The Public Use of Scandal: Catatan atas Kasus Sitok Srengenge

Alfred Tuname

 

“Demi mengalami dunia

Kutinggalkan damai surga”

-Sitok Srengenge, Puisi “Homo Ludens” dalam antologi On Nothing (2005)

Karena penyair juga bagian dari dunia, maka ia pun cenderung takluk pada persoalan-pesoalan duniawi. Penyair itu nyebelin. Tetapi Puisi; seperti kasih dalam surat kepada umat di Korintus.

“Puisi itu sabar, murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak bermegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan hal yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersuka cita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu (Bdk. 1 Korintus 13:4-7).

Inilah pandangan Cendikiawan ulung Gunawan Mohammad, saat memberi kuliah di Salihara. Bahwa Penyair itu nyebelin. Singkatnya, GM mau mengatakan penyair juga manusia. Penyair tidak pernah tinggal dan menetap pada sorga keagungan idea. Justru melalui penyair, sorga keagungan idea menjadi lebih dekat dengan dunia dan manusianya. Karena penyair juga bagian dari dunia, maka ia pun cenderung takluk pada persoalan-pesoalan duniawi. Karena itu, meski dalam canda, GM mungkin benar ketika mendefinisikan siapa itu penyair. Ada penyair yang pecundang, perampok, pemerkosa, tetapi tidak semua penyair begitu. Boleh jadi, skalanya 1:1.000.000.000. Skala ini hanya menunjukkan peran ganda itu jarang terjadi dalam dunia kepenyairan

Penyair Sitok Srengenge mencipta heboh. Dia dilaporkan ke polisi karena memperdayai seorang mahasiswi. Mahasiswi itu hamil. Mahasiswi itu melaporkan Sitok Srengenge ke polisi bukan karena kehamilan yang dialaminya, karena Sitok Srengenge menghamilinya dengan kekerasan. Mahasiswi itu berinisial RWtercatat sebagai mahasiswi Universitas Indonesia (UI).

Kamus kriminal menamai aksi pemaksaan seksual itu sebagai perkosa. Sitok Srengenge memaksa sebuah kehamilan, mahasiswi itu pun terpaksa hamil. Dalam dunia obstetry, kehamilan merupakan sesuatu yang bagus dan baik. Bayi akan siap dilahirkan sebab ibunya (mahasiswi) sudah mengandung tujuh bulan. Agamawan memandang, kehamilan (dan kelahiran) merupakan sebuah keajaiban sekaligus rahmat.

Akan tetapi, boleh jadi bagi RW, kehamilan itu adalah sebuah aib. Itu karena ia hamil dari hubungan “gelap” sehingga terpaksa hamil. Hubungan “gelap” itu pun tidak terjadi atas dorongan hasrat seksual yang sama tetapi hanya sepihak dan penuh kekerasan. Inilah sebuah katastrope bagi RW.

Public Use of Scandal

scandal

Dunia kepenyairan Indonesia, atas dugaan yang dituduhkan pada Sitok Srengenge, mengalami katastrope. Sitok Srengenge adalah seorang penyair nasional. Sitok Srengenge adalah sastrawan otentik. Kejeniusan dan selera estetik yang baik membuatnya mampu melahirkan puisi-puisi berkualitas dan berkualitas pula ia membacakannya. Sayang, kualitas kepenyairannya harus berlumur “darah” dugaan pemerkosaan. Siapa pun orang yang akrab dengan karya dan orasi penyair Sitok Srengenge, pasti akan tunduk terpukul. Bagaimana mungkin kohabitasi peran sebagai penyair sekaligus pemerkosa bisa menubuh dalam diri Sitok Srengenge?

Mungkin karya SS terbaru di tahun 2013, berjudul Matahari dan Bulan, merupakan jawaban atas suasana bathin dan hatinya, sampai menggiring dia masuk ke tindakan menghamili mahasiswa itu.

Matahari & Bulan
by; SS

Siang-malam berjalan di langit sendirian, Matahari merasa kian kesepian. Ia ingin punya teman. Lalu ia berjalan lebih jauh ke utara. Di sana ia melihat Gletser sedang telentang, istirahat di pinggang Pegunungan. Itulah hal paling indah yang pernah dilihatnya.

Sejak itu, diam-diam Matahari sering datang ke utara dan menghabiskan waktu lebih lama hanya untuk memandang Gletser memeluk Pegunungan, menghampar hingga kecakrawala. Suatu kali Matahari mendengar Pegunungan mengadu kepada Gletser, “Tahukah kau, Gletser, bahwa Matahari gemar sembunyi di balik punggungku sambil memandangimu dari jauhan?” Matahari tak kuasa menahan malu. Ia lantas lari menjauh, tak ingin Gletser marah karena ulahnya.

“Hei, Matahari,” teriak Gletser. “Mendekatlah ke mari, agar aku bisa melihat wajahmu.” Di luar dugaannya, ternyata Gletser tidak marah. Wajah Matahari pun seketika berubah cerah. Pegunungan meminta Matahari naik ke atas punggungnya agar terlihat lebih jelas. Namun, Gletser tetap tak bisa melihat wajah Matahari. Ia lantas melompat ke langit dan menggumpal menjadi Bulan.

Alangkah bahagia hati Matahari. Kini ia punya teman. Ia tak lagi kesepian. Ia pun membangun rumah di langit, agar Bulan bisa tinggal bersamanya. Di rumah itu mereka berdua sering menari bersama. Tiap hari mereka memancarkan kebahagiaan ke dunia dengan iringan senandung lagu cinta.

Tapi, suatu hari, Bulan merindukan Pegunungan serta pelukan lembah yang hangat dan bersahabat. “Aku mencintaimu , dan aku senang menari di langit bersamamu,” katanya kepada Matahari. “Tapi aku tak sanggup menanggung rinduku kepada mereka. Aku akan kembali menemui mereka.”

“Maafkan aku,” kata Matahari. “Aku tak akan mencegahmu, tapi kau tak bisa kembali. Kau bukan lagi Gletser yang dulu. Kau sekarang Bulan. Kau tak bisa kembali ke Pegunungan.”

Bulan berurai air mata. “Biarkan aku mencoba. Jangan berpikir bahwa aku lebih mencintai Pegunungan daripada kau.Tapi aku harus turun, aku harus melakukannya.”

“Aku mengerti,” jawab Matahari, lirih. “Aku akan melepasmu, tapi tak akan kubiarkan kau meninggalkan hatiku. Ya, hatiku selalu terbuka untukmu. Kapan saja kau tak sanggup melanjutkan perjalananmu, berbaliklah dan kembali padaku.”

Begitulah, tiap hari ketika Bulan mencoba merendah demi menggapai Pegunungan, Matahari selalu berada di belakangnya. Matahari tak akan pernah berhenti mengikuti Bulan.Tak akan.

(Diceritakan kembali dari dongeng anonim)

Lain lagi puisi Penyair asal Bantul-Jogjakarta, juga menggambarkan jelas tentang dirinya sebagai penyair dan suasana kebathinan yang dia alami sepanjang tahun 2013. Puisi Sang Penyair kondang asal Bantul, Yogyakarta yang pernah memerankan tokoh Ahmad Dahlan dalam film Sang Pencerah, itu berjudul Pledoi Cinta Rhawana.

PLEDOI CINTA RAHWANA

Di Rimba Dandaka, di kelam yang kekal
senantiasa ada percik cahaya secerlang bintang zohal
Juga di hatiku, Sita, hati yang diselubungi seribu malam
dan digelorakan angin sakal

Aku tahu, itulah cahaya dari ruang paling purba
—di mana kau dan aku telah bersua
sebelum terlahir sebagai manusia

di Rimba Dandaka, Sita
telah kauhadapi genangan sunyi
Sunyi yang tak tertepis oleh dekapan kekasih
karena kesunyianmu abadi
berasal dari kesenyapan kata-kata Mahadewa
ketika ia bersabda tentang cinta
: cinta yang melahirkan kita
cinta yang mengukir dan mewarnai dunia

Mencintaimu adalah mencintai bumi
sebab dalam dirimu tersimpan magma, bara abadi
yang meski begitu dalam terpendam
—tak akan padam
Kerut-merut kulitmu bagai lekuk-liku sungai
mengalir jauh mencari muara
menghanyutkan hasrat dan harapku ke samudera cinta

Kurun demi kurun menguap bagai fatamorgana, dua belas tahun Sita!
Dua belas tahun aku merayu, merajuk, mendamba cinta
Kini aku tahu: harapan membuatku bertahan dari rasa sia-sia
tapi juga sekaligus memperpanjang derita

Telah kuatasi derita dari rasa takut, lapar, dan wabah
kutaklukkan dewa-dewa, segala makhluk liar dan dedemit bawah tanah
Tak kusangka, deritaku justru mengada dari cinta

Tapi bukan itu yang merisaukanku
barangkali karena cinta membuatku lebih hidup
dan itu lebih bermakna dibanding hidup tanpa cinta
Keagungan cinta tak bisa dinilai dari pemilikannya
tapi bagaimana ia diperjuangkan dan dijaga

Itulah yang kulakukan, Sita
memperjuangkan dan menjaga cintaku kepadamu

Mahadewa mencipta hutan, aku membuat taman
Maka dari Rimba Dandaka kuboyong kau ke Taman Asoka
demi melindungimu dari keluhuran palsu
yang kelak menistakanmu

Kau tahu, kekasihku
seluruh peradaban ini—sebelum dibentuk dan diarahkan
oleh kesadaran pikiran, lebih dulu digerakkan naluri
Akulah gerak naluri itu, gerak murni
yang hendak menentukan arahnya sendiri

Rama menyerbu Alengka bukan semata untuk merebutmu kembali
tapi terutama demi menjaga wibawa dan nama baiknya sendiri
aku hadapi amarah prajurit Kiskenda dan Ayodya
sebagai risiko atas pilihanku, perjuangan cintaku
Rama mengerahkan balatentara karena ia pamer kuasa
aku bersedia tumpas tanpa melibatkan siapa pun
Mereka yang gugur di pihakku
semata berperang demi mempertahankan negeri yang diserbu
Rama memilihmu karena ingin memiliki dan menguasaimu
aku mencintaimu sebagai pelaksanaan takdirku

Maka kusambut panggilan takdir itu
dengan hanya satu kesimpulan:
Rahwana berjaya di atas atau tersungkur tumpas
sama-sama jadi penentu:
betapa besar dan mutlak cintaku padamu

Pada hari terakhir perang agung itu, Sita
dengan kereta yang dihela delapan kuda, kusongsong ajalku
Matahari ditelan gerhana
jagat sekelam nasib buruk yang menghadangku
tapi aku tak peduli, karena cintaku padamu suci
bahkan tak akan lunas jika ditebus dengan mati

Sampai panah ciptaan Brahma itu
menembus dadaku, mengoyak kalbuku
bagian paling kulindungi karena di situ bersemayam cintaku
Kusaksikan darahku tercurah, lalu menggumpal beku
seperti tinta yang mendadak tak lagi basah
lantaran tak cukup menulis rinduku padamu

Kenangkanlah Sita, betapa pada detik terakhir menjelang ajalku
semesta gelap gulita. Segala sirna. Hanya wajahmu
semata-mata wajahmu
yang tetap membayang di pelupuk mataku

Daun-daun di Rimba Dandaka gugur
bunga-bunga di Taman Asoka gugur
Alengka runtuh
Rahwana rubuh
tapi tidak cintaku, Sita
cintaku padamu tegak dan baka
terus tumbuh, berbiak berjuta cerita

Puisi Sitok Srengenge; 2013

Sitok Srengenge sebagai penyair sekaligus pemerkosa sebenarnya merupakan peran yang kontrakdiktif. Inilah yang mengerutkan dahi. Ada yang janggal di sini. Sebagai penyair otenntik, revolusioner sekaligus romantis, janggal rasanya ada perilaku kekerasan ketika Sitok Srengenge berelasi dengan orang lain. Dekat dengan dengan banyak perempuan (mahasiswi), mungkin saja itu bagian dari eksplorasi romantisitasnya selain ilmu pengetahuan sastra-nya yang mumpuni. Boleh jadi, Sitok Srengenge juga seorang cendikiawan sastra. Tidak mungkin ia mengkhianati kecendikiawan itu dengan perilaku kekerasan, apa lagi dalam hal consumatum(berhubungan seks).

Oleh karena itu, laporan mahasiwi bahwa Sitok Srengenge telah memperkosa perlu dipertanyakan. Belum lagi Alumni Badan Eksekutif Mahasiswa FIB Universitas Indonesia (BEM FIB UI) ikut-ikutan menakar suaranya dalam persoalan ini. Astaga naga, baru kali terdengar BEM sekelas UI mengurus urusan privat. Ini bagian skema menyelesaikan persoalan dengan mengunggah persoalan baru. Proses hukum baru belum dimulai, mereka sudah mulai mengangkat palu terlelebih dahulu. Kecaman keras terhadap Sitok Srengenge dan Salihara lantang mereka suarakan. Lah, apa hubungan Salihara dengan kasus ini?

Kasus yang menimpa Sitok Srengenge berkenaan dengan konteks pribadi. Salihara sebagai lembaga tidak ada hubungannya dengan kasus pribadi ini. Secara bijak, Sitok Srengenge pun sudah mengundurkan diri dari Salihara sebagai kurator. Atas aksi kecam-mengecam ini, kecurigaan muncul bahwa ada muatan “politis” di balik semua ini. Artinya, unggahan kasus pribadi Sitok Srengenge sengaja diributkan untuk mendekati sasaran utama yakni Komunitas Salihara (yang berdekatan secara emosional dengan Tempo). Di sini, Sitok Srengenge menjadivanishing meditor untuk mencapai sasaran tembak. Karena ini politis, maka aktor intelektualnya juga pasti seputar ranah politik (atau mungkin dari kelompok sastrawan yang anonim).

Melihat pergunjingan “politis” seputar kasus Sitok Srengenge di atas, tersirat persoalan besar dalam ruang sosial. Bahwa nyaris setiap orang berbodong-bondong terjun bebas dalam cynical society. Tendensi sinis selalu ada. Karenanya, setiap kasus isu publik (public issues) selalu ditranslasi dalam idiosinkrasi personal. Vice versa; begitu pula sebaliknya. Sebagai contoh, kasus korupsi pejabat publik hampir pasti digotong pada ruang yang lebih privat (perselingkuhannya, misalnya). Atau, kasus perselingkuhan seorang yang bukan pejabat publik dijewer telinganya sampai keurusan publik. Pijak persaoalannya pun menjadi kabur. Dengan demikian, dalam cynical society ini, publik semakin susah membedakan mana ruang privat, mana ruang publik.

Ketika media massa begitu hegemonik, ada klaim bahwa segala hal yang terunggah ke publik tampak membuat ruang privat semakin lenyap. We no longer have a private life. Akan tetapi jika menelisik lebih jauh, faktanya justru sebaliknya. We no longer have a public life. Ruang publik itu sejatinya sudah lenyap sebab publik memperlakukannya sebagai ruang privat. Fenomena inilah yang disebut, mengutip filsuf Slavoj Zizek (2013), sebagai public use of scandal.

Terkait konteks di atas, “skandal” terhangat yang masih kita ingat adalah seteru antara pengamat politik Boni Hargens dan politikus Ruhut Sitompul. Di media Tvone, Ruhut Sitompul membongkar hal-hal yang bersifat pribadi yang justru dalam diskusi yang bersifat publik. Pernyataan Ruhut pun sangat diskriminatif dan rasis terhadap Boni Hargens. Sikap irasional publik Ruhut Sitompul ini menempatkan dirinya sebagai politkus yang tidak bisa membedakan mana ruang publik, mana ruang privat.

Hal yang sama juga terjadi dalam setiap pergunjingan mengenai kasus Sitok Srengege. Belum ada keputusan hukum yang final, orang ramai-ramai mencerca sang penyair sebagai pemerkosa. Sebelum ada keputusan final, kasus Sitok Srengenge masih dalam ranah privat. Ketika ada keputusan hukum final, apakah dia memperkosa atau hubungan atas suka sama suka, maka saat itulah kita bersuara. Atau jangan sampai kita adalah sang pelaku yang sedang mencari sasaran kambing hitam?

Tentu, simpati besar kita kepada setiap korban tindak pemerkosaan dan pelecehan seksual. Kita pasti dukung dan mendorong setiap korban untuk mencari keadilan hukum. Sikap simpati itu kita lakukan secara adil dan bijak pula.

Moralitas dan Kepenyairan

Berangkat dari persoalan yang menimpa penyair Sitok Srengenge, mungkin sejenak kita menengadah pada nilai-nilai surga yang telah dipakai di dunia ini, yakni moralitas. Tentu rasanya tidak adil pantas memakai nilai-nilai moralitas untuk mengukur moral Sitok Srengenge. Tetapi, kasus Sitok Srengenge hanya sebagai pemicu untuk melirik kembali perdebatan sastra post-strukturalis antara pengarang dan karyanya.

Tokoh post-strukturalis Roland Bartes pernah mengatakan bahwa biarlah karya sastra itu terlepas dari pengarangnya. Dalam esainya yang terkenal “The Death of the Author” (1968), ia menekankan otonomi teks sastra.  Artinya, dalam membaca karya sastra, pembaca harus melepas atribut sang pengarang sehingga hanya karya sastralah yang murni dibaca. Makna sebuah karya bukanlah makna dalam krangkeng sang pengarang, tetapi dikembalikan kepada pembacanya.

Boleh jadi, apa yang dikatakan oleh Roland Barhes benar adanya. Tetapi, sastra sebagai teks juga merupakan sebuah komunikasi budaya. Karya sastra tidak bisa dibiarkan “hidup sendirian”. Karena ia dibaca, maka teks sastra selalu berkaitan dengan perkakas budaya selain kongnisi. Ketika sebuah teks sastra disangkutkan dengan urusan budaya, maka mau tidak mau etika selalu menjadi dasar pertimbangannya.

Tentu, etika juga menjumpai dirinya dalam ruang relativitas. Artinya, Tidak ada kode moral yang baku dan terus berlaku. Kode moral selalu bergerak seriring perubahan zaman. Tetapi kode moral yang sitz im leben penting digunakan untuk melihat moralitas dalam konteks sastra.

Dalam konteks sastra, sesuatu yang berbeda dengan Roland Barthes datang dari tokoh sastra Indonesia, Subagio Sastrowardoyoo. Ia pernah menulis bahwa “padangan sastra yang memisahkan moralitas karangan dari moralitas pengarangnya berakibat pada tumbuhnya buah karangan yang pada dasarnya hanya permainan fantasi dan percaturan kata. Dalam hal ini pengarang hanya bersandiwara” (1989). Pandangan Subagio Sastrowardoyo ini ada benarnya juga. Karya sastra selalu merefleksi realitas masyarakat dan budaya. Pengarang pun lahir dan masyrakat dan budaya dimana ia berpijak. Karya sastra itu sendiri merupakan komunikasi sang pengarang dengan masyarakatnya. Dengan demikian, membaca teks sastra hampir pasti bersinggungan dengan pengarangnya.

Selalu ada nilai-nilai yang ingin disampaikan sang pengarang dalam karyanya. Pada umunnya nilai itu bersifat universal, kemanusiaan. Di dalamnya, ada yang politis, moral, religius dan lain-lain. Untuk itu, karya sastra tidak bisa dibiarkan hidup sendiri tanpa tanggungjawab pengarangnya. Artinya, adalah sangat janggal membiarkan nilai-nilai kemanusiaan dalam karya sastra bergentayangan di publik tanpa ada kesadaran nilai itu pada pengarangnya.

Jadi, setidaknya, ada harmoni antara moralitas karya sastra dan pengarangnya. Sastra bukanlah permainan tanda baca melainkan roh dalam sebuah masyarakat dan budaya. Keterlepasan pegarang dari moralitas karyanya adalah sebuah skandal juga.

 

Djogja, Desember 2013

Alfred Tuname


Dimuat di : http://www.weeklyline.net/sastra/20131215/the-public-use-of-scandal-catatan-atas-kasus-sitok-srengenge.html?fb_action_ids=10202078013305709&fb_action_types=og.likes&fb_source=other_multiline&action_object_map=%5B566233430117461%5D&action_type_map=%5B%22og.likes%22%5D&action_ref_map=%5B%5D

 

8 Comments to "The Public Use of Scandal: Catatan atas Kasus Sitok Srengenge"

  1. J C  21 December, 2013 at 11:39

    Dengan membaca paparan Alfred Tuname ini, aku lebih memahami kasus Sitok Srengenge ini. Pembahasan dan pemaparan yang netral. Memang tidak bisa dipungkiri, dalam situasi tertentu kalau sudah urusan syahwat, sering tidak bisa dihindari terjadi hal-hal yang diinginkan.

    Yang aku paling tidak suka adalah adanya kelompok agama radikal yang mengatakan dan bengak-bengok di mana-mana untuk membubarkan Salihara yang dibilangnya prostitusi terselubung…guuubbrrraaakkk…

  2. Nur Mberok  20 December, 2013 at 05:03

    wow, alfred membaca ulasanmu serasa lg ikut kuliah. Sangat cerdas, detil n netral. Khas cendekiawan. Tx

  3. Alfred Tuname  19 December, 2013 at 14:05

    mba Dewi: aha, karena itulah saya selalu merasa ber-harmoni dengan mba Dewi…. hehehe

  4. Alfred Tuname  19 December, 2013 at 14:03

    djasMerahputih: setuju bang… setiap antagonisme memang selalu riak untuk bermuara pada kebenaran….

  5. Alfred Tuname  19 December, 2013 at 14:01

    bang Handoko: sepakat bang. mengutip Jakob Oetama, oblesse oblige.

  6. Dewi Aichi  19 December, 2013 at 08:29

    Sepakat Alfred, bahwa harmoni nilai karya sastra itu hendaknya selaras dengan moralitas pengarangnya. Ulasan panjang tapi menarik, setidaknya sebagai penulis , Anda netral dalam kasus ini.

  7. djasMerahputih  18 December, 2013 at 09:09

    Jadi ingat kasus sastrawan besar Pramoedya AT.

    Apakah Komunitas Salihara telah tanpa sengaja melakukan “off side” dalam ruang politik?
    Dalam era informasi sekarang kebenaran menjadi sangat bias oleh perlakuan media yang
    tidak berimbang.

    djas rasa baik pelapor maupun terlapor berpeluang menjadi “koban” dari sebuah mesin industri.
    Apalagi jika kasus tersebut terus berputar-putar tanpa ending yg jelas.

    Semoga kebenaran tetaplah kebenaran. Kalaupun tidak, ia akan menemukan jalannya sendiri.

    Salam Suedjuk,
    //djasMerahputih

  8. Handoko Widagdo  18 December, 2013 at 08:50

    Kebebasan harus dibayar dengan tanggungjawab.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.