Perjalanan Terakhir (6)

Wesiati Setyaningsih

 

“Bapak sedih juga?” tanyaku heran.

Aku melihat seorang laki-laki di pertengahan usia 30an, menatap kosong dengan wajah lesu. Tapi aku tak percaya dia sedang dilanda kesedihan karena kematianku. Pasti dia sedang ada masalah dengan istrinya.

“Kamu pikir dia tidak kehilangan kamu?”

Aku tercenung. Tak pernah terpikir bahwa aku memiliki arti bagi hidup Bapak. Sejak meninggalkan kami, dia jarang menengok kami, aku dan Ibu.

“Dia sudah ninggalin aku dan Ibu, Yang. Masak iya dia masih mikirin kami.”

“Rob,” kata Yang Kung perlahan, “setiap orang dihadapkan pada situasi di mana dia harus melakukan sesuatu. Bahkan ketika kita pergi, seolah ini semua mau kita. Padahal bukan.”

“Kita mati, bukan ninggalin, beda sama Bapak yang ninggalin aku dan Ibu,” protesku.

“Iya kamu benar. Tapi di mata orang yang ditinggal, kita ninggalin mereka. Padahal kita mati karena begitulah ketentuanNYA dan itu di luar keinginan kita. Tiba-tiba saja kita sudah pergi meninggalkan mereka yang sekarang masih hidup. Tapi situasinya buat mereka bisa jadi sama, bahwa kita meninggalkan mereka. Bapakmu juga begitu.”

Aku menggeleng.

“Tapi Bapak ninggalin aku dan Ibu demi perempuan lain.”

“Benar. Dan menurutmu itu kehendak dia sendiri?”

“Iya, lah! Dia bisa tetap bertahan sama kami kalo dia mau.”

Yang Kung terdiam. Kurasa pembicaraan ini sudah tak ada artinya. Aku sudah di sini, di alam yang berbeda dengan mereka. Entah kenapa Yang Kung ingin membicarakannya.

“Kamu masih saja emosi. Di alam ini, emosi harusnya tidak perlu lagi. Buat apa? Kita sudah tidak punya masa depan dalam kehidupan dunia. Masa depan kita ada di dunia yang berbeda. Pola pikirnya harusnya juga beda. Bahkan sebenarnya, emosi malah bisa menghambat langkahmu di sini nanti.”

Sekarang aku yang diam.

“Coba kamu lihat dengan sebenarnya. Ada perempuan lain menggoda hatinya. Dia tertarik. Tanpa sadar dia sudah meninggalkan anak dan istrinya. Ketika dia sadar, dia ingin kembali, tapi tak bisa. Pernahkah kamu membayangkannya?”

Aku menggeleng.

“Kamu pernah dalam situasi seperti itu?”

Aku berpikir. Situasi di mana tersadar bahwa apa yang dia lakukan itu salah, tapi sudah terlambat. Rasanya aku pernah mengalaminya, waktu aku pergi bersama Very. Persis seperti itulah situasinya.

“Nah, waktu kamu pergi sama Very, sama saja kan?”

Ah, Yang Kung selalu bisa menerka, keluhku. Bagaimana lagi? Semua hatiku dia bisa mendengar.

Aku mengangguk.

“Aku sudah duduk di boncengan motor Very ketika aku melihat Ibu berjalan ke warung Bu Denan buat beli nasi kuning. Aku menyesal sudah mengingkari janjiku sama Ibu untuk tidak pergi. Tapi untuk balik sudah enggak bisa.”

“Nah, seperti itulah.”

Entah kenapa tetap saja aku merasa semua ini berbeda.

“Dan apakah Bapak menyesal?”

“Pasti. Selalu ada penyesalan ketika kita membuat orang lain kecewa, atau kita tahu perbuatan kita bakal membuat orang lain sedih.”

“Apakah dia juga tahu kalo aku sedih karena dia jarang datang? Apa dia tau aku kecewa ketika dia nggak tau aku sudah bisa naik sepeda?”

Yang Kung mengelus kepalaku. Tidak terasa seperti kepala yang dielus, tapi seperti ada sebuah energi mengitari bagian kepalaku.

“Keluarkan kesedihanmu. Mungkin itu bisa membantu.”

Aku diam, lalu menggeleng.

“Kenapa?”

Aku tak ingin menjawab. Pertanyaan “kenapa?” dalam hal seperti ini membuatku bingung.

“Mungkin aku bisa membantu membuatmu melihat apa yang terjadi sebenarnya.”

Mengusik lagi apa yang sudah lewat itu menyakitkan. Dan aku paling benci melakukannya. Itulah kenapa aku suka menyimpan semua kesedihanku hingga aku lupa. Mungkin aku cuma mengingkarinya, tapi tak pernah sepenuhnya melupakan. Nyatanya aku masih sakit hati pada Bapak saat ini.

“Kamu harus selesaikan semua ini Rob, sebelum kita pergi.”

“Aku benci kalo harus mengungkit lagi semua kesedihanku. Aku nggak suka.”

“Tapi nyatanya kamu masih memikirkannya. Di sini adalah tempat di mana kamu harus sudah melepaskan semuanya, Robi. Jangan ada yang tersisa dan tanpa sadar masih kamu bawa.”

Rasanya dadaku sesak. Mungkin tidak persis seperti itu, tapi hanya mirip. Memang aku tidak punya tubuh lagi, tapi rasanya mirip ketika aku sedang marah. Ada rasa sakit yang dalam, diam-diam menusuk-nusuk jiwaku. Kemarahan itu masih ada.

“Lepaskan marahmu, Rob.”

“Aku nggak marah.”

“Kamu masih marah. Kamu cuma mengingkari bahwa kamu marah.”

Dan aku benar-benar kesal sekarang. Aku tidak suka ditebak dengan sangat benar dalam hal seperti ini.

“Yang Kung menyebalkan. Aku benci mengingat waktu aku pengen sepatu bola. Semua teman punya. Aku suka main bola. Tapi Ibu bilang, nggak punya uang untuk beli sepatu bola. Kalo Bapak ada, pasti dia mau beliin. Tapi Bapak nggak ada. Yang ada cuma Ibu. Kata ibu, lagian main bola itu ngabisin waktu aja. Aku mestinya belajar, nggak usah main bola. Belum lagi kalo jatuh, bisa luka atau terkilir. Mesti keluar uang lagi untuk ngobatin.”

Rasa sakit terasa makin menusuk.

“Lantas kenapa kamu marah sama Bapakmu? Ibumu yang melarang, bukan Bapakmu.”

“Tapi kalo Bapak ada, dia pasti sudah membelaku. Dia pasti sudah membelikan sepatu bola dan mengajakku main bola.”

“Kamu yakin akan seperti itu?”

Pertanyaan ini tak pernah kuajukan pada diriku sendiri. Ketika sekarang disodorkan padaku, aku mencari-cari jawaban yang tak kutemukan juga.

“Kamu bermain dengan imajinasimu sendiri, dan akhirnya cuma mendapat lingkaran “seandainya – ternyata”. Kamu pikir seandainya Bapakmu ada, dia pasti begini, ternyata Bapakmu tak ada. Kamu berandai-andai, sementara realitanya berlawanan. Lantas kamu kecewa. Kamu mengecewakan dirimu sendiri. Begitulah polanya. Iya kan?”

Tiba-tiba aku dihadapkan pada sebuah pemikiran baru. Yang Kung bisa jadi benar. Dalam diriku saat ini seperti muncul sebuah pemahaman baru bahwa aku sudah berpikir dalam alur yang salah.

“Kamu racuni sendiri dirimu dengan kata seandainya yang belum tentu akan seperti itu andai pun memang kejadiannya seperti itu.”

Perlahan rasa sakit yang kurasakan berkurang.

“Kalo benar Bapakmu bersama kalian, belum tentu juga dia mengijinkan kamu main bola. Dia akan tau benar main bola itu ada resiko terluka dan cedera. Bisa jadi dia malah membela Ibumu. Ingat Rob, kamu anak lelaki satu-satunya. Kamu sangat berarti buat dia.”

Kalimat Yang Kung melumuri hatiku dengan kesadaran baru. Benar aku anak laki-laki satu-satunya. Entah seberapa berarti aku buat dia.

“Begitukah? Aku punya arti?”

“Buat Bapakmu, maksudmu?”

Aku mengangguk.

“Pasti. Waktu kamu lahir, dia begitu bangga. Kamu seolah menjadi dunianya.”

“Aku tidak ingat,” gumamku.

“Mungkin kamu memang tidak ingat. Tapi begitu kamu lahir, dia selalu membicarakan kamu di depan siapapun. Meski dia tak berani membantu merawat kamu waktu bayi, tapi itu bukan karena dia tak peduli. Dia takut melukai kamu.”

Aku tak pernah tahu aku pernah menjadi kebanggaan Bapak.

“Tapi kenapa dia ninggalin kami?”

“Dia tergoda perempuan lain. Biasa, lah. Orang baru, situasi baru, gairah baru, semua yang baru, seolah begitu menarik karena penuh tantangan.”

Kalau tantangan itu membuat dia melupakan anak istrinya, itu keterlaluan, pikirku.

“Kamu boleh menghakimi dia seperti apapun, tapi kamu harus tau, kalau dia menikahi Karina karena terpaksa.”

Mendengar nama Karina rasanya sakitku meledak lagi.

“Aku tak ingin mendengar nama itu.”

“Baiklah, cuma aku ingatkan, kamu mestinya tak lagi mengatakan tak ingin di sini. Di alam ini kamu cuma bisa melihat tanpa menghakimi. Tanpa rasa apa-apa. Cuma melihat saja.”

“Aku tak bisa.”

“Belum. Nanti juga bisa. Itulah kenapa aku datang padamu, menemanimu, karena akulah yang paling tau tentang kamu, Robi. Ini tugasku untuk membuatmu mampu membuang semua penghakiman yang sering kamu lakukan di masa hidup dulu. Kehidupan di sini sudah lain.”

Tak ada yang bisa kubantah lagi. Yang Kung sepenuhnya benar. Kurasa aku tak perlu mengelak lagi kecuali aku ingin jadi hantu gentayangan yang tak bisa kembali ke alam arwah dengan tenang karena masih memikirkan perihal kehidupanku di dunia.

Maka kuputuskan untuk melentur bersama kemauan Yang Kung untuk membicarakan Bapak dan kehidupan kami. Kurasa tak ada salahnya aku menghadapi semua rasa sakit ini karena ini pasti untuk yang terakhir kali.

“Baiklah, aku akan cerita,” aku menyerah.

Yang Kung segera menatapku dengan seksama.

“Aku akan mendengarkan. Tumpahkan saja semua Rob, tak ada jalan lain. Tidak perlu kamu sembunyikan lagi. Ini perjalanan terakhirmu.”

Aku mengangguk, lalu mulai mengingat waktu-waktu di mana rasa sakit itu begitu terasa.

“Rasa sakit yang paling parah adalah waktu aku masuk sekolah setelah libur panjang. Bapak memang sudah sering meninggalkan kami dengan alasan pekerjaan, perjalanan dinas ke luar kota jadi aku harus berangkat sekolah sendiri. Tapi ada saat-saat di mana aku diantarnya ke sekolah meski cuma jalan kaki karena sekolah cukup dekat. Kalo sebelumnya setauku Bapak tidak bisa mengantarku karena Bapak sedang kerja di luar kota, pagi itu aku tahu Bapak dan Ibu sudah bercerai. Kalo sebelumnya aku masih bisa berharap Bapak akan mengantarku sekolah ketika pulang dari dinas nanti, saat itu aku tau tentang perceraian itu, aku benar-benar putus asa. Sudah kecil kemungkinan aku bisa ketemu Bapak, pikirku. Dan aku sangat sedih.”

“Kamu marah?”

“Iya, tapi aku nggak tau aku marah sama siapa. Aku marah sama Ibu karena membiarkan Bapak pergi. Harusnya Ibu bisa membuat Bapak bertahan. Perempuan harusnya bisa membuat laki-laki tak mampu meninggalkannya. Pasti Ibu melakukan sesuatu yang membuat Bapak kurang berkenan hingga Bapak pergi.”

“Aku marah sama Bapak karena pergi meninggalkan kami. Harusnya dia bisa menahan diri untuk tidak tertarik pada perempuan lain dan tetap bersama kami. Ada aku, anaknya. Harusnya dia memikirkan aku, perasaanku, masa depanku. harusnya tak ada yang lebih penting di dunia ini selain aku.”

“Aku juga marah sama diriku sendiri karena harusnya aku bisa menjadi anak yang lebih manis dan menyenangkan bagi Bapak sehingga dia tidak pergi meninggalkan kami. Dan..”

“Dan apa?”

“Akhirnya aku marah sama Tuhan…”

“Karena?”

“Karena cuma Tuhanlah yang membuat aku mengalami seperti ini.”

Yang Kung terkekeh.

“Yang Kung tidak marah?”

“Kenapa marah?”

“Karena aku marah sama Tuhan.”

Tawa Yang Kung meledak. Aku harus menunggu beberapa saat hingga tawanya berhenti.

“Robi, kamu tau tidak?”

“Apa?”

“Ketika kamu sudah marah sama Tuhan, itu sebuah langkah maju yang luar biasa.”

“Kok bisa begitu?’

“Karena, “ sisa tawanya masih ada jadi kalimatnya terpotong, “karena berarti kamu sadar bahwa semua ini dari Tuhan.”

Aku terpana.

“Semua ini dari Tuhan…” aku menggumam, mengulang kata-kata Yang Kung.

Aku menoleh ke arah Bapak. Tampak olehku kini kesedihan yang dalam. Seorang laki-laki tampan di usia yang semakin matang, terpuruk dalam sebuah kehancuran yang luar biasa. Sorot matanya layu, wajahnya pucar dan bibirnya mengering. Dia duduk seperti tanpa tenaga.

Aku mulai bisa melihat yang sebenarnya. Hilang sudah semua kenangan menyakitkan yang pernah aku alami dan semua kutimpakan pada lelaki itu sebagai penyebabnya. Lepas sudah rasa sakitku.

“Benar, semua ini dari Tuhan, Rob. Bukan semata-mata Bapakmu, atau Ibumu, atau dirimu sendiri. Tanpa rencana besar Tuhan, kamu pikir ini semua akan terjadi?”

Aku mengeleng.

“Nah. Kamu tau kan sekarang? Jadi sebenarnya, kalo kamu marahnya sama Tuhan, itu sudah benar. Setidaknya dengan begitu kamu sudah menyadari adanya Tuhan dalam semua rencana kehidupan ini.”

Yang Kung kembali tertawa.

“Lucu ya?” aku agak kesal melihat Yang Kung tertawa tak habis-habis.

“Bukan kamu yang lucu. Tapi pemikiran kita waktu di dunia, itu semua lucu.”

“Bagian mana yang lucu?”

“Bahwa marah sama Tuhan itu salah.”

“Itu tidak salah?”

“Yah, kalo belum sadar, masa ada yang salah? Kita terlalu suka menghukum diri sendiri. Tuhan tidak akan pernah marah meski kamu memakiNYA. Tuhan bukan seperti manusia yang langsung menarik pedang ketika dihina. Tuhan itu biasa saja. DIA mengamati dengan tersenyum semua tingkah kita. Jangan-jangan DIA sekarang  juga sedang tertawa-tawa. Seperti aku begini.”

Yang Kung kembali tertawa. Aku juga. Mulai kusadari kelucuannya sekarang.

“Jadi Tuhan itu benar ada?” kali ini aku iseng bertanya.

“Bagi yang percaya, DIA pasti ada.”

Jawaban Yang Kung jadi terasa serius.

“Tuhan tidak marah kalo ada yang tidak percaya dia ada?”

“Buat apa? Sekarang kalo ada yang tidak percaya bahwa kamu pernah terlahir, pernah hidup sebagai Robi, dan sekarang sudah mati, apa lantas kamu benar-benar tidak ada?”

Kembali aku menghadapi pertanyaan yang harus kujawab sendiri. Yang Kung memang hebat.

“Ya tetap saja ada.”

“Nah, Tuhan juga begitu. Kalo ada yang tidak percaya DIA ada, ya tidak bakal bisa liat kalo Tuhan itu ada. Padahal dia memang ada. Begitu saja.”

“Tidak ada hukuman apa-apa?”

“Hukuman apa yang bisa dijatuhkan pada orang yang bahkan tidak percaya hukuman itu ada?”

Yang Kung tersenyum simpul.

“Ini membingungkan.”

“Sudahlah. Kalo memang belum sampai, ya tidak usah bertanya banyak. Nanti tambah bingung kamu. Inilah yang terjadi dengan manusia di dunia, kan? Enggak paham benar tapi kebanyakan nanya. Nanti pas dijelasin karena pikirannya enggak nyampe, malah marah-marah. Ribut jadinya.”

Aku tersenyum. Begitulah memang kehidupan di dunia. Suka pada ribut membicarakan Tuhan, mengatakan bahwa Tuhan akan marah kalau dihina begini begitu, padahal Tuhan sama sekali tidak terhina. Kalau memang Tuhan terhina, pasti dengan mudahnya DIA membuat orang yang menghinanya mati kena petir. Blaar! Selesai. Mudah saja buat DIA. Toh Tuhan diam saja. Jadi kenapa manusia repot mengatasnamakan Tuhan? Ada-ada saja.

“Sekarang urusanku sama Bapak sudah selesai, nih?” tanyaku.

“Coba rasakan sendiri. Lihat wajah bapakmu itu. Dia di situ sedang duduk. Amati dia. Masih ada tidak rasa sakitnya?’

Kuamati lagi lelaki itu. Lelaki yang di masa aku hidup adalah Bapak kandungku. Lelaki yang kemudian meninggalkan aku dan Ibuku, lantas jarang datang lagi. Lelaki yang membuatku merindukan sosok ayah, dan membuatku lebih dekat dengan Yang Kung.             Dekat dengan Yang Kung membuatku banyak belajar tentang kehidupan. Dan mungkin itulah yang diinginkan Tuhan untukku. Semua ini karena Tuhan.

Rasa sakit? Perlahan kuamati ke dalam diriku. Adakah rasa sakit yang seperti tadi? Rasa sakit yang menusuk-nusuk dan menimbulkan hawa panas. Rasa sakit yang sangat tidak nyaman.

Aku tak lagi merasakan apa-apa. Kucoba lagi memandang Bapak dengan lebih seksama. Kuungkit lagi semua kemarahanku padanya. Tak ada. Yang kulihat sekarang hanyalah seorang manusia, yang penuh khilaf dan salah langkah, dan bahkan mungkin itulah jalan yang memang disediakan Tuhan untuknya.

Apakah aku punya alasan untuk tidak memaafkannya? Ketika dia cuma melaksanakan rencana Tuhan, kukira akupun tak punya alasan untuk marah padanya. Aku menarik nafas dalam. Dalam hal ini, aku seperti meliuk dan meregang seperti menggeliat melepaskan segala ketegangang.

“Gimana?” tanya Yang Kung.

“Kurasa aku sudah selesai.”

Yang Kung tersenyum lebar.

“Bagus. Sekarang saatnya untuk meneruskan perjalananmu.”

“Kita mau ke mana?”

“Enggak ke mana-mana. Di sini saja menyaksikan pemakamanmu.”

Kata-kata itu terdengar ironis: “menyaksikan pemakamanmu”. Aku tersenyum. Kalimat yang aneh.

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

5 Comments to "Perjalanan Terakhir (6)"

  1. wesiati  21 December, 2013 at 20:23

    esti dan mbak lani : ikuti terus ya?

    Alvina : jasad bisa mati, jiwa tidak. dan emosi itu melekat pada jiwa. bahkan ketika sudah pindah ke kehidupan lain, emosi ini bisa saja terbawa. bagi mereka yang meyakini reinkarnasi, percaya hal ini. kalo yang tidak ya wallahu alam.

    JC : keren ya? aku memang gila.

  2. J C  21 December, 2013 at 11:52

    Wesi, penggambaranmu gejolak perasaan dan pemikiran si Robi memang dahsyat…pembaca ikut bergelora (halah bahasaku) perasaannya saat membaca dialog Robi…

  3. Alvina VB  21 December, 2013 at 10:17

    Nah ini satu lagi yg blm ada yg bisa jawab , kl org dah neninggal apakah masih punya emosi/ perasaan yg lainnya ya?

  4. Lani  19 December, 2013 at 14:02

    Lanjoooooot………semakin mengasyikkan………

  5. Esti  19 December, 2013 at 13:43

    Numero uno….mberebes mili aku mbak Wes :'(

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *