Salah Urus Sanitasi Bikin Mati

Djenar Lonthang Sumirang (Arik)

 

Sanitasi masih menjadi momok hingga hari ini. Saat curah hujan tinggi, persoalan sanitasi adalah harga mati. Mengerikan. 11 ribu ton tinja setiap harinya di Indonesia tidak terolah sebagaimana semestinya. Kemudian, limbah yang berasal dari pembuangan urin, diperkirakan mencapai angka 140 ribu meter kubik, juga tidak diolah dengan benar.

sanitasi

sanitasiparah

Atas menumpuknya kotoran di atas, Nugroho Tri Utomo, Direktur Pemukiman dan Perumahan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), pernah mengibaratkan, “11 ribu ton tinja kira-kira sebanyak 3.500 ekor gajah Sumatera dan 140 ribu meter kubik  urin kira-kira sebanyak 28 ribu tangki bahan bakar minyak,” ujarnya saat jumpa pers World Toilet Summit 2013, seperti terekam dalam situs Menkokesra, bulan Juli tahun ini. Persoalan ‘bau tak sedap’ ini rupanya telah berlangsung lama.

Adalah Hendrik Freerk Tillema (1870-1952), pengusaha minuman sekaligus ahli farmasi, menerbitkan buku Kromoblanda, yang berisi mengenai segi pembangunan di Hindia Belanda, terutama masalah sanitasi. Buku setebal enam jilid ini diterbitkan antara tahun 1915 dan 1923. Tebalnya lebih dari 2.000 lembar, dengan kertas berukuran kwarto dan dihiasi ratusan foto hitam putih. Kampung-kampung pribumi digambarkan sebagai tempat dengan gubuk-gubuk dari bambu, berlantai tanah, tanpa jendela, tanpa kamar mandi dan tanpa WC –water closet-. Pendek kata, kampung pribumi memiliki sanitasi buruk dan bertebaran bau tak sedap.

(http://baltyra.com/2013/11/01/toilet-pada-masa-lampau/)

 

(http://baltyra.com/2013/11/01/toilet-pada-masa-lampau/)

Kondisi tersebut berlawanan keadaannya dengan perkotaan dengan sanitasi yang baik, dengan perpipaan dan kanalisasi. Di permukiman yang dihuni kalangan Eropa, telah terbentuk rioleering, saluran pembuangan tinja di Hindia Belanda, yang teratur. “Gambaran-gambarannya ketat dipolarisasikan dalam kelompok ‘di sana’ dan ‘di sini’,” tulis Rudolf Mrazek dalam Engineers of Happy Land. Keadaan sanitasi yang timpang ini, utamanya keberadaan jamban, menjadikannya isu dalam menuntut persamaan di jaman pergerakan. Pada tahun 1927, setiap kelompok kelas –Eropa; Asia; pribumi- memiliki jamban sendiri-sendiri. “Sebagian dari kami yang mengenakan selendang asli atau kopiah muslim harus buang air besar di jamban biasa,” catat Soeloeh Indonesia bulan Juni 1927, seperti dikutip dalam Engineers of Happy Land.

Keberadaan jamban atau kloset, catat Kees van Dijk dalam Cleanliness And Culture Indonesian Histories, merupakan penanda ukuran peradaban di samping sabun, pakaian dan bahasa. Dibawa dari Eropa oleh para kolonialis macam Inggris dan Belanda di Asia, terutama Asia Tenggara, jamban tak serta merta diterima masyarakat. Seperti tertangkap dari ucapan seorang petani Thai kepada seorang dokter mengenai buang air besar di jamban, “untuk buang air besar saja, saya harus menggali lubang. Lalu harus konsentrasi penuh untuk buang air besar di lubang yang gelap dan bau itu,” seperti ditulis Kees van Dijk.

(http://baltyra.com/2013/11/01/toilet-pada-masa-lampau/)

Bahkan di Eropa sendiri, setelah dipatenkannya model jamban siram oleh George Jennings pada tahun 1851, jamban menimbulkan kesulitan tersendiri. Selama tujuh tahun sejak penemuan Jennings ini, hampir semua rumah di London membuat jamban siram, dengan sistem pembuangan yang berakhir di sungai Thames. Akibatnya, di musim panas 1858, London mengalami musim panas dengan bau dari sungai Thames yang menyengat.

Di Hindia Belanda, hingga mereka angkat kaki, diskriminasi sanitasi masih berlangsung. Di pintu-pintu menuju jamban, dalam sebuah bank, masih ada papan digantung dengan pesan: “1. Pimpinan; 2. Staf (kulit putih); Orang Asia; 4. Juru tulis dan orang lain,” seperti dicatat Rudolf Mrazek mengutip Nationale Commentaren yang terbit bulan Maret 1941.

Masa kemerdekaan, Orde Baru, dicanangkan program Samijaga, Saluran Air Minum dan Jamban Keluarga, tepatnya tahun 1974. Namun seperti biasa, program masa itu lebih berat pada aspek fisik tanpa diimbangi aspek penyadaran masyarakat. (sila baca Majalah Historia edisi 16, rubrik Memorabilia, tajuk “Agar Samijaga Tetap Terjaga”).

Lalu bagaimana kondisi sanitasi Indonesia hari ini? Indonesia berada di urutan kedua di dunia sebagai negara dengan sanitasi buruk. Menurut data yang dipublikasikan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), seperti dikutip dari laman National Geographic-Indonesia 31 Oktober 2013, 63 juta penduduk Indonesia tidak memiliki toilet dan masih buang air besar (BAB) sembarangan di sungai, laut, atau di permukaan tanah. Desember, Januari, Februari adalah bulan dimana curah hujan di Indonesia sedang tinggi-tingginya, maka persoalan sanitasi adalah lebih penting dari pada mempercantik demi citra diri.*

 

11 Comments to "Salah Urus Sanitasi Bikin Mati"

  1. awesome  7 February, 2014 at 10:00

    setuju!!!

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.