Tertawa Lebih Baik daripada Agama

Marhento Wintolo

 

Banyak yang akan menentang, pastinya. Itulah kondisioning kita selama ini. Dalam pikiran atau mind telah ditanamkan bahwa agama atau kepercayaanlah yang terbaik. Tetapi pernahkah terpikirkan oleh kita, berapa banyak nyawa melayang ketika terjadi perang salib? Semua karena alasan membela agama.

Dalam memeluk suatu agama kita masih menggunakan pikiran. Saat pikiran bekerja, ia selalu menganggap dirinya paling baik. kemudian terjadilah saling mengejek dan merendahkan. Bukan saja beda agama. Sesama agamapun sering terjadi demikian. Pikiran yang selalu menganggap diri paling baik penyebab semuanya itu. Sedikit yang sadar bahwa sesungguhnya tiada satupun agama lebih baik dari lainnya. Mengapa?

religius-sains

Bagaimana mungkin kita membandingkan apel dan jeruk. Mana yang lebih enak? Sulit bukan? Demikian pula dengan agama yang berbeda. Setiap agama diadakan oleh Dia Sang Mahapencipta sesuai dengan budaya setempat. Oleh karenanya dahulu para wali, Sunan Kalijaga menyebarkan agama selaras dengan budaya setempat.

Bagaimana dengan yang secara garis besar satu rumpun agama, tetapi masih saja berbeda? Hal bisa saja terjadi, karena kenyataannya walaupun tinggal di negara yang sama, masih saja ada suku dan budaya yang berbeda. Inilah penyebab perbedaan. Perbedaan bukanlah jurang pemisah sesungguhnya. Semua hanya asumsi pikiran.

Seandainya setiap insan beragama berasumsi bahwa agamaku tidak lebh baik dari agamamu, yakinlah tiada yang akan ada yang saling berupaya mengungguli. Bagaimana bisa lebih enak rasa apel daripada jeruk? Saling mengapresiasi akan membuat dunia lebih indah.

Lantas apa sebabnya tertawa lebih baik dari agama? Dengan tertawa tiada lagi sekat diantara kita. Tiada satupun tertawa yang dibawakan oleh seorang pemimpin. Tidak mungkin kita tertawa menirukan gaya seseorang terus menerus. Suatu ketika tanpa kita sadar kita akan tertawa sebagaimana orisinilnya.

Tertawa membuat pikiran terbuka. Keterbukaan pikiran inilah yang membebaskan sekat bahwa kita merasa lebih baik dari yang lainnya. Seringkali tertawa digunakan untuk mengakrabkan pertemuan yang semual beku. Kebekuan terjadi karena setiap orang merasa segan mengutarakan pendapatnya. namun perhatikan, saat semua orang dalam pertemuan itu bisa tertawa, kebekuan akan terpecahkan dengan sendirinya.

Saat pikiran terbuka karena tertawa, energi ilahiah akan mengalir secara otomatis. Mind yang semula tertutup oleh ego bisa terbuka. Energi ialhi tidak bisa memasuki hati kita selama pikiran kita blokade sendiri dengan ego. Ego merasa aku lebih baik dari dirimu.

Banyak manfaat tertawa bagi tubuh. Meningkatkan daya imunitas terhadap tubuh kita. Peningkatan ini terjadi karena saat tertawa dalam tubuh kita menghasilkan hormon beta-endorphin. Hormon ini bekerja untuk meningkatkan kesehatan tubuh.

Dengan terbukanya blokade pikiran atau mind kita akan gampang menerima pendapat orang lain.

laugh-smile

Satu catatan yang perlu diingat, berupayalah mentertawakan diri sendiri. Semakin kita busa mentertawakan diri sendiri, pikiran kita semakin terbuka. Energi ilahi semakin lancar alirannya. Hati semakin bisa merasakan kebahagiaan. Oleh karenanya:

Tertawalah agar anda bahagia….

Jangan menunggu bahagia baru tertawa…..

 

9 Comments to "Tertawa Lebih Baik daripada Agama"

  1. Nur Mberok  22 December, 2013 at 13:13

    pro ama kang djas…

  2. Kornelya  21 December, 2013 at 23:05

    A scientist can be a religious person too. It’s wrong to think or saying a religious person barely read only one book.

  3. J C  21 December, 2013 at 11:57

    Aku setuju sekali dengan ilustrasi di atas dengan sedikit penyesuaian dengan kondisi Indonesia:

    A scientist read dozens of books in his lifetime, but still believe that he has a lot more to learn. A (what-so-called) religious person ONLY READ one-imported-book-of-other-language, and think, feel and very sure that they know EVERYTHING…

  4. Dewi Aichi  20 December, 2013 at 21:38

    Sepakat dengan tulisan pak Marhento, juga komentar Djas….bisa menerima pendapat, ide maupun gagasan orang lain, selalu mengapresiasi , juga tidak mengaggap dirinyalah yang paling benar…itu yang paling penting dalam sikap, sesuatu yang penting kita lakukan, tanpa biaya, hanya kesadaran yang bisa membantu kita melakukan hal tersebut.

  5. Sumonggo  20 December, 2013 at 20:28

    Jika begitu kolom Agama di KTP yang kabarnya akan bisa dikosongkan, dapat diisi dengan “Tertawa”

  6. Lani  20 December, 2013 at 13:59

    Aku suka ini “Tertawalah agar anda bahagia….

    Jangan menunggu bahagia baru tertawa…..”

  7. djasMerahputih  20 December, 2013 at 10:50

    Mungkin mirip dengan pikiran bahwa,

    Anda lebih baik berTUHAN daripada berAGAMA.

    Dengan berTuhan, manusia lebih memusatkan
    pikirannya kepada pengabdian pada Tuhannya masing-masing. Antara lain dengan memuliakan
    setiap makhluk ciptaan-Nya termasuk manusia dengan segala identitasnya .

    Sedangkan berAgama akan membawa manusia kepada pengkotak-kotakan wilayah keTuhanan.
    Setiap orang akan fokus pada agama (kebenaran) versi masing-masing. Ibarat jeruk yang membuat pernyataan bahwa buah-buahan yang benar hanyalah jeruk, Apel bukanlah buah-buahan.
    Demikian pula apel akan membuat keputusan yang sama.

    Ketika KEBENARAN dimonopoli maka pada saat yang sama
    manusia sesungguhnya telah mengambil peran TUHAN mereka sendiri,
    lalu menjadikan AGAMA mereka sebagai berhala untuk disembah.
    Sebuah ironi dari sekelompok orang yang mengaku paling agamais.

    Salam Suedjuk,
    //djasMerahputih

  8. Handoko Widagdo  20 December, 2013 at 10:27

    Begitukah?

  9. James  20 December, 2013 at 09:43

    SATOE, tertawa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.