[Xixi Diary Sang Superstar] Cakar-cakar Hitam Masa Lalu

Masopu

 

Adzan isya’ telah berlalu. Jamaah sholat isya masjid al Ikhlas pun berangsur-angsur kembali ke rumahnya. Pun dengan Xixi yang telah berada di masjid sejak waktu ashar tadi. Dengan irama yang teratur, diayunkan langkah kakinya menuju rumah yang ditempatinya. Rumah mungil bercat kuning yang bertempat di ujung gang dekat masjid al-Ikhlas. Rumah yang dibelinya dari sisa uang tabungannya.

“Dasar sundal.“ maki seorang ibu ketika berpapasan dengannya.

Xixi tak menjawab makian tersebut. Hanya suara istighfar yang terlontar dari bibirnya. Seulas senyum yang setengah dipaksakan tersungging dari bibirnya yang mungil. Senyuman untuk menutupi luka hatinya, setiap kali kata-kata hinaan menghampirnya. Telinganya yang terbungkus jilbab serasa sudah kebal, karena setiap hari mendengar makian dan cemoohan warga. Namun dia selalu berusaha bersabar menghadapi semua hinaan itu. Setiap cemoohan yang diterimanya, dibalasnya dengan do’a-do’a kebaikan. Do’a-do’a yang selalu dipanjatkannya di setiap waktunya. Tak ingin dia berlama-lama terlarut rasa dendam dan sakit hati.

“Hee Sundal, ditunggu sama pelangganmu itu.“ kata seorang ibu lain saat berpapasan di dekat rumahnya. Tatap mata sinis dan penuh kebencian terlihat di matanya.

Xixi yang mendengar perkataan seperti itu agak kaget. “Masyaallah, mereka menganggap mas Iqbal sebagai pelangganku?“ gumam Xixi. Pikirannya mendadak jadi kacau. Hampir saja dia berbalik arah mau mengejar langkah ibu yang memakinya tersebut, andai telinganya tidak mendengar suara seseorang memanggilnya.

“Xixi sayang, apa kabarnya?“ tegur seorang lelaki dengan tinggi sekitar 175 cm. Tubuhnya yang tegap terlihat berdiri dengan angkuhnya di pintu masuk halaman rumahnya. Lengan kirinya yang berotot berhias tattoo dari pergelangan tangan sampai ke pangkal lengan. Tubuhnya hanya tertutup kaus hitam tanpa lengan dan celana sewarna yang robek di beberapa bagiannya. Sebuah anting-anting menghiasi hidungnya yang mancung. Sementara di telinganya ada beberapa anting-anting yang tergantung.

black-past

Xixi terperanjat melihat sosok lelaki tersebut. Sosok lelaki yang begitu dikenalnya. Dia laki-laki yang menjerumuskannya ke pergaulan yang salah. Sorot matanya tajam memandang sosok lelaki yang telah merenggut kesuciannya. Sosok lelaki yang telah menghancurkan hidupnya dulu. Sosok laki-laki yang sebenarnya sudah tak ingin lagi dilihatnya.

“Untuk apa kamu ke sini?“ tanya Xixi dengan suaranya yang dibuat sehalus mungkin.

“Aku kangen sama kamu sayang. Kok ketus gitu sih?“ kata lelaki itu sambil berjalan mendekat ke arah Xixi. Tangannya direntangkan seakan-akan ingin memeluk Xixi.

“Kangen katamu, Fer?“ tanya Xixi sambil mempererat pegangan tangannya ke sajadah dan mukenah yang ada didekapnya.

“Iya sayang. Aku kangen kamu. Aku ingin balikan sama kamu lagi.“ rajuk Ferdy sambil meneruskan langkahnya mendekati Xixi.

“Aku tak mau kembali denganmu, Fer.“ bentak Xixi. Suaranya yang meninggi membuat beberapa orang yang sedang ada di sekitar situ menoleh ke arah mereka.

“Sayang, aku rindu kamu. Aku ingin menikmati malam-malamku bersama dirimu lagi. Di mana kita happy-happy dari satu club ke club malam lainnya. Aku ingin menikmati tubuhmu seperti dulu lagi sayang.“ bibir Ferdy terus berceracau tak terkontrol. Tercium bau alkohol dari bibirnya.

“Kamu sudah gila! Setelah merenggut kesucianku, terus menjualku, kemudian mengkhianati aku sekarang kamu ingin balikan lagi denganku? Kamu memang tak punya malu Fer!“ bentak Xixi dengan muka memerah. Degup jantungnya perlahan semakin cepat.

“Sayang, kamu jangan muna gitu! Bukankah dulu kamu begitu menikmati setiap aksiku? Bukankah dulu kamu begitu menikmati setiap kuajak happy-happy di club? Bukankah dulu kamu begitu menikmati setiap belaian yang aku berikan? Bukankah dulu kamu lebih mementingkan uang dan kesenangan dalam hidupmu?“

“Cukup! Tak usah lagi kau sebutkan semua kesalahan yang pernah aku lakukan dulu. Aku sudah muak mendengarnya. Aku ingin kamu tinggalkan rumahku sekarang!“ bentak Xixi.

“Aku ingin tinggal serumah denganmu, sayang.“ Rajuk Ferdy berusaha mendekati Xixi.

Xixi yang melihat Ferdy mendekat segera melangkah mundur. Matanya terus melihat ke arah lelaki bertatto tersebut. Tak disadarinya, langkahnya tersandung batu bata yang tergeletak di belakangnya. Tak ayal tubuhnya terjengkang ke belakang. Dia jatuh terduduk.

Ferdy yang melihat hal itu bergegas mendekati Xixi. Dengan sigap tangan kekarnya segera meraih tubuh yang rubuh tersebut. Xixi memberontak dari genggaman tangan kekarnya, namun karena kalah tenaga usahanya jadi sia-sia saja.

“Toloooongg….“ teriak Xixi dengan kencang. Warga yang menyaksikan hal itu segera berlari mendekat ke arah Xixi dan Ferdy. Teriakan dan kedatangan beberapa warga membuat Ferdy melepaskan genggaman tangannya.

“Pak tolong saya.“ pinta Xixi kepada warga yang mengerumuni mereka.

“Kalian tidak usah ikut campur, ini urusan antara saya dengan mantan pacar saya.“ bentak Ferdy ke warga yang datang mengerubutinya.

Hanya sesaat warga yang ada menahan langkahnya. Setelah itu perlahan mereka bergerak mendekat ke arah Ferdy dan Xixi. Sambil menyeret tubuh Xixi yang belum sempurna berdiri, Ferdy bergerak mundur.

“Lepaskan dia.“ bentak seorang pemuda yang tiba-tiba muncul dari kerumunan warga. Tubuhnya hampir setinggi Ferdy, Cuma badannya lebih kurus. Hal itu tak membuatnya takut untuk membentak lelaki yang sedang menyandera Xixi.

Xixi terkejut. Harapannya untuk lepas dari cengkeraman Ferdy semakin besar, saat melihat pemuda itu. Warga pun tak kalah terkejutnya dengan kehadiran pemuda tersebut. Pemuda yang selama ini mereka pergunjingan, karena mempunyai kedekatan dengan Xixi.

“Mas Iqbal.“ pekik Xixi dengan sorot mata penuh harapan.

“Lepaskan dia.“ Kembali Iqbal membentak Ferdy.

“Kamu jangan ikut campur. Ini urusanku dengan mantan pacarku.“ balas Ferdy.

“Aku tak akan ikut campur, jika kamu membicarakan masalahmu secara baik-baik. Tidak sambil menyeretnya seperti ini.“ sanggah Iqbal.

“Diam kamu, aku tak butuh nasehatmu.“ kembali Ferdy membentak Iqbal.

“Aku tak akan diam, selama kamu memperlakukannya tidak seperti selayaknya.“

“Kamu terlalu banyak omong.“ kata Ferdy sambil melepaskan genggaman tangannya. Secepat kilat dia langsung menyerang Iqbal dengan tinjunya yang mengarah ke muka. Iqbal menghindari pukulan Ferdy sambil menggerakkan kaki kanannya menyapu salah satu kaki Ferdy. Ferdy jatuh terpelanting saat sapuan kaki Iqbal menerjang kakinya yang tak sempurna menahan beban tubuh.

Ferdy segera bangkit. Tangan kirinya memainkan sebilah pisau lipat yang baru saja dikeluarkan dari sakunya. Sambil kembali bergerak maju, digenggamnya pisau itu erat-erat. Beberapa kali sabetannya menerpa ruang kosong. Warga yang melihat hal itu, tidak tinggal diam. Mereka segera mengerubuti Ferdy dan berusaha menangkapnya. Usaha yang mereka lakukan akhirnya membuat Ferdy tak berdaya. Dalam waktu sekejap warga berhasil menangkapnya. Sementara pisau lipat yang tadi dipakai untuk menyerang Iqbal telah berhasil diamankan warga.

Begitu Ferdy berhasil diamankan, warga segera menyerahkannya ke aparat kepolisian yang kebetulan sedang lewat untuk berpatroli. Sementara Iqbal dan Xixi tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih kepada warga yang telah menolong mereka. Setelah itu mereka berdua kembali ke rumah Xixi.

“Mas, terima kasih atas pertolongannya tadi.“ kata Xixi sambil mempersilahkan Iqbal untuk duduk di kursi yang berada di teras rumahnya.

“Mas hanya kebetulan saja lewat tadi.“

“Mas, dari mana kok lewat sini?“ tanya Xixi sambil merapikan kerudungnya yang agak berantakan akibat ulah Ferdy tadi.

“Aku baru pulang kerja.“

“Jam segini baru pulang mas?“

“Iya. Tadi habis melihat lokasi proyek yang aku tangani.“

“Terus bagaimana mas tadi tiba-tiba bisa menolongku begitu?“

“Tak sengaja aku melihat ada kerumunan orang dan suara teriakan. Aku turun hendak melihat apa yang terjadi. Begitu aku melihatmu diseret lelaki tadi, aku langsung ingin menolongmu.“ terang Iqbal. “Laki-laki tadi itu siapa Xi?“ tanya Iqbal.

“Dia itu Ferdy. Mantan pacarku dulu.“ jawab Xixi singkat. Ada kesan dia tidak suka saat Iqbal menanyakan hal itu.

“Kenapa dia memperlakukanmu seperti itu?“

“Dia ingin mengajak aku balikan lagi.“

“Bagaimana tanggapanmu?“

“Aku gak mau mas. Dia orang yang telah merusak dan menjerumuskanku.  jawab Xixi. Raut mukanya makin masam. Iqbal yang menyadari pertanyaan-pertanyaannya tadi membuat Xixi tak enak.

Untuk beberapa saat lamanya mereka berdua diam. Tak ada kata-kata yang saling bersahutan. Masing-masing terhanyut dalam pikirannya masing-masing. Setelah waktu berlalu agak lama, akhirnya Iqbal berpamitan untuk pulang. Xixi mengantarkannya sampai pintu masuk halaman rumah.

_ _ _

Matahari pagi sejuk menyapa kulit Iqbal dan Xixi. Bersisian mereka berjalan menuju mobil yang tengah parkir tak jauh dari pintu masuk gang ke rumah Xixi. Ketika mereka hendak menaiki mobil itu, mata mereka terbelalak. Ke empat ban mobilnya telah kempes.

“Ya siapa sih yang punya kelakuan seperti ini?“ tanya Iqbal sambil berjalan memutari mobilnya. “Mengganggu orang mau berangkat ke pengajian saja.“ lanjutnya.

“Sabar mas! Mungkin hanya kerjaan orang-orang iseng saja.“ Xixi coba menenangkan.

“Iya Xi. Tapi kok pas momennya seperti ini. Saat kita mau berangkat pengajian. Mana waktunya sudah mau mulai lagi.“

“Jadi gimana mas? Mau berangkat ke pengajian atau menggerutu saja di sini?“ tanya Xixi.

“Ya berangkatlah Xi. Kita naik bus kota saja ya.“ kata Iqbal sambil menghentikan sebuah bus kota yang kebetulan lewat. Xixi mengikuti langkah Iqbal yang berjalan mendekati bus yang berhenti.

“Sayang mari aku antar,“ suara Ferdy yang tiba-tiba muncul.

Mereka berdua kaget dengan kemunculan Ferdy. Senyum culas mengembang di bibirnya saat melihat Iqbal dan Xixi. Asap rokok mengepul dari bibirnya. Nissan juke warna merah yang dikendarainya sengaja diparkir tak jauh dari Avanza Iqbal. Saat melintasi mobil Iqbal yang sedang kemps ban, lelaki tersebut meludahinya. Iqbal yang melihat hal itu, hanya diam saja.

“Sayang, mau kemana sih pagi-pagi? Tak antar ya?“ Ferdy kembali berkata. Tangan kanannya bergerak hendak memegang tangan Xixi. Xixi bergerak mundur sambil mengibaskan tangannya. Iqbal yang melihat hal itu segera berdiri di sisinya.

“Sayang, jangan jual mahal begitu?“ Ferdy kembali berusaha mendekati Xixi.

“Cukup!“ bentak Iqbal dengan suaranya yang sedikit dinaikkan tensinya. Tubuhnya yang sedikit lebih kurus kini telah berdiri di antara mereka berdua. Ferdy menghentikan langkahnya. Sementara Xixi mundur beberapa langkah.

“Hee! Elo gak usah ikut campur. Ini urusanku!“ bentak Ferdy. Bau alcohol segera tersembur dari bibirnya yang menghitam karena kebanyakan menghisap rokok.

“Aku gak ikut campur. Aku gak suka caramu memperlakukan wanita seperti itu.“ jawab Iqbal sambil terus memperhatikan gerak tubuh Ferdy.

“Kamu mau jadi pahlawan kesiangan ya? Atau kamu sudah pernah ikutan menikmati tubuhnya yang molek?“ tanya Ferdy dengan senyum sinis yang kembali tersungging dari bibirnya. Tangannya perlahan mengepal.

“Cukup! Jangan kau ulangi perkataanmu yang tak berdasar itu!“ Iqbal membentaknya.

Bus kota yang tadi berhenti kini telah bergerak meninggalkan tempatnya. Sementara sorot mata orang-orang yang sedang berjalan mengawasi keributan yang ada. Bisik-bisik pelan terdengar dari bibir mereka.

“Kenapa? Bukankah benar kamu sudah pernah merasakan hangatnya belaian jalang itu?“ kata Ferdy dengan ketusnya. Telunjuk tangan kirinya menunjuk ke arah Xixi.

“Cukup Fer! Kamu cepat pergi dari sini!“ bentak Xixi yang tak lagi bisa bersabar melihat tingkah lakunya. Dia kini berjalan mendekati Iqbal yang sedang berdiri berhadapan dengan Ferdy.

“Kenapa? Kamu takut aku bongkar semua kisah masa lalumu? Bukankah kamu mendekati laki-laki hanya untuk mendapatkan uang dan hartanya? Dasar munafik.“ Ferdy meneruskan kembali kata-katanya.

Butiran air mata perlahan turun membasahi pipi putihnya Xixi. Kalimat demi kalimat yang terus menerpa gendang telinganya begitu menyakitkan hatinya. Hantaman-hantamannya yang halus terasa keras menghentak ulu hatinya. Perih hatinya kini tak mampu lagi ditahan. Harga dirinya benar-benar telah dijatuhkan di depan orang yang begitu dihormatinya.

Tanpa banyak kata lagi, Xixi segera berbalik. Dengan menahan deraian air matanya, dia berlari kembali menuju ke rumahnya. Wajahnya yang memerah coba ditutupinya dengan kerudungnya yang lebar. Hanya matanya yang sembab oleh air mata yang terlihat. Tak dipedulikannya lagi Iqbal yang sedang berdebat dengan Ferdy. Pun saat orang-orang yang berpapasan dengannya, dia terus berlari menuju rumahnya yang letaknya tidak begitu jauh. Dilupakannya niatan untuk pergi ke masjid Agung Al Akbar.

Begitu sampai di rumahnya, Xixi segera masuk dan menutup pintu. Dibenamkannya wajahnya ke tumpukan bantal. Air mata yang berusaha ditahannya kini tumpah tak tertahan membasahi bantal tidurnya. Isak tangisnya terdengar sampai ke luar rumah.

Jika selama ini dia mampu menahan hinaan warga, itu semua tak lepas dari ketidak adaan Iqbal di sampingnya. Namun saat Ferdy menghinanya di depan Iqbal, sakit hati yang dirasakannya kini tak mampu lagi ditahannya. Perasaan malu yang menginggapinya membuat sakit itu terasa semakin dalam untuknya.

“Xi, buka pintunya,“ suara Iqbal memintanya untuk membuka pintu. Suara ketukan pintu yang diulangnya beberapa kali, tak membuat Xixi berkeinginan untuk membukanya.

“Xixi, tolong buka pintunya.” Kembali Iqbal berkata sambil terus mengetuk pintu rumahnya. Tak ada jawaban dari Xixi. Wajahnya semakin dalam terbenam dalam tumpukan bantal. Suara isakan tangisnya tak lagi sekeras awalnya.

Iqbal tak tahu harus berbuat apa. Beberapa kali panggilannya tak dihiraukan Xixi. Ketukannya di daun pintu pun tak mampu membuat Xixi terbangun untuk membukakan pintu. Bingung bercampur kesal masih mendera hatinya. Tuduhan-tuduhan yang terlontar dari bibir Ferdy sedikit banyak membuatnya terpengaruh. Rasa geram dam mau marah begitu menguasai dirinya. Setelah beberapa kali mengetuk pintu, namun tak ada jawaban, akhirnya Iqbal memutuskan meninggalkan rumah Xixi.

_ _ _

Intimidasi yang dilakukan Ferdy terus berlanjut. Hampir setiap hari dia mendatangi Xixi di tempatnya mengajar. Berbagai cara dilakukannya untuk membuat Xixi kembali bertekuk lutut padanya. Cara-cara halus sampai kasar terus dilakukannya. Dari cara hanya mengganggunya saat mengajar, sampai membawa benda-benda yang tidak sepantasnya diperlihatkan kepada anak-anak kecil yang masih belajar mengaji.

Ulah Ferdy yang keterlaluan itu, berimbas buruk pada Xixi. Warga yang pada dasarnya tidak simpatik dengan keberadaannya, semakin membencinya. Desas-desus miring terus merebak di masyarakat. Mayoritas dari mereka menghendaki Xixi tak lagi mengajar anak-anak TPQ.

Sholat berjamaah isya baru saja usai. Iqbal yang sengaja datang ikut berjamaah, keluar paling akhir. Di dalam masjid masih ada beberapa orang jama’ah yang bertahan. Suara dzikir terdengar lembut mengalun di telinganya.

“Mas Iqbal, Tumben sholat isya’ di sini?“ sapa Xixi yang tiba-tiba muncul dari sisi sebelah kanan masjid.

“Sengaja aku sholat ke sini. Ingin berbincang-bincang denganmu.“ jawab Iqbal.

“Bicara tentang apa nih?“ tanya Xixi.

“Kamu.“ jawab Iqbal singkat.

“Loh kok tentang aku mas? Ada apa mas?“ raut muka Xixi langsung berubah mendengar kata-kata iqbal yang singkat tersebut.

“Iya aku mau bicara tentang kamu.“

“Ada apa ya mas?“

“Xi…..”

Baru saja Iqbal mau berbicara, sebuah sabetan senjata tajam menyambar punggungnya. Tubuhnya yang tidak siap menerima serangan itu tak mampu mengelak. Tangannya memegangi bagian kiri perutnya. “Ahhhh“ hanya pekikan tertahan keluar dari bibirnya. Tubuhnya segera luruh ke bumi, tak sadarkan diri.

Beberapa jamaah masjid yang mendengar keributan kecil di halaman segera menghentikan dzikirnya. Bergegas mereka berlari menuju halaman masjid. Mata mereka terbelalak, melihat sosok tubuh tergeletak di halaman. Sementara tak jauh darinya terlihat Xixi dan seorang pria berdiri sambil memegang pisau.

Melihat beberapa orang jamaah yang mendatanginya, lelaki tersebut segera berlari. Beberapa orang jamaah segera mengejar lelaki tersebut. Sementara sebagian lainnya menolong Iqbal yang jatuh tak sadarkan diri.

“Siapa orang yang tadi menusuk dia?“ tanya pak Kiai yang sudah berdiri di dekat tubuh Iqbal.

“Fer….Fer…..Ferdy pak,“ jawab Xixi gugup.

“Siapa dia?“

“Mantan pacar saya dulu pak.“

“Kenapa dia melakukan ini ke Iqbal?“

“Saya tidak tahu pak.“

Tak berapa lama kemudian, beberapa orang jamaah yang mengejar Ferdy datang. Mereka menyeret tubuh Ferdy yang berhasil ditangkap saat akan masuk ke mobilnya. Tubuh lelaki bertattoo itu babak belur kena pukulan orang-orang yang tersulut emosinya.

Halaman masjid yang tadinya sudah mulai sepi, kembali ramai oleh warga yang berdatangan. Beberapa warga yang mengetahui penusukan Iqbal segera memanggil warga lainnya. Berbondong-bondong mereka berkumpul di depan masjid.

Pak Kiai Solehudin segera meminta beberapa orang warga mengantarkan Iqbal ke rumah sakit. Xixi yang masih syok ikut mengantar Iqbal ke rumah sakit. Sementara yang lain menyerahkan Ferdy dan barang buktinya ke kantor polisi.

_ _ _

Matanya yang berkejapan kebingungan. Warna putih yang mendominasi ruangan itu terasa asing di matanya. Bau aneka obat-obatan yang menyergap hidungnya semakin membuatnya bingung. Saat dia menggerakkan tubuhnya sedikit, rasa nyeri di perut kirinya menahan gerakannya.

“Ahhh,“ erangnya pelan. Erangan yang cukup membuat tiga orang yang menjaganya menoleh.

“Kamu sudah sadar nak?“

“Ummi, kenapa aku di sini?“ tanya Iqbal sambil meringis menahan sakit.

“Kamu tadi ditusuk orang nak.“

“Siapa yang menusuk saya bu?“

“Mas Iqbal tadi ditusuk Ferdy. Syukurlah sekarang mas Iqbal sudah sadar dari pingsannya.“ potong Xixi yang sudah berdiri didekatnya.

“Xixi… “ gumamnya pelan.

Sambil menahan nyeri di sekitar lukanya, Iqbal memandang wajah Xixi. Yang dipandang hanya bisa menundukkan wajahnya. Sementara Abahnya yang ikut menjaganya hanya memperhatikan dari tempatnya duduk. Bibir lelaki tua itu terus bergerak membacakan do’a untuk anaknya yang sedang terbaring sakit.

“Mas Iqbal, maafkan aku ya. Mas mengalami ini semua karena aku.“ kata Xixi seraya merapatkan tangannya di depan dada.

“Xixi, gak perlu minta maaf. Ini semua sudah menjadi takdirku.“ jawab Iqbal sambil meringis.

“Tapi mas…..” Xixi berhenti berkata, saat melihat Iqbal kembali meringis menahan sakitnya. Tangannya hanya member tanda agar dirinya diam.

Seorang perawat yang masuk ke ruang perawatan Iqbal, memberi tahu jika dokter jaga akan melakukan pemeriksaan terhadap luka Iqbal. Dia meminta untuk sementara waktu agar mereka bertiga meninggalkan ruangan tersebut. Setelah mereka pergi, pemeriksaan pun dilakukan.

 

Denpasar, 27032012.1114

 

2 Comments to "[Xixi Diary Sang Superstar] Cakar-cakar Hitam Masa Lalu"

  1. J C  21 December, 2013 at 11:50

    Lhaaaa…

  2. James  19 December, 2013 at 14:05

    Ckar Hitam, SATOE kalo belom ama i Lani

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.