Tanpa Nasi? Tidak Masalah!

Summer Girl

 

Dulu saya terbiasa makan besar 3 kali sehari, sarapan pagi biasanya nasi uduk, bubur ayam, mie ayam, atau lontong sayur, makan siang biasanya masakan padang, warteg, gado2, nasi goreng dan sejenisnya, makan malam biasanya nasi dan lauk pauknya atau kalau tidak ada makanan di rumah berarti beli di luar, misalnya nasi goreng, mie goreng, fuyunghai, dan lain-lain, yang lewat depan rumahpun banyak sekali misalnya siomay, batagor, sate ayam.

Walaupun di rumah sudah sarapan nasi uduk tetapi pas sampai di kantor ada lagi yang mengajak sarapan bubur ayam, tentu saja saya terima tawarannya, kira-kira jam 10 pagi ada yang nawarin mau beli gorengan, sayapun ikutan lagi, pas jam makan siang kita semua makan seperti biasa, kemudian jam 3 sore ada yang beli gorengan, saya ikutan makan lagi, sampai di rumah makan malam juga dengan nasi lengkap dengan lauk pauknya. Total kalori yang saya konsumsi setiap hari pasti jauh di atas yang seharusnya.

Makan nasi sudah merupakan keharusan setiap hari, saya berprinsip kalau belum makan nasi rasanya belum makan, jadi walaupun sudah makan siomay, baso, mie ayam dan lain-lain, kalau belum makan nasi berarti masih harus makan lagi. Ini tidak hanya dialami oleh saya saja, tetapi oleh kebanyakan teman-teman saya, nasi selalu jadi makanan utama.

no-rice-diet

Mau diet? Susah sekali, janjinya tahun depan, tahun depannya lagi, lagi dan lagi. Di Jakarta susah sekali berdiet karena banyak godaan makanan yang enak-enak dan tentunya berlemak dan berkalori tinggi. Saya masih ingat dulu di belakang gedung BCD Sudirman ada penjual mie ayam dan tahu kok yang enak sekali, kalau saya kesana antriannya sangat panjang, setiap makan di sana selalu saya order 2 porsi mie ayam berikut pangsitnya, soal rasa? Jangan ditanya enaknya, super enak.

Dengan makanan seperti itu tidak heran banyak yang masih muda tapi sudah sakit-sakitan, kolesterol, diabetes, jantung dan lain-lain, dan karena pengaruh makanan yang tidak dijaga juga membuat banyak teman saya yang seumuran terlihat gendut dan lebih tua dari usia sebenarnya.

Kalau tugas ke Singapura, masalah makanan tidak menjadi masalah karena nasi bisa ditemui di mana-mana, tetapi waktu saya pergi ke USA selama 10 hari, sangat terasa betapa saya menderita hidup tanpa nasi, sarapan pagi hanya roti-roti, bagel, cereal, toast, waffle, makan siang sandwich, pasta dan sejenisnya, makan malam French fries, steak, sandwich dan sejenisnya juga. Mau makan sendiri tentu tidak bisa, karena kita semua satu rombongan, selain itu saya tidak melihat ada restoran China dekat hotel.

Waktu saya ke Disneyland saya lihat di depan Disneyland ada Chinese restaurant to go, satu-satunya, melihat plang-nya dari luar saja sudah membuat saya kangennya setengah mati dengan nasi. Di situ pertama kalinya saya mencoba Mexican restaurant, saya lupa apa yang diorder waktu itu tapi betapa bahagianya saya melihat makanan yang saya order termasuk nasi, ternyata nasi Mexico itu tidak enak, berbau aneh dan kasar, tidak pulen seperti nasi yang saya makan di Jakarta. Saya seperti mau nangis, walaupun saya kenyang setelah makan tapi dua jam kemudian perut saya lapar lagi, betapa saya sangat merindukan nasi dan tempe goreng beserta sambelnya.

Pertama kali pindah ke sini saya masih merasa asing dengan semuanya, saya beli nasi yang instant, setiap mau makan saya masak nasinya, cuma 5 menit, tapi rasanya kurang enak, dekat rumah ada Chinese restoran, setiap siang saya makan di sana, tapi lama kelamaan saya bosan. Restoran Indonesia saya tidak tahu ada di mana, waktu itu saya belum punya driver license, di kota saya tanpa mobil sangat mustahil kita bisa pergi-pergi karena angkutan umum terbatas. Walau di rumah ada internet tapi mau main malas sekali karena saya tidak terbiasa menggunakan internet selama di Jakarta.

Setiap ke grocery store saya merasa semua makanannya terasa asing buat saya, bagaimana saya bisa makan itu semua? Tempe tidak ada, tahu yang dijual berbeda, kalau digoreng susah sekali matangnya, cabe jalapeno rasanya juga tidak pedas, hot sauce yang dijual katanya pedas tapi ternyata tidak pedas sama sekali, hanya sour saja, ikan yang dijual hanya fillet saja, saya tidak suka, saya suka whole fish yang terasa sangat enak bila dimakan sampai ke tulang-tulangnya, tapi di supermarket dekat rumah tidak menjual whole fish karena orang Amerika tidak suka makan whole fish, melihat ayam saya bingung bagaimana masaknya, kalau cuma salt and pepper terus di oven saya kurang suka rasanya, pengen ayam balado tidak tahu cara bikinnya.

Akhirnya di internet saya menemukan online store untuk bumbu-bumbu indonesia, saya beli indomie, bumbu instant seperti soto ayam, semur, sambel botolan, bumbu gado-gado dan lain-lain. Saya juga akhirnya beli rice cooker, pertama kali tidak kepikiran sama sekali, hanya makan nasi instant setiap hari, di bayangan saya nasi di sini pasti rasanya sama dengan nasi Mexico yang saya makan di Disneyland dulu.

Ternyata jasmine rice yang saya beli rasanya sangat enak, mulailah saya masak nasi dan lauknya dengan bantuan bumbu instant, tetapi lama-lama saya bosan, masak nasipun jadi jarang karena kalau pakai rice cooker harus masak agak banyak, sisanya saya masukkan kulkas dan tiap mau makan dipanaskan di microwave. Berbeda dengan di Jakarta, nasi selalu tersedia di rice cooker, tiap hari masak tiap hari pula habis, kalau saya di sini hanya saya sendiri yang makan, kalau nasi tetap di dalam rice cooker lama-lama jadi kering dan terbuang percuma. Ayam atau daging yang saya masak dengan bumbu instant pun rasanya tidak seenak yang dimasak dengan bumbu asli.

Karena karakter saya suka yang praktis-praktis dan sebenarnya tidak suka memasak membuat saya bosan dengan acara masak memasak, lama-lama saya belajar untuk hidup tanpa nasi, pertama-tama sangat sulit, perasaan lapar melanda setiap saat, tapi karena saya malas untuk masak nasi apa boleh buat, lapar harus tetap ditahan. Sarapan hanya makan cereal, roti, bagel, buah atau yoghurt, sebentar kemudian lapar lagi tapi tetap saya tahan, kalau lapar saya makan apel saja.

american-breakfast

Untuk makan siang saya siapkan sandwich, roti perancis yang panjang, dioleskan mayonnaise, ditaruh salada dan tomat di atasnya dan kemudian ditambahkan dengan irisan daging turkey atau roast beef, rasanya? Pertama-tama tidak enak tapi apa boleh buat, inilah konsekuensi dari orang yang malas masak seperti saya. Malamnya saya makan itu lagi atau cuma salad saja.

Untuk makan malam suami biasanya saya beli fillet ikan atau ayam dada fillet, tinggal dikasih salt and pepper plus garlic powder kemudian digoreng dengan minyak sedikit, potatonya direbus dan setelah itu ditaburi keju parut di atasnya, sayurannya cukup salad saja. Kadang-kadang bikin meatloaf, daging cincang dicampur telur dan bread crumb plus salt and pepper kemudian langsung dipanggang. Menu makan malam yang sangat simple, beda dengan menu masakan Indonesia yang bumbunya sangat beragam. Saya tentu tidak ikut makan makanan yang saya masak itu karena tidak ada rasanya, saya lebih memilih makan salad atau buah saja.

Perlu berbulan-bulan untuk membiasakan diri makan tanpa nasi, kadang kalau malam saya susah tidur karena membayangkan nasi, misalnya sedang kangen sekali saya masak nasi kemudian goreng telur dan tempe atau tahu, jadilah makan siang saya, atau kalau sedang kangen sekali dengan masakan Indonesia saya langsung pergi ke resto Indonesia dekat sini. Sekarang saya sudah terbiasa makan nasi seminggu sekali kalau tidak malas. Ada bagusnya juga, hasil annual check up saya selalu bagus, mungkin karena pola makan yang lebih sehat.

Setelah saya bekerjapun menu makannya tetap sama, kalau pagi cukup cereal saja atau roti, siang saya beli sandwich atau ayam goreng dan buah, malamnya hanya buah atau salad, menu yang sangat simple tapi cukup mengenyangkan. Positifnya, saya tidak merasa ngantuk setelah makan siang, dulu setiap habis makan siang di Jakarta perasaan mengantuk selalu menyerang, mungkin karena makanan yang saya makan terlalu berat.

Karena terbiasa makan seperti itu lama-lama perut saya tidak bisa makan banyak lagi, kalau saya makan berat siang hari misalnya saya pergi ke restoran Chinese, malamnya saya pasti tidak makan karena masih terasa penuh, atau kalau saya rencana makan malam di restoran berarti pagi dan siang-nya hanya makan yang ringan-ringan saja seperti buah dan salad biar saya bisa makan malam dengan menu berat.

Ketika saya ke Jakarta saya perhatikan karakter ibu saya tidak berubah sejak dulu, setiap pagi selalu bertanya mau makan apa hari ini, saya biasanya tidak rewel untuk urusan makanan, apa saja saya santap, dan jawaban saya selalu sama “apa saja”. Tapi kadang-kadang saya suka jawab masak masakan A, tapi dia jawab sepertinya enakan masakan B deh, kadang-kadang saya suka bingung sendiri kenapa harus bertanya kalau sudah tahu jawabannya. Saya sudah bilang berkali-kali kalau saya ini pemakan segala, apa yang ibu saya masak atau beli selalu saya makan. Tetapi ibu saya tetap saja seperti itu. Mungkin sudah karakternya.

Kalau pagi ibu menyediakan makanan kue-kue bermacam-macam, ada getuk, kue cucur, ketan, kue lupis dan lain-lain khusus untuk saya, tidak lama kemudian dia bertanya mau sarapan apa lagi, saya bilang kan baru saja sarapan, bagaimana bisa makan lagi, saya bilang perut saya sudah tidak seperti dulu lagi, dia bilang kan belum makan nasi, walaupun saya bilang tidak mau sarapan lagi tapi tetap saja dia bikin nasi goreng, sayapun dipaksanya makan lagi, saya makan sedikit saja.

Otomatis saya tidak lapar pas jam makan siang, lagi-lagi ibu saya memaksa saya makan siang, saya bilang belum lapar, tapi tiba-tiba nasi untuk saya sudah disiapkan di piring, kalau tidak dimakan mubazir, akhirnya saya makan saja walaupun tidak lapar, supaya hati ibu saya senang. Malampun begitu lagi, jam 7 malam sudah ribut, saya bilang tidak mau makan malam, ibu bilang sudah capek-capek disiapin tapi gak mau makan, gimana sih, mau tidak mau saya makan lagi. Jadi, kalau di Jakarta otomatis berat badan saya naik, makan setiap saat, tidak pernah olah raga, mau jalan pagi males karena suasananya berbeda, terlalu banyak orang lalu lalang di jalan, tidak tenang.

Belum lagi segala macam jajanan yang lewat depan rumah, setiap ada yang lewat seperti gorengan atau cireng atau es campur, ibu saya bertanya mau beli gak, saya bilang tidak mau tapi tetap saja distop. Saya bilang ini sebenarnya ibu yang mau jajan kali, dia bilang iya dan dia pengen makan bareng-bareng dengan saya, mungkin karena dari dulu saya tidak pernah hidup berpisah dengan ibu jadi dia kangen ingin makan bareng-bareng lagi seperti dulu.

Pas saya kembalipun di koper sudah diisi bermacam-macam indomie dengan segala rasa, bumbu instant, bumbu gado-gado dan lain-lain, padahal saya sudah bilang tidak mau tapi tetap saja begitu. Karena karakternya yang seperti itu membuat saya selalu menomorsatukan ibu saya, karena ibu suka sekali dengan tas maka selalu saya belikan oleh-oleh dompet dan tas yang mahal, pemberian sayapun jarang dipakainya selalu disimpan dengan rapi biar tidak rusak katanya, sayapun dengan relanya meninggalkan uang yang cukup banyak, berharap ibu saya tetap sehat agar saya bisa menemuinya lagi di tahun-tahun berikutnya.

 

37 Comments to "Tanpa Nasi? Tidak Masalah!"

  1. Summer Girl  20 June, 2014 at 08:34

    Mbak nonik, sori baru jawab komennya, kalau dari dulu sudab terbiasa makan roti adaptasinya memang jadi lebib mudah, kalau saya dulu jarang makan roti dan susu krn dulu tergolong lebih mahal drpd nasi, makanya adaptasinya susah sekali skrg sih sudah terbiasa.

  2. Nonik  27 February, 2014 at 03:24

    Halo Summer Girl….
    Sorry telat bacanya hehe. Wah, kebayang ya rasanya kangen berat sama nasi…. Thank God aku dari dulu suka makanan Eropa, selama di Indo pun jarang sarapan pake nasi. Cukup roti dan susu hehe. Jadi pas hidup di LN, tidak terlalu mengalami culture shock dengan makanannya

    Tapi bagus dong sekarang sudah terbiasa hidup tanpa harus ketemu nasi setiap hari. Pola makan jadi sehat (aku juga dietnya lebih sehat semenjak di LN) dan berat badan berkurang hehe.

  3. phie  27 December, 2013 at 11:44

    Summer: lupa merk apa tempenya, pokoknya ingetnya bikinan MA yg ada jenis kedelai mcm2 kan? yg wheat, yg 3 grains beda2 warna tulisannya ya? ada yg biru ada yg orange, setelapak tangan $3.99 jg?
    hahaha….iya klo makanan kita baunya tajem bgt pdhl buat kita enak ya, klo abis masak sambel trasi suami yg ribut ‘ini bau bangkai dari mana?’ ah sambel bajak enak nian! mg lalu saya bikin kering kentang pake teri sama empal gepuk, makan sama sambel bajak….uugghhhh enaknyaaa

  4. Summer Girl  27 December, 2013 at 10:44

    Mbak phie, mungkin kalo saya punya anak mau gak mau harus masak, kalo enggak nantk anak saya makan apa, tp berhubung saya cuma hidup berdua jadi pengennya yg serba praktis. Berarti kita makan tempe yg sama ya, yg saya makan juga bikinan MA merk lightlife. Kalo siamg saya lebih sering makan wrap atau sandwich krn lebih praktis, pernah bawa nasi dan ikan teri dikasj sama temen pas abis dipanasin di break room semuanya pada kebauan, spt bau bangkai katanya, pdhal menurut saya baunya enam sekali.

  5. Summer Girl  27 December, 2013 at 10:39

    30, bu lani, spt yg bu lani bilang, saya ini lebih tepatnya mengurangi porsi makan bukan diet, krn masih makan cake dan lain2, hanya porsinya lebih kecil. Dulu saya sering jalan pagi, jalan sekitar rumah kebetulan naik turun, tp sudah setahun ini tdk pernah lagi krn merasa capek sekali tiap pulang kerja jadi pengen bangun pagi malah kesiangan melulu.

    Mbak linda, di bandung kulinernya memang top sekali, nasinya serba wangi, dulu kalai makan sampai nambah berkali2, makan nasi goreng juga harus pake nasi jadi karbohidratnya dobel. Butuh waktu lama buat saya utk mengurangi nasi, maklum krn lebih dr 30 thn saya makan nasi dua atau tiga kali sehari.

  6. phie  26 December, 2013 at 13:15

    hahahaha…samaaaaaa, saya jg di sini udh jarang makan nasi. paling masak nasi seminggu ga lbh dari 2-3x, soalnya ribet klo hrs masak lauk indonesia byk pernak-perniknya. cerita ke mama saya klo bulan kmrn saya ga beli beras, beliau dengernya terkaget2 “trs pada makan apa?” hehehe….ya buktinya msh pada makan di rmh kok, apa saja gantinya, ya pasta atau kentang dan byk sayuran digrill/steam. dulu di indonesia klo makan kwetiau goreng/siram kan pake nasi jg, di sini mana pernah lg. trs dirasa2 jg klo abis makan nasi kenyangnya ga lama, 2-3 jam udh berasa lapernya ga kira2 dibanding makan kentang/pasta+sayuran, jd klo makan nasi ujung2 byk ngemilnya krn berasa laper bgt!!! itu yg sbnrnya bikin ga sehat ya?!
    justru bikin sup sayuran trs makan chicken wrap/sandwich kok lbh kenyang smp sore tuh, makanya beras 5lbs bisa abis 2-3 bln krn sekali masak hanya 2 cup yg awet smp 2 hari, kdg malah lupa punya nasi smp basi di rice cooker! ngomong2 soal tempe, saya suka beli di grocery di bagian organik, bikinan MA tuh. klo lg kangen tempe tepung cocol sambel kecap ya. dulu saya blm merit ga bisa masak setelah punya anak mau ga mau dan keterusan smp skrg lumayan lah rasanya klo ngasi org ga malu2in hehehe….krn udh bisa masak jg jd ga kangen2 amat masakan indonesia, pulang yg awal thn 2013 ini ga menggila makan ini itu, plus liat sikonnya dgn yg jualan pegang2 racikan entah tangannya abis pegang apa atau debu dll…ga deehhh pass aja, mo dibilang belagu ya silahkan….dunia kita sudah berbeda

  7. Linda Cheang  26 December, 2013 at 11:31

    Summer Girl : yes… perlu waktu beberapa lama untuk membuat perutku ini akhirnya bisa nyaman menerima makanan tanpa nasi.

    Apalagi di kotaku ini Bandung, kulinernya terkenal sangat sedap dan biasanya selalu didampingi nasi yang pulen dan wangi karena dibungkus dan pisang. Bahwan warga sini menyantap Batagor, Mie Goreng bahkan Bihun Goreng juga harus dengan nasi!

    Sekarang, dengan banyak mengurangi asupan nasi, tubuhku jadi lebih sehat, malah jadi lebih mudah turunkan berat badan.

    Kini, menyantap Batagor, Baso Tahu Kukus, Mie Goreng, Bihun Goreng, Gado-Gado, Sayur Asem, tetap sedap tanpa nasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.