Mari Kita Berbeda

Agus Sudrajat

 

perbedaan (1)Manusia fundamentalis yang over fanatik dan over PD terhadap agama yang dianutnya, terbiasa hidup dalam kebenaran tunggal. Dia hidup dalam paradigma benar-salah. Terdidik oleh ‘aku’nya untuk pandai berartikulasi, berargumentasi, berkonotasi, bahkan tak jarang tanpa disengaja memprovokasi dengan menonjolkan perbedaan. Sudah tradisi untuk membombardir dengan mengutip ayat-ayat kitab, mengobral firman, dalil-dalil ahli berhamburan, sporadis bicara keTuhanan, tanpa dia tau alamat Tuhan ada dimana.

Setiap perbedaan mengklaim dirinya benar, dan setiap kebenaran selalu tumbuh berkembang, diiringi keinginan tuk mendominasi, maka yang terjadi adalah adu pembenaran. Yang lebih kuat, dominan, akan menggencet, meremehkan bahkan mengabaikan yang minoritas… (Salam kasih untuk Bu Esti di wilayah Tangsel).

Sejak lama kita tahu, dalam komunitas agama di dunia berkembang aliran-aliran yang ajarannya mengklaim “paling murni (seperti iklan minyak goreng), paling suci (kayak judul sinetron), paling bener (kayak anggota parlemen), paling bisa menyelamatkan umat manusia (kayak ormas yang berseragam longdress putih), paling hebat, akhirnya… paling-paling “ANU”…!

Dalam skenario perbedaan, dalam dunia Islam selalu ada isu timbul tenggelam, di antaranya: perbedaan sikap terhadap kelompok Ahmadiah, Wahidiah (yang meyakini Al Ghaost sebagai jembatan ke Tuhan). Lalu ada bahasan tentang segmentasi Tasawuf, Tarekat, Al Hikmah, doktrin eksklusif dari Al Zaitun, KHAWARIJ, SYIAH, Qaramthah, Khurramiyah, Khurramdiniyah, Ismailiyah, Sabiyyah, Babikiyah, Muhammirah, Talimiyah, etc.

Sampai sekarangpun masih ada aliran NASHIRIYAH, Hisytakin ad-Daruzi termasuk maula al-Hakim Bi Amrillah, IMAMIYAH ATAU RAFIDLAH, aliran pengikut Zaid bin Ali bin Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib, AL-USHUL AL-KHAMSAH dari MU’TAZILAH… dan masih banyak lainnya…!

Contoh lain tentang perbedaan, bisa kita lihat dalam Kristen. Sejak ditinggalkan oleh Isa Al Masih terjadi perpecahan dan perbedaan pandangan terhadap berbagai masalah. Banyak pula perbedaan yang menyangkut teritorial, teologi, bahasa, politik dan upacara keagamaan…

Sampai tahun 313 M, gereja mati-matian berjuang di wilayah Romawi agar Kristen tetap eksis dan diakui sebagai agama yang sederajat dengan agama sebelumnya. Perjuangan tersebut diiringi perpecahan, berlangsung terus sampai abad 16 M. Sejak itu muncul aliran baru yang besar sekali pengaruhnya dalam dunia Kristen, yakni aliran Protestan, yang dipelopori antara lain oleh: Martin Luther, Calviyn dan Zwingli.

Dalam Protestan tersebut terdapat 4 aliran pokok, yaitu : Gereja Baptis, Lutheris, Calvinist, dan Anglikan. Dari keempat aliran tersebut, pecah menjadi kurang lebih 257 aliran, meski gerakan Oukumene berusaha membawa beberapa aliran atau sekte tersebut kembali ke induknya (Protestan).

Namun demikian dari perbedaan itu, semua tetap mengklaim benar, karena landasannya adalah Trinitas dan Al Kitab…

Intinya dari semua itu, perbedaan adalah realitas yang tidak dapat direduksi menjadi kebenaran tunggal.

Bagi yang tetap mempermasalahkan perbedaan, tanpa dia sadari sudah melawan kodrat, karena perbedaan pada dasarnya adalah: inhern – asasi – sejati, yang sejalan dengan keberadaan semesta dan isinya, termasuk perbedaan dalam konsepsi keTuhanan antar agama, tidak akan pernah bisa dipersamakan.

Bila perbedaan tersebut selalu ditonjolkan dan dipermasalahkan, efeknya secara otomatis mengundang konflik. Konflik tersebut akan menyertai seumur hidup, konfliiiiikk terus karena tanpa dia sadari dialah yang mengundang, dan hirarki efek selanjutnya, dia hidup dalam ‘ilusi’, kehidupan yang diciptakan oleh si ‘aku’. Dalam dimensi kesadaran, inilah yang disebut kesadaran rendah, kesadarannya si ‘aku’.

Sebaliknya bila diinginkan, sekali lagi… bila diinginkan…! Sang kesadaran sejati – kesadaran dimensi roh(ani) “arofa nafsahu”- akan datang menghampiri, membawa kepada wilayah “arofa robbahu”, merasakan esensi Nur Muhammad (contoh outputnya: tepo seliro, mawas diri, interaksi damai, manunggal,  rahmat untuk semesta, etc).  Kesadaran sejati yang lebih dikenal dengan kesadaran tinggi, akan menghasilkan juga penglihatan KRISTUS (ISA AL MASIH), penglihatan hakiki, penglihatan anti deviasi alam bawah sadar dan kebiasaan diri – kedagingan, sangkar, (outputnya: transendensi, emanasi, cahaya Ilahi, rahasia trinity, tujuh dimensi, cahaya kasih, saluran berkat untuk semesta, etc.). Dalam dimensi rohani, inilah yang dicapai oleh Sidharta (sang Buddha), para leluhur kita, dan manusia-manusia tertentu dari berbagai agama yang saat ini sedang bersembunyi di tempat terang, menjadi pemerhati skenario semesta…

perbedaan (3)

Contoh lainnya yang sedang berada dalam jalur kesadaran tinggi, adalah manusia-manusia cinta damai, apapun agamanya, karena keberadaan agama di bumi hanyalah sebuah sesi (bagian) implementasi dari skenario keberadaan semesta…

Sebagian agama diturunkan melalui serangkaian wahyu, berfungsi sebagai penjernih keadaan, sebagai peta dan aturan main yang menunjukkan tujuan agar selamat dan tdk tersesat. Agama ‘salah satu’ panduan untuk memahami kehidupan dan si sumber hidup, tapi faktanya dan kebanyakan saat ini agama dipersepsikan hanya untuk memahami “hidup dan upah hidup”, akhirnya persepsi pahala – dosa; surga – neraka, menjadi sangat hebat awarenessnya, terkesan pamrih, lalu dimana letak ikhlasnya? (surga dijadikan tujuan akhir. Kalau mau buka mata hati, dalam hal melakukan kebaikan, konsep atheis bisa dijadikan contoh, melakukan kebaikan tanpa pamrih… “pasti ini dibilang sesat”. Jangankan atheisme, kalo perlu setan, iblis, jin, lucifer, atau sebangsanya bila melakukan kebaikan tanpa pamrih, patut ditiru. “Ini juga pasti dibilang ngawur dan super sesat”).

Dari kesadaran rendah tersebut, potensi untuk menimbulkan penderitaan begitu besar. Sejarah penderitaan manusia tersebut salah satu contohnya, dicerminkan oleh akibat dari perang kebenaran untuk menduduki tempatnya yang tunggal di dunia ini, namun tidak pernah tercapai. Tampaknya sudah tercapai, tetapi umurnya tidak panjang, karena realitas itu kebhinnekaan.

perbedaan (2)

Kebanyakan manusia tidak benar-benar belajar dari sejarahnya sendiri. Konflik perbedaan – kebenaran – mengatasnamakan agama dan golongan, tetap berlanjut. Manusia kesadaran rendah, ingin hidup dengan kebenarannya sendiri sambil menafikan kebenaran yang lain. Seandainya ini pun terjadi, maka kebenaran tunggalnya itu pun lambat laun akan menumbuhkan dirinya dalam kebenaran plural. Sejarah manusia telah membuktikan hal ini berkali-kali.

Kesimpulannya: Kebenaran adalah paradoks…

Kalau keyakinan saya berseberangan dengan kebenaran (agama) Anda, maka masing-masing dari kita harus memparadokskan diri. Saya mengenal dan memahami keyakinan dan kebenaran Anda, dan Anda juga mengenal dan memahami keyakinan saya. Karena saya mengenal keyakinan Anda, maka saya akan melakukan atau tidak melakukan hal-hal yang Anda sukai atau Anda tidak sukai. Begitu pula Anda. Justru itu dilakukan untuk mempertahankan prinsip masing-masing… Dalam memahami yang lain, diri masing-masing tidak berubah.

Saya tetap saya, dan Anda tetap Anda.

Itulah yang terjadi dalam kebenaran paradoks.

Kondisi paradoksal itulah yang akan menyelamatkan prinsip kita masing-masing, karena saya tahu apa yang Anda mau dan Anda tahu apa yang saya mau. Dan karenanya kita dapat bersikap yang dapat menghindarkan konflik…

Kapan ya, hal ini terjadi secara masif?

Salam paradoks untuk kaum fanatik.

Agus Sudrajat

 

Note Redaksi:

Agus Sudrajat, selamat datang dan selamat bergabung di rumah kita bersama BALTYRA.com! Senang dengan keputusan Anda untuk ikut mengirimkan artikel pertama ini. Semoga kerasan dan ditunggu artikel-artikel lainnya…

 

29 Comments to "Mari Kita Berbeda"

  1. Agus Sudrajat  20 January, 2014 at 12:24

    Selamat siang Mas DJ…

    Terima kasih kembali…
    Kalo masalah, asal usul kita darimana dan kita mau kemana, itu terserah persepsi dan keyakinan setiap pribadi masing2… Dalam setiap agama sudah jelas diajarkan tentang asal usul dan tujuan hidup…

    Masalahnya tinggal kita mau yakini yg mana…

  2. Dj. 813  19 January, 2014 at 17:57

    Mas Agus….
    Selamat Siang dari Mainz…
    Terimakasih untuk artikelnya yang memberi pencernahan yang baik.
    Semoga setiap paradok satu saat bisa saling mengerti.
    Hanya sebagai orang awam yang tidak banyak pengetahuan, maka sering juga
    timbul didalam diri sendiri satu pertanyaan.
    Dari mana kita ( manusia ) datangnya dan akan kemana perginya.?
    Sekali lagi, terimakasih dan salam Sejahtera dari Mainz.

  3. Agus Sudrajat  19 January, 2014 at 16:23

    @ djasMerahputih : Agama sekarang berubah fungsi menjadi merek dagang, jadi atribut untuk menghinpun follower dan mendulang rejeki… Agama diposisikan sebagai alat utk berkompetisi, diposisikan berseberangan dengan yg beda merek… Akhirnya agama diposisikan sebagai pemecah belah…

    @ mas anung : Bener Mas, sejarah bangsa lain dan budayanya di adopsi secara sporadis, tdk cerdas… Padahal bangsa kita punya “unique selling proposition”, strength point, ciri khas yg membedakan dari bangsa lain…

    @ mas JC : Melawan kodrat, sampai kapanpun gak akan menang alias sia2… Tanpa disadari yg menginginkan semuanya diseragamkan, hanya akan mendapatkan ke-sia2an…

    @ Cesar : Setuju… ppl yg berwawasan yg terbatas pada ajaran2 kuno, yg selalu menekankan surga neraka, takut utk membuka diri, tabu menerima perkembangan jaman, ppl jenis ini bisa disebut “primitif”…

  4. Cesar  6 January, 2014 at 20:26

    Tulisan si AGus ini baru bener bagus deh , awesome pak / mas Agus ya . Should be more this kind article deh di Indonesia , biar “our primitif ” ppl rada terbuka sedikit wawasannya . Dan tdk malu2in aja menjadi berita “breaking news di CNN , BCC ” polisi agama stop2 kaum wanita tak pakai baju karung . Biar tdk ada nasib buruk spt alexandre ann, posting di fb nya sendiri status end up di tahanan . Salam peace .

  5. J C  5 January, 2014 at 12:30

    Berbeda adalah kodrat! Siapa saja yang menginginkan semua SAMA, sudah menentang kodrat hakikat kemanusiaan!

  6. Dewi Aichi  5 January, 2014 at 09:14

    Anoew…ada apa kok panggil panggil namaku?

  7. anoew  5 January, 2014 at 06:30

    Kebanyakan manusia tidak benar-benar belajar dari sejarahnya sendiri. Konflik perbedaan – kebenaran – mengatasnamakan agama dan golongan, tetap berlanjut.

    itu POINNYA. Kita punya sejarah sendiri. Mengapa harus mengambil bahkan, (ada yang) menyerap sejarah bangsa lain dengan brutal? Manusia (Indonesia) punya kebudayaan sendiri, kepercayaan sendiri, adat-istiadat sendiri dan itu MURNI Indonesia.

    Mari berbeda dengan berjalan di jalan yang sama yaitu kebhinekaan menuju sesuatu yang disebut-sebut sebagai Kebaikan.

  8. djasMerahputih  31 December, 2013 at 10:17

    Agama lebih banyak difungsikan sebagai alat untuk mencapai tujuan tertentu.
    Sejatinya setiap agama adalah wadah berkumpul bagi penganutnya untuk secara bersama-sama
    menjalankan fungsi sebagai khalifah Tuhan di muka Bumi ini.

    Agama melekat pada jiwa manusia, bukan pada pakaian maupun atribut tertentu
    yang umumnya diasosiasikan sebagai ciri orang beriman.
    Begitulah jika pemahaman agama masih rendah tapi nafsu untuk tampil telah menggoda.

    Salam Bhinneka,
    //djasMerahputih

  9. Agus Sudrajat  31 December, 2013 at 07:40

    @mbak Ratna : Gapapa koq saya rela lahir batin dipanggil Bapak…
    Betul mbak, terlihat jelas kegiatan ibadah hanya dijadikan ritual belaka, yg tdk ada hubungannya dengan perilaku. Idealnya kalo ibadahnya rajin, ya ahlaknya juga bagus…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.