[Selamat Hari Ibu] Tak Meminta Lebih

Liana Safitri

 

MATAHARI bersinar terik. Anak-anak berhamburan keluar kelas dengan gembira setelah terbebas dari berbagai pelajaran yang memusingkan.

“Ayo main ke rumahku sebentar!”

“Ah, tidak bisa! Hari ini aku harus segera pulang. Besok Minggu kami sekeluarga akan pergi berlibur…”

“Wah, senangnya!”

Daisy mendengarkan percakapan teman-temannya sambil membisu. Ia melangkahkan kaki dengan gontai. Tas yang berada di punggungnya terasa dua kali lebih berat. Mobil-mobil mewah berderet di depan gerbang sekolah menjemput beberapa teman sekelas Daisy.

“Hari ini kita jadi jalan-jalan ke mall, kan? Aku ingin membeli sepatu baru…”

“Tentu saja, Sayang!”

Langkah Daisy terhenti sejenak, ia memandang Fia dengan iri. Tapi tentu saja Fia tak menyadari hal itu karena sudah masuk ke dalam mobil mengikuti ibunya.

Sampai di rumah Daisy merasa lelah. Jarak dua kilometer yang harus ditempuh kakinya setiap berangkat dan pulang sekolah memang menguras tenaga. Ia menuju bagian depan rumah yang digunakan sebagai restoran mie. Pada jam-jam seperti ini restoran memang sangat ramai.

“Ma…”

“Oh, kau sudah pulang Daisy!” Mama berkata tanpa menoleh, ia sedang mengelap piring-piring yang baru saja dicuci.

Daisy menunjukkan selembar kertas pada Mama. “Lihat! Nilai ulanganku tertinggi di kelas!” Tanpa sengaja tangan Daisy menyenggol tangan Mama. Piring yang ada di tangan Mama jatuh dan pecah.

“Aaaahh!” Mama berteriak. “Aduh… Daisy! Kau tahu Mama sangat sibuk sekarang! Kalau ada yang mau kau tunjukkan, lebih baik tunggu sampai nanti malam!” Daisy menatap Mama dengan kecewa dan segera meninggalkan tempat itu. Di dalam kamar Daisy duduk termenung teringat kelakuan dan kata-kata teman sekelasnya.

Malam itu sebelum tidur Daisy mendatangi kamar Mama. “Ma, belikan aku ponsel baru…”

Mama tertegun. “Bukankah ponselmu yang sekarang masih bisa digunakan? Untuk apa beli yang baru? Buang-buang uang saja!”

Daisy tampak tidak senang dan membolak-balikkan ponsel yang ada di tangannya. Ponsel model kuno yang tak bisa digunakan apa-apa kecuali untuk telepon dan SMS. Dibandingkan teman-temannya yang punya Black Berry, smartphone, android…, ponselnya sudah sangat ketinggalan zaman. “Ponsel ini hampir tak ada gunanya lagi! Temanku, setiap kali ada tugas dari guru, mereka tak mau buka buku. Tinggal buka internet, semua soal dapat dijawab dengan mudah dan cepat. Mereka sudah sampai nomor lima, aku masih mengerjakan nomor satu!”

Mama diam tak menjawab.

 

Keesokan harinya Mama bangun lebih pagi dari biasanya. Pegi ke pasar, memasak, menyiapkan bahan makanan dan membersihkan restoran. Dengan mata setengah tertutup Daisy bangkit dari tempat tidur dan melihat jam dinding. Baru pukul empat. Ah, mungkin karena ini hari Minggu, jadi akan banyak orang yang makan di restoran mereka. Daisy menjatuhkan diri ke kasur dan kembali tidur.

Hari Minggu yang membosankan. Daisy hanya bisa duduk di halaman sambil memandangi orang yang keluar masuk restoran. Di tangan Daisy ada buku pelajaran, tapi tak satu pun kalimat yang masuk ke dalam otaknya. Tiba-tiba Daisy melihat seseorang yang ia kenal lewat di depan restoran. Itu Mira, temannya yang sombong dan setiap hari selalu pamer barang bermerek. Daisy berusaha menyembunyikan wajah di balik buku, tapi tetap saja ketahuan.

“Hei, Daisy! Sedang apa? Jangan terlalu rajin, sekarang hari Minggu!”

Daisy memaksakan diri tersenyum. Mira mendekatinya sambil berkata dengan gembira, “Aku akan ke bioskop! Ada film yang sangat bagus… Kau mau ikut?”

Daisy menggeleng.

“Mira!”

Mira menolehkan kepala. “Wah, aku harus pergi sekarang!” Mira berlari meninggalkan Daisy sendirian.

Daisy menundukkan kepala kembali berkonsentrasi pada bukunya, tapi ia malah melamun. Akhirnya buku itu ditutup dan Daisy tak mengerjakan apa-apa.

Seseorang pria setengah baya yang baru saja selesai makan keluar dari restoran. Ia Pak Glen, pelanggan tetap yang hanya mau makan mie buatan Mama dan terkadang mengobrol dengan Daisy. “Daripada kau berdiam diri, lebih baik bantu mamamu! Dia sangat kerepotan!”

Daisy melihat ke dalam restoran yang penuh sesak. Mama berlarian mengantar pesanan dari meja ke meja. Daisy memalingkan wajah dengan tidak peduli, “Dia bisa mengatasinya sendiri!”

“Aisshhh! Mengapa kau seperti ini?” Pak Glen menggeleng-gelengkan kepala. “Kau adalah anak perempuan satu-satunya…” Terheran-heran dengan sikap Daisy yang cuek, Pak Glen mendengus kesal sambil berlalu dari tempat itu.

Daisy berdiri. Ia kembali melihat ke dalam restoran. Memang terlalu ramai, pikirnya. Daisy berjalan ke tempat  lain yang lebih tenang.

Mama khawatir karena Daisy masih belum pulang. Ke mana anak itu pergi? Restoran sudah mulai sepi. Tinggal tiga orang yang sedang makan di sudut. Mama menunggu sambil memikirkan banyak hal.

“Kau dari mana?” tanya Mama melihat Daisy yang masuk restoran tanpa berkata apa-apa.

“Dari rumah teman.”

“Kau seharusnya belajar, bukankah ulangan umum masih beberapa hari lagi?”

Daisy menatap Mama sekilas. “Karena tempat ini berisik sekali, aku jadi tak bisa belajar dengan baik…” Setelah berkata begitu Daisy membuka pintu yang menghubungkan antara restoran dengan rumah bagian dalam, berjalan menuju kamar, dan terus berada di sana sampai pagi tiba.

Ketika akan berangkat sekolah Mama memberi Daisy berlembar-lembar uang kertas yang digulung dan diikat dengan karet.

Daisy menatap Mama dengan penuh tanda tanya

“Untuk membeli ponsel baru. Bukankah kau membutuhkannya?”

selamat-hari-ibu

Di dalam kelas, Daisy dengan hati-hati membuka karet yang mengikat gulungan uang kertas pemberian Mama. Semua tampak lusuh dan terdiri dari uang kertas pecahan yang bermacam-macam. Jumlahnya cukup untuk membeli ponsel dengan fasilitas kamera, video, MP3, bluetooth, dan koneksi internet. Ini pasti uang hasil dagangan yang sudah dikumpulkan Mama selama berbulan-bulan. Daisy kembali mengikat gulungan uang itu dan menyimpannya. Sementara teman-teman Daisy tak henti-hentinya berceloteh tentang kegiatan yang mereka lakukan di hari Minggu kemarin

“Aku menanam bunga di rumah kaca bersama papa dan kakak. Lelah sekali, tapi setelah itu mama membuatkan kue… Aku membawa beberapa potong untuk kita makan.” Mary mengeluarkan sebuah bungkusan. Semua orang yang duduk di deretan meja Mary mengambil kue itu, kecuali Daisy. “Mmmm… enak sekali! Mama Mary memang pandai memasak!”

“Kemarin kami sekeluarga pergi piknik ke pantai, lalu makan ikan bakar. Aku pulang dengan baju yang basah dan lengket karena pasir. Pantainya indah sekali! Kalian mau lihat? Beberapa sudah aku upload di facebook.” Karen menunjukkan foto-foto saat di pantai melalui ponselnya.

“Papa malah mengajakku mengunjungi universitas. Katanya mulai dari sekarang aku harus sudah mempertimbangkan akan melanjutkan kuliah dimana. Membuatku jadi khawatir. Lulus saja belum…” Kevin tampaknya kesal.

“Hei Daisy! Kau pergi ke mana kemarin?” Rio bertanya pada Daisy.

Tapi belum sempat Daisy bereaksi Mira sudah berkata, “Melamun sambil menunggui restoran! Daisy sangat sibuk, mana mungkin dia punya waktu berlibur!” Semua orang tertawa mendengarnya.

Istirahat tiba. Teman-teman Daisy pergi ke kantin berkelompok. Setelah tak ada seorang pun di kelas, Daisy mengeluarkan kotak makannya. Mie goreng dengan sawi. Kalau dagangan tidak laku, Mama akan memasaknya lagi untuk dimakan sebagai sarapan dan bekal Daisy ke sekolah.

Chacha yang duduk sebangku dengan Daisy masuk lagi ke dalam kelas. “Uangku ketinggalan.” Sambil membuka tasnya Chacha melirik ke arah Daisy. “Makan makanan yang sama dari hari ke hari apa tidak bosan?” tanyanya dengan nada mencemooh. Daisy menatap kotak makan yang ada di hadapannya lama sekali. Bosan? Tentu saja! Tapi ia tak punya pilihan lain! Nafsu makan Daisy hilang seketika.

 

Daisy pulang terlambat karena dari sekolah ia langsung pergi ke pusat perbelanjaan membeli ponsel. Bibi tetangga sebelah melambaikan tangan menyuruh Daisy mendekat.

“Ponselmu baru, ya?”

“Bagaimana Bibi bisa tahu?”

“Kemarin mamamu datang kemari menanyakan harga ponsel. Aku bilang harga ponsel bermacam-macam. Tapi kalau mau yang bagus memang agak mahal. Lalu dia melihat ponsel anakku. Mamamu bertanya lagi berapa harga ponsel yang seperti itu…”

Daisy kembali meneruskan langkahnya. Pantas saja! Ia sendiri heran, bagaimana Mama yang kuno dan tidak tahu apa-apa tentang teknologi itu bisa memberikan uang yang cukup untuk membeli ponsel canggih. Sampai di rumah Daisy meletakkan tas di kursi dan langsung sibuk dengan ponsel barunya.

Mama membawa gelas dan piring yang akan dicuci ke wastafel. Tangannya terulur membuka tutup kotak makan Daisy. Tampaklah mie bercampur sawi yang belum dihabiskan lebih dari setengahnya. Pada saat itu seseorang mengetuk pintu. Mama meninggalkan pekerjaannya dan melihat siapa yang datang. “Oh, Pak Glen… Sayang sekali hari ini restoran tutup lebih awal. Dagangan sudah habis…”

Pak Glen tertawa. “Aku tidak bermaksud membeli  mie. Aku hanya mau bertanya, apakah kau jadi memperbaiki atap rumah yang bocor? Jika ya, temanku bisa mengerjakannya. Tentu saja kau tak perlu membayar mahal karena dia adalah temanku.”

“Tadinya aku memang berencana memperbaiki atap rumah. Tapi uangku sudah terpakai untuk membeli keperluan lain. Sepertinya harus ditunda…”

Dari dalam kamar Daisy mendengar percakapan ini. Dia menatap layar ponsel tak berkedip.

 

Daisy tampaknya sangat senang dengan ponsel baru itu. Pagi-pagi di meja makan, pulang sekolah, sampai mau tidur pun tangannya tak pernah lepas dari ponsel. Kegemaran baru Daisy adalah memotret. Daisy tak pernah mau menjaga restoran selama ini. Tapi semenjak ada ponsel baru, sepulang sekolah ia selalu duduk di salah satu kursi di restoran dan memotret ke segala arah. Mama yang sedang sibuk menyiapkan pesanan dipotret berkali-kali, mulai dari memotong sayuran, membuat bumbu, merebus mie, bahkan sampai mengantarkan mie ke meja pelanggan. Setelah restoran tutup pun sama saja. Daisy terus menguntit Mama dengan kamera ponselnya, memotret Mama yang sedang menyapu, mengepel lantai, mencuci, menjemur pakaian, dan menyetrika.

Beberapa hari kemudian Mama tak tahan lagi. Dirampasnya ponsel itu dari tangan Daisy dan dibantingnya ke lantai. “Hentikan kataku! Kalau aku tahu dari awal akan seperti ini seharusnya aku tak membelikanmu ponsel! Sejak punya ponsel baru aku tak pernah melihat kau belajar! Setiap hari hanya memotret seperti orang gila! Pelanggan restoran kita bisa lari semua karena ulahmu! Apakah guru di sekolah sudah merubah caranya memberi soal dan  pengumuman lewat ponsel juga? Aku cuma khawatir kau kabur dari rumah dan menghilang gara-gara terlalu sering bermain ponsel!” Setelah melampiaskan kemarahannya Mama pergi. Daisy berlutut di lantai memunguti ponselnya yang sudah hancur tak berbentuk.

Meja makan pagi itu penuh dengan makanan enak. Daging, sayur, ikan, bahkan ada buah pisang. Daisy bukannya segera makan malah terbengong-bengong seperti orang tolol. Mama sama sekali tak mengungkit soal ponsel. Tapi apakah ini sebagai tanda permintaan maaf karena Mama telah membanting ponsel Daisy?

“Kau sangat kurus… Seharusnya kau makan makanan bergizi.” Mama lalu mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalam dompetnya dan meletakkannya di depan Daisy. “Aku tak bisa memberimu setiap hari, tapi kalau kadang-kadang kalau kau bisa ke kantin bersama temanmu, itu lebih baik.”

 

Hari ini Mama pergi ke pasar membeli bahan-bahan masakan yang sudah menipis. Kedua tangan Mama menenteng keranjang yang berat. Keringat menetes di dahinya. Mama berusaha mengingat-ingat apa lagi yang harus dibelinya. Ia lalu berhenti di depan kios penjual wortel. “Beri aku satu kilo.”

Penjual wortel yang sudah mengenal Mama dengan baik langsung memasukkan wortel ke dalam timbangan. “Sepertinya kau sangat kerepotan. Mengapa tak mengajak putrimu agar dia bisa membantumu membawakan belanjaan?”

“Ah, ini bukan hal besar! Lagi pula dia sedang sekolah…” Mama melanjutkan dengan bangga, “Kau tahu, anakku sangat pintar? Setiap kali ulangan dia selalu mendapat nilai tertinggi!”

“Oya? Baguslah… Memang harusnya seperti itu! Kau sudah bekerja sangat keras… Tidak sia-sia…” Penjual itu menyerahkan satu kantong plastik penuh wortel pada Mama. Tapi matanya terbelalak saat melihat ke belakang Mama. “Bukankah itu putrimu?”

Mama segera membalikkan tubuh. Beberapa meter dari tempatnya berdiri sekarang Mama melihat Daisy sedang berdiri di depan penjual es bersama seorang laki-laki, tertawa-tawa dengan sangat gembira. Memakai seragam sekolah.

Di rumah.

“Plaakkk!” Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Daisy.

Air mata Mama mengalir. “Apa pun aku lakukan demi dirimu… Bekerja siang malam agar kau bisa membeli barang yang diinginkan… Aku tahu kau bosan makan makanan yang sama setiap hari, jadi aku berhutang pada pemilik warung supaya kau bisa makan daging dan jajan di kantin… Aku membanggakanmu pada semua orang kalau kau pintar, tapi kau… membuatku kecewa…” Mama menatap Daisy dengan mata merah. “Memang nasibmu yang tidak beruntung punya ibu sepertiku… Kalau kau tidak aku lahirkan, kau tidak perlu hidup menderita…”

Daisy menggeleng-gelengkan kepala, ia juga menangis. “Aku tidak bermaksud seperti itu…”

Mama berteriak histeris, “Lalu kenapa kau membolos? Kau tahu yang bisa aku lakukan hanyalah menjamin agar pendidikanmu jangan sampai terlantar…” Mama menambahkan dengan pedih, “Hanya itu satu-satunya cara untuk merubah keadaan kita menjadi lebih baik…”

Selama beberapa saat kedua orang itu hanya tenggelam dalam tangis.

“Aku tak bisa masuk sekolah hari ini.. Mereka pasti akan mengejekku…” Daisy berkata tersendat-sendat. “Aku tak pernah menyesal dilahirkan sebagai anakmu… Aku tidak merasa iri dengan temanku yang pergi ke mall dengan ibunya, aku tidak meminta agar kita pergi piknik ke pantai, atau nonton film di bioskop… Juga tidak masalah kalau Mama tak sempat membuat kue bersamaku…” Daisy berkata sungguh-sungguh, “Aku hanya ingin agar Mama lebih sering menemaniku… Sayangnya Mama terlalu sibuk, bahkan tak punya waktu untuk melihat kertas ulanganku…”

Air mata Mama yang sudah kering kini mengalir lagi.

“Aku tidak berpikir akan melanjutkan sekolah sampai perguruan tinggi karena itu pasti akan sangat membebani Mama yang membesarkanku sendirian.. Mama sangat marah kalau aku menanyakan tentang papa. Katanya aku tidak perlu tahu tentang orang yang tidak bertanggung jawab dan meninggalkanku sejak masih dalam kandungan. Aku pun tidak bertanya lagi meski sangat penasaran. Tetangga sebelah selalu menyalahkan aku karena tak pernah membantumu di restoran. Tapi jika ikut bekerja di restoran, Mama hanya menganggapku merepotkan.”

“Itu karena bukan tugasmu… ” potong Mama.

“Soal ponsel itu aku minta maaf… Teman-teman bertanya kenapa aku tak memajang satu pun foto Mama di facebook? Aku juga tak punya foto Mama yang dapat dibawa ke mana-mana. Aku sangat senang ketika punya ponsel yang ada kameranya, akhirnya aku bisa memotret Mama. Aku sudah janji pada teman-teman akan menunjukkan foto Mama hari ini. Agar mereka tahu kalau aku juga punya ibu… “ suara Daisy berubah parau. “Tapi ponsel itu sudah hancur, jadi…”

“Jadi kau membolos?” tanya Mama yang sudah mulai melunak. Mama mulai menyesal karena kemarin sudah membanting ponsel Daisy. Ia berpura-pura tegar, “Kau bisa menunjukkan foto Mama lain waktu, tidak perlu membolos karena masalah ini.”

“Tapi sekarang adalah saat yang paling tepat.” Daisy lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah dompet yang masih baru. “Mama jangan menaruh uang sembarangan. Mulai sekarang simpanlah uang dagangan di dompet.”  Daisy lalu berdiri bermaksud pergi ke kamarnya. Baru dua langkah ia berhenti dan menambahkan, “Laki-laki yang jalan bersamaku di pasar itu bukan pacar. Dia guru les Matematika-ku di bimbingan belajar. Kami bertemu di tengah jalan.”

Mama duduk di lantai lama sekali sambil menggenggam dompet yang diberikan Daisy. Sampai matahari tenggelam dan ruang tamu menjadi gelap ia baru berdiri menyalakan lampu. Mama lupa kapan batas akhir harus membayar listrik. Ia melihat kalender dan tampaklah tanggal hari ini yang dilingkari spidol merah oleh Daisy.

22 Desember, Hari Ibu.  

 

3 Comments to "[Selamat Hari Ibu] Tak Meminta Lebih"

  1. Lani  23 December, 2013 at 11:07

    Jangan sia-siakan waktu………krn waktu klu sdh berlalu tdk bs diputar balik

  2. elnino  22 December, 2013 at 21:21

    Bagus banget ceritanya Liana..hiks.. Jangan sampai anak2 merasa terabaikan oleh kesibukan ibu yg tiada habisnya..

  3. Nur Mberok  22 December, 2013 at 12:53

    smoga slalu punya waktu utk skdar brtukar sapa dg kel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.