Guru Gemblung (6): Terapi Jiwa

Wesiati Setyaningsih

 

Tak ada jalan yang lurus dan mudah untuk mencapai sebuah cita-cita. Selalu ada tikungan dan kerikil yang menghiasi perjalanan. Dan sebenarnya, dari tikungan dan kerikil tajam itulah kita belajar tentang sesuatu.

Saya tahu perjalanan menyusun sebuah buku tidak akan semudah membalik telapak tangan. Setelah saya bisa menghasilkan seratusan halaman, ternyata ada artikel-artikel yang menurut pak Han tidak terpakai. Akhirnya artikel-artikel tersebut tidak terpakai. Dan itu berarti halaman berkurang lagi. Padahal saya inginnya paling tidak ada sekitar 150 halaman A4 agar ketika jadi buku nantinya ada 200-an halaman. Itu jumlah halaman yang cukup ideal. Tidak terlalu tipis juga tidak terlalu tebal dan membosankan, begitu kata Pak Han.

Saya sadar bahwa proses belajar masih berjalan, jadi dengan rela saya jalani. Saya inventaris lagi apa saja yang bisa saja tuliskan di buku. Saya sering chat dengan pak Han untuk mendiskusikan buku ini. Dari obrolan-obrolan kami lewat chat room di Facebook, sering kali muncul ide baru.

Seperti misalnya ketika saya menceritakan tentang Dream Book yang selalu saya jadikan tugas anak-anak kelas X semester genap. Proyek ini sudah berjalan bertahun-tahun dan tiap tahun mengalami perbaikan detil penugasan.           Awalnya saya cuma meminta siswa membuat Dream Book dengan mengumpulkan gambar-gambar yang mewakili mimpi mereka. Lalu tiap gambar dideskripsikan. Kemudian tugas dikumpulkan untuk melengkapi materi Deskripsi. Terakhir kali, saya menjadikan tugas Dream Book ini bukan cuma  membuat buku yang isinya gambar-gambar mimpi-mimpi mereka, tapi saya minta mereka membuat slide untuk mempresentasikannya. Masing-masing anak menceritakan mimpi-mimpi mereka pada teman satu kelas dengan menggunakan Power Point.

Hal ini membuat Pak Han tertarik dan meminta saya menuliskannya. Muncullah beberapa artikel tentang Dream Book ini dan menambah jumlah halaman. Saya kirimkan lagi ke pak Han, lantas oleh beliau diedit lagi. Demikian seterusnya.

Sementara proses ini berjalan, saya pamer pada seorang teman Facebook yang juga seorang guru. Inginnya saya mendapat pujian atas usaha saya ini. Setidaknya saya bisa mendapat support, saya pikir begitu. Tapi saya salah.

Setelah file naskah buku ini saya kirimkan, teman saya membaca sedikit dan katanya, “ah, ini proyek narsis kamu aja. Semua guru yang melakukan ini. Kamu yang lebay dan membesar-besarkan saja.”

Saya tercengang. Memang semua guru mengalaminya. Tapi benarkah ini proyek narsis? Atau saya salah orang? Tujuan saya menulis buku ini adalah memang agar orang awam tahu pekerjaan guru. Setiap guru bisa menuliskan pengalaman mereka, termasuk teman saya itu. Namun ketika saya katakan agar dia menulis buku juga, dia menghindar.

soul-therapy

Terganggu dengan kata ‘narsis’ itu, saya tanyakan pada Wiwin, apakah memang naskah ini menunjukkan saya sedang narsis ria, jadi saya kirim naskah buku ini padanya. Saya minta dia membaca dan memberikan komentar.

“Enggak,” jawab Wiwin. “Bukan proyek narsis kok. Lanjutkan aja, ini bagus.”

Saya kenal Wiwin karena dia guru saya menulis novel. Saya tahu dia suka bercanda. Entah kali ini dia sedang bercanda seperti biasanya atau sedang serius, tapi saya benar-benar terdorong lagi untuk menyelesaikan buku ini. Sebagai ‘guru’ saya, pasti dia ingin melihat saya punya buku sendiri. Jadi saya pikir saya harus menyelesaikan buku ini, apapun caranya.

Pelajaran yang saya ambil dari sini adalah bahwa kita harus mampu memilah komentar orang yang memang mendorong kita untuk maju. Bukan komentar mereka yang membuat kita kecewa lantas tidak berani maju lagi. Bukan kita tak mau dikritik. Tapi memilih kritik yang membuat kita terpacu, membuat kita mendapat ‘vitamin jiwa’, dan itu tak ada salahnya.

Dalam buku Stop Self Sabotage juga disebutkan bahwa kita berhak untuk memilih komentar orang sesuai kebutuhan kita. Tak ada salahnya mencari orang yang mau memuji kita dan bahkan mengharap pujian. Tak ada masalah dengan itu. Hal yang buat kita adalah tabu.

Meminta komentar dari mereka yang hanya akan menjatuhkan semangat kita hanya akan melemahkan semangat kita. Tak ada perlunya. Dari kesadara innilah saya mulai memilah komentar mana yang bermanfaat untuk hidup saya, dan mana yang tidak. Kita berhak mencari pujian dan itu bukan sebuah dosa.

Sejak itu, saya tidak sembarangan meminta komentar orang. Kalau sekiranya komentarnya akan menjatuhkan semangat saya, lebih baik saya diam. Ini pelajaran hidup yang baru yang saya dapatkan.

Di lain kesempatan, saya menyampaikan hal ini pada pak Han. Lagi-lagi dengan ‘tendangannya’, beliau mengatakan, “kamu itu undervalued. Jadi apapun omongan orang kamu ambil begitu saja. Kamu tidak tahu bahwa kamu sebenarnya jauh lebih luar biasa dari yang kamu perkirakan.”

Saya tidak mungkin mampu menerima anggapan bahwa saya luar biasa. Saya lebih bisa menerima bahwa saya ‘gemblung’, saya ‘sakit’ dan semacamnya karena saya lebih nyaman dengan ‘hinaan’. Padahal pak Han sendiri menjuluki saya dengan ‘gemblung’ juga bukan karena sedang menghina saya. Menurut beliau, kata ‘gemblung’ itu karena saya suka menggunakan cara saya sendiri dan berani untuk tidak menggunakan cara yang main stream kalau saya yakin cara saya itu benar.

Tapi kata ‘gemblung’ sudah terlanjur berkonotasi ‘agak negatif’ dan saya malah nyaman dengan ‘kenegatifan’ itu. Dari sini saya bisa membaca bahwa apa yang beliau katakan benar. Saya selalu menilai diri saya rendah. Saya senang menerima komentar orang yang merendahkan dan itulah sebabnya yang sering mengganggu pikiran saya adalah komentar-komentar yang merendahkan.

Saya merasa tidak pantas menerima pujian dan karenanya komentar-komentar yang memuji membuat saya tidak nyaman. Entah karena budaya atau apa, tapi saya mulai menyadari  apa yang terjadi dalam diri saya.

Yang sangat saya syukuri dari pembuatan buku ini, selain saya jadi tahu bagaimana proses menyusun sebuah buku, saya jadi menemukan hal-hal yang terjadi di dalam diri saya sendiri.

Ternyata ada banyak hal yang saya abaikan, bahkan mungkin saya sembunyikan dalam-dalam. Tanpa sadar semua itu justru mengganggu kesuksusen hidup saya. Saya tampak baik-baik saja, tapi sebenarnya saya suka menghancurkan diri saya sendiri.

Susah payah orang lain meyakinkan bahwa saya luar biasa dan mampu, tak mudah saya menerimanya. Hal ini masih terus berlangsung dalam pembuatan buku ini. Saya sendiri belum tentu akan seteguh pak Han andai saya harus menghadapi orang seperti saya. Tapi pak Han bertahan. Saya selalu terharu kalau ingat hal ini.

Keinginan beliau untuk melihat saya punya buku, membuat beliau tetap bersabar dengan keanehan saya yang terus berputar-putar dalam keruwetan yang saya ciptakan sendiri. Akhirnya saya sadari bahwa penyusunan buku ini sudah bergeser dari keinginan idealis : agar orang mendapatkan inspirasi dari ide-ide saya, menjadi sebuah terapi jiwa untuk saya sendiri. Sungguh saya bersyukur luar biasa karena saya menemukan diri saya sendiri dalam penyusunan buku ini.

***

Ketika semua artikel sudah fix, pak Han mulai mengelompokkan artikel-artikel yang ada dalam bagian-bagian dan kemudian diberi judul tiap bagiannya. Beliau tidak ingin menyebutnya bab karena, “nanti kaya skripsi,” katanya.

Setelah itu beliau membuat satu artikel sebagai ulasan dari editor. Saya tertawa membaca judul tulisan beliau, “nyala lilin di ujung senja”.

Lilin itu penerang dalam kegelapan. Lha saya ini siapa? Pikir saya.

“Ah, itu ketinggian buat saya,” kata saya.

Saya merasa saya ini biasa saja. Saya tidak berada dalam kegelapan dan saya bukan lilin. Saya merasa (lagi-lagi) tak pantas.

Tapi sepertinya pak Han sudah hapal dengan saya. Kembali beliau mengatakan, “itu karena kamu menilai diri kamu terlalu rendah.”

Dan pada saat yang sama saya tersadar lagi bahwa masalah ‘undervalued’ itu belum teratasi.

Pak Han bukan orang yang bisa begitu saja dipengaruhi, apalagi oleh orang yang menurut beliau, “menilai diri terlalu rendah” ini. Jadi apapun protes saya atas artikel “dari editor” itu, tak sedikitpun beliau ubah. Beliau tak peduli dengak keluhan saya.

Meski tak nyaman dan mulai membayangkan komentar orang yang mengenal saya kalau tahu saya ditulis ‘setinggi’ itu oleh seorang yang mengaku editor di dalam buku saya sendiri, saya tak bisa apa-apa lagi. Dan memang kalau protes saya waktu itu ditanggapi, pasti buku ini bakal tidak jadi-jadi.

Karena untuk pak Han beliau punya penilaian sendiri sementara saya bertahan bahwa penilaian beliau atas saya tidak sesuai dengan kenyataan. Kalau ini berlangsung terus, bisa-bisa buku ini cuma jadi seonggok naskah tanpa sempat diterbitkan. Pak Han pasti tahu benar tentang hal ini.

soultherapy

Melihat kegigihan beliau bertahan, saya malas beradu pendapat lagi. Ciri khas plegma saya keluar kalau sudah begini, malas ribut dan mending mengalah saja. Dengan demikian pak Han mulai mencari teman yang mau membaca naskah buku ini dan memberikan komentar mereka, sebelum buku ini dimintakan endorse dari orang-orang yang berkompeten.

Ini menjadi ujian yang luar biasa. Saya yang suka menyembunyikan diri dari komentar orang, sekarang harus rela karya saya dibaca orang dan bahkan dikomentari. Tapi saya setuju saja ketika pak Han mengirimkan file naskah ini pada beberapa teman Baltyra, seperti Dewi Murni dan Iwan Satyanegara Kamah dan juga teman pak Han yang juga konsultan pendidikan.

Dewi orang yang baik hati, pasti dia tak akan membantai karya saya. Tapi Iwan? Saya tak terlalu kenal. Saya pikir ada baiknya saya mulai berani membuka diri terhadap komentar apapun. Akhirnya saya biarkan saja karya saya dibaca sebelum akhirnya nanti dicetak. Setidaknya lebih baik kalau ada yang kekurangan di sana sini dan diketahui dari sekarang sebelum dicetak. Masih ada waktu untuk memperbaiki sebelum nanti dicetak dan dipublikasikan.

Ketika akhirnya tanggapan muncul, dengan bijak Pak Han memilah komentar-komentar yang memungkinkan untuk dipakai dan mana yang tidak. Memang demikianlah seharusnya karena seperti pepatah, “please everyone then you please no one”. Kita tidak bisa menyenangkan semua orang karena nanti akan berujung bahwa tak ada orang yang disenangkan.

Saya ikuti saran beliau untuk mengedit sesuai dengan saran yang bisa diterapkan dan tidak membuat proses pembuatan buku ini tersendat. Saya kembali belajar bahwa tidak semua masukan bisa diterima kalau tidak mau karya kita harus dirombak lagi.

Setelah selesai, mulailah beliau mengirimkan buku ini untuk meminta endorse dari teman-teman. Endorse adalah semacam testimoni dari mereka yang sudah membaca buku ini dan menjadi dorongan untuk orang lain agar tertarik untuk membaca juga. Letaknya biasanya di halaman cover belakang, tapi bisa juga di halaman dalam di paling belakang atau bahkan di bagian paling depan.

Saya pikir untuk meminta endorse bisa dimintakan pada siapa saja, termasuk teman-teman saya yang mau memuji karya ini. Paling tidak Dewi Murni atau Iwan Kamah bisa dimintai. Tapi pak Han berpikir lain. Buat beliau, karena buku ini tentang pendidikan, maka endorse juga harus dimintakan dari orang-orang yang tahu pendidikan.

“Jangan Dewi Murni dan Iwan Kamah, mereka bukan orang berpendidikan,” tulisanya di chat room.

Sense of humour beliau memang cukup tinggi. Saya tahu maksudnya adalah, mereka bukan orang-orang yang berkecimpung dalam dunia pendidikan, tapi itulah cara beliau berkata.

Saya ngakak membaca tulisan itu. Akhirnya permintaan endorse pada para endorser pun saya serahkan pada beliau sepenuhnya.

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

7 Comments to "Guru Gemblung (6): Terapi Jiwa"

  1. wesiati  24 December, 2013 at 08:00

    james terima kasih sudah menjadi nomor satu selalu. heheeh

    pak handoko : lha nek wis ning kene ki po ra bakal kewaca? mumpet sik kana.

    mas djas : begitulah. akhirnya saya memang sampai pada kesimpulan tersebut. “mau nggak mau, inilah saya. take it or leave it.”

    Alvina : benar sekali. dan penulisan buku ini menjadi awal yang baik buat saya untuk tidak ragu lagi menulis cuma gara2 takut dikomentari orang. peduli amat. kalo ada yang komen lagi dengan segitu detilnya, saya akan bilang, “kalo memang tulisan ini kurang bagus, tulis juga dong..biar saya bisa lihat tulisan kamu juga..” pernah ada yang kritik draft buku itu, aku bilang begitu, ngeles begini, “aku kan pembaca bukan penulis.” wkwkwk… well, dari pengalaman nulis ini, saya jadi lebih pede dan tidak mudah mengkritik tulisan orang. begitulah.

    terima kasih untuk semua komentarnya, termasuk kan Joseph Chen yang memuatnya di sini.

  2. Alvina VB  24 December, 2013 at 04:18

    Ja, blm selesai diedit sudah terkirim…maksudnya: “An insincere and evil friend is more to be feared than a wild beast; a wild beast may wound your body, but an evil friend may wound your mind.” (Kawan yg tidak tulus dan jahat lebih ditakuti dari binatang buas; binatang buas mungkin melukai badanmu, tetapi kawan yg jahat melukai pikiranmu).

  3. Alvina VB  24 December, 2013 at 04:05

    Wesiati,
    Dalam proses penulisan buku ini, kamu mustinya bersyukur jadi tahu gimana mutu temen2mu, he..he…soalnya kerap kali, org yg kita anggap teman, pada akhirnya keluar aslinya pada saat kita ingin mencapai sesuatu dan mereka tidak akan mendukung secara moral. Jadi inget pepatah dari Buddha: “An insincere and evil friend is more to be feared than a wild beast; a wild beast may may wound your body, but an evil friend may wound your mind.”
    Sukses terus ya sbg guru gemblung (dlm artian yg positive).

  4. J C  23 December, 2013 at 21:44

    Hhhhmmm…menyimak terus…

  5. djasMerahputih  23 December, 2013 at 17:03

    “Kita tidak bisa menyenangkan semua orang karena nanti akan berujung bahwa tak ada orang yang disenangkan.”

    ha ha ha… resiko pemimpin dan para pengambil keputusan…. Kalo maksain semua orang bisa senang,
    akhirnya yang terjadi adalah keGALAUan…

    Artikel yang informatif dan motivatif. Thanks udah sharing mba Wes..

    Salam Kompak,
    //djasMerahputih

  6. Handoko Widagdo  23 December, 2013 at 15:36

    Awas jangan sampai Dewi Murni dan Iwan Satyanegara Kamah membaca artikel ini. Saya bisa dibantai habis nanti.

  7. James  23 December, 2013 at 09:41

    SATOE, gemblong manis aja

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *