Ibukota Prematur

djas Merahputih

 

Wawasan kebangsaan yang luas membuat Bung Karno berangan-angan mendirikan sebuah kota baru sebagai cikal bakal Ibu Kota Negara Kesatuan Republik Indonesia di luar Pulau Jawa. Kesan ini jauh dari kesan Jawasentris yang selalu berpikiran bahwa Indonesia adalah (Pulau) Jawa dan (Pulau) Jawa adalah Indonesia.  Kesan yang lebih jauh akan menampakkan gejala chauvinisme, sebuah faham superioritas suatu etnis ataupun agama atas etnis serta agama lainnya dalam sebuah negeri.

Faham chauvinisme sangat dihindari oleh Bung Karno mengingat pentingnya arti persatuan dalam mengelola sebuah bangsa yang majemuk. Faham chauvinisme dalam jangka panjang akan menimbulkan sentimen kesukuan yang memuncak dan pada tingkat tertentu dapat membahayakan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Bung Karno mengelola bangsa ini sebagaimana adanya. Mengelola sebuah bangsa heterogen yang membutuhkan pemahaman sepenuh hati dan toleransi tinggi ketika berinteraksi dengan sesama anak bangsa sendiri.

Satu hal masih menjadi misteri adalah pertimbangan memilih kota Palangkaraya sebagai alternatif penempatan Ibu Kota Negara di antara beberapa pilihan yang mungkin. Di Kalimantan sendiri terdapat beberapa alternatif antara lain Banjarmasin, Balikpapan dan Samarinda yang juga secara geografis letaknya masih berada di sekitar Palangkaraya. Bahkan dari segi keterjangkauan ketiga kota tersebut masih lebih memungkinkan.

ibukotaprematur01

img01. Peta Kalimantan

Palangkaraya yang berada di tengah-tengah Pulau Kalimantan memiliki kendala infrastruktur jalan maupun akses melalui perairan. Sehingga kecepatan mobilisasi terutama material bangunan non lokal pada saat proses pertumbuhan dan perkembangan kota akan mengalami banyak kendala. Padahal dengan latar belakang teknis yang dimiliki oleh Bung Karno maka masalah tersebut nampaknya sudah bisa terbaca sejak awal. Keputusan yang kurang realistis akhirnya membuat Palangkaraya hanya berjuwud sebagai Ibu Kota Prematur. Hal ini memunculkan dugaan adanya faktor lain yang menjadi pertimbangan beliau dalam mengambil keputusan. Bisa saja, faktor geopolitik adalah salah satunya.

Dengan pertimbangan akses udara yang lebih mudah mengatasi kendala alam di Pulau Kalimantan dengan hutan lebat dan sungainya yang relatif dangkal, Palangkaraya dianggap lebih strategis untuk mencapai seluruh wilayah di Kalimantan khususnya dan Indonesia pada umumnya. Apalagi di pulau ini terdapat wilayah negara lain yaitu Sabah, Serawak – Malaysia dan Brunei Darussalam. Dengan kontur lahan yang umumnya datar maka sangat memungkinkan untuk membangun landasan udara skala besar sebagai persiapan mengantisipasi pertumbuhan kota berpuluh-puluh tahun ke depan. Namun dengan adanya desakan beberapa agenda politik terutama kaitan persiapan Indonesia sebagai tuan rumah Ganefo 1963 maka keseriusan pemerintah untuk mengeksekusi keputusan pemindahan ibu kota negara tersebut menjadi tidak dianggap penting lagi. Batavia (Jakarta) menjadi pilihan satu-satunya yang paling masuk akal.

Ada hal lain yang patut juga diduga menjadi alasan Bung Karno memilih kota Palangkaraya sebagai alternatif pemindahan Ibu Kota Negara (1957). Hal tersebut berkaitan dengan mitos atau legenda Serat Jawa yang menyebutkan sebuah lokasi yang terletak di “Puser Semar”. Lokasi tersebut diyakini akan menjadi pusat kemajuan dan kejayaan Nusantara. Di sanalah kabarnya seorang Ratu Adil akan bertahta dan membawa bangsa Indonesia ke dalam masa-masa kejayaannya.

Palangkaraya didesain oleh Bung Karno sebagai Cosmic City (Wijanarka, 2006), yaitu kota-kota yang memiliki keterkaitan kosmik dengan tempat-tempat lain di Nusantara. Sebuah akses jalan utama memiliki sumbu yang tepat mengarah ke Jakarta. Hal ini memberikan gambaran kosmik tersendiri akan keterkaitan Kota Palangkaraya dengan Ibu Kota Jakarta.  Selain itu sebuah bundaran utama (Bundaran Besar) yang berada di tengah-tengah pertemuan jaring lalu lintas dari 8 jalur berbeda, memberi makna bagi arah pertumbuhan kota dan negara yang mencakup delapan penjuru arah mata angin. Bundaran tersebut terletak di depan gedung utama pemerintahan yang kemungkinan dipersiapkan sebagai wisma negara ketika kota tersebut telah benar-benar menjadi Ibu Kota Negara. Beberapa petunjuk di atas memberikan gambaran filosofis terhadap ide penetapan Kota Palangkaraya sebagai alternatif Ibu Kota Negara.

 ibukotaprematur

img02. Bundaran Besar

Jika pada tahun 1960-an kondisi negara serta keadaan alam di Kalimantan Tengah masih sulit dan serba terbatas, maka lain halnya dengan kondisi saat ini. Perkembangan infrastruktur serta keadaan perekonomian bangsa jauh lebih memungkinkan untuk merealisasikan gagasan pemindahan Ibu Kota Negara ke luar Jawa tersebut. Tentu akan menjadi ujian tersendiri bagi rasa nasionalisme anak bangsa yang kebetulan berasal dari Jawa untuk menerima ide kontroversil ini.

Di tengah daya dukung wilayah sekitar Jakarta sebagai daerah penyangga Ibu Kota yang semakin menurun dan dalam konteks pemerataan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi dalam wilayah NKRI maka sepatutnya usaha realisasi gagasan Bung Karno untuk mendirikan sebuah Ibu Kota alternatif di Palangkaraya mendapatkan perhatian yang lebih memadai.

 

Salam Nusantara,

//djasMerahputih

 

About djas Merahputih

Dari nama dan profile picture'nya, sudah jelas terlihat semangat ke-Indonesia-annya. Ditambah dengan artikel-artikelnya yang mengingatkan kita semua bahwa nasionalisme itu masih ada, harapan itu masih ada untuk Indonesia tercinta. Tinggal di Sulawesi, menebar semangat Merah Putih ke dunia melalui BALTYRA.

My Facebook Arsip Artikel

14 Comments to "Ibukota Prematur"

  1. Lani  19 December, 2013 at 02:15

    DJASabangputih : ha ha ha…. kok bisa ketinggalan Yu Lani..??
    Bang James aja udah antri paling depan…
    Iya… doain aja yaaah… ntar kalo kepilih ta’ ajak maen2 ke Istana yah??
    Pasti kunjungan kenegaraan pertama adalah ke KONA..!!
    Salam hormat,
    -djas-
    +++++++++++++++

    Lah, kan udah aku katakan kemungkinan usiaku yg uzur hehehe……..klu liat cm sekelebatan, jd kelewatan! Kudu di-mat-ke tenan kkkkkk
    Ya, biasanya mr James dan aku balapan utk jd no 1……..
    Kok cm diajak main2 ke istana, ndak dikasih kerjaan pisan ta? Dan aku mendptkan kehormatan, tuh kunjungan pertama ke KONA……maturnuwun.
    Nanti aku ajak byur2-an dipantai yo Djas……..
    Salam anget soko paradise

  2. djasMerahputih  18 December, 2013 at 19:36

    11: ha ha ha…. kok bisa ketinggalan Yu Lani..??
    Bang James aja udah antri paling depan…

    Iya… doain aja yaaah… ntar kalo kepilih ta’ ajak maen2 ke Istana yah??
    Pasti kunjungan kenegaraan pertama adalah ke KONA..!!

    Salam hormat,
    -djas-

  3. djasMerahputih  18 December, 2013 at 19:29

    10; ha ha ha… thanks sudah mampir Summer Girl..
    ditanggapin serius jadinya ungkapan djas,
    maksudnya supaya siapapun yang jadi presiden berikutnya
    agar lebih memperhatikan ide ibukota alternatif tsb.. geetoh…!

    Salam Kompak,
    -djas-

  4. Lani  18 December, 2013 at 10:24

    DJASmerahputih : Lah dalah………aku sampai ketinggalan artikelmu ini………pie ta? Mungkin krn sdh uzur hehehe…….nah, kapan dunk dirimu mencalonkan jd presiden????? Yg jelas warga Baltyra adl pendukung utama………bakal wokeh krn membernya kan mencar diseluruh dunia…………ditunggu pencalonanmu ya………

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.