Belajar dari Sebuah Pengkhianatan

Tjiptadinata Effendi

 

Beberapa tahun lalu…

Jam 2. 00 subuh pintu kamar nomer 402 di Hotel Kawanua – Manado, di mana saya dan istri menginap, digedor sekeras-kerasnya. Saya terbangun. Tidak biasanya karyawan hotel membangunkan orang di tengah malam buta begini, apalagi dengan memukul mukul pintu. Saya bertanya: ”Siapa di luar?”

“Petugas.. buka pintu!” jawaban kasar dan bernada perintah dari luar.

Karena tidak merasa bersalah apapun, saya buka pintu kamar dan secara serta merta beberapa orang petugas berpakaian preman masuk, sambil menodongkan senjatanya, persis seperti dalam film orang menangkap penjahat. Saya mencoba menghitung, ternyata ada 8 orang!

“Anda kami tangkap”, kata yang seorang.
“Lho salah saya apa?”
“Nanti di kantor anda bisa bertanya”
“Ini kan tengah malam, bagaimana kalau sebentar subuh?”
“Tidak bisa, anda mau ikut baik-baik atau kami borgol”

Saya dibawa paksa, tanpa surat apapun. Dari hotel kami dibawa ke pos penjagaan, di sana kami duduk sampai pagi, tanpa makan dan minum. Kemudian kami diperintahkan naik mobil lagi. Saya diam, tidak bertanya apapun, karena saya tahu dengan sosok orang seperti apa saya berhadapan, jadi percuma saya bicara.

Ternyata kami di bawa ke bandara. Kami dimintai uang untuk beli tiket ke Denpasar. Saya tetap menahan diri untuk tidak bertanya kenapa kami dibawa ke Denpasar. Di pesawat kami duduk di apit oleh orang-orang yang menamakan dirinya petugas. Penjelasan yang diberikan kepada pramugari sangat menyakitkan hati: “Ini tahanan kami, ”Ternyata di Denpasar, kami cuma transit, untuk selanjutnya dibawa ke Surabaya, ke markas besarnya.

Di sana sudah menunggu dua orang yang kelihatan crew dari salah satu pemancar TV. Saya di’shoot, sejak dari saat masuk, hingga saya duduk di kursi sebagai tersangka. Di dada saya dipasang kertas yang bertuliskan: “Tersangka Pelanggar K. H. U. P…. ”Hati dan perasaan saya bagaikan remuk. Penghinaan yang luar biasa dan amat sangat menyakitkan.

Seorang perwira muda, dengan bangga membentak-bentak saya dan menyebutkan bahwa ia berkuasa menahan saya selama 20 hari di sana. Saya menjawab setiap pertanyaannya dengan: “Ya dan tidak atau tidak tahu”.  Rupanya perwira ini menjadi sangat berang, sehingga memukul meja sekeras kerasnya sambil membentak-bentak. Ia membacakan urutan”kejahatan saya” dan kemudian menyebutkan nama si Pelapor.

Bagaikan mendengarkan petir di siang bolong, saya terpana dan terpaku. Rupanya saya dikkhianati oleh seorang yang sudah berteman bertahun-tahun, bahkan sudah saya anggap keluarga sendiri. Saya difitnah. Suatu pukulan batin yang luar biasa saya rasakan, karena sama sekali tidak menyangka, bahwa orang yang setiap kali ketemu, selalu memeluk saya, ternyata mengkhianati saya.

Puas membentak-bentak, sang perwira mungkin kecapaian juga. Ia meninggalkan saya, dalam keadaan kantuk, lapar, kehausan dan kelelahan, dengan dikawal oleh anak buahnya, yang jauh lebih sopan dan santun. Saya bahkan diijinkan untuk menelpon pengacara saya, karena secara pribadi, ia yakin, saya tidak bersalah. Dua tahun yang menyakitkan sudah menjadi rahasia umum, kalau kita sudah terlibat dalam perkara, terlepas benar salahnya kita, tidak hanya tenaga, waktu yang akan tersita, tetapi juga uang mengalir seperti air sungai…

Hari-hari selanjutnya, menjadi hari-hari yang menyakitkan, tidak hanya bagi saya, tetapi juga bagi istri. Saya harus wajib lapor. Kemudian perkara naik ke pengadilan. Terus ke Pengadilan Tinggi dan akhirnya ke Mahkamah Agung. Tuhan Mahabesar, setelah lebih dari 2 tahun, yang menguras, tidak hanya keuangan kami, tetapi juga penderitaan batin, saya dinyatakan: “Tidak bersalah”. oleh Mahkamah Agung. Saya tidak kuasa menahan jatuhnya air mata, walaupun saya bukan tipe manusia yang cengeng, Berita gembira ini kami tentunya kami syukuri, bukan hanya dalam keluarga, tetapi semua teman-teman menelpon mengucapkan selamat, karena saya dinyatakan tidak bersalah.

Selang dua minggu kemudian…“sahabat baik” yang telah mengkhianati saya ini, datang menemui saya. Memeluk saya dan menangis, sambil minta maaf. Untuk sesaat saya terdiam. Saya tidak perduli apakah airmatanya yang keluar itu adalah tulus atau karena takut. Saya hanya berdoa sesaat: ”Ya Tuhan, kuatkanlah saya. Inilah saatnya saya belajar, bagaimana memaafkan dengan ihklas yang sesungguhnya. Kemudian saya hanya mengatakan satu kalimat saja: ”Baik, semua sudah saya maafkan, anda tidak akan saya laporkan”. Saya memaafkan tanpa syarat.

Sekali lagi ia memeluk saya dan pamitan.  Saya lega. Saya bersyukur ke hadirat Tuhan, karena saya mampu memaafkan orang yang sudah berusaha menghancurkan hidup saya. Sungguh Mahabesarlah Engkau ya Tuhan. Teman-teman memberikan reaksi sangat keras kepada saya, karena saya dianggap terlalu lemah dan bodoh. Begitu mudah memaafkan orang yang sudah menghancurkan hidup saya. Tapi itu adalah pilihan saya: hidup tanpa dendam dan kebencian.

RENUNGAN:
Artikel ini adalah cuplikan dari catatan harian saya, bukan untuk mengungkit luka lama ataupun mengipas dendam yang membara. Karena sejak saya memaafkan, tidak ada lagi dendam di hati. Namun sejarah tidak boleh dihapus. Karena mungkin berguna bagi orang lain, agar jangan melakukan kesalahan yang sama. Hingga kini, kalau bertemu, masih bertegur sapa, tapi jujur untuk kembali menjadi sahabat seperti dulu, sudah tidak mungkin lagi. Karena saya tidak ingin hidup dalam kemunafikan. Karena bagi saya pribadi, orang yang munafik adalah orang yang paling hina di dunia ini.

Saya belajar dari sejarah hidup saya, bahwa betapa menyakitkan, ketika dikhianati, apalagi oleh sahabat baik. Dan saya berjanji pada diri saya sendiri, untuk selalu menjauhkan diri, agar tidak terjerumus untuk mengkhianati siapapun dalam hidup saya. Ternyata hidup tanpa dendam, tanpa kebencian, sungguh sungguh menghadirkan ketenangan batin yang luar biasa.

forgive_and_forget

Saya bukan seorang yang sangat agamais, bahkan jujur, saya tidak hafal ayat-ayat kitab suci, tapi saya selalu berusaha hidup saya bisa bermanfaat bagi orang lain, siapapun ia. Prinsip hidup saya: ”Kalau tidak bisa mengasihi, minimal jangan membenci. Bila tidak bisa memberi, jangan mengambil dan bila tidak mampu meringankn, jangan bebani hidup orang lain. Catatan harian ini saya postingkan dengan harapan, semoga bermanfaat bagi setiap orang yang membacanya.

 

Perth, 28 Desember, 2013

Tjiptadinata Effendi

 

About Tjiptadinata Effendi

Seorang ayah dan suami yang baik. Menimba pengalaman hidup semenjak kecil. Pengalaman hidupnya yang bagai ombak lautan menempanya menjadi pribadi yang tangguh dan pengusaha sukses. Sekarang pensiun, bersama istri melanglang buana, melongok luasnya samudra dan benua sembari bersyukur atas pencapaiannya selama ini sekaligus menularkan keteladanan hidup kepada siapa saja yang mau menyimaknya melalui BALTYRA.com.

My Facebook Arsip Artikel

115 Comments to "Belajar dari Sebuah Pengkhianatan"

  1. anoew  14 January, 2014 at 21:09

    Kalau tidak bisa mengasihi, minimal jangan membenci. Bila tidak bisa memberi, jangan mengambil dan bila tidak mampu meringankn, jangan bebani hidup orang lain.

    ini mantab sekali, sangat super! Terimakasih Pak sudah berbagi kiat menghilangkan kebencian dan menghilangkan racun yang merugikan diri. Tabik.

  2. tjiptadinata effendi  14 January, 2014 at 16:51

    nah,ini saya lagi narsis heheh

  3. tjiptadinata effendi  14 January, 2014 at 16:43

    yaa El Nino,kalau nggak bosan,saya posting lagi gambar nya yaa..

  4. tjiptadinata effendi  14 January, 2014 at 16:42

    Maaf ya Lani dan teman teman,terlambat saya datang,karena baru tiba dari Perth ke Sydney…dan langsung ke wollongong.. ..Katakanlah dengan bunga…hehe ..jadi saya kirim bunga sebagai tanda persahabatan kita..Selamat bersantai ria yaa

  5. elnino  13 January, 2014 at 11:41

    Yu Lani, Jakarta gitu looh.. Hujan bbrp jam aja banjir, apalagi kemarin sehari semalam hujan, plus pagie tadi hujan juga. Alhasil jalanan muacet n telat sampai kantor

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.