Jodoh yang Tak Kunjung Datang

Summer Girl

 

Jodoh adalah misteri, sukar diduga datangnya, ada yang berpacaran bertahun-tahun kemudian tiba-tiba putus, ada juga yang hanya sebentar langsung menikah, ada yang perkawinannya kelihatan harmonis tiba-tiba bercerai, ada juga yang sering bertengkar dan sering mengucapkan kata cerai tapi ternyata tetap bersama sampai tua.

Ketika masih SMA, saya sering ngobrol dengan teman-teman perempuan, kita sering sekali membicarakan masalah cowok atau jodoh, rata-rata syarat utama mereka untuk mendapatkan jodoh adalah harus sarjana, saya tanya kenapa harus sarjana, katanya kalau gak sarjana bagaimana bisa kaya, bagaimana bisa menghidupi keluarganya nanti, tanpa ijazah sarjana bagaimana bisa mendapatkan pekerjaan yang bagus, ada juga yang bilang malu kalau tidak dapat sarjana karena semua sepupunya, tantenya, semuanya mendapatkan jodoh yang bertitel sarjana. Sarjana merupakan keharusan, kalau tidak sarjana bagaimana dengan kartu undangannya, katanya kan malu kalau nama si calon pengantin tercantum tanpa ada gelarnya. Ketika saya yang ditanya, saya cuma menjawab yang baik dan bisa mengajak saya jalan-jalan. Mereka bilang kalau kita kaya pasti juga sering jalan-jalan, saya bilang belum tentu, bagaimana kalau kaya tapi pelit?

jodoh-dan-ketentuan

Saya pernah bertemu salah satu di antaranya beberapa tahun kemudian, dia sudah married dengan orang yang bertitel sarjana, kehidupan cukup lumayan tapi dia bilang tidak bahagia karena suaminya tidak pernah mengajaknya jalan-jalan kemanapun, kalau weekend selalu di rumah, keluar rumah hanya untuk belanja bulanan ke supermarket. Saya hanya berkomentar “gak ada yang sempurna lah, semuanya pasti ada kelebihan dan kekurangan”.

Di antara teman-teman yang saya kenal, saya termasuk telat menikah, banyak yang menikah di usia 20 tahun atau 25 tahun, ada yang menikah di usia 19 tahun, dia sangat bangga karena sudah laku lebih dulu dan diapun bercita-cita menjadi istri dan ibu yang baik, setelah punya anak setahun kemudian bodynya menjadi sangat gemuk, tapi dia sangat bangga, dia bilang “namanya juga ibu-ibu, wajarlah gemuk, kalau gak gemuk bukan ibu-ibu namanya, saya gak mau diet supaya orang-orang tahu kalau saya ini statusnya sudah menikah dan punya anak”, padahal menurut saya walaupun sudah menikah kita harus tetap merawat penampilan, untuk kebaikan diri sendiri supaya lebih percaya diri dan merasa tetap cantik.

Saya termasuk tipe orang yang pendiam, karena karakter saya yang seperti ini sulit sekali buat saya untuk bisa menjalin relationship, walaupun muka saya termasuk manis tetapi herannya selama saya single pacar saya hanya satu orang. Sifat saya yang tertutup membuat banyak laki-laki menjauh, ditambah lagi dengan kondisi saya yang tidak kaya banyak juga yang mundur setelah melihat kondisi rumah saya dengan alasan saya tidak selevel dengannya, padahal sebelumnya oke-oke saja, mungkin karena wajah dan penampilan saya tidak seperti orang miskin.

Untuk masalah relationship saya sangat berhati-hati karena banyak contoh di sekitar saya yang setelah menikah ternyata tidak hidup bahagia. Tempat tinggal saya yang dulu di perkampungan padat telah membuka mata saya untuk lebih berhati-hati dalam memilih, banyak dari mereka yang masih sekolah tapi sudah terjebak pergaulan bebas dan akhirnya terjadi pernikahan dini dan hidup menderita, ada juga yang berpacaran dengan pencandu narkoba, dan masih banyak contoh-contoh lainnya yang berpengaruh negative. Impian saya adalah suatu hari saya bisa menikah dengan orang yang bisa mencintai saya dengan tulus dan membawa kebahagiaan.

Saya memiliki seorang sahabat di kantor dulu, usianya sekarang sekitar 45 tahun, cukup cantik, masih kelihatan lebih muda dari usia sebenarnya, baik budi bahasanya, posisinya sudah cukup tinggi sekarang, saya dengar sekarang sudah salah satu board of director di sana karena dia memang pintar. Secara logika orang seperti dia pasti mudah sekali mencari pacar tapi kenyataannya sangat sulit sekali, seingat saya dia hanya pernah pacaran serius dengan satu orang saja, mereka pacaran selama 8 tahun, merupakan pasangan yang serasi, dua-duanya sukses, si cowoknya ganteng. Karena persahabatan kami cukup dekat jadi saya bisa bertanya atau berkomentar apapun dengan dia,saya pernah bertanya kenapa gak pernah membicarakan lebihi lanjut kapan akan melamar, dia bilang gengsi, dia tidak mau mendahului pacarnya, ternyata pas dia berusia 35 tahun diam-diam pacarnya menikah dengan orang lain dengan yang lebih muda, padahal tidak pernah ketahuan pacarnya itu punya selingkuhan.

Walaupun karakternya cukup baik tapi cukup sulit buatnya untuk mendapatkan jodoh, beberapa criteria yang ditetapkannya sudah harga mati dan tidak ada negosiasi untuk itu yaitu harus beragama Katolik, tidak mau agama lain walaupun Kristen Protestan dan bersedia pindah ke Katolik dia tetap tidak mau karena katanya dia hanya mau yang natural Katolik, kemudian soal status, dia hanya mau yang single atau duda yang ditinggal mati istrinya, dia tidak mau duda cerai karena di agamanya tidak mengenal perceraian, untuk seusia dia sudah sulit untuk mendapatkan yang single, dudapun kebanyakan adalah duda cerai. Soal materi, dia tidak pernah membicarakannya karena dia bilang uang bukan yang utama, tetapi untuk orang dengan posisi seperti dia sangat sulit mendapat jodoh dengan level yang di bawahnya, karena cowok pasti sudah takut duluan untuk memulai, kalaupun ada setelah itu pasti obrolannya kurang nyambung karena memang berbeda level.

Sayapun menghargai keputusannya itu, walaupun dia belum menikah sampai sekarang tapi paling tidak dia tetap memegang teguh prinsipnya itu, tidak menurunkan kriterianya hanya karena ingin menikah, dia bilang kalau masih dikasi kesempatan untuk menikah dia akan bersyukur, kalau tidak ya tidak apa-apa.

Pada waktu usia saya 26 tahun, ibu saya sudah kuatir sekali saya akan jadi perawan tua karena tidak pernah terdengar saya punya pacar, kadang-kadang tetangga saya suka iseng bertanya di hari Sabtu, dimana Summer kok gak kelihatan, ibu saya jawab ada di dalam, ditanya lagi gak ada yang apel nih malem minggu begini kan sudah pas umurnya untuk married, ibu saya jawab lagi belum ketemu jodohnya mau bilang apa, mungkin si Summernya suka pilih-pilih, hati-hati lho kalau kebanyakan milih nanti bisa jadi perawan tua. Karena omongan tetangga itu ibu saya jadi semakin khawatir, apalagi setelah mendengar satu persatu teman saya menikah, kekhawatirannya semakin menjadi-jadi, setiap kali diundang ke pesta perkawinan ibu saya selalu mencuri kembang melatinya untuk saya, katanya biar saya cepat dapat jodoh tapi tetap saja setelah bertahun-tahun jodoh saya tidak kunjung datang.

Di saat yang sama pada waktu usia saya 26 tahun, di kantor mulai dipasang internet. Salah satu teman menginformasikan bagaimana kalau kita mencoba dating website www.dating.com, ada yang menolak tetapi banyak pula yang setuju, saya termasuk salah satu yang setuju, mulailah saya memasang profile dan foto, waktu itu situs tersebut masih gratis, kalau sekarang situs-situs dating seperti itu dikenakan fee. Sahabat saya termasuk yang menolak, dia mengingatkan saya untuk berhati-hati, karena banyak kasus terjadi dimana setelah bertemu si perempuannya dibunuh atau dibohongi atau dipukuli dan lain-lain. Tapi saya tetap saja jalan terus.

Setelah saya sign up di situs tersebut, banyak sekali e-mail yang masuk mengajak berkenalan, ada yang dari Canada, United States, negara-negara Timur Tengah, Indonesia, tapi tidak ada yang dari kawasan asia lainnya. Khusus untuk negara-negara Timur Tengah seperti Arab Saudi, india, Pakistan, saya hanya merespons untuk say hi supaya kelihatan sopan tapi setelah itu saya tidak pernah merespons kembali karena sejujurnya saya tidak tertarik untuk tinggal di negara tersebut.

E-mail pertama datang dari Canada, dari photonya kelihatannya ganteng dan dia tinggal di Saskatoon, ibukota propinsi Saskatchewan, dari photonya kelihatan kotanya sangat dingin dan penuh salju di musim winter. Orangnya sopan tapi sayang statusnya separate, belum divorce, selama berkenalan tidak pernah chatting, hanya saling bertukar e-mail saja, dalam e-mailnya dia selalu bercerita mengenai kegiatannya hari itu, dimana dia makan siang dan lain-lain. E-mailnya yang selalu penuh perhatian selalu membuat saya seperti di awang-awang, tapi kadang-kadang kita juga harus memakai indra ke-enam kita, walaupun dia tidak kelihatan berbohong tapi sepertinya dia juga berkirim e-mail yang sama dengan wanita lain. Lama kelamaan kitapun semakin jarang bertukar e-mail dan akhirnya menghilang begitu saja.

Kemudian ada juga yang dari Toronto, statusnya single dengan dua anak, baru saja putus dengan pacarnya yang telah member dua anak itu, orangnya juga gak jelek, gagah, tapi kelihatan seperti temperamental. Waktu itu saya tidak tahu Toronto ada di sebelah mana, saya tanya dimanakah Toronto, apakah jauh dengan Saskatoon, saya punya teman dari Saskatoon, tapi kemudian dia marah, kalau saya punya pacar orang Saskatoon berarti kita tidak perlu berkenalan lebih jauh. Saya bingung juga, kan saya cuma bertanya, akhirnya sayapun tidak mau bertukar e-mail lagi dengannya, terlebih lagi dengan statusnya yang sudah memiliki dua anak membuat saya berpikir seribu kali karena saya pernah mendengar bahwa urusan child support di negara asing tidak main-main.

Saya juga menerima e-mail dari Wisconsin, orangnya masih sangat muda dan sepertinya anak gaul, selalu keluar kota untuk menonton sport karena dia suka sekali dengan basketball dan football, wajahnya cukup lumayan tapi sepertinya dia tidak mencari serious relationship, hanya iseng-iseng saja.

Selain itu masih banyak sekali e-mail yang masuk termasuk dari orang Indonesia. Khusus yang dari Indonesia kelihatan sekali mereka berbohong, bukannya saya menjelekkan tapi memang ini kenyataan, ada yang bilang pekerjaan mereka adalah seorang direktur, dia bertanya no telp saya, saya berikan, kemudian dia sering sekali menelpon, pernah dia menelpon di jalan, saya bilang kan bahaya nelpon sambil menyetir, dia bilang tidak masalah karena supirnya yang menyetir, dia hanya duduk di belakang, saya hanya tertawa dalam hati karena saya punya feeling dia bohong, bisa saja dia menelpon dari wartel.

Kemudian ada juga yang masih beristri, tapi dia bilang sudah tidak ada kecocokan, untuk sementara tidak mau bercerai karena kasihan dengan anaknya, untuk yang ini langsung saya tidak mau berhubungan e-mail lagi. Selain itu ada cowok yang sifatnya seperti psikopat, suka menelpon, kalau saya tidak di rumah dia akan menyelidik lebih jauh kenapa saya tidak ada di rumah, dan lain-lain, saya jadi ketakutan sendiri, akhirnya saya tidak pernah mau menerima telponnya kembali. Untungnya selama itu saya tidak pernah memberikan alamat rumah saya kepada siapapun karena tahu saya harus berhati-hati dengan stranger.

Dengan suami saya sebenarnya saya sudah berkenalan sejak awal sign up di dating tersebut tapi hanya berteman saja, tidak pernah membicarakan masalah serious relationship, mungkin karena statusnya yang duda cerai tanpa anak membuat dia sangat berhati-hati. Sering kali kita berdua chatting hanya untuk mengobrol yang umum-umum saja, sampai bertahun-tahunpun tidak ada pembicaraan untuk menikah, semua mengalir begitu saja. kadang-kadang dia menelpon, seminggu dua kali, tiga kali kemudian menjadi tiap hari, lama-lama menjadi seperti dekat, kadang-kadang suka bilang I love you padahal belum pernah bertemu.

Saya akui bahwa menjalani long distance distance relationship itu sangat tidak mudah, semua serba tidak pasti, apakah dia berkata benar kita tidak tahu, apakah waktu dia bilang I love you itu benar-benar dari hatinya sendiri, kita juga tidak tahu, ingin menghabiskan waktu berduaan di malam minggu tidak mungkin, ingin pergi berduaan dengan teman laki-laki lain seperti penghianatan karena sudah ada komitmen pacaran walaupun hanya lewat telpon saja. Semuanya serba susah.

Walaupun kurang umum dilakukan tapi bertemu dengan pacar melalui sebuah dating website juga bukan merupakan suatu hal yang memalukan, jodoh memang di tangan Tuhan tapi kitapun harus tetap berusaha, yang terpenting adalah tetap mawas diri dan jangan mudah tertipu.

 

27 Comments to "Jodoh yang Tak Kunjung Datang"

  1. Summer Girl  13 June, 2014 at 01:33

    Mbak Intan, maaf baru sempet bales comment-nya, website-nya sekarang sudah tidak ada lagi, tapi sekarang ini banyak sekali dating website seperti itu, hanya bedanya dulu gratis sekarang dikenakan fee.

  2. intan permata sari  21 March, 2014 at 15:11

    perkenalkan saya intan dari karawang jawa barat,maaf mba kalo boleh saya tau nama dating websitenya apa?sy ingin ikut mencoba barangkali ketemu jodohnya disitu..hehe

  3. elnino  1 January, 2014 at 21:07

    Oh, kisah kita mirip ya Buto… Btw selama mengarungi kehidupan, udah dapat berapa karung sekarang?

  4. Lani  1 January, 2014 at 13:09

    21 AKI BUTO, SUMMER GIRL : menurutku, jodoh itu tdk berdasarkan lama/tidaknya berpacaran.
    Tapi dikembalikan lagi klu mmg sdh jodoh emangnya mau kemana? Buktinya pengalamanmu. Spt jg pengalamanku, kenal, ketemu 3 kali, langsung setuju bersama dan pas setahun langsung menikah, walau pernikahan yg singkat saja, akan ttp membawa & meninggalkan memory yg tdk bakalan aku lupakan!
    He is best so far in my life!

  5. Summer Girl  1 January, 2014 at 01:50

    20, pak tjipta, thanks sudah mampir dan thanks juga atas doanya.

  6. Summer Girl  1 January, 2014 at 01:48

    17, mbak phie, sama dengan saya, ukuran tubuh saya medium tapi kok dibilang gemuk di jkt, banyak cowok yg bilang “gak mau ah sama si summer, body nya kurang oke”. Selain itu saya memang kurang suka dengan orang asia karena dari yg saya lihat di sekeliling semua pria nya minta dilayani, bapak sayapun dulu begitu, makan harus disiapin dll, sedangkan saya tipenya suka yg praktis2.

    18, mbak elnino, betul sekali, kalau sudah jodoh gak akan kemana2, dulu temen2 saya juga banyak yg ikutan daftar di dating.com tapi semuanya gak ada yg jadi, semuanya akhirnya menikah dg pria indonesia juga.

    19, bu matahari, thanks commentnya, walaupun dulu saya ingin tinggal di luar negeri tapi saya juga berhati2, selalu memakai logika, kalau kelihatan cowoknya sudah gak bener langsung saya cut, tetap harus mawas diri demi keselamatan diri sendiri. Untungnya saya dapat yg baik, mungkin krn komunikasinya cukup lama dan juga ada feeling sepertinya orangnya baik, dan ternyata memang benar baik. Saya dulu punya kenalan dua orang indonesia, tinggal di kota yg sama, mereka juga bertemu melalui dating website dan sepertinya suaminya semuanya baik, skrg sudah gak pernah ketemu lagi tapi masih suka e-mail2an, mungkin untung2an ya.

    Pak JC, thanks comment-nya, walaupun pacaran lama tapi kalo gak jodoh memang gak akan jadi ya, urusan jodoh memang gak gampang.

  7. J C  29 December, 2013 at 07:26

    Wooooo…Elnino ternyata “mirip” tho kisahnya dengan aku. Pacaran 5 tahun lebih, bubar, terus dapat lagi, belum setahun bubar, sama istri kenal 4 bulan, langsung ta’ajak nikah, pacaran 5 bulan, tahun itu juga nikah…sampai sekarang 13 tahun… tooosss dulu, Elnino…

    Summer Girl, baca kisah-kisahmu selalu mengasikkan, banyak sisi dan perspektif baru yang bisa diambil untuk pelajaran mengarungi kehidupan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.