Film Pendek Berjudul Panjang di JiFFest 2013

Bamby Cahyadi

 

Dari JiFFest 2013, Film Pendek Berjudul Panjang

Pintu masuk utama Galeri Indonesia Kaya di Lantai 8 Grand Indonesia, Jakarta, Sabtu sore itu, 16 November 2013, tampak meriah. Antrian panjang para penikmat film terbentuk bagaikan ular yang meliuk-liuk. Ya, hari ini adalah pagelaran hari kedua Jakarta International Film Festival (JiFFest) 2013. Sebuah festival film internasional yang memang bikin rindu kepayang penggemar film khususnya di Jakarta.

jiffest2013

Di antrian barisan paling depan, Victor Richard, bocah berusia 11 tahun tampak semringah. Wajahnya penuh binar antusias dan seperti tak sabar untuk mendapatkan tanda masuk. Menggunakan polo shirt warna hijau terang dan celana jins warna biru tua, Victor tampak paling mengundang perhatian. Betapa tidak, Victor menjadi satu-satunya anak-anak yang menonton JiFFest 2013 sore itu dengan kategori film Pop-Up Festival (menampilkan 5 judul film pendek dari Indonesia). Tentu Victor tidak datang sendirian, ia diantar oleh ayahnya yang memang penggemar film juga.

Ketika Victor ditanya, kenapa ia mau nonton film pendek karya sutradara Indonesia, dengan tangkas ia menjawab,”film itu bagian dari budaya, karena itu saya ingin menonton film-film itu.”

Begitu antusiasnya Victor, sampai-sampai ia dan ayahnya lalai, bahwa beberapa film yang disajikan sore itu, khusus untuk penonton dewasa. Tapi tak masalah, untuk bocah seusia Victor, ia sangat mengerti bahwa ada adegan film yang tentu ia sudah tahu konsekwensinya. Tutup mata.

Ruang pertunjukkan penuh sesak, ruangan yang berkapasitas 150 orang terisi penuh hingga meluber ke lantai. Bahkan, menurut Putri Daradasih, Marketing & CommunicationMUVILA (panitia penyelenggara JiFFest 2013) untuk pertunjukkan Pop-Up Festival, kategori film pendek (Cinema Shorts: Breakthrough) yang dimulai pukul 18.00 Wib itu ditonton oleh lebih dari 160 orang.

Tepat pukul 18.00 Wib, ruangan pertunjukkan melindap menjadi gelap. Di layar kini terpampang film-film pendek yang siap menghibur, mengundang gelak tawa atau bahkan memberi tanda tanya kepada penontonnya.

Penonton dengan serius menyaksikan di layar lebar film-film karya sineas Indonesia, secara berturut-turut mereka melihat lima judul film yang ditayangkan senja itu. Tentu saja penonton harus menyimak secara serius, karena sebelum film dimulai, pihak panitia telah wanti-wanti mengingatkan agar penonton tidak berisik, mengambil gambar, merekam film, makan-minum di dalam ruangan dan tidak keluar-masuk selama pertunjukkan film berlangsung.

Pertunjukkan diawali oleh film pertama, berjudul A LADY CADDY WHO NEVER SAW A HOLE IN ONE (Nona Kedi yang Tak Pernah Melihat Keajaiban).

Kisah film pendek ini berkutat soal pelajaran golf, kisah cinta, dan kemarahan. Film yang memenangkan Sonje (Short Film) Awards dalam Busan International Film Festival (BIFF) 2013 pada Oktober lalu ini disutradarai oleh Yosep Anggi Noen. Programmer BIFF menyebutkan bahwa film ini memperlihatkan kontradiksi antara kerja, kesenangan, dan kemiskinan.

Selanjutnya film kedua, berjudul LAWUH BOLED (Lauk Ubi).

Peraih penghargaan Film Fiksi Pendek Terbaik dalam Festival Film Purbalingga 2013 ini disutradarai oleh Misyatun, pelajar SMK Negeri 1 Rembang Purbalingga. Inti cerita Lawuh Boled berkisar soal boled atau ubi yang menjadi pilihan terakhir warga miskin akibat tidak mendapat jatah Raskin (Beras untuk Keluarga Miskin). Film berdurasi 9 menit ini juga berhasil meraih penghargaan Film Fiksi Pendek Pelajar Terbaik di ajang Malang Film Festival (Mafifest) 2013.

Lantas film ketiga, berjudul THE AWKWARD MOMENT (Canggung)

Disutradarai oleh Tunggul Banjaransari, cerita film pendek ini mengetengahkan Kota Solo sebagai tempat bertemu sekelompok orang Jepang yang sedang mengunjungi keluarga jauhnya di Indonesia. Mereka tidak saling mengerti bahasa satu sama lainnya. Yang jadi penghubung hanyalah seorang pria Jawa yang mampu berbahasa Jepang dan sebuah kamera. Sebelumnya, Tunggul pernah meraih Special Mention Audience dalam Asia Africa International Film Festival 2011 lewat filmnya, Oen. Ia juga meraih Best Jury Grand Prize dalam Asia Africa International Film Festival 2010 untuk film The Tone.

Kemudian film keempat, berjudul KAMU DI KANAN AKU SENANG

Sutradara film pendek ini, B.W. Purbanegara, sebelumnya memenangkan Piala Citra Festival Film Indonesia kategori Film Pendek pada tahun 2008 dan 2011. Masing-masing untuk film Cheng Cheng Po dan Bermula dari A. Kali ini, B.W. Purbanegara menghadirkan film Kamu di Kanan Aku Senang. Kisahnya tentang perempuan yang duduk di bangku dan merasa senang ketika ada sang lelaki duduk di sebelah kanannya. Tapi sang lelaki selalu memilih berada di sebelah kiri.

Dan ditutup film kelima, berjudul HALAMAN BELAKANG

Kisah film pendek berdurasi 12 menit ini menyoal tentang seorang anak yang menyibukkan diri dengan bermain sendirian demi mengabaikan suara gaduh dari dalam rumah. Pelan-pelan, ia pun jadi mulai terbiasa. Halaman Belakang disutradarai oleh Yusuf Radjamuda yang berasal Palu, Sulawesi Tengah. Ia sebelumnya menyutradarai film pendek Wrong Day yang sukses masuk nominasi Festival Film Solo 2011 dan menjadi Film Pendek Terbaik dalam Malang Film-Video Festival 2011.

Masing-masing film mempunyai keunggulan tersendiri. Secara sinematografi film A LADY CADDY WHO NEVER SAW A HOLE IN ONE dan KAMU DI KANAN AKU SENANG digarap sangat serius oleh Limaenam Film Production. Kedua film ini menampilkan gambar yang tajam, pemandangan setting film yang indah dan suprise ending yang memikat. Secara tema dan kedalaman cerita film LAWUH BOLED sangat berkesan dan up to date. Sementara film THE AWKWARD MOMENT sejatinya cukup menghibur, adegannya banyak memancing gelak tawa penonton, namun sayang menonton film ini penonton dibuat sakit mata, karena kualitas kamera untuk mengambil film ini jelek sekali. Dan film terakhir,HALAMAN BELAKANG menyajikan gambar hitam-putih yang tajam, akan tetapi setelah film usai menimbulkan tanda tanya, apa pesan yang ingin disampaikan dalam film itu?

Pemutaran film selesai, ruang pertunjukkan kembali terang, lampu-lampu kembali dinyalakan. Penonton bertepuk tangan untuk sajian kelima film yang ditayangkan hari itu. Usai pemutaran film, sempat diadakan semacam tanya-jawab dengan dua orang sutradara film pendek yang hadir kala itu, yaitu Yosep Anggi Noen dan Tunggul Banjaransari.

Lepas diskusi satu per satu penonton surut, meninggalkan ruangan pertunjukkan yang menjadi hening. Kursi-kursi yang masih menyimpan hangat pantat penontonnya kini kosong. Victor menggenggam tangan ayahnya, memandang layar lebar warna putih yang melompong dengan senyum mengembang. Anak dan Ayah itu melangkah keluar ruangan sambil bergandengan tangan untuk menyaksikan pertunjukkan film berikutnya. Begitulah budaya menonton film dibentuk.***

 

Jakarta, 17 November 2013

Reportase by Bamby Cahyadi

 

4 Comments to "Film Pendek Berjudul Panjang di JiFFest 2013"

  1. Dewi Aichi  31 December, 2013 at 06:01

    Waaaaaaaaaaaaa..baru tau Bamby ternyata bisa menjadi reporter film yang cukup menarik minat….

  2. J C  29 December, 2013 at 07:29

    Aku belum pernah ikutan nonton yang seperti ini…

  3. elnino  27 December, 2013 at 16:05

    Film2nya kedengaran menarik ya…

  4. Alvina VB  26 December, 2013 at 13:19

    Kapan2 ditonton dech mas…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.