ketangkap sedang kruntelan sama mahasiswi di satu hotel (pas wudo sisan), yang satu lagi koleksi perempuan dari mulai istrinya sampai seorang pustun masih sekolah umur 18 tahun.

  7. Lani  17 December, 2013 at 07:44

    DA : jd artine PUSTUN = sama dgn ayam betina??????? woalah……..dalah maklum wae ketinggalan sepur aku……..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *