Perjalanan Terakhir (7)

Wesiati Setyaningsih

 

“Robi akan dimakamkan di mana?” tanya Bapak.

Mereka berdua di rumah tamu sekarang. Lala sudah tidak ada. Ibu menatap Bapak heran. Aku tidak melihat ada dendam di mata Ibu. Lelaki yang pernah meninggalkannya demi perempuan lain itu ternyata tak cukup memberinya marah yang berkepanjangan. Ibu cuma tampak heran kenapa Bapak bertanya.

“Di pemakaman tempat Eyang Kakungnya dimakamkan, di Padangsari. Kenapa?”

“Ini tadi aku dapat kabar dari pemakaman, tidak ada tempat lagi.”

Ibu tertegun.

“Kita ke belakang dulu.”

Ibu berlalu ke ruang makan meninggalkan pada tamu yang duduk di dekat jenasahku yang terbujur kaku tertutup kain.

“Siapa yang bilang begitu?” tanya Ibu.

“Tadi yang nyari tempat di pemakaman datang, kasi tau gitu ke aku.”

Ibu mengusap dahinya yang tiba-tiba basah.

“Makam di sini memang sudah penuh. Gimana kalo di pemakaman keluargaku saja?” usul Bapak.

“Di Solo itu?”

Bapak mengangguk. Ibu menarik nafas dalam lalu menggeleng.

“Tidak. Terlalu jauh buatku kalau nanti ingin menengok makamnya.”

“Tapi makam sini sudah penuh.”

Ibu mencari kursi untuk duduk. Sepertinya dia mulai bingung dan tak bisa berpikir lagi.

“Apa tidak ada jalan lain?”

Bapak menggeleng.

“Kalo ke Solo itu jauh sekali.”

“Cuma dua jam dari sini.”

“Lebih. Makam itu jauh di desa. Bisa sampai tiga jam dari sini. Belum lagi macetnya. Habis waktu di jalan. Aku bisa capek. Gimana kalo aku kangen? Kalo di sini aku bisa sering-sering nengok sekalian ke makam Bapak.”

Bapak mengangkat bahu.

“Jangan cuma mengangkat bahu. Bantu mikir,” nada Ibu agak meninggi.

Bapak menatap Ibu terkejut karena tiba-tiba diserang seperti itu.

“Aku sudah bantu mikir tapi kamu nggak mau. Aku mesti gimana?”

“Coba pikirkan aku juga. Aku sendirian sekarang. Memang sekarang aku masih kuat. Mungkin ke Solo sendirian aku masih bisa. Tapi nanti kalau aku sudah tua? Apa berani aku ke sana sendirian?”

“Mungkin aku bisa ngantar kamu, Mur.”

Ibu tersenyum.

“Enggak usah. Enggak enak sama istri kamu nanti. Malah jadi ribut, nambahin masalah buat aku saja.”

Bapak menatap Ibu, kehilangan kata-kata. Menyaksikan itu semua aku menoleh ke Yang Kung, meminta pendapat. Yang Kung diam saja dengan wajahnya yang tenang.

“Aku tak ingin dimakamkan di Solo. Kasihan Ibu nanti,” aku mulai mengusik.

“Enggak harus ke Solo, pasti ada jalan. Tenang saja,” suara Yang Kung datar saja.

Melihat ketenangan Yang Kung, aku kembali mengamati mereka berdua.

“Ya sudah kalau memang kamu tak ingin Robi dimakamkan di Solo. Aku ikut saja. Padahal aku bisa saja mengantar kalau kamu mau. Tak ada yang akan marah.”

Ibu menatap Bapak tak mengerti. Tapi Bapak tak menjelaskan apa-apa lagi tentang maksudnya mengatakan hal itu.

“Cuma kalau ke Solo, memang kamu tidak bisa tiap hari ke sana. Kalo dimakam di sini, kapanku kamu mau kamu, bisa pergi. Aku juga bisa lebih mudah ke makam Robi kapanpun aku mau.”

“Itulah. Lebih bagus kalau bisa di sini. Belum lagi kalau mesti dimakam di sana, kita juga belum pesan tempat. Nanti perjalanan dari sini untuk menuju sana hari ini akan makan waktu. Aku ingin Robi segera dimakamkan.”

Bapak dan Ibu terdiam sibuk dengan pikiran mereka sendiri. Tiba-tiba Ibu seperti mendapatkan ide.

“Panggilkan Mbah Prapto. Aku mau bicara.”

Aku percaya, Ibu selalu punya pikiran yang jernih sekalut apapun pikirannya. Aku sudah melihat bagaimana Ibu mengurus sendiri pemakaman Yang Kung. Tak lama kemudian Mbah Prapto datang bersama Bapak.

“Gimana Mur? Ada masalah apa?”

“Mbah, nggak ada yang bisa saya mintai tolong kalo ada masalah seperti ini kalo bukan Mbah Prapto sebagai sesepuh sini.”

“Ada apa memangnya?”

“Barusan dapat kabar, makamnya penuh. Nggak ada tempat lagi buat Robi. Apa Robi mesti dimakamkan di Solo? Itu terlalu jauh. Kalo bisa mbok di sini saja. Bisa mengusahakan nggak? Saya bingung Mbah.”

“Lha iya, sudah dari kemarin makamnya penuh. Sejak kemarin kalo ada yang meninggal selalu di bawa ke tempat lain.”

“Aduh..” Ibu mengeluh.

“Habis gimana? Orang belum pada mati pesen makam. Jadinya kaya gini, yang mati malah enggak dapat tempat. Itulah makanya tempatnya habis. Padahal sebenarnya masih ada. Cuma ya itu, sudah pesanan semua.“

“Lantas anak saya gimana ini?”

“Paling ya ditumpuk.”

“Ditumpuk?”

“Iya, ditumpuk. Di makamkan di makam yang sudah dipakai orang, tapi sudah cukup lama. Bisa itu.”

“Oh, bisa ya?”

“Bisa. Ada keluarga yang dimakam di situ kan? “

“Ada. Kan Eyang Kakungnya di situ, “ Bapak yang menjawab.

“Oia. Sudah cukup lama ya?”

“Hampir 3 tahun,” kata Ibu.

“Nah, sudah bisa ditumpuk, itu. Ditumpuk saja gimana?” tanya mbah Prapto.

Ibu menatap Mbah Prapto dengan gembira.

“Iya. Gitu aja Mbah. Minta tolong ya…”

“Ya sudah, gitu aja. Aku ke makam dulu, ngurus makam. Biar segera digali. Kalian di sini saja, sebentar lagi memandikan jenasah.”

“Iya, Mbah,” Bapak yang menjawab.

Tiba-tiba Ibu sudah terduduk lesu. Bapak menoleh lalu mendekati Ibu.

“Kenapa, Mur?”

Ibu tiba-tiba lemas. Dengan sigap Bapak menangkap Ibu. Aku menoleh ke arah Yang Kung. Tapi Yang Kung tetap tenang-tenang saja.

“Yang, Ibu kenapa itu?”

“Hampir pingsan. Dia terlalu sedih. Bebannya memang cukup berat.”

“Kita mesti gimana?” aku mulai panik.

Aku sungguh ingin bisa melakukan sesuatu, tapi aku tahu aku tak bisa apa-apa.

“Ya nggak gimana-gimana. Kan kita nggak bisa apa-apa. Lagian bagus itu.”

“Bagus gimana?” aku makin panik.

“Bagus kalau dia bisa melampiaskan kesedihannya sekarang. Biar semua cepat hilang. Malah bahaya kalau dia tampak tenang-tenang saja. Jangan-jangan dia memendan kesedihannya dan pura-pura baik-baik saja, padahal tidak. Bisa-bisa jadi penyakit nanti.”

Kurasa Yang Kung benar juga. Tapi tetap saja aku tak tega melihat Ibu seperti itu.

“Tidak perlu bingung Robi. Tidak semua seburuk kelihatannya. Kadang-kadang bahkan sesuatu yang kelihatannya buruk sebenarnya sebuah proses menuju sesuatu yang sangat baik. Kamu terlalu panik. Coba amati saja dulu.”

Terpaksa aku diam. Bapak kini memeluk Ibu erat. Sesuatu yang tak pernah kulihat sejak aku kecil. Mungkin mereka pernah melakukannya di depanku, tapi aku sudah lupa karena aku pasti masih sangat kecil waktu itu.

Ibu merelakan diri untuk tenggelam dalam pelukan Bapak. Perlahan Ibu mulai terisak. Bapak mendesah menenangkan Ibu.

“Aku tak punya siapa-siapa lagi, Mas,” tangis Ibu.

Bapak cuma diam saja dan mendengarkan tangisan Ibu.

“Aku nanti hidup sama siapa?” Ibu mulai merintih.

Bapak mengelus-elus punggung Ibu. Ibu mendekap erat Bapak. Tak tampak sama sekali bahwa mereka adalah mantan suami-istri. Mereka malah tampak seperti sepasang kekasih di mataku. Aku jadi berharap mereka bisa bersatu lagi.

“Ada aku Mur, sabar…” bisik Bapak.

Demi mendengar kata itu Ibu malah melepaskan pelukannya.

“Kamu tidak mungkin bisa menemaniku, Mas. Jangan mengkhianati istrimu.”

“Aku tidak mengkhianati siapa-siapa. Perempuan itu sudah meninggalkan aku.”

Ibu tampak terkejut. Diusapnya wajahnya untuk membersihkan air mata yang tersisa.

heart-reunion

“Aku ingin menemanimu lagi, Mur. Itu kalau kamu mengijinkan. Aku tahu salahku sudah sangat berat. Aku meninggalkan kamu dan Robi demi perempuan itu.”

“Karina.”

“Iya, Karina. Aku sudah tak ingin menyebut namanya.”

“Kenapa?”

Bapak diam tak bisa menjawab.

“Aku juga tidak dendam waktu kamu tinggal pergi. Aku tidak marah. Aku tahu kamu berhak untuk mendapat yang terbaik untuk hidupmu. Kamu berhak untuk bahagia.”

Bapak menghela nafas. Dia menunduk seperti mengakui kesalahannya.

“Jangan mendendam pada siapapun.”

Bapak menutup wajahnya. Perlahan dia terisak. Aku tertegun. Baru kali ini aku melihat lelaki dewasa menangis.

“Aku menyesal sudah meninggalkan kamu dan Robi. Aku belum sempat menemani dia. Harusnya aku bisa menemani dia bersepeda, atau main badminton. Harusnya aku bisa menemani dia mengerjakan PR. Atau merawat dia waktu sakit.”

Bapak tersedu.

“Tapi aku nggak ada di samping Robi..”

Aku teringat masa-masa aku ingin ditemani seorang Bapak. Aku sering iri melihat anak lelaki pergi bersama ayahnya. Teman-teman belajar naik sepeda bersama ayah mereka. Tapi aku tak mungkin berharap Bapak menemaniku belajar naik motor. Aku bisa naik motor karena diajari Very dengan meminjam sepeda motor milik teman SMP-nya, sebuah motor bebek lama.

Waktu aku sakit panas karena flu, Ibu yang membawaku ke dokter. Setelah itu Ibu juga yang merawatku. Kalau terpaksa meninggalkan aku karena sedang ada kerjaan, Ibu menitipkan aku pada Yang Kung. Yang Kung yang menungguiku. Yang Kung yang ngeloni aku waktu aku menggigil karena demam. Untung aku tak pernah sakit berat. Paling cuma flu atau masuk angin.

Diam-diam aku merindukan Bapak. Aku selalu merindukannya. Cuma aku tak pernah berani berusaha menghubunginya agar dia mau menemuiku. Aku takut dia menolak menemuiku karena sibuk dengan istri barunya. Padahal aku belum pernah mencoba. Tiba-tiba aku kembali merasa bodoh. Begitu banyak hal yang tak kulakukan karena sudah takut lebih dulu akan gagal. Akhirnya aku tak mencoba sama sekali. Padahal kalau saja aku mencoba, mungkin saja berhasil.

“Aku menyesal cuma bisa menemuinya kalau Lebaran saja. Aku sibuk sekali di hari lain. Pekerjaanku tidak memberikan banyak cuti. Di hari Minggu saja kadang aku masih lembur agar ada uang lebih untuk membiayai semua keinginan Karina.”

Ibu menarik nafas. Aku tahu bahkan untuk biaya kehidupan kami saja Bapak jarang memberikan uang. Semua demi perempuan bernama Karina.

“Tapi kini setelah semua pengorbananku, dia pergi.”

Bapak kembali menahan isakannya. Ibu yang tadi tersedu-sedu kini malah sudah bisa menguasai diri.

“Sekarang semua sudah terjadi. Kita mesti hadapi ini dulu. Aku juga masih harus menata hatiku karena kehilangan anakku satu-satunya. Aku belum tahu harus bagaimana. Masalah Karina, relakan saja. Semua pasti ada hikmahnya.”

Ibu berkata bijak. Bagaimanapun dengan bimbingan Yang Kung selama ini, Ibu menjadi perempuan yang tegar saat harus menghadapi musibah seperti ini. Padahal aku tahu hatinya sendiri sedang porak poranda.

Bapak mulai mengangkat wajahnya dan mengeringkan air matanya.

“Kamu memang luar biasa, Mur. Sebenarnya aku tak bisa melupakan kamu. Tapi aku terlanjur terikat pada perempuan itu. Tak semudah itu pergi dari Karina dan kembali padamu. Ternyata sekarang malah dia yang pergi. Kamu benar. Mungkin semua itu ada hikmahnya.”

“Kita pikirkan Robi dulu, Mas. Ini yang penting sekarang.”

Bapak mengangguk.

Seorang lelaki setengah baya masuk. Aku tidak tahu dia siapa, tapi sepertinya Bapak mengenalinya. Bapak bertanya ada apa.

“Sudah saatnya memandikan jenazah. Mau dimandikan sendiri oleh keluarga atau biar saya yang memandikan?”

“Saya mandikan sendiri, Pak,” jawab Ibu cepat.

“Baik, saya siapkan peralatannya,” kata lelaki itu seraya berlalu.

“Kamu yakin akan memandikan jenazah Robi?” tanya Bapak pada Ibu.

Ibu mengangguk.

“Yakin. Ini saat terakhirku. Aku ingin memandikan sendiri anakku.”

Ibu bangkit dari tempat duduk dan beranjak sementara Bapak masih termangu di tempatnya. Melihat Bapak belum berdiri juga Ibu menoleh.

“Nggak ingin ikut memandikan anakmu? Ini kesempatan terakhir kita. Siapa tahu Mas ingin menebus waktu yang telah terlewat.”

Bapak menatap Ibu ragu.

“Aku tidak yakin akan mampu mengatasi kesedihanku. Selama ini aku jarang menyentuhnya, sekarang aku memandikannya setelah dia jadi jenazah. Apa aku kuat?”

Ibu menatap Bapak dalam-dalam.

“Kuat enggak kuat. Ini kesempatan terakhirmu. Terserah Mas mau ambil atau tidak.”

Bapak mengusap matanya yang kembali basah.

“Baiklah. Kamu benar, Mur. Aku ikut.”

Aku menghela nafas lega. Atau seolah begitu karena aku tak lagi punya paru-paru. Setidaknya aku senang melihat Bapak dan Ibu sepertinya bisa bersatu lagi.

“Semoga semua baik adanya,” kataku.

Yang Kung tertawa kecil.

“Siapa tahu kalau Bapak Ibumu kembali, bisa punya anak lagi,” sambut Yang Kung.

Aku tertawa.

“Ibu sudah tiga puluhan Yang, masak bisa?”

“Ah, kamu tau apa?”

Aku tergelak.

“Iya, aku tau apa. Pacaran aja belum pernah.”

“Nah!”

Tawaku reda.

“Aku ingin melihat bagaimana mereka memandikan aku. Ini saat terakhir yang akan sangat berarti.”

“Baik.”

Aku dan Yang Kung melihat bagaimana beberapa orang mengangkat tubuhku yang mulai kaku. Kemudian meletakkannya di sebuah dipan kayu pendek yang memang dipakai untuk memandikan jenazah. Bapak menyiramkan air sementara Ibu yang mengosok-gosok tubuhku persis seperti waktu aku kecil. Cuma dulu Bapak tak ikut menyiramkan air. Hanya Ibu yang memandikan aku sendirian.

Biasanya dengan sabar ibu menggosok tubuhku dengan sabun meski aku tidak bisa diam. Tapi herannya, bisa juga sekujur tubuhku rata dengan sabun, lalu Ibu mengguyurkan air dari kepala. Aku dikeramas tiap hari waktu kecil. Setelah itu Ibu memakaikan minyak kayu putih dan bedak ke dada dan punggung. Ada beberapa anak tetangga yang meski laki-laki dibedaki wajahnya. Tapi aku tidak. Ibu tak ingin aku jadi suka bedakan di wajah sejak aku bayi.

Setelah besar, tiap kali aku malas mandi, Ibu mengancam akan memandikan aku. Lantas beliau menceritakan semua itu padaku. Semua selalu diawali dengan, “kamu dulu…”, lalu mengalirkan kisah bagaimana repotnya memandikan aku waktu kecil.

Kini semua itu hanya akan tinggal kenangan. Anak yang dulu dia rawat dengan sepenuh hatinya tak lagi punya nyawa. Aku pikir aku akan melihat Ibu tersedu-sedu lagi. Tapi nyatanya malah Bapak yang tak henti mengusap matanya dengan kerah baju.

Aku rasa sepertinya adegan ini tampak tragis. Seorang anak remaja yang terbujur kaku, dimandikan oleh ayah dan ibunya. Tapi aku melihat sesuatu yang lain. Dua orang yang sebenarnya masih saling mencintai, telah sekian tahun terpisah oleh perceraian, kini melakukan sesuatu bersama-sama lagi.

Kadang-kadang sebuah tragedi malah bisa menyatukan hati yang terpisah.

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

12 Comments to "Perjalanan Terakhir (7)"

  1. probo  3 January, 2014 at 11:28

    lah…biasa saja to ya…tandany dikau berhasil mengaduk-aduk esmosi pembaca…..dan mengingat peristiwa masa lalu….
    ending adalah hak penulis hehehe

  2. wesiati  2 January, 2014 at 21:24

    aduh maaf kalo bikin pada sedih. semoga tulisan berikutnya bisa agak menghibur. endingnya saya usahakan happy ending. saya penyuka happy ending kok.

    gara2 nulis cerita ini, saya juga jadi memperbaiki diri. mikir kalo tau2 mati belum sempat mengoreksi yang belum bener di sana sini. heheheh…

    salam sayang buat semuanya.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *