[Di Ujung Langit – Zaijian Wo de Ai] Sang Bintang

Liana Safitri

 

HARI ini adalah hari pertama Lydia mengajar di tempat kursus menjadi guru bahasa Mandarin. Tian Ya sebagai “bos”, merasa perlu mengucapkan terima kasih pada Lydia dan mengajaknya jalan-jalan. Mereka pergi ke pusat perbelanjaan membeli berbagai barang yang diperlukan untuk perlengkapan di tempat kursus.

“Aku gugup sekali waktu memasuki ruang kelas! Semua mata melihat ke arahku dan kaki ini gemetaran!”

Tian Ya hanya tertawa. “Santai saja. Lama-lama kau akan terbiasa. Aku kan juga mengajak Brenda untuk menemanimu. Setidaknya kalian bisa bertukar pikiran kalau punya masalah dalam menghadapi para murid.” Brenda adalah sahabat Lydia saat ia masih sekolah dulu. Ketika Lydia belajar bahasa Mandarin, Brenda mempelajari bahasa Inggris.

Lydia teringat sesuatu. “Oya, kedua temanmu yang mengajar bahasa Korea dan Jepang itu siapa namanya? Aku lupa…”

“Yang mengajar bahasa Korea namanya Johnny. Kami bekenalan saat dia jalan-jalan ke Taipei. Ketika aku memberi tawaran untuk mengajar bahasa Korea di tempat kursus, dia langsung setuju. Sedangkan Alice adalah pemilik restoran Jepang yang sering aku kunjungi. Dia pernah menjadi guru bahasa Jepang di sebuah sekolah selama beberapa tahun.”

Lydia dan Tian Ya berjalan keluar masuk toko, mereka sangat kelelahan dan haus. Tian Ya meminta Lydia duduk menunggu di depan sebuah toko sepatu, sementara ia pergi membeli minuman. Lydia melihat-lihat sepatu di etalase. Ada sepasang sepatu yang menarik perhatiannya. Sepatu berwarna putih dengan hiasan berbentuk bunga lili di bagian samping.

“Kau sedang melihat apa?” Suara ini membuat Lydia terkejut. Tian Ya sudah berdiri di sebelahnya dengan membawa dua botol minuman dingin.

“Tidak sedang apa-apa!”

 

Tian Ya mengantar Lydia pulang ke rumah.

“Aku senang kita bisa pergi jalan-jalan.” ujar Lydia mengambil belanjaannya dari tangan Tian Ya.

“Kau berkata seolah-olah baru pertama kali pergi jalan-jalan.”

“Memang iya!”

“Apa?”

“Ini pertama kalinya aku pergi jalan-jalan dengan seorang pria selain kakakku.”

Pengakuan Lydia membuat Tian Ya sangat terkejut. Namun Tian Ya sama sekali tak menemukan ekspresi yang dibuat-buat pada wajah Lydia. Sesaat sebelum memasuki pintu gerbang Lydia melambaikan tangan pada Tian Ya.

Franklin sudah menunggu Lydia di ruang tamu. Tadi waktu Lydia menelepon agar Franklin tak perlu menjemputnya, Franklin sangat khawatir. Jam sepuluh. Lydia belum pernah pulang sampai sedemikian larut, apalagi dengan seorang pria. Jadi ketika Franklin melihat Lydia berdiri di depan pintu ia sangat lega. Seolah-olah sesuatu yang hilang kembali ditemukan.

“Ternyata Kakak belum tidur!” Lydia menghempaskan tubuhnya di sofa.

Franklin mengambil segelas air putih dan diberikannya pada Lydia. “Apa kau pikir aku bisa tidur saat kau masih bermain-main di luar sana?”

Lydia menarik napas dalam-dalam dan merasa ada yang tidak beres. “Kakak, kau merokok lagi, ya?” Lydia berdiri, mencari-cari di setiap sudut ruangan dan menemukan sebuah asbak yang dipenuhi puntung rokok. Lydia mengomel, “Sudah kubilang berapa kali, hentikan kebiasaan burukmu itu! Kau kan tahu, aku tak tahan dengan bau asap rokok!”

“Maaf… aku bosan menunggu…”

“Mana yang lain?”

Franklin merogoh saku celananya, mengeluarkan satu bungkus rokok yang isinya tinggal beberapa batang. Lydia mengambil rokok dari tangan Franklin lalu membuangnya ke tempat sampah. Lydia benci sekali dengan rokok, oleh karena itu Franklin sedang mencoba berhenti merokok.

“Ada surat untukmu.” Franklin memberikan sebuah amplop pada Lydia. Lydia membuka amplop itu yang ternyata isinya adalah undangan. Beberapa saat kemudian Lydia berteriak melengking, membuat Franklin terkejut setengah mati.

“Aaaa! Kakak, lihatlah! Lihatlah ini! Aku diundang menghadiri acara ulang tahun sebuah majalah sastra! Majalah CAKRAWALA, adalah majalah yang sangat terkenal.” Lydia senang sekali. Ia melompat sampai hampir jatuh.

Franklin buru-buru memegangi Lydia. “Hati-hati! Aduh kau ini…”

Lydia duduk memeriksa sepatunya kemudian mendesah.

“Kenapa?” tanya  Franklin.

“Sol sepatuku minta makan…”

Franklin tertawa. “Beli saja sepatu baru.”

“Kenapa harus beli kalau bisa diperbaiki?” Lydia masuk ke dalam mencari lem.

Selesai mengelem sol sepatu, dengan kegembiraan meluap-luap Lydia menelepon Tian Ya.

“Lydia, Kakak pergi keluar sebentar, ya!”

Karena merasa jengkel teleponnya tak segera diangkat, Lydia hanya menjawab singkat, “Ya.” Franklin masih belum pergi juga. Ia berdiri di depan pintu kamar sambil melihat Lydia yang sibuk dengan ponselnya. Franklin langsung tahu kalau Lydia sedang menghubungi Tian Ya. Biasanya kalau Franklin akan pergi keluar Lydia selalu berpesan macam-macam dan memintanya cepat pulang. Tapi kali ini, menolehkan kepala pun tidak.

Entah kenapa Tian Ya tak mengangkat telepon. Lydia lalu mengirim SMS.

Tian Ya, aku diundang menghadiri acara perayaan ulang tahun sebuah majalah. Besok jam sepuluh pagi, datanglah ke kantor redaksi majalah CAKRAWALA. Kau harus hadir, aku menunggumu. Selamat tidur…

 

Hari Minggu. Tian Ya terbangun oleh suara-suara berisik kendaraan bermotor, klakson, dan para pejalan kaki. Karena orangtuanya masih di Taiwan Tian Ya tinggal sendiri. Dengan wajah yang masih mengantuk, Tian Ya mengambil ponsel. Ada lima belas panggilan tak terjawab serta sebuah pesan teks. Tian Ya melihat jam dinding. Setengah sepuluh! Bagai orang kesetanan Tian Ya bergegas ke kamar mandi. Tak lama kemudian pemuda itu sudah duduk di dalam mobil bersiap menuju kantor redaksi majalah CAKRAWALA. Tiba-tiba bayangan Lydia yang mengamati etalase toko sepatu melintas di benak Tian Ya. Ia memutar mobil ke arah berlawanan.

Tian Ya masuk ke dalam toko sepatu dan bertanya pada seorang pramuniaga, “Maaf… kemarin saya melihat sepatu berwarna putih dengan hiasan bunga lili terpajang di etalase ini. Bisa ambilkan sepasang?”

Pramuniaga itu menggeleng. “Sayang sekali, sepatu yang Anda maksud sudah dibeli orang.”

 

“Lydia!” Franklin memanggil dari luar kamar.

Setelah membuka pintu Lydia terpana. Ada sepatu berwarna putih berhiaskan bunga lili yang sangat indah, sama persis seperti sepatu yang dilihatnya di toko kemarin saat berjalan-jalan dengan Tian Ya. Belum hilang rasa terkejut Lydia, Franklin berjongkok di hadapannya, memakaikan sepatu itu di kaki Lydia. “Aku tidak mungkin membiarkan adikku pergi ke sebuah acara penting dengan sepatu yang sudah rusak. Pakailah sepatu ini…” kata-katanya sangat tulus, membuat mata Lydia berkaca-kaca.

“Kakak…”

Selain Lydia, Franklin dan Eugene juga diundang pada acara ulang tahun majalah CAKRAWALA. Mereka duduk satu meja. Majalah ini sering memuat puisi-puisi Lydia, dan sekarang pimpinannya meminta Lydia hadir untuk membaca puisi. Tapi Tian Ya belum datang, membuat Lydia sangat gelisah. Ia berkali-kali menjulurkan kepala melihat ke arah pntu masuk.

“Kau kenapa Lydia? Dulu saat peluncuran novel kau menunggu Franklin sampai berjam-jam. Sekarang apakah ada orang lain lagi yang sedang kau tunggu?” Eugene menggoda Lydia sambil tertawa.

Wajah Lydia berubah masam. Franklin juga memperhatikan Lydia yang sepertinya tidak bersemangat. Pasti karena Tian Ya! Franklin hanya bisa menyembunyikan perasaan marahnya. Tiba saat Lydia tampil, Franklin berbisik di telinganya, “Sekarang aku ada di sini untuk memberimu dukungan. Apakah masih belum cukup? Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi aku selalu membanggakanmu, Lydia. Jangan kecewakan aku…”

Lydia berjalan menuju panggung. Ia menatap Franklin selama beberapa saat, lalu mulai membaca puisi.

 shooting-star-sky

KEPADA SANG BINTANG YANG BERTAHTA DI LANGIT HATI
(dari Li untuk Li)
Begitulah kau…
datang tiba-tiba laksana badai salju
Membuatku diam terpaku, bukan karena membeku
tapi pesonamu mengharu biru jiwaku.
Jika mata ini tak dapat terpejam
bukan berarti diri sedang dirundung muram
sementara senyum menghiasi, bibirku masih bungkam.
 
Kau menyinggahi mimpi di setiap malamku yang terlupakan,
merengkuhku dengan kehangatan yang berselimut kerinduan,
membuaiku di atas ayunan yang bermandikan cahaya menyilaukan,
membisikksn makna bintang yang selalu mengiringi bulan,
membuat ikatan yang tak mungkin dapat dilepaskan.
 
Kalau pun sekarang kugoreskan puisi ini untukmu,
kunyanyikan syairnya hingga menggema ke seluruh penjuru dunia
dan semua orang dapat melihat lukisan wajahmu dalam otakku.
Bahkan apabila harus menyayat hatiku sendiri,
lalu mengerat dagingnya dengan sebilah pisau tajam
akan kutahan rasa perih dari darah yang menetes,
menggunakannya untuk menulis namamu ribuan kali.
 
Itu pun masih tak cukup, takkan cukup
untuk mengungkap seberapa dalam perasaanku.
seperti lagu yang kau senandungkan waktu itu,
“Kau adalah segalanya bagiku…”

 

Dari Li untuk Li? Apakah maksudnya dari Lydia untuk Li Tian Ya? Franklin merasa bagai sedang dilempar ke dalam bara api. Sedemikian tingginya kah kedudukan Tian Ya di hati Lydia? Di langit hati? Lalu kalau begitu, di mana Lydia menempatkan posisi Franklin? Franklin tahu Tian Ya adalah orang yang sangat disukai Lydia. Suka? Suka atau… cinta? Di dalam puisi itu Lydia tak menyebut kata cinta sekali pun, tapi sebuah puisi bisa ditafsirkan dengan berbagai makna. Franklin kemudian teringat dengan satu kenangan lucu namun sangat membekas di hatinya sampai sekarang.

 

Lydia yang memiliki hobi menulis, tak dapat dipungkiri selalu mendapat nilai tertinggi ketika guru bahasa Indonesia memberi tugas mengarang. Namun pernah suatu kali, Lydia pulang di tengah jam pelajaran. Betapa terkejutnya Franklin setelah masuk kamar dan mendapati Lydia sedang menangis. Dengan cemas Franklin bertanya apa yang terjadi. Awalnya Lydia menolak bercerita, tapi Franklin terus mendesaknya.

“Tak ada rahasia di antara kita..” demikianlah kata Franklin.

“Karanganku dapat nilai C…” ujar Lydia.

“Apa?” Franklin mengira dirinya salah dengar.

Sebenarnya menurut Franklin mendapat nilai C dalam pelajaran mengarang sama sekali bukan masalah besar. Tapi ia tahu betul Lydia sangat menyukai pelajaran ini, juga karena sebelumnya Lydia selalu memperoleh nilai A untuk setiap karangan yang ditulisnya. Mau tak mau Franklin heran. Kata Lydia, ini karena guru bahasa Indonesia memberi tugas mengarang yang lain dari biasanya. Setiap anak diminta menulis tentang idola mereka seperti tokoh terkenal, pahlawan, politikus, artis, seniman, atau siapa saja yang ahli di bidangnnya.

“Lalu siapa idola yang kau tulis dalam karanganmu?”

“Kakak.”

Franklin tertegun sejenak. Menunjuk dirinya sendiri seperti orang tolol. Sedetik kemudian ia tertawa terbahak-bahak, tertawa keras tanpa henti sampai perut terasa sakit, dan mengeluarkan air mata. Melihat reaksi Franklin Lydia marah dan kesal. Dilemparnya Franklin dengan sebuah bantal. “Kau sama saja dengan teman-teman yang hanya bisa menertawakan aku!”

“Hahaha! Haha! Lydia… Lydia… Kau bisa membuatku besar kepala, tahu tidak! Haha… hahahaaa!” Franklin menangkap bantal yang melayang ke arahnya. Setelah berhenti tertawa ia menatap Lydia dalam-dalam dan berkata penuh haru, “Maafkan aku… aku tidak tahu kau begitu sedih… Tidak masalah dapat nilai C. Aku akan memberi A untuk karanganmu, karena kau sudah memilihku sebagai idolamu… Coba aku lihat karanganmu!”

“Tidak boleh!”

“Kalau kau tidak membiarkan aku melihatnya, bagaimana aku bisa memberi nilai yang bagus?” Franklin berusaha membujuk. Tapi Lydia sudah terlanjur marah dan tetap tidak mau menunjukkan karangannya pada Franklin. Sampai sekarang Franklin tidak tahu seperti apa karangan Lydia yang mendapat nilai C itu.

 

Lydia dan Eugene menunggu Franklin yang sedang mengambil mobil di tempat parkir. Tiba-tiba Eugene berkata, “Kakakmu sangat baik. Kau beruntung sekali punya Kakak seperti dia…”

“Ya.”

“Aku sudah berteman dengannya sejak Franklin masih sekolah. Dia memilih mengorbankan waktu bersama teman-teman kalau kau sedang mengalami masalah atau membutuhkan bantuannya. Kau tahu, Franklin berkali-kali memutuskan pacarnya hanya karena mereka selalu protes mengapa dia lebih mementingkanmu di atas segalanya.”

“Eugene, apakah kau menyukai kakakku?” Lydia bertanya tanpa basa-basi.

Wajah Eugene memerah dan buru-buru menyangkal, “Apa? Jangan bicara sembarangan!”

Sebenarnya Lydia sudah menduga sejak lama kalau Eugene menyukai Franklin. Tapi Franklin terlalu dingin, sampai-sampai tak menyadari ada seseorang yang menyukainya. “Kalau kau kesulitan mendekati dia, mungkin aku bisa membantu.” Lydia mulai jahil.

Eugene mencubit Lydia keras-keras sambil mengancam, “Awas kalau kau berani berkata macam-macam pada Franklin!” Lydia kembali tertawa melihat Eugene ketakutan.

Pada saat itu datanglah seseorang yang menyambar lengan Lydia dan membawanya pergi. Kejadiannya sangat cepat hingga Eugene tak sempat mencegah. Tapi ia masih bisa melihat kalau orang itu adalah Tian Ya.

Eugene berteriak, “Hei, Lydia! Tian Ya! Kalian mau ke mana?”

Tepat setelah Lydia pergi, mobil Franklin berhenti di depan Eugene. “Mana Lydia?” Franklin bertanya melihat Eugene sendirian.

“Tadi tiba-tiba Tian Ya datang dan membawa Lydia pergi.” kata Eugene

Franklin kesal sekali. Lagi-lagi Tian Ya! Dia selalu muncul di saat yang tidak tepat!

 

Di dalam mobil Tian Ya, Lydia marah-marah. “Kau selalu seperti itu! Kemarin saat novelku diluncurkan bukannya langsung ke toko buku malah membuat acara sendiri di restoran. Sekarang aku memintamu datang ke pesta kau juga terlambat dan mengajakku pergi entah ke mana.”

Tian Ya menanggapi dengan santai, “Maaf… aku terlambat bangun dan tak tahu ada SMS darimu. Jangan marah lagi, Lydia Xiaojie – 小姐 (Nona Lydia)…” Tian Ya menyerahkan sebuah rangkaian bunga lili pada Lydia lalu tersenyum. Lydia masih merasa kesal, tapi akhirnya menerima bunga itu. Tian Ya melihat sekilas pada bunga yang baru saja diberikannya sambil menyetir. “Aku tidak mengerti kenapa kau suka sekali dengan bunga lili. Kebanyakan wanita menyukai bunga mawar, melati, atau anggrek. Sedangkan lili… aku baru menemukan kau sebagai penggemarnya.”

“Banyak makna yang terkandung dalam bunga lili. Melambangkan kebaikan, kelembutan, kerendahan hati, kesucian, kehormatan, kemuliaan, simpati, dan persahabatan. Bunga lili juga dipercaya memberi keberuntungan dalam cinta. Memberikan bunga lili pada seseorang seperti memberi harapan akan ‘kembalinya kebahagiaan’ atau mengungkapkan bahwa ‘kau telah melengkapi kehidupanku.’ Itulah sebabnya mengapa bunga lili sering dijadikan sebagai hadiah pernikahan. Bunga lili juga mudah menyesuaikan diri dan hidup di berbagai tempat seperti hutan, pegunungan, rerumputan, bahkan rawa.”

Penjelasan Lydia yang panjang lebar hanya ditanggapi Tian Ya dengan satu kata, “Benarkah?”

Lydia merasa ada yang salah dan segera menutup mulut. Diam-diam ia mencuri pandang ke arah Tian Ya.

Tian Ya menghentikan mobil di tempat kursus bahasa asing. Bangunan besar, luas dan asri oleh beberapa pohon di kanan kirinya. Nama SKY School terukir indah pada dinding batu di tengah-tengah halaman. Kursus baru dimulai dua jam lagi. Tian Ya memang sengaja mengajak Lydia datang lebih awal untuk mengerjakan tugas-tugas yang belum selesai.

Ketika mereka turun dari mobil barulah Tian Ya memperhatikan sepatu yang dipakai Lydia. “Lydia, sepatumu…”

Lydia menunduk.dan berkata gembira, “Oh, sepatu ini… kemarin kakak yang membelikannya untukku. Bagus, kan?” Tian Ya hanya tertegun. Jadi ternyata Franklin yang membeli sepatu di toko yang tadi pagi ia datangi!

Lydia dan Tian Ya masuk ke ruang perpustakaan yang dipenuhi buku pelajaran bahasa Mandarin, Korea, Jepang, dan Inggris. Keempat bahasa asing itulah yang diajarkan di tempat kursus SKY School. Nama SKY School diambil dari nama perusahaan milik keluarga Tian Ya, SKY Group yang bergerak di berbagai bidang. Selain tempat kursus, banyak sekali usaha yang berdiri di bawah naungannya. Ada supermarket, pabrik kertas, restoran, hotel, toko alat elektronik dan lain-lain. Lydia sendiri tak bisa membayangkan seberapa besar kekayaan yang dimiliki keluarga Tian Ya. SKY School tempatnya bekerja ini saja sudah membuat Lydia takjub dengan berbagai fasilitas yang lengkap dan mewah.

Langit mendung, sepertinya akan turun hujan. Tian Ya menyalakan lampu agar ruangan menjadi lebih terang. Di atas meja bertebaran buku-buku baru yang harus diberi nomor. “Kakakmu…” Tian Ya belum menyelesaikan kalimatnya, Lydia sudah menatapnya. “Apakah dia sudah lama tinggal bersama keluarga kalian?”

Lydia menjawab perlahan, “Ya. Dua bulan setelah kepergianmu ke Taiwan…”

 

Hari ketika Pak Yudha membawa masuk Franklin ke dalam rumahnya, adalah hari yang memberi perubahan besar dalam hidup Lydia. Dia seperti cahaya matahari yang muncul dari balik celah awan. Selesai mengerjakan tugas sekolah Lydia berbaring malas-malasan di tempat tidur sambil mendengarkan lagu Tong Hua melalui MP3 di ponsel.

“Lydia! Lydia!”

Tak ada jawaban. Pak Yudha lalu naik ke lantai atas masuk ke kamar Lydia. “Dipanggil berkali-kali tidak dengar! Sedang apa kau?”

Melihat ayahnya sudah berdiri di depan pintu. Lydia sangat terkejut. Ia buru-buru mematikan MP3 dan berdiri. “Cepat turun! Ada yang sedang menunggu.”

Di ruang tamu seorang anak laki-laki berseragam SMA duduk dengan gelisah. Melihat Pak Yudha dan Lydia, ia membungkukkan badan. Pak Yudha memperkenalkan mereka berdua. “Ini anak perempuanku, Lydia. Dia baru duduk di SMP.” Kemudian Pak Yudha beralih pada anak laki-laki berseragam SMA itu. “Dia adalah Franklin, putra rekan bisnis Ayah. Orangtua Franklin meninggal akibat kecelakaan. Karena dia sudah tidak punya keluarga lagi, jadi Ayah mengajaknya tinggal di sini. Mulai sekarang Franklin menjadi bagian dari keluarga kita…” Hanya itulah yang dikatakan Pak Yudha.

Franklin lebih tua empat tahun dari Lydia. Mulanya sangat sulit bagi mereka berdua untuk akrab. Selain karena Lydia belum bisa melupakan Tian Ya, Franklin sendiri memerlukan waktu beradaptasi dengan keluarga barunya. Kemudian ada satu peristiwa yang membuat Lydia dan Franklin menjadi dekat.

Siang itu Franklin menjemput Lydia pulang sekolah. Kegiatan belajar mengajar di SMP Lydia berakhir setengah jam lebih awal daripada SMA Franklin. Jadi Lydia harus menunggu di sekolah sampai Franklin datang. Setelah memarkir sepeda Franklin langsung menuju ke ruang perpustakaan tempat Lydia biasa menghabiskan waktu, tapi Lydia tak ada di sana. Franklin bertanya pada setiap anak yang ia temui.

“Apa kau tahu di mana Lydia?”

“Tidak!”

Seorang anak perempuan yang melihat Franklin langsung berlari menghampirinya. “Bukankah kau kakak Lydia? Ayo cepat ikut aku! Lydia terjatuh!”

“Apa?”

“Lydia jatuh terperosok ke dalam lubang di kebun sekolah, dia tak bisa keluar!”

Di kebun banyak anak perempuan berkerumun mengelilingi sebuah lubang besar. Lydia ada di dalamnya dengan posisi terduduk. “Aku akan pergi mencari bantuan! Lydia, bertahanlah!” seseorang berteriak ke dalam lubang. Lydia sendiri berusaha memanjat ke atas, tapi karena lututnya terluka ia selalu gagal dan hanya bisa merintih.

Melihat keadaan Lydia yang demikian mengenaskan Franklin panik sekali.

“Lydia!”

“Kakak!” Lydia seperti bertemu dengan dewa penolongnya. Tanpa berpikir apa-apa lagi Franklin melompat masuk ke dalam lubang. Diangkatnya Lydia dan menaikkannya ke atas. Teman-teman Lydia ikut membantu mengeluarkan Lydia. Terakhir, mereka beramai-ramai menarik Franklin.

“Lydia, kau tidak apa-apa?” tanya Franklin cemas. Lydia tak menjawab. Lukanya terlalu sakit, wajahnya pucat pasi. “Lukamu harus segera diobati, sebaiknya kita cepat pulang ke rumah.”

Lydia memegang tangan Franklin sambil menahan tangis, “Jangan! Aku tidak mau pulang… Ibu akan memarahiku kalau melihat celana olahragaku robek!”

“Tapi…”

Kemudian Lydia dibawa ke rumah Brenda, teman sekelasnya. Luka Lydia diobati oleh ibu Brenda. Karena Lydia tetap tidak mau pulang, ia menginap di rumah Brenda. Franklin pulang ke rumah lalu mengumpulkan semua uang yang dimilikinya. Keesokan harinya, sementara Lydia masih beristirahat di rumah Brenda, Frankin pergi ke sekolah Lydia. Selain memintakan izin karena Lydia tidak bisa masuk sekolah pada hari itu, Franklin ke koperasi sekolah membeli seragam olahraga baru untuk Lydia.

Ketika melihat Franklin datang dan membelikan seragam baru, Lydia tak tahu harus berkata apa. Perasaan senang dan terharu, bercampur aduk menjadi satu. Bahkan ucapan terima kasih pun tak mampu keluar dari bibirnya. Lydia hanya memeluk Franklin erat-erat dengan mata berkaca-kaca.

Ulang tahun Franklin ketujuh belas.

Menjelang peringatan hari kelahirannya, Franklin kehilangan kedua orangtua. Ia kini terpaksa hidup menumpang di rumah keluarga Lydia. Jadi Franklin tidak mengharapkan perayaan, kado, atau sekedar ucapan selamat. Franklin juga tidak pernah mengungkit-ungkit soal ulang tahunnya kepada siapa pun.

Malam hari tepat jam dua belas, Franklin mendengar suara ketukan pintu. Seseorang masuk ke kamar dan menggoyang-goyangkan tangan Franklin. “Kakak… kakak… ! Kak, bangunlah sebentar…”  Lydia duduk di pinggir tempat tidur.

Franklin bertanya terkantuk-kantuk, “Apa kau mimpi buruk lagi?”

Lydia tersenyum, mengulurkan kedua tangannya yang memegang sebuah kotak kecil warna merah diikat pita. Sangat indah. “Selamat ulang tahun, Kakak!”

Mata Franklin terbelalak lebar-lebar. “Ini…”

“Bukalah!”

Masih dengan perasaan terkejut dan bingung, Franklin membuka ikatan pita pada kotak. Sebuah jam tangan. Franklin menatap Lydia lekat-lekat. Lidahnya kelu.

“Kenapa kau tidak memberitahuku kalau sekarang adalah hari ulang tahunmu?” tanya Lydia.

“Mengapa aku harus mengatakannya padamu?”

“Karena kau kakakku!”

Hati Franklin seperti meleleh. Itu adalah kalimat paling melegakan yang pernah diucapkan Lydia pada Franklin. Sebuah kalimat yang keluar secara spontan, sekaligus pengakuan kalau Lydia tidak lagi menganggap Franklin sebagai orang lain. Sejak saat itu, dinding pembatas di antara mereka runtuhlah sudah.

Pak Yudha adalah yang paling senang dengan kehadiran Franklin dalam keluarga mereka. Sebelumnya Pak Yudha sangat berharap kalau Lydia dapat mengurus perusahaan. Tapi Lydia tak pernah serius belajar, hanya tertarik dengan mengarang. Pak Yudha ingin Lydia kuliah di jurusan manajemen bisnis, namun Lydia memilih belajar bahasa Mandarin. Pak Yudha menentang keras keinginan Lydia. Franklin maju membela Lydia dan membujuk Pak Yudha agar memberi kebebasan pada Lydia. Franklin pula yang mendukung Lydia agar novelnya bisa diterbitkan. Karena kecewa terhadap Lydia, Pak Yudha memutuskan untuk menyerahkan urusan perusahaan pada Franklin. Lydia sendiri tak pernah memedulikan hal ini.

 

Tian Ya kini mengetahui siapa Franklin setelah mendengar cerita yang dituturkan Lydia. Sepertinya Tian Ya harus berusaha menjalin hubungan baik dengan pria itu.

“Kau tidak mau mencoba belajar bisnis?”

Lydia hanya tertawa menanggapi pertanyaan Tian Ya. “Aku sangat bodoh. Lagi pula aku hanya tertarik dengan menulis karena itulah kebahagiaanku. Menulis adalah hidupku. Kalau aku orang-orang menyuruhku berhenti menulis, sama saja mereka menyuruhku bunuh diri!”

Johnny dan Brenda masuk ke ruang perpustakaan. “Halo! Apa yang kalian berdua lakukan di sini? Datang lebih awal hanya untuk berduaan!”

Lydia dan Tian Ya tertawa. Brenda mengambil beberapa buku. “Ayo kita segera masuk kelas, anak-anak sudah menunggu!” Brenda keluar bersama Johnny diikuti Lydia dan Tian Ya.

“Sepertinya Brenda dan Johnny pacaran.” Lydia berbisik pada Tian Ya.

Tian Ya mengangguk setuju. “Kurasa begitu!”

Tian Ya menghentikan langkahnya lalu bertanya pada Lydia. “Kau sendiri bagaimana? Apa sudah ada seseorang yang kau suka?”

Lydia menatap pemuda itu dan balik bertanya, “Menurutmu?”

 

-To Be Continued-

 

6 Comments to "[Di Ujung Langit – Zaijian Wo de Ai] Sang Bintang"

  1. Liana  6 January, 2014 at 16:13

    Pak JC : Ya bagusan Meteor Garden lah… (Tian Ya belum sebanding dengan Dao Ming Shi wkwkwkwkkkk…
    Mb Elnino : Sabar, ada waktunya!

  2. J C  5 January, 2014 at 12:37

    Serasa membaca/menonton serial Meteor Garden (F4) versi Indonesia…

  3. Kornelya  2 January, 2014 at 20:50

    Tian Ya, membuat Lidya rajin datang ke tempat mengajar.

  4. elnino  31 December, 2013 at 09:16

    Ayo Lydia, bilang saja terus terang kamu suka Tian Ya… Jangan sampai kamu menyesal nanti.

  5. Lani  31 December, 2013 at 08:53

    LIANA S : ditunggu lanjutan critanya………..wah, sgt menghanyutkan perasaan……….

  6. Lani  31 December, 2013 at 08:28

    1

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.