Kukira Dia Tidur

Anik – Kediri

 

Seperti biasa, aku mengayuh sepedaku menuju sekolah. Yah…inilah kebiasaanku setiap harinya. Selalu saja sendiri saat berangkat maupun pulang sekolah. Tak pernah lelah mengayuh sepedaku. Aku sangat gemar membaca, entah itu novel maupun  koran semuanya aku suka. Setiap hari di tengah-tengah perjalananku ke sekolah aku menyempatkan waktu untuk berhenti sejenak di rumah kecil penjual koran langgananku setahun ini. Harga koran yang murah tak memberatkanku untuk merogoh sebagian kecil dari uang sakuku. Di rumah sudah menumpuk beratus-ratus koran. Aku memang sangat menyukai mengoleksi koran dan buku.

Saat aku menunggu bapak penjual koran mengambilkan uang kembalian, tanpa sengaja pandanganku berarah pada seorang kakek yang duduk di samping rumah penjual tersebut. “sedang apa kakek itu?” batinku penasaran. “Apa dia sedang tidur?” batinku mencoba menebak-nebak. Kakek itu sedang dalam keadaan jongkok, tapi dia juga memejamkan mata. Mana mungkin seseorang bisa tidur dalam keadaan jongkok? Dan jika dia tidak tidur, kenapa dia memejamkan mata terlalu lama?

kakek-buta

(lilincilik.wordpress.com)

“Mbak, ini kembaliannya” bapak penjual koran membuyarkan lamunanku. Ingin aku menanyakan kepada bapak itu, apa yang sebenarnya kakek itu lakukan? Tapi tak enak hatiku menanyakannya. Bagiku itu hal yang aneh dan membuat aku penasaran, namun orang-orang di sekelilingnya seakan-akan sudah tahu apa yang terjadi dengan kakek itu. Tatapan mereka seperti sudah terbiasa melihatnya. Tapi aku baru kali ini melihatnya, padahal aku sudah bertahun-tahun melewati jalan ini. Jam tanganku menunjukkan pukul 07.30, aku harus cepat-cepat berangkat sebelum terlambat.

Besok paginya aku melakukan kegiatan rutinku membeli koran lagi. Hari ini sama dengan kemarin, aku kembali bertemu dengan kakek itu. Keadaannya masih sama dengan kemarin. Dia jongkok dan tetap memejamkan mata. Tapi kali ini badannya sangat mengginggil dan tangannya menggenggam. “mungkin dia kedinginan” batinku menjawab dengan sendirinya. Yah..itulah aku, tak tahu apa yang terjadi tapi mencoba menebak-nebak. Ingin rasanya aku menghampiri kakek itu, tapi aku takut menyinggung perasaannya. Aku juga bingung apa yang akan kulakukan saat mendekatinya. Memberi dia makan bisa saja melukai hatinya. Menanyakan keadaanya juga tak mungkin, karena dia merasa keadaannya baik-baik saja dan tak seaneh seperti yang aku fikirkan.Aku buang jauh-jauh rasa penasaranku. Aku merasa bersalah dengan kakek itu, karena aku menganggap keadaannya aneh, padahal orang lain menganggapnya biasa.

“Jika hari ini aku bertemu dengan kakek itu lagi, aku janji nggak akan menganggap aneh lagi pada kakek itu” ucapku sebelum berangkat sekolah. Aku berangkat sekolah seperti biasa, mencoba menghilangkan semua perasaan aneh yang ada di hatiku.

“Ini mbak” bapak penjual koran langsung memberikan korannya untukku saat aku baru saja turun dari sepeda. Bapak itu sudah hafal dengan kebiasaanku. “ini ya pak uangnya” aku menyerahkan uang dan bapak itu membalasnya dengan senyuman. Pandanganku berarah lagi ke tempat kakek itu biasa ada. Tapi kali ini kakek itu tidak ada. “Maaf pak, kakek yang biasa duduk disitu kemana? Kok nggak ada?” hari ini entah kenapa aku berani menanyakannya pada bapak penjual koran. “Oh..kakek Usman ya mbak? Itu dia sedang ada di depan rumah” aku menoleh ke arah yang ditunjuk bapak itu. “Ya Allah pak..kenapa kakek itu berjalan menggunakan tongkat?? Apa kakek itu…” aku tak kuat melanjutkan ucapanku. “iya mbak..kakek itu memang buta sejak lahir, matanya tidak bisa dibuka” bapak itu memulai ceritanya. Kulihat kakek itu memunguti dedaunan kering di depan rumahnya.

Ya Allah..aku nggak pernah berfikir kalau ternyata kakek itu buta. Selama ini kakek itu belum pernah melihat warna dunia. Aku pernah dengar kalau orang yang buta sejak lahir, dia hanya bisa mendengar suara saja dalam bunga tidurnya karena dia tidak memiliki gambaran dalam hidupnya. “Andai saja beliau tahu betapa indahnya warna dunia ini” ucapku pelan sambil mengusap airmata yang baru saja menetes. Terima kasih kakek..engkau telah mengajariku untuk lebih bersyukur atas nikmat Allah untukku. Semoga Allah selalu melindungimu kek.

 

Note Redaksi:

Anik, selamat datang dan selamat bergabung di rumah kita bersama ini! Semoga betah dan kerasan ya…ditunggu artikel-artikel lainnya…

 

About Anik

Seorang penulis lepas berasal dari Kediri, yang sharing tulisan-tulisannya melalui BALTYRA.com. Sekarang menetap di Jember.

Arsip Artikel

12 Comments to "Kukira Dia Tidur"

  1. J C  5 January, 2014 at 12:16

    Anik, selamat datang! Tulisan pertama yang menyentuh…

  2. Anik  2 January, 2014 at 22:34

    Mas efendi: iya mas terima kasih.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.