Ketika Maut Hampir Menjemput

Tjiptadinata Effendi

 

Walau saya menulis tentang falsafah, inspirasi, motivasi, serta berkisah tentang kesuksesan, bukanlah berarti hidup yang saya jalani, mulus tanpa halangan.

Justru hidup yang saya jalani mungkin jauh lebih pahit dan getir, dibanding orang lain. Pengalaman yang menyakitkan inilah yang menghadirkan pemahaman, tentang arti dan makna dari sebuah kehidupan dalam diri saya.

Sudah 3 hari saya terbaring di Mount Elisabeth – Singapore.

Tadi siang, dokter Specialis yang menangani, datang ke ruang di mana saya terbaring. Katanya, dari hasil CT. Scan dan hasil observasi team dokter, mengambil kesimpulan, bahwa saya harus dioperasi lagi. Sejenak saya dan isteri terpana. Tidak satu katapun keluar jawaban dari kami. Tenggorokan rasa terkunci.

Dokter yang sudah setengah baya ini, agaknya maklum. Kami shock. Ia mengangguk dan mengatakan: ”Oke, silakan anda berdua merundingkannya. Kalau anda sepakat, mohon formulir ini ditandatangani sebagai persetujuan. Besok pagi rencananya operasi akan dilaksanakan…Saya mengangguk dan menjawab: ”Baik dokter” Dokter pamitan dan berjalan keluar ruangan.

Saya memandang wajah istri saya dan bertanya: “Bagaimana baiknya?” Namun, istri saya tidak segera menjawab. Matanya berkaca-kaca. . dan ia berusaha menoleh ke arah lain, agar saya tidak melihatnya menangis…

Kami berdua kembali terdiam…

Sesaat kemudian, istri saya, memegang tangan saya dengan lembut dan berkata lirih; ”Yah, kalau team dokter sudah, mengambil keputusan begitu, sebaiknya kita ikuti saja. ”Saya mengangguk lemah dan menjawab: ”Oke…, kalau begitu ntar saya tanda tangani surat tadi yaa…”

 

Besok berarti adalah operasi yang ke empat kalinya…

Perasaan saya jadi tidak keruan. Berbagai bayangan menakutkan datang silih berganti. Sudah 3 kali saya selamat dari operasi, walaupun hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Akankah operasi ke 4 ini saya akan selamat juga? Keringat dingin terasa membasahi leher dan kugenggam tangan istriku . Berarti ketika besok pagi operasi dilangsungkan, istriku tidak ada. Karena jam bezuk dimulai jam 11 siang. Pikiran saya bertambah liar dan lari semakin jauh. . mulai mengandai-andai, bila tejadi sesuatu . . Tiba-tiba beberapa tetes air membasahi lenganku. . Istriku tidak kuasa lagi menahan tangisnya. Wajahnya pucat …

Saya tersentak dan menyesali diri…alangkah egoisnya saya. Sejak dari tadi hanya memikirkan diri sendiri. Saya takut, saya cemas…. lalu apakah istri saya tidak takut dan cemas? Apakah istriku tidak takut kehilangan saya? Mungkin kekuatiran dan kecemasannya sepuluh kali lebih besar dari diri saya… Sungguh saya merasa amat bersalah… Namun, bagaimana cara saya menghibur? Sungguh saya tidak tahu. .

Saya hanya mengenggam jari jari tangannya dan dengan perlahan mengatakan: “Sayang, tidak apa apa, Jangan sedih ya. . Kembalilah ke hotel, ntar kemalaman. Besok datang lagi yaa. . ”Ternyata kata-kata yang saya maksud untuk menghibur, malah menjadi pencetus meledaknya tangis istriku…. Saya jadi merasa serba salah…. menatapnya dengan perasaan gemuruh di dada, Beberapa saat kemudian.

Istriku mencium tanganku dan pamitan …. . Bagaikan tersobek-sobek hatiku melihat istriku melangkah tanpa semangat meninggalkan ruanan dimana aku dirawat.

Dijenguk Dokter Anasthesi

Malam hari, seorang pria yang berpakaian dokter datang menjeguk, sambil memperkenalkan diri: ”Good evening Mr. Effendi. I am dokter Zhu. . . dokter anasthesi. Besok pagi anda akan di operasi. Dan saya harus mengatakan pada anda, bahwa operasi ini adalah yang ke 4 kalinya. Resikonya jelas lebih besar dari pada operasi terdahulu. Tetapi anda tidak usah kuatir, karena akan ditangani oleh team dokter terbaik se Asia. Anda akan baik baik saja. Sebelum operasi dilakukan, saya akan memberikan injeksi, agar anda bisa tidur, selama operasi berlangsung. Jangan lupa mulai malam ini, anda tidak boleh makan apapun.”

Ia menepuk pundakku dengan lembut dan pamitan. Malam itu saya sama sekali tidak bisa tidur. Semakin saya mencoba memejamkan mata, semakin bertubi tubi bayangan menakutkan itu datang dan datang lagi. Saya mencoba berdoa dan pasrah diri, tetapi jujur, saya tidak bisa menghapus ketakutan yang menghantui…Apakah kepercayaan saya kepada Tuhan sudah mulai luntur?

Tiba-tiba saya teringat, semenjak usaha semakin maju, memang saya tetap berdoa, tapi rasanya doa saya hanya sekedar menjalankan kewajiban saja. Tidak sama seperti ketika kami hidup melarat. Mungkin karena saya mabuk kesuksesan. sehingga uang mengaburkan mata hati saya, terhadap Tuhan… Makanya saya tidak bisa secara mendadak, memaksa diri untuk pasrah…Pikiran bolak balik dan simpang siur, menyebabkan saya amat letih dan tanpa sadar tertidur . .

KEESOKAN HARINYA

Saya terbangun, ketika perawat datang…rupanya karena tidur sudah larut malam. . pagi ini saya bangun kesiangan. ”Mr. Effendi are you ready?”, kata perawat dengan ramah.

Saya cuma mengangguk . .

“Okay, saya akan beritahukan dokter anastesi ya…” lalu berbalik.

Selang beberapa menit kemudian. dokter Zhu datang. Tersenyum ramah dan mengucapkan selamat pagi. . “Mr. Effendi, anda sudah siap? Saya akan memberikan anda injeksi, karena sebentar lagi anda akan dibawa ke ruang operasi.” Saya merasakan perubahan yang sangat besar dalam jiwa saya. Saat ini saya menyadari bahwa saya bukan siapa-siapa. Saya di negeri orang, istri saya saat ini tidak ada di rumah sakit. Hanya Tuhanlah harapan saya. Perasaan yang persis sama, ketika kami dulu hidup melarat….

Saya memejamkan mata. . ”Tuhan, ke dalam TanganMu, aku serahkan hidup matiku. Selamatkanlah aku, seperti berkali-kali telah Engkau lakukan. Tetapi bukan maunya saya yang terjadi. melainkan KehendakMu ya Tuhan…. amin.” Saya buka mata saya dan luar biasa, segala kegalauan hati saya, tiba-tiba lenyap…saya pasrahkan jiwa raga saya kepada Sang Pencipta. .

Satu suntikan dan kemudian semuanya gelap…. .

SADAR DIRI

Entah berapa lama tidak sadarkan diri, sungguh saya tidak tahu…. Tiba tiba telinga saya sayup sayup mendengar suara-suara orang berbicara di dekatku. Tapi siapa yang berbicara dan apa yang mereka bicarakan, sama sekali tidak tertangkap oleh indraku. Saya mencoba membuka mata perlahan-lahan, dan kulihat istriku berada di samping tempat tidur, di mana saya terbaring.

Ia memeluk dan mencium tanganku dan kembali air matanya berderai, Tapi air mata yang sekarang, adalah air mata kebahagiaan. SAYA SELAMAT! Rasa syukur yang tidak mungkin diungkapkan dengan seribu bahasa. Betapa Mahabesarnya Engkau Ya Tuhan…

Kami berdua bertangisan dalam rasa syukur yang mendalam…

Catatan :

Saya mendapatkan pelajaran yang sangat berharga, justru di saat mau datang mengintai hidup saya. Operasi ini telah memberikan saya pencerahan, bahwa selama ini saya telah melakukan kesalahan besar: Saya hanya memikirkan ketakutan diri sendiri- saya egois Saya mabuk kesuksesan, sehingga doa hanya menggetarkan bibir, bukan jiwa saya. Saya baru merasakan betapa indahnya karunia hidup itu, setelah dekat di ambang maut.

life useful

Sejak saat itu, saya mengubah sikap mental saya dan berjanji, untuk menjadikan hidup saya berguna, tidak hanya untuk istri dan keluarga, tetapi juga untuk orang lain. Semoga saya mampu menjalaninya dengan baik.

Wollongong, 19 Desember, 2013

Tjiptadinata Effendi

 

About Tjiptadinata Effendi

Seorang ayah dan suami yang baik. Menimba pengalaman hidup semenjak kecil. Pengalaman hidupnya yang bagai ombak lautan menempanya menjadi pribadi yang tangguh dan pengusaha sukses. Sekarang pensiun, bersama istri melanglang buana, melongok luasnya samudra dan benua sembari bersyukur atas pencapaiannya selama ini sekaligus menularkan keteladanan hidup kepada siapa saja yang mau menyimaknya melalui BALTYRA.com.

My Facebook Arsip Artikel

65 Comments to "Ketika Maut Hampir Menjemput"

  1. Lani  22 June, 2014 at 00:45

    MAS EFFENDY : trima kasih telah mengirim bunga lagi, saya nampaknya dimanjakan dgn sll dikirimi bunga………….

    Mas, jelas rumah ini sll terbuka utk menerima artikel mas, jd silahkan kirimkan klu perlu ombyok-an jg boleh artinya yg banyak………..

  2. tjiptadinata effendi  21 June, 2014 at 16:41

    Maaf Pak JC.baru baca.terima kasih banyak..salam hangat dari kami sekeluarga di Wollongong

  3. J C  12 June, 2014 at 20:52

    Pak Tjiptadinata, saya sudah jawab di posting FB apakah sudah diterima? Jelas sangat dinantikan postingannya. Pintu rumah kita semua selalu terbuka…

    Apa kabar di sana?

  4. tjiptadinata effendi  12 June, 2014 at 19:11

    Dear Lani,
    Lamaa sekali tidak ketemu..entah kenapa malam ini tiba tiba saja saya ingat..semoga semuanya baik ya… sudah lama saya tidak menulis disini,,,ntar saya tanya ke admin ,apakah masih boleh saya posting artikel? salam hangat dari australia yang lagi musim dingin

  5. Lani  3 January, 2014 at 10:38

    Dear Lani,terima kasih koreksinya ya..saya kira mbak Phie lagi kedinginan di Hawaii.rupanya di daratan amerika ya… Masalahnya saya baru sekali di Hawaii…Itupun sudah dihadang sama Marinir Amerika,karena nyelonong masuk ke Pearl Habour jam 4 .oo subuh….hehe syukur nggak di dor..
    +++++++++++

    Mas Effendy : Phie dan saya sama2 tinggal di Amerika, bedanya dia di mainland sdg saya terpencil dilautan Pacific, di state termuda.

    O, saya kira sdh pernah keliling kepulauan Hawaii, ternyata baru sekali itu sj sampai nyasar ke Pearl Harbor? Kok ya bisa2nya kesasar msh pagi2 buta begitu, mmgnya mau cari apaan sepagi itu mas? Apa mau nge-bom Pearl Harbor utk kedua kalinya? Engga heran sampai dihadang oleh mariner hehehe………
    Apalagi sepagi itu tour buat kesana jg belum buka mas

    Kapan mau mampir ke Hawaii lagi???????

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.