Simbiose Mutualistik

Anwari Doel Arnowo

 

Kata-kata di dalam judul di atas padanannya di dalam bahasa Inggris bisa saja Mutualistic symbiosis atau  Symbiotic Mutualism, adalah bagian di dalam mata pelajaran Ilmu Hayat yang mempelajari antara lain biologi dan kehidupan makhluk, sewaktu saya duduk di Sekolah Menengah baik Pertama maupun Atas. Entah apa sebabnya saya tidak menyukainya, apa karena gurunya atau karena cara mengajarnya, saya cepat bosan dan saya susah untuk menyukainya.

Angka prestasi, “biar saja” kata hati saya, asal bisa saya naik kelas saja. Perduli amat. Ternyata setelah mendalami kehidupan selama umur saya sekarang ini yang hampir 76 tahun, saya terbukti mempunyai pengetauan yang lumayan, yang menyangkut Simbiose Mutualistik, secara alamiah. Saya sebut demikian karena datangnya ilmu ini perlahan sekali bertambahnya, tanpa saya sadari, mau atau tidak mau, menumpuk di dalam otak di kepala saya dan di dalam sanubari.

Sehari-hari bertambahlah pengetauan saya, sekali lagi mau atau tidak mau, lebih banyak dan lebih luas. Saya memperoleh banyak sekali pengalaman dalam bidang eksplorasi pertambangan milik beberapa perusahaan eksplorasi selama kurun waktu ketika saya berada di hutan-hutan Kalimantan, di seluruh propinsi yang ada. Saya menapaki berjalan kaki di dalam hutan-hutan, memasuki desa-desa kecil yang terdiri dari hanya beberapa rumah sederhana kurang dari sepuluh buah. Menyusuri sungai atau anak sungai dengan perahu kecil Ketinting dengan speedboat dan sepeda motor serta penggunaan helicopter serta sarana angkutan lainnya.

Lumayan akrab saya dengan suasana alam di mana saya hanya bersama dengan beberapa orang yang merupakan sebuah team kecil, dan tidak bertemu manusia lain selama beberapa hari. Berkelana keluar dan masuk hutan di tempat yang panas matahari menyengat panas dan kurang dari jarak 20 meter saja, saya telah berada di dalam keteduhan pohon-pohon yang tinggi sekali sehingga suasana berganti dengan mendadak menjadi gelap karena sinar matahari tidak mampu menembusnya. Pernah saya tercebur ke dalam sebuah rawa, karena tidak dapat melihat dengan terang dengan terhalangnya sinar matahari oleh rimbunnya daun pohon-pohon yang tinggi tadi.

Intinya adalah saya menjadi sadar bahwa tidak ada yang bisa disebut dengan istilah seperti the lone wolf (sendirian seperti serigala). Kita, semua makhluk dengan alam sekitarnya itu, saling tali menali dan saling terikat satu sama lain. Ambillah misal bahwa seseorang pergi keluar dari komunitasnya dan menyendiri di dalam hutan belantara, dapatkah dia melepaskan dirinya dan berani berkata bahwa dia telah terlepas dari kehidupan sosial?

Mungkin dia telah lepas sementara dari manusia lain, tetapi bagaimana dengan alam? Benarkah dia telah terlepaskan dari alam sekitar? Jelas tidak. Dia masih perlu makan dan untuk itu dia harus beradaptasi dengan sekelilingnya agar bisa bertahan hidup. Makan? Dia mungkin harus berburu makanan berupa tanaman dan hasil tanaman itu seperti daunnya, buahnya, akarnya dan lain-lain. Memburu binatang dan harus membunuhnya untuk memangsa daging dan seluruh bagian binatang buruannya yang bisa dikonsumsi. Mulailah dia akan menanam pohon yang disukai atau buahnya, bahkan memelihara ternak binatang yang akan dimakan dagingnya seperti ayam atau kambing.

Di sinilah jelas sekali ada kerjasama yang pada awalnya adalah manusia saja yang diuntungkan, secara sepihak. Menanam tanaman yang diperlukan ketelitian, memerlukan pengalaman dan juga pembelajaran dalam  mengelolanya, demikian halnya dengan berternak. Kedua pihak manusia dengan makhluk lain di dalam alam sekitar terbukti saling membutuhkan.

Yang ingin dibicarakan dengan topik ini utamanya adalah demikian eratnya hubungan makhluk dengan makhluk hidup lain dan dengan alam. Secara kasat mata selama ini saya hanya nelihat secara sepihak dari pandangan saya sebagai manusia biasa. Kita semua bisa saja mengamati dari sudut mata memandang masing-masing secara individu dan ternyata bahwa makin hari kita dituntut akan lebih memerhati alam sekitar, lebih jeli dan lebih perduli. Kita mengeksplorasi alam, kita juga mengeksploitasi alam, yang sering secara berlebihan sehingga menimbulkan kerusakan dan ke-tidak-nyaman-an. Ada banjir dan tanah longsor yang penyebab utamanya adalah kita sendiri, manusia. Begitu gigihnya kita ingin membuat diri manusia itu selalu nyaman dan bahagia, sehingga kita telah demikian luasnya merusak suasana sekeliling kita sendiri. Mau listrik, kita gali mengambil hasil tambang minyak atau batubara dan mineral lain. Mau pendingin ruangan kita merusak juga udara kita dengan akibat negatif alat-alat pendinginan udara. Atmosfirpun terganggu dan napas kita sendiripun juga terganggu.

Apa mau dikata?

Banyak sekali kerusakan alam sekitar yang telah terjadi, yang bisa disebut dengan ungkapan nasi telah menjadi bubur. Apakah kita akan diam saja? Tentu saja tidak! Kita harus terus hidup mengupayakan perbaikan dan menghayati rasa perduli kita terhadap alam sekeliling kita, demi keselamatan kehidupan sekarang dan juga di masa mendatang.

Kita harus bekerja sama dengan kehidupan bersama alam di sekitar yang menguntungkan dua pihak, simbiose mutualistik. Ternyata sampah itu tidak perlu dibuang, tetapi dimanfaatkan. Di Jepang sudah pernah saya baca bahwa sampah bisa di”ambil” gasnya dan dimanfaatkan bagian yang padat dibuat sebagai bahan untuk membuat tiang pancang. Tiang pancang diperlukan bagi bangunan sipil. Gas yang didapat dari sampah banyak dimanfaatkan untuk memanaskan rumah mandi bersama yang disebut dengan istilah ofuro.

recycle_01

nw.recycle.2250.sn.

Pada kesempatan bertemu teman-teman reuni asal Sekolah Menegah Atas di kota Malang yang berlangsung pada bulan Desember 2013, pada kesempatan baik saya diajak seorang teman bernama Ananto Hadiwidjaja (Tiang An) yang bertempat tinggal di kota Malang,  meninjau sebuah TPA (Tempat Pembuangan Akhir) bernama Supit Urang, sebuah kompleks desa Mulyorejo di ketinggian yang lebih tinggi dari kota Malang. Silakan lihat photo-photo yang saya jepret sendiri dan juga membaca link berikut:

tpa-supiturang02

tpa-supiturang03

tpa-supiturang04

tpa-supiturang01

http://mkpengelolaanlimbahbiologiumm.blogspot.com/2013/05/observasi-tpa-supit-urang-mulyorejo.html

 

http://www.thejakartapost.com/news/2012/12/18/palu-teams-with-swedish-city-tackle-waste-problem.html

Sudah diupayakan memprosesnya di Jakarta dan di Yogyakarta, selain di Palu dan di kota kelahiran saya, Malang. Berita yang menggembirakan dan membuat saya terbaru adalah upaya Walikota Surabaya, seorang wanita tangguh yang menerima banyak penghargaan Nasional maupun Internasional, karena hebat sekali. Dia bisa membuat sistem berjalan dengan cara: membeli sampah dari warga yang datang menjual sampah dan dibeli oleh pihak Kotamadya Surabaya. Dengan demikian sampah akan terakumulasi dengan lebih mudah dan para warganya juga akan senang meng”angkut” secara sukarela dan menerima bayaran pula. Bravo!!!

 

Anwari Doel Arnowo

26 Desember, 2013

 

4 Comments to "Simbiose Mutualistik"

  1. J C  5 January, 2014 at 13:09

    Mentalitas masyarakat Indonesia masih jauh sekali untuk masalah seperti yang ditulis pak Anwari dalam artikel ini…

  2. Kornelya  2 January, 2014 at 20:45

    Wow, luar biasa kinerja Wali Kota Surabaya ini. Sampahpun dia beli dari masyarakat . Cara yang jitu untuk membangun kesadaran hidup bersih dan discipline.

  3. djasMerahputih  2 January, 2014 at 07:51

    Thanks sharing informatifnya Kang DOEL

    Salut buat Surabaya yang dipimpin oleh seorang Srikandi Hebat.
    Semoga lebih banyak lagi pimpinan2 daerah seperti beliau di Indonesia.
    Tuhan menciptakan alam dengan siklus masing-masing. Daur ulang sampah
    adalah salah satu upaya dari kelanjutan siklus tersebut.

    Salam Hijau,
    //djasMerahputih

  4. Lani  2 January, 2014 at 07:09

    Satoe………Selamat Tahun Baru Cak Doel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.